Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Apa Maksud Abah


__ADS_3

"Ma, Pa?!" Bara langsung bangkit dari duduknya saat Anggi dan Langit datang dengan wajah muram dan sedih.


Anggi langsung memeluk Bara dan menangis di dada putranya itu.


"Ma?!" gumam Bara bingung dan penasaran.


Anggi tidak menjawab. Ia terus terisak.


"Pa?" Mata Bara berpindah menatap Langit memohon penjelasan.


Langit menarik nafas panjang lalu menelan salivanya sebelum angkat bicara.


"Banyu, dia...." Langit menghentikan ucapannya saat terdengar derap langkah mendekati mereka.


Semua menoleh ke arah dua orang yang datang dengan tergesa. Bagas nampak mengayun langkahnya dengan cepat diiringi Camelia yang juga bergegas di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca.


'Tuan, bagaimana?!" Bagas langsung bertanya setelah mengucap salam.


"Dia..dia..tidak apa apa kan?" Suara Camelia bergetar cemas.


Yasmin yang sedari tadi hanya duduk l, bangkit dan memeluk Camelia.


"Dia tidak akan kenapa-kenapa selama kamu mendoakannya baik-baik saja." bisiknya.


Camelia langsung membalas pelukan Yasmine. Pertahanan yang susah payah ia bangun akhirnya ambrol juga. Camelia terisak dalam dekapan calon kakak iparnya itu.


Beberapa hari kemudian.


Di sebuah kamar bernuansa putih, seorang pemuda duduk sambil menatap ke arah luar melalui jendela. Dia begitu fokus hingga tidak menghiraukan kedatangan seseorang ke kamarnya.


"Sudah siap pulang?" Bara mendekat.


Pemuda itu yang tak lain adalah Banyu, menoleh tanpa bersuara. Tangannya meraih tongkat kecil di depannya lalu berdiri dan melangkah.


"Biar aku membantumu!" Bara meraih tangan Banyu.


"Berhenti!! Jangan mengasihaniku! Aku bisa sendiri." bentak Banyu dengan kasar.


"Nyu, aku hanya ingin membantumu." Bara bersuara rendah.


Senyum sinis penuh rasa sakit terbit di bibir tipis Banyu.


"Aku tidak butuh." Banyu lalu melanjutkan langkahnya. Tongkat kecil ditangannya menjadi pembimbing dan penunjuk jalan.


Bara menghela nafas, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Ia bukan marah namun melihat keadaan saudara kembarnya yang menderita karena kecelakaan, membuatnya ikut merasakan sakit.


Brug.


Bara kaget saat ia melihat Banyu yang sedang melangkah tiba-tiba terjatuh karena tertabrak anak anak yang sedang berkejaran di koridor rumah sakit.


Banyu yang jatuh berusaha mencari tongkatnya dengan meraba-raba sekitarnya.


Bara mendekat dan berusaha menarik bangun Banyu.


'Lepas!! l" Banyu menepis tangan Bara. Ia benar-benar tidak mau menerima bantuan Bara.


Namun bukan Bara namanya kalau mengalah, ia terus memaksa menolong Banyu hingga terjadi ketegangan antara keduanya. Berkali-kali Banyu mendorong Bara menjauh.


'Jangan tunjukkan rasa kasihanmu itu. Aku tidak butuh!" Banyu sinis.

__ADS_1


"Terserah. Aku hanya memenuhi janjiku pada mama untuk sellau menjagamu. Kamu mau atau tidak, bukan urusanku." Bara kembali menarik Banyu. Banyu terus melawan.


Kedua saudara kembar itu sibuk dengan perseteruan mereka tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap keduanya dengan penuh deraian air mata.


"Kenapa tidak mendekatinya?" Wiena menepuk bahu Camelia yang sejak tadi memperhatikan Bara dan Banyu.


"Untuk apa? Untuk diusir lagi?" getir suara Camelia.


"Jadi hanya sebegitu dalamnya cintamu?" ejek Wiena.


"Kau meragukanku?"


Wiena hanya mengangkat bahu sebagai jawabannya.


"Aku sangat ingin mendekatinya, membantunya, merawatnya, menjadi matanya, namun ada yang menghalangi niatku itu. Aku bukan apa-apanya. Kami belum menikah." Camelia menyusut air matanya.


"Kalau begitu nikahi dia!"


"Kau gila. Hanya pria yang bisa menikahi wanita, karena mereka yang mengucap ijab. Aku mana mungkin bisa." Suara Camelia terdengar putus asa.


Wiena tampak berpikir, "Aku akan tanya pada suamiku. Mungkin dia punya jawabannya. Sudah, jangan sedih. Dia hanya belum bisa menerima keadaannya. Aku yakin, lama-lama dia akan kembali seperti dulu." Wiena menepuk pundak Camelia lagi untuk menyemangati sahabat kecilnya itu.


"Menurutmu begitu?"


Wiena mengangguk. "Aku yakin. Ajaran tante Anggi dan ilmu yang ia dapat dari pesantren yang akan membuatnya sadar kelak. Dia hanya kaget dan belum bisa menerima kenyataan yang menurutnya sangat pahit ini."


"Ya, semoga. Aku juga tidak akan menyerah. Aku akan terus berusaha bagaimana bisa mengembalikan pengelihatannya lagi." Wajah Camelia penuh semangat.


"Itu baru semangat. Aku suka kamu yang seperti ini. Beruntung sepupuku itu mendapatkan cintamu. Kalau dia menyia-nyiakanmu, itu karena kebodohannya. Ayo, kita kerja! Toh orangnya juga sudah pergi dari tadi. Ngapain juga kita masih di sini."


Camelia memaksa tersenyum. Mereka lalu melangkah meninggalkan tempat itu.


Haji Asnawi sedang duduk di teras ditemani istrinya.


"Camelia belum pulang?"


"Belum, Bah. Mungkin sebentar lagi." jawab istrinya sambil menyodorkan minuman ke tangan suaminya.


Haji Asnawi meminum kopi yang diberikan istrinya lalu mengembalikan cangkirnya pada wanita yang dengan sabar melayaninya itu.


"Apa dia masih memikirkan pemuda itu?"


Nyai Asnawi tersenyum. "Bah, kita harus maklum. Mereka hampir lamaran. Di hati Camelia sudah ada nama Banyu. Tentu saja sulit melupakannya."


"Pemuda cengeng seperti itu tidak pantas menerima cinta dari putriku."


"Bah." lembut sekali suara Nyai Asnawi.


"Assalamualaikum."


Camelia tiba.


"Waalaikumsalam."


Camelia langsung mendatangi kedua orang tuanya dan mencium tangan mereka.


"Lia masuk dulu, uma, abah."


Belum sempat kaki Camelia melangkah, Haji Asnawi menghentikannya.

__ADS_1


"Lia, abah mau bicara. Duduklah!"


Camelia duduk tanpa membantah.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Haji Asnawi langsung.


Meski tanpa menyebut nama, Camelia tahu siapa yang abahnya tanyakan.


"Hari ini dia pulang." jawabnya pendek.


Haji Asnawi yang tidak bisa melihat, tidak mengetahui mendung di wajah Camelia, beda dengan Uma.


Uma mengelus tangan Camelia sambil tersenyum.


"Apa dia masih belum bisa menerima kebutaannya?" kembali Haji Asnawi bertanya.


"Iya, Bah." lirih Camelia.


"Lalu kamu?"


"Lia?!"


"Iya. Apa kamu bisa menerima keadaannya?"


"Lia bisa bah." Camelia menjawab sambil menunduk sedih.


"Karena apa? Kasihan?"


Camelia mendongak, "Bukan Bah."


"Karena cinta? Kau tahu kalau cinta itu hanya hiasan dunia. Hati kita bukan berada dalam kuasa kita. Mungkin sekarang kamu masih merasakan cinta itu, tapi apa kamu bisa jamin jika dia terus dalam kondisi seperti ini, kamu bisa bertahan?"


"Lia.."


"Apa kamu yakin, rasa frustasinya akan mudah disembuhkan?"


"Abah, Lia.."


"Pikirkan baik-baik. Jangan asal mengambil keputusan karena perasaan."


"Iya, Bah. Lia tahu."


Uma menatap iba putrinya.


"Lia, maksud abah baik. Kami hanya ingin yang terbaik.buat Lia. Abah dan Uma tidak akan menghalangi keinginan Lia jika itu dilandasi pemikiran yang tepat. Bukan perasaan sesaat."


"Abah, Uma. Sedalam apapun cinta Lia, bukankah percuma jika dia tidak mau menerimanya? Lia tidak akan tenggelam dalam perasaan Lia. Abah dan Uma jangan khawatir."


Haji Asnawi tersenyum tipis, "Tapi kalau memang rasa di hatimu sudah sangat mendalam, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan?"


Camelia menoleh bingung.


"Maksud Abah?"


"Haaahhh sudah sore saja. Abah mau ke masjid. Uma bantu abah bersiap!"


"Baik, Bah."


Uma berdiri dan memapah suaminya masuk.ke rumah. Camelia memandang bingung ke arah kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


*Apa maksud ucapan Abah? Tadi dia seolah memintaku menjauh, lalu sekarang, apa mak*sudnya


__ADS_2