Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Karena aku mencintaimu


__ADS_3

Camelia membuka pintu. Dia termangu saat melihat siapa yang berdiri di dekat meja sambil menghadap ke pintu.


Banyu berdiri dengan wajah tersenyum. Sepasang kaca hitam menutupi matanya. Ia sangat tampan, tidak tampak jika sebenarnya ia buta.


"Kenapa hanya berdiri di situ?" tegur Banyu menyadarkan Camelia dari ketermanguannya.


Camelia tidak menjawab. Ia menunduk sambil menata hati dan jantungnya yang terus berdebar tak karuan.


"Apa kau takut padaku?" kembali Banyu bersuara.


"Ti..tidak. Bukan begitu. Hanya saja..." Camelia benar-benar gugup.


Kenapa dia ada di sini? Apakah pasien yang hanya mau berobat padaku itu sebenarnya adalah dia?


"Dokter, bukankah kamu dipanggil kemari karena ada pasien? Jika kamu tidak segera memeriksa pasienmu, bagaimana kamu bisa menyembuhkan penyakitnya?" goda Banyu. Bibirnya terus menyunggingkan senyuman yang membuat Camelia semakin susah mengendalikan debaran jantungnya.


Camelia menguatkan hatinya. Perlahan ia masuk dan duduk di kursi milik dokter yang biasanya praktek di ruangan tersebut.


"Maaf, apa pasien yang ingin berobat itu, kamu?" dengan ragu Camelia bertanya.


Banyu memutar tubuhnya menghadap ke arah suara Camelia.


"Benar sekali. Sekarang silahkan dokter memeriksa saya!" ucap Banyu sambil merentangkan tangannya pasrah.


Camelia menelan ludah. Bagaimanapun juga ia masih muda dan normal. Melihat pria yang ia cintai dan rindukan berdiri pasrah, ia ingin berlari masuk ke dalam pelukannya.


Camelia mencengkeram taplak meja dengan kuat untuk mencari pegangan agar tidak lepas kendali.


"A..apamu yang sakit?" suara Camelia bergetar.


Banyu masih tersenyum.


"Jiwaku yang sakit. Kecelakaan itu telah membuat bukan hanya mataku yang buta, tapi jiwaku juga cacat. Aku sudah kehilangan kepercayaan diri dan semangat hidup. Aku bahkan tidak berani menemui dan menghadapi cintaku. Menurut dokter apa yang harus aku lakukan?" Banyu menutup kedua tangannya yang tadi terentang. Ia lalu meraba ke depan untuk mencari kursi. Setelah menemukannya, ia menarik kursi itu dan duduk di atasnya.


Camelia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sangat sakit dan sedih melihat penderitaan orang tercintanya.


"Dokter menangis?" tanya Banyu saat mendengar isakan lirih Camelia.


"Apa aneh kalau aku menangis?" balas Camelia dengan suara sedikit emosional.


"Kalau dokter bisa menjelaskan alasannya, ya nggak aneh." pancing Banyu.


Camelia menatap Banyu kesal. Air mata semakin deras keluar. Ia sudah tidak tahan lagi. Ia ingin mengungkapkan semua yang ia pendam selama ini.


"Kau jahat. Kau benar-benar jahat. Setelah kau menggodaku, lalu mengungkapkan perasaanmu, kemudian kau ingin melamarku. Tapi kenapa saat kau mengalami kesusahan, kau tidak menghubungiku. Apakah aku tidak pantas untuk kau jadikan tempat berbagi suka duka?Apakah di hatimu aku hanya sebatas itu? Kau jahat." tangis Camelia meledak. Ia menutup kedua matanya dengan tangan. Tubuh Camelia bergetar. Sikunya yang tertumpu di atas meja menyebabkan mejapun ikut bergetar.

__ADS_1


"Lia, jangan menangis." Banyu berusaha menenangkan Camelia. Tangannya bergerak meraba meja. Saat ia menyentuh ujung siku Camelia, ia menarik tangannya menjauh.


"Lia, maafkan aku. Jangan menangis lagi" Banyu terus berusaha menghentikan tangis Camelia.


"Lia, aku tidak pernah menganggapmu tidak pantas. Aku justru merasa akulah yang tidak pantas. Itulah kenapa aku mencoba menjauhimu. Pria buta sepertiku, apa pantas mendampingimu?" getir Banyu.


Camelia membuka tangannya. Ia menghentikan tangisnya dan menyusut air matanya. Ditatapnya wajah sedih Banyu.


"Kau tahu. Aku juga pernah merasa seperti itu. Apa pantas anak pria buta miskin seperti aku, mendapatkan anak pengusaha kaya sepertimu?" balas Camelia.


Banyu terdiam mendengar kejujuran Camelia. Ia merasa keadaan mereka sungguh lucu. Semula Camelia yang tidak percaya diri, kini kondisi terbalik. Dirinyalah yang berubah tidak percaya diri.


Banyu tertawa lirih, lalu lama lama makin keras. Camelia paham kenapa Banyu tertawa. Iapun ikut tertawa. Untuk beberapa saat mereka berdua sama sama menertawakan kondisi mereka.


"Sekarang bagaimana?" tanya Banyu setelah mereka selesai tertawa.


"Apanya?" balas Camelia.


"Apakah kamu masih mau menerimaku?" tanya Banyu langsung tanpa basa-basi.


Muka Camelia langsung memerah.


Dia?Bisa-bisa langsung bertanya seperti itu. Untung dia buta. Kalau tidak, ia pasti akan melihat muka merahku. Ah..malunya.


"Kenapa diam. Jawab dong!" suara Banyu mendominasi.


"Aku mengerti. Tidak apa-apa. Aku paham kalau kau menolakku." potong Banyu.


"Bukan begitu." balas Camelia cepat.


"Kalau bukan begitu, lalu apa?" kejar Banyu.


Hari ini kau harus mengakui dan mengungkapkan perasaanmu padaku. Batin Banyu.


Camelia diam. Ia meremas kedua tangannya.


"Baiklah." Banyu berdiri.


"Eh, jangan!" Camelia spontan mencegah Banyu. Ia memegang tangan Banyu tanpa sadar.


Banyu menunduk ke arah tangannya yang dipegang Camelia.


"Maaf." Camelia segera melepaskan pegangannya.


Banyu tersenyum.

__ADS_1


"Kau jangan menggantungku begini." keluh Banyu pura pura cemberut.


Apa? Aku menggantungnya? Bukankah dia yang sudah menggantungku? Kenapa sekarang seolah olah jadi aku yang jahat.


"Kau menahanku tapi kau tidak mengucapkan apapun. Lalu untuk apa aku tinggal?" keluh Banyu lagi.


'Aku bersedia." jawab Camelia lirih nyaris tak terdengar.


"Apa?" Banyu mencondongkan wajahnya ke depan agar bisa lebih mendengar suara Camelia.


Camelia menelan ludah. Ia menarik nafas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya.


"Aku bersedia." jawabnya dengan sedikit keras.


"Bersedia apa?" tanya Banyu membuat Camelia mendelik tak percaya.


"Kamu?!" ucap Camelia kesal. Ia tahu kalau Banyu sedang menggodanya namun ia tak berdaya untuk melawan. Bisa melihat dan bertemu Banyu adalah hal yang selalu ia nantikan.


"Bersedia melepas aku pergi atau bersedia menerimaku kembali?"


Dia ini. Keadaan sudah begini masih saja usil.


"Bersedia menerimamu." jawab Camelia sambil memalingkan muka karena malu.


"Kenapa?"


Ayo jawab kalau kamu mencintaiku.


Apa yang dimau pria ini sebenarnya.


"Kenapa kau masih mau menerimaku meski aku buta?Katakan Camelia?"


Banyu tampak serius. Camelia kembali gugup.


"Katakan Lia, aku ingin mendengarnya!" bisik Banyu lembut namun tegas.


Bagaimana ini? Jika aku tidak menjawab, dia pasti akan kecewa. Namun aku sangat malu.


Sedangkan Banyu, hatinya terus berharap agar Camelia mau mengucapkan kata sakti yang sangat ingin ia dengar.


"Karena...aku...mencintaimu." balas Camelia. Ia langsung bangun dan berlari keluar dari ruangan itu sambil menutup wajahnya yang sudah sangat memerah karena malu.


Yess


Banyu tersenyum puas.

__ADS_1


"Sudah puas?" sebuah suara membuat Banyu menoleh tanpa melepaskan senyumannya.


...****...


__ADS_2