
Wiena menaruh pakaian kotor ustaz Huda di ranjang baju dekat kamar mandi mereka. Ia berbalik dan melihat ustaz Huda yang beringsut hendak bangun dari tidurnya.
"Mau kemana?" tanya Wiena sambil mendekti ustaz Huda.
"Ambil baju." Ustaz Huda menunjuk ke arah almari.
"Biar aku yang ambil. Kamu duduk saja!" Wiena melangkah ke almari. Ia membuka pintunya dan matanya menyapu isi almari ustaz Huda.
Kenapa pakaiannya sedikit sekali? Beda banget dengan isi almariku. Ini masih banyak space yang kosong.
Wiena memilih sebuah kaos santai untuk ustaz Huda.
"Pakai ini saja!" Wiena menyodorkan kaos itu.
Ustaz Huda menerimanya dan mencoba memakainya. Ia mendesis karena saat tangannya diangkat, lukanya ikut ketarik.
"Pelan-pelan!" Wiena reflek membantunya meski dengan dada deg degan karena ia begitu dekat dengan ustaz Huda yang memiliki dada berotot menggoda.
"Terima kasih. Maaf, merepotkanmu."
Wiena mengangguk sambil melengos karena mukanya memerah. Bayangan dada berotot milik ustaz Huda, tidak.mau pergi dari pikiran Wiena.
"Tidurlah!"
Wiena kembali mengangguk patuh. Ia melangkah ke sisi lain ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya membelakangi ustaz Huda.
"Besok aku akan mengantarmu pulang bersama Banyu dan Bara." ucap Ustaz Huda yang membuat Wiena kaget.
Kenapa dia mengantarku pulang? Apa dia akan membatalkan pernikahan kami? Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?
Wiena diam tidak menggapi ucapan ustaz Huda. Ia memejamkan mata dan berusaha tidur.
Pada sepertiga Malam kemudian.
Ustaz Huda terjaga dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya ada yang menindih. Ia mengangkat kepalanya demi melihat apa yang membelit area perut dan pahanya. Mata Ustaz Huda melebar manakala ia melihat Wiena meringkuk di bawah sana dan menggunakan sebagian tubuhnya sebagai guling. Tangannya memeluk erat perut Ustaz Huda sedang kakinya membelit paha Ustaz Huda.
Bagaimana ini? Ah..lukaku. Kalau aku menggerakkan tangannya dan dia bangun, dia pasti akan sangat malu. Tapi aku haris bangun. Oh..Ya Rabb. Kenapa yang di sana ikutan bangun. Bagaimana kalau Wiena melihatnya?
Ustaz Huda berpikir mencari cara membangunkan Wiena tanpa membuatnya malu.
Coba aku gerakan pahaku saja.
Ustaz Huda menggerakkan pahanya perlahan. Wiena menggeliat. Ustaz Huda langsung pura-pura tidur.
Oh..ku mohon jangan tegak nanti dia melihatnya.
Sementara itu Wiena terjaga dari tidurnya karena gerakan kaki Ustaz Huda. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali pada dirinya. Wiena malah mempererat dekapannya pada perut dan paha Ustaz Huda, bahkan kepalanya ia duselkan mencari tempat nyaman untuk tidur.
Bangunlah! Jangan menguji keimananku! Kau halal bagiku. Aku bisa saja khilaf dan melanggar janjiku. Dan..lukaku.
Ustaz Huda kembali menggerakkan pahanya, kini agak kencang.
Wiena kembali terganggu tidurnya. Ia mengangkat kepalanya dan matanya terbuka perlahan.
Wiena mengerjabkan matanya sampai mata itu terbuka.
"Aw!" Wiena langsung menarik tubuhnya dan beringsut ke belakang dengan cepat. Ia menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Bodoh!Bodoh! Apa yang sudah aku lakukan. Bagaimana aku bisa memeluknya. Di bagaian bawah lagi.
__ADS_1
Wiena memukuli kepalanya. Kemudian ia melihat Ustaz Huda.
Dia tidur rupanya. Syukurlah.
Wiena melambaikan tangannya dihadapan wajah Ustaz Huda.
Mata Wiena lalu mengamati tubuh Ustaz Huda yang tadi ia peluk. Ia melihat kaos yang dipakai Ustaz Huda basah oleh darah.
Lukanya? Apa gara-gara aku? Dan itu..eh itu apa.? Apa dia sedang bermimpi hingga bisa bangun begitu meski ia tidur? Eh Wiena. Kondisikan matamu.
Wiena berpaling dengan wajah memerah.
Panas. Kenapa aku merasa panas.
Wiena gelisah.
Ustaz Huda memperhatikan Wiena dari celah matanya yang ia buka sedikit.
Dia salah tingkah hingga wajahnya memerah.
Wiena yang merasa kepanasan lalu bangkit dan melesat ke kamar mandi.
Ustaz Huda bernafas lega. Kini ia tidak perlu pura-pura tidur. Ustaz Huda bangun dan langsung duduk. Ia berdiri dengan perlahan. Sambil memegang lukanya, Ustaz Huda berjalan mendekati almari.
Ia membuka kaosnya dan hendak ganti baju saat Wiena keluar dari kamar mandi.
Wiena terbelalak melihat ustaz Huda yang bertelanjang dada.
Apa ini?
Wiena kembali masuk ke kamar mandi sebelum Ustaz Huda menyadari keberadaannya.
"Ah luka ini. Aku harus mengganti perbannya. Tapi aku tidak mungkin menggantinya sendiri."
Ustaz Huda menoleh ke kamar mandi.
"Sedang apa dia? Kenapa tidak terdengar bunyi apapun dari dalam?"
Ustaz Huda berjalan mendekati kamar mandi.
tok
tok
tok
"Wiena! Apa kau sudah selesai?"
Wiena yang sedang menenangkan diri dari gugupnya, kaget saat pintu di ketuk.
"I..iya..sudah."
Wiena membuka pintu. Ia kembali dikagetkan oleh penampilan ustaz Huda yang masih bertelanjang dada.
"Kau!! Kenapa nggak pakai baju?!" teriak Wiena sambil memejamkan matanya.
"Maaf, tapi lukaku perlu diganti perbannya. Apa kau bisa membantuku?"
Wiena diam bingung.
__ADS_1
"Tapi pakailah sesuatu. Jangan bertelanjang dada begitu." Wiena terbata-bata katena jantung tidak karuan melihat tubuh ustaz Huda.
Ustaz Huda tersenyum.
Rupanya tubuhku mampu menggodamu? Kalau begitu....
"Aku tidak bisa memakai baju. Luka ini berdarah gara-gara aku memaksa melepas kaosku tadi." Ustaz Huda memasang wajah menderita karena menahan sakit.
Wiena masih memejamkan mata. Ada pertempuran sengit antara jiwa kedokterannya dan jiwa kewanitaannya. Jika menuruti jiwa kedokteran, ia ingin langsung membantu mengganti perban, namun jiwa feminimnya sedang terguncang melihat dada bidang berotot yang sempurna itu.
Aish kenapa otakku jadi mesum begini.
Wiena kembali memukuli kepalanya.
"Apa kamu pusing?" Ustaz Huda mengulurkan tangannya menyentuh dahi Wiena. Wiena kaget dan reflek membuka matanya.
"Aku tidak apa-apa." Wiena menelan ludah lalu menarik nafas dalam dalam.
"Kemarikan pakaianmu, aku akan membantumu memakainya." Akhirnya jiwa kedokteran Wiena menang.
"Tapi aku belum mandi. Aku mau sholat malam jadi aku akan mandi dulu." Ustaz Huda mendorong lembut tubuh Wiena yang menghalangi pintu kamar mandi.
"Apa dokter tidak memberitahumu kalau lukamu itu tidak boleh kena air?!?" Wiena kembali menghalangi ustaz Huda.
Dokter memang melarangku mandi. Tapi aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan kalau aku memaksa mandi.
"Tapi aku mau sholat, Wiena. Aku malu kalau tubuhku bau." Ustaz Huda membuat alasan.
"Allah pasti ngertilah. Ayo! Aku ganti perbannya!" Wiena memerintah dengan matanya.
Ustaz Huda menghadang tatapan tajam Wiena dengan sorot lembut penuh cinta. Wiena memutus pandangan. Ia tidak.kuat menatap mata yang memancarkan cinta yang besar itu.
"Sudahlah. Aku akan membantumu membasuh tubuhmu." Wiena menggeser tubuhnya
Yes!! Akhirnya.
Ustaz Huda melangkah ke kamar mandi.
"Punya handuk kecil atau washlap?" Wiena bertanya sambil melongokkan kepalanya.
"Cari saja di almari!"
Ustaz Huda berdiri menunggu Wiena. Tak berapa lama Wiena masuk sambil membawa waslap dan handuk. Ia membasahi waslap dan perlahan membasuh badan Ustaz Huda. Tangan Wiena gemetar saat mulai menyentuh dada Ustaz Huda.
Pasien. Ini pasien. Tapi aku belum pernah memandikan pasien. Biasanya semua dilakukan perawat.
Ustaz Huda terus memandangi wajah Wiena yang merah.
"Wiena!" panggilnya lembut.
"Ya!" Wiena mendongak dan....
Cup.
...----------------...
Tutup mata ya..jangan ada yang mengintip.
jempolnya mampir ya...vote juga...
__ADS_1