
"Assalamualaikum, Nyai.' Wiena memberi salam kepada Nyai Hasan dengan sedikit canggung. Ustaz Huda tertawa lirih melihat sikap canggung Wiena. Wiena mengarahkan lirikan maut ke arah Ustaz Huda.
"Waalaikumsalam. Kok masih memanggil nyai?" ucap Nyai Hasan lembut.
"Panggil umi!"Ustaz Huda ikut nimbrung membuat Wiena cemberut.
"Ya sudah. Nggak papa kalau belum mau memanggil umi. Mungkin memang umi nggak pantas jadi umimu." rajuk Nyai Hasan.
Wiena jadi merasa tidak enak.
"Tidak kok Nyai..eh umi." Suaranya hampir tidak terdengar saat mengucap umi. Kepalanya menunduk.
"Hahahaha!" Ustaz Huda tergelak.
"Huda!" tegur Nyai Hasan sambil memukul bahu putranya itu.
"Ayo nak! Masuk!" Nyai Hasan meminta Wiena masuk. Beliau melangkah terlebih dahulu ke dalam rumahnya.
Saat Wiena akan melangkah mengikuti Nyai Hasan, Ustaz Huda memasang badan menghalangi langkahnya.
"Apa sih?Minggir!" Mata Wiena menyorot tajam.
"Nggak boleh galak! Dosa!" Ustaz Huda tak henti-henti tersenyum. Ia sangat senang menggoda istri juteknya itu.
Wiena berusaha masuk lewat sebelah kiri Ustaz Huda, namun lagi-lagi ustaz Huda menghalanginya.
"Maumu apa sih?!" bentaknya sewot.
"Pajak!" jawab Ustaz Huda pendek dan membingungkan.
"Pajak?Pajak apa?" Wiena menatap sangar ustaz Huda.
Cup
Mata Wiena melotot saat tiba-tiba ustaz Huda mengecup keningnya.
"Kau?!?!" Wiena geram.
"Silahkan masuk. Pajaknya sudah diterima. Tunai." Ustaz Huda terkekeh lalu meninggalkan Wiena yang masih syok dengan ciuman mendadak dari pria yang ia ketahui sebagai tunangannya.
Di dalam, tepatnya di ruang tengah, sudah berkumpul keluarga Kyai Hasan. Tampak Bara sedang duduk berdampingan dengan Yasmine. Tangan Bara melingkar di pinggang istrinya secara sembunyi sembunyi.
"Mereka sudah datang." Nyai Hasan masuk dan duduk di sebelah Kyai Hasan. Beberapa saat kemudian Ustaz Huda muncul dan langsung mengambil tempat duduk.di kursi yang masih kosong.
"Mana Wiena?" suara berat dan dalam Kyai Hasan menanyakan Wiena.
"Saya di sini Pak Kyai." Wiena masuk. Ia berdiri dan menatap bingung karena tidak ada lagi kursi kosong yang bisa ia duduki.
Dimana aku harus duduk?
Sebenarnya masih ada satu kursi yaitu di sebelah Ustaz Huda. Tapi bukan Wiena jika ia mau dengan sukarela duduk di samping pria yang sudah mencuri ciumannya.
"Duduklah Nak! Duduk di sebelah suamimu!" titah Kyai Hasan.
Suami?Calon suami mungkin Pak Kyai.
Wiena masih tidak segera duduk. Ustaz Huda gemes melihat tingkah istrinya itu. Ia bangkit lalu mendekat dan ditariknya tangan Wiena. Ustaz Huda membawa Wiena duduk di sebelahnya.
"Apa sih main tarik-tarik. Ustaz kok hobi pegang pegang tangan orang." omel Wiena.
Ustaz Huda menarik nafas dalam. Ingin sekali ia menyumpal mulut Wiena. Bukan dengan kain tentunya, tapi dengan bibirnya.
Ustaz Huda tersenyum membayangkan menyumpal mulut Wiena.
"Astaghfirullah." ucapnya saat sadar kalau pikirannya sudah berkelana keman-mana.
Kyai Hasan melirik putranya ya g sedang mengusap wajahnya. "Kenapa Da?"
"Oh nggak papa, bah. Hanya teringat sesuatu." dalih Ustaz Huda.
Kyai Hasan menggelengkan kepalanya.
"Kalian sudah berkumpul. Abah ingin memberi bekal buat kehidupan kalian ke depannya. Hidup berumah tangga itu tidak seindah yang kalian bayangkan. Kalian akan menemui banyak masalah dalam perjalanannya nanti."
Kok membahas kehidupan pernikahan sih. Oh mungkin Kyai ingin membekali kami jika nanti menikah.
__ADS_1
Wiena melirik ke sana kemari karena heran kenapa Kyai Hasan memberi wejangan tentang kehidupan pernikahan.
"Saat seorang pria mengucap ijab, itu tandanya ia menerima semua yang ada pada wanita yang menjadi istrinya baik itu kekurangan ataupun kelebihannya. jadi jika kalian menemukan ada yang tidak baik pada istri kalian, kewajiban kalian sebagai suami adalah mendidiknya agar menjadi baik, bukan mencari yang menurut kalian lebih baik."
Bara melirik Yasmine. Tanpa diketahui oleh mereka yang duduk di ruangan itu, tangannya mengelus punggung Yasmine membuat Yasmine sedikit tersentak.
Istriku mah baik. Mungkin dia yang akan mengajariku, bukan aku. Eh..tapi membimbing adalah kewajibanku. Jadi aku harus belajar agar tidak kalah darinya.
"Selain itu suami juga mengambil alih tanggung jawab orang tua dari si wanita. Memenuhi kebutuhan wanita yang menjadi istrinya berubah menjadi tanggung jawab suami." Kyai Hasan memandang Bara dan Ustaz Huda bergantian.
Bara menunduk.
Aku sekarang seorang suami. Tapi aku belum mampu memenuhi kewajibanku. Aku belum bisa menafkahi istriku. Bahkan kuliahnya saja masih menjadi tanggung jawab dari abah.
Sedangkan Ustaz Huda, ia mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ia sudah tahu akan hak dan kewajiban suami tapi ia tetap menyimak setiap kata nasehat yang keluar dari lisan abahnya.
"Huda, mulai besok, bagilah waktu anta antara mengajar dengan menjalankan usaha kita. Sekarang sudah ada orang yang anta tanggung." kata abah.
"Iya Bah."
Wiena semakin bingung.
Apa maksudnya? Orang yang dia tanggung?Apa dia sudah menikah?Apa dia punya istri?
Mata Wiena menatap tajam.
"Dan anta Bara, keinginan anta untuk belajar ke Kairo, bagaimana?"
Bara tidak segera menjawab.
Kalau aku belajar, aku tidak memenuhi tanggungjawabku. Yasmine pasti akan tetao menjadi beban abah. Sebagai suami, aku malu.
"Bara masih ingin membicarakan dengan papa, bah. Karena papa sangat berharap salah satu dari kami ada yang melanjutkan usahanya."
Kyai Hasan menganggukkan kepalanya,"Ya, misal anta memilih kuliah di sini sambil membantu papa anta, abah tetap akan menghormati keputusan anta. Tentang belajar ilmu agama, anta bisa tetap.melanjutkannya dengan bimbingan Huda."
Bara mengangguk.
"Sekarang kalian bersiap. Kita ke masjid untuk sholat Ashar!" Kyai Hasan bangkit dan dengan diiringi istrinya, beliau masuk ke kamar untuk bersiap siap beranhkat ke masjid.
"Yangzi kenapa berubah pikiran?" Yasmine membuka almari dan mengambil baju koko dan sarung Bara.
"Nasehat abah tadi membuatku berpikir. Aku belum melakukan tanggungjawabku."
Yasmine membawa baju dan sarung Bara kemudian duduk di sebelah suaminya.
"Pernikahan kita mendadak, jadi aku tidak menuntutmu melakaukan tanggungjawabmu. Dengan belajar demi meraih cita-cita, itu sudah menunjukkan tanggung jawabmu. Karena ada aku dalam cita-citamu." Yasmine tersenyum
"Tapi Yas..."
"Sudah jangan terlalu dipikirin. Yangzi istikharah saja. Sudah mandi sana, ditunggu abah untuk ke masjid. Aku tinggal ya? Kak Wiena pasti masih canggung."
Bara mengangguk.
Di luar, Wiena benar benar bingung saat ditinggal berdua saja dengan Ustaz Huda.Dia melirik pria yang sedang menatapnya dengan senyum.
"Kenapa masih di sini? Bukankah diminta bersiap oleh Pak Kyai." sewot Wiena.
"Abah tidak hanya memintaku bersiap, tapi juga kamu."
"Maksudnya?"
"Abah mengajak kita semua jamaah ke masjid."
"Jangan!" Wiena menolak dengan menggerakan tangannya. "Nanti para santri akan salah paham."
"Salah paham apa?"
"Ya..Bara dan Yasmine suami istri. Kyai dan Bu Nyai juga suami istri lha kita? Aku sholat di rumah saja."
"Tidak bisa! Kau keluarga pemilik pesantren. Harus hadir di masjid!" Ustaz Huda bangkit dan menarik tangan Wiena.
"Mau kemana?" Wiena berpegangan pada kurai agar bisa menahan tarikan Ustaz Huda.
"Ke kamar!"
__ADS_1
"Aih ngapain ke kamar?Nggak mau!" Ia mempererat pegangannya pada kursi.
"Kak Huda, biar Kak Wiena sama aku saja." Yasmine tiba sambik membawa mukena dan pakaian untuk ganti Wiena.
"Baguslah. Urus dia. Kesabaranku sudah mulai hilang." dengus Ustaz Huda lalu melenggang ke kamarnya.
"Cih." Wiena berdecih sambil menatap sinis. "Dasat aneh."
Yasmine tersenyum geli melihat tingkah Wiena.
"Ayo kak, aku antar mandi ke belakang. Maaf, kamar mandiku sedang dioakai Yangszi."
Wiena mengangguk lalu mengijuti langkah Yasmine.
Malam harinya.
Keluarga Kyai Hasan ditambah Banyu baru saja selesai makan malam. Bu Nyai dan Yasmine membereskan perlengkapan makan. Wiena masih duduk di tempatnya dengan kikuk. Ia tidak habis pikir kenapa orang tuanya tega meninggalkannya di sini. Wajahnya muram.
"Kakak kenapa?" bisik Banyu.
Wiena menatap sepupunya itu, "Nyu, antar kakak pulang! Jika kakak pulang nersama denganmu, papa dan mama tidak akan marah." Wiena memelas.
"Maaf Kak. Aku tidak berani." tolak Banyu membuat Wiena semakin merana.
"Pak Kyai, Ustaz. Banyu permisi mau kembaki ke asrama." Banyu bangkit dan berpamitan.
"Mapam ini menginap saja di sini. Tidurlah di kamar tamu." titah Pak Kyai sambil melirik Ustaz Huda. Ustaz Huda mengulum senyum.
Terima kasih abah. Abah sangat pe gertian. Jika kamar tamu ada Banyu, istriku tidak ada pilihan lain selain tidur di kamarku.
Banyu melihat ke arah Bara. Dengan matanya Bara memberi isyarat agar Banyu menuruti kemauan Kyai Hasan.
"Baik Pak Kyai. Sekalian ada yang ingin saya diskusikan dengan Pak Kyai. Tapi saya minta ijin untuk mengambil beberapa barang saya dulu di asrama."
"Ya, memang lebih baik kamu tidur di sini. Darrel sedang pulang kan? Daripada sendirian di asrama." Kata Ustaz Huda.
Setelah berpamitan, Banyu meninggalkan ruang makan.
"Wiena malam ini kamu bisa tidur di kamar Huda!" suara lembut Bu Nyai menyentak Wiena.
"Ha! Tidak..tidak.. Saya tidur dengan Yasmine saja." Mata Wiena memelas menatap Yasmine.
"Eits nggak bisa. Aku yang tidur dengan Yasmine." Bara langsunga bangkit dan masuk ke kamar Yasmine karena takut didahului Wiena. Baru saja masuk, ia membuka pintu kamarnya dan manghil Yasmine.
"Kak, Bah, Umi, Yas istirahat dulu." Pamit Yasmine.
"Hm. Urus tu suami manjamu." dengus Kyai Hasan. Bu Nyai menggelengkan kepala. Ia tahu kenapa suaminya kesal.
"Abah juga mau istirahat? Ayo umi temani."
Lembut banget suara Bu Nyai membuat wajah kesal abah langsung sirna diganti aura yang berbunga-bunga.
"Umi memang the best." Tanpa pamit oafa Istaz Huda, abah mengamit lengat umi menuju kamar mereka.
"Kamarku di sebelah sana." kata ustaz Huda sambil.menunjuk ke kamarnya.
Wiena mengamati sekeliling ruangan.
"Bisa nggak aku tidur di kamar tamu saja!" suatanya melembut berharap Ustaz Huda tersentuh hatinya.
"Sayangnya tidak. Ayo ke kamat! Mau jalan apa aku gendong?"
"Apa?!?"
"Jalan apa gendong?" Ustaz Huda menekan suaranya sambil menatao takam Wiena.
Kenapa dia jadi menakutkan.
"Ja...ja..jalan saja." Wiena tergagap. Ia lalu bangkit dan dengan langkah cepat menuju kamar ustaz Huda.
Akhirnya.... Abah emang the best.
Hati Ustaz Huda girang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1