Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Saya menerima perjodohan ini.


__ADS_3

"Lia, apa kamu nggak kepengen tahu wajah orang yang dijodohkan denganmu?" tanya Wiena penasaran.


"Nggak. Buat apa." Camelia menjawab dengan malas.


"Ayolah kita lihat. Siapa tahu dia cakep." Wiena menarik tangan Camelia.


"Kak Wiena saja sana yang lihat." Camelia menarik tangannya dan kembali duduk di tempatnya semula sebelum Banyu datang.


"Eh kok aku. Kan situ yang mau dijodohin." Wiena mengikuti Camelia duduk.


"Orang akunya nggak mau dijodohin. Jadi dia buat Kak Wiena saja." Camelia menjawab dengan enteng.


"Ogah. Emang aku tempat sampah apa yang menerima buangan." Wiena mencebikan bibirnya.


"Eh jangan asal ngomong. Entar kualat baru tahu." Camelia mengangkat jari tengahnya memperingatkan Wiena.


Wiena mengangkat bahunya sambil mencebik. "Ayolah, Lia. Sumpah aku penasaran. Apa dia setampan Banyu." Wiena menerawang membayangkan wajah pria yang dijodohkan dengan Camelia.


Camelia meliriknya, "Enggak Kak! Lia malas."


"Ayolah. Kamu jangan melihat dia. Bukankah ada Banyu bersamanya. Kamu lihatin Banyu saja!" Wiena kembali menarik-narik tangan Camelia.


Camelia diam. Dia tidak langsung menjawab.


"Ayolah!" Wiena berdiri dan menarik Camelia.


Camelia mengikuti kemauan Wiena. Mereka melangkah bersama menuju teras.


"Yang mana? Itu Banyu dan Bara. Pasti yang membelakangi kita itu orangnya." Wiena dan Camelia mengintip dari balik pintu.


Camelia tidak menanggapi ucapan Wiena. Perhatiannya tertuju pada Banyu. Perkenalan mereka yang singkat, dan jarangnya mereka berkomunikasi, membuat Camelia memuaskan diri memandangi pujaan hatinya itu.


"Ah.. kenapa dia nggak berbalik sih." gumam Wiena.


Camelia membiarkan Wiena dengan rasa penasarannya. Ia sedikit tersentak manakala dengan tiba-tiba pandangan Banyu tertuju ke arahnya. Rupanya Banyu menyadari kalau dirinya sedang diamati. Banyu tersenyum saat tahu siapa yang mengintip nya di balik pintu.


Melihat Banyu senyum sambil melihat ke pintu, Bara mengikuti arah tatapan mata Banyu. Namun sayang. Camelia sudah menghilang, yang ada hanya Wiena. Bara mengernyitkan dahinya.


"Kak Wiena?"gumamnya sambil melihat ke Banyu seolah meminta kepastian apakah yang ia lihat benar adanya. Banyu mengangguk.

__ADS_1


Ustadz Huda yang sedang berbincang dengan Ustadz Asnawi melirik kedua santrinya yang berbisik bisik sambil melihat ke arah pintu. Rasa penasaran membuatnya menoleh. Matanya membesar saat ia tahu gadis yang telah menggetarkan hatinya mengintip dari balik pintu. Wiena juga kaget karena pria yang ia temui di toko buah tadi ternyata adalah pria yang akan dijodohkan dengan Camelia.


Wiena menarik kepalanya. Ia menyusul Camelia yang duduk di sofa. Nafasnya memburu.


"Kakak kenapa?" tanya Camelia yang selalu memanggil kakak ke Wiena karena usia Wiena yang lebih tua dari dirinya.


"Anu... tidak apa apa." jawab Wiena mengatur nafasnya. "Lia apa kamu benar-benar tidak mau dijodohkan dengan pria itu?" tanya Wiena.


Camelia langsung mengangguk tanpa ragu.


"Bagaimana kalau abah memaksa?" tanya Wiena lagi.


"Nggak akan kak. Abah sangat menghargai kami anak anaknya." jawab Camelia sambil memainkan bantal sofa.


"Tapi dia tampan lo Lia. Dan sudah dewasa. Tidak seperti Banyu." kata Wiena.


"Seperti apapun dirinya, Kak. Keputusanku tidak akan berubah." Camelia menatap Wiena. "Kakak memujinya tampan, apa kakak sempat melihatnya tadi?"


Wiena mengangguk dan pipinya memerah.


"Eh kak. Kenapa muka kakak jadi memerah?" tanya Camelia sambil mendekat dan menyentuh dahi Wiena.


"Bentar lagi kak. Tunggu mereka pulang."


"Lha... kalau mereka pulang cepat. Kalau lama? Ayolah. Jangan bilang kamu masih rindu pada Banyu?" Wiena menggoda Camelia.


"Iya.. iya." Camelia masuk ke kamarnya. Sebentar kemudian ia keluar sudah rapi dan siap berangkat ke rumah sakit. Mereka berdua berpamitan pada umi Asnawi lalu keluar.


"Abah kami berangkat dulu." pamit Wiena.


Ia pamit dengan tanpa mendekati Ustadz Asnawi karena ada banyak pria di sana.


"Iya. Hati-hati."


"Abah berangkat dulu!" Camelia juga berpamitan.


Saat kedua gadis itu berpamitan, pandangan Ustadz Huda, Bara dan Banyu juga tertuju pada mereka. Kini Bara paham kenapa sikap Banyu berubah, rupanya Banyu sudah tahu kalau Ustadz Asnawi adalah ayah dari Camelia. Dian-diam Bara merasa iba pada saudara kembarnya itu.


Banyu dan Ustadz Huda menatap kedua gadis itu dengan pikiran yang sama. Camelia sempat bersitatap dengan Banyu. Pun Wiena juga sempat beradu pandang dengan Ustadz Huda meski hanya sekejap. Saat kedua gadis itu belah menghilang dari pandangan, mereka kembali berbincang.

__ADS_1


"Sudah dewasa putri ustadz." kata Ustadz Huda.


"Iya... kalau nggak lihat tiap hari, maka rasanya cepat sekali dewasa nya. Tapi kalau abah, ya biasa saja." jawab Ustad Asnawi.


Ustadz Huda tersenyum. Ia menghela nafas sebelum akhirnya berkata, "Ustad, tentang niat baik abah dan Ustadz. Saya menerimanya. Saya bersedia dijodohkan dengan putri Ustadz sebagai ganti gagalnya perjodohan putra Ustadz dengan adik saya Yasmine. Semoga kali ini tidak gagal lagi."


Bara dan Banyu kaget mendengar pernyataan Ustadz Huda. Hati Banyu sakit. Tangannya mengepal. Bara mengamati saudara kembarnya itu dengan perasaan bingung. Di satu sisi ada Banyu dan di sisi lain ada Ustadz Huda yang sekarang telah menjadi iparnya.


"Hehehe kalau soal itu... ya.. aku harus tanya anakku dulu." jawab Ustadz Asnawi dengan logat jawanya.


"Benar itu pak Ustadz. Tapi saya berharap, kita bisa menjalin hubungan keluarga." jawab Ustadz Huda penuh penekanan.


"Nan Huda apa sudah melihat Lia?" tanya Ustadz Asnawi, "Takutnya nanti kecewa." sambung beliau.


"Sudah. Dan sayangnya saya sama sekali tidak kecewa, Ustadz." jawab Ustadz Huda dengan sedikit bercanda.


Ustadz Asnawi terkekeh mendengar jawaban Ustadz Huda. Ustad Huda juga tertawa lirih. Bara dan Banyu diam dengan pikiran masing-masing.


Setelah dirasa cukup, mereka mintabinin pulang. Sepanjang perjalanan, Bara dan Bangun tidak banyak bicara.


"Kita jadi mampir ke rumah kalian?" tanya Ustadz Huda.


"Iya, Ustadz. Ana sudah mengabari mama kalau kami akan pulang." jawab Bara. Ustadz Huda mengangguk sambil menatap keluar jendela.


"Ustadz, boleh ana bertanya?" Kini Banyu yang angkat bicara.


"Tentu boleh. Tanya apa?" jawab Ustad Huda.


"Kenapa Ustad bersedia dijodohkan dengan orang yang tidak Ustadz kenal?" pancing Banyu.


Ustadz Huda tersenyum. "Ini karena kalian yang bertanya, maka ana akan jujur. Sebenarnya ana malu, tapi kalian sudah ana anggap adik sendiri. Jadi begini, waktu ditoko buah tadi, ana tak sengaja menabrak seorang gadis dan saat kami bersitatap, jantung ana berdebar. Ana berdoa agar Allah mempertemukan kami lagi jika memang kami berjodoh. Dan tanpa diduga ternyata gadis itu adalah putri Ustad Asnawi." Ustad Huda tersenyum


Bara dan Banyu saling memandang.


*Jadi tadi Camelia juga membeli buah. Kenapa ia tidak bertemu denganku, malah berjumpa Ustadz Huda. Bathin Banyu kian perih.


...🍃🍃🍃*...


Ah... Banyu jangan sedih dulu..... sabar

__ADS_1


__ADS_2