
Pandangan Yasmine menerawang. Ia merasakan kejanggalan. Ditatapnya mahkluk yang nyaris sempurna yang tengah berbaring lelap di sisinya.
"Kenapa sakit?Bukankah seharusnya enggak." gumam Yasmine. "Kalau memang aku hamil karena diperdaya tanpa sepengetahuanku, seharusnya ini bukan yang pertama kan? Dan seharusnya nggak sesakit ini." lanjutnya dalam kebingungan.
Perlahan ia bangkit sambil menahan perih. Disibaknya selimut yang menutupi tubuhnya. Ia memeriksa sprei dan melihat tanda kesuciannya berceceran di sprei itu.
"Darah. Ini tandanya aku masih suci, jadi kemungkinan aku tidak hamil." kata Yasmine dengan nada gembira.
Digoyangnya tubuh Bara, "Bangun, ada yang ingin aku beritahukan!" kata Yasmine.
"Mmm." Bara hanya menggumam sambil. menggeliat. Diraihnya tubuh Yasmine dan ditariknya tubuh itu ke dalam pelukannya.
Yasmine meronta, "Bangun dulu!" perintah Yasmine.
Bara membuka mata dengan malas.
"Ada apa, sayang. Mau lagi? Nanti ya, aku istirahat dulu." jawabnya asal lalu kembali memejamkan mata.
"Ih.. bukan itu." Tangan Yasmine membuka kelopak mata Bara. Mau tak mau Bara bangun. Ia lantas mendudukan tubuhnya dan bersandar pada sandaran ranjang.
"Apa?" tanyanya lembut.
Yasmine tersenyum dengan cantiknya karena kebahagiaan terpancar di wajahnya.
Ia menunjukkan noda darah yang berceceran di sprei.
Bara melihatnya dengan wajah datar saja.
"Kamu tahu artinya?" tanya Yasmine.
Bara mengangguk tetap dengan ekspresi biasa. Yasmine cemberut melihat Bara yang tampak biasa saja.
"Sudahlah!" katanya lalu berbalik dan tidur memunggungi Bara. Bara tersenyum. Ia ikut rebahan dibelakang Yasmine sambil memeluk tubuh istrinya itu.
"Aku tahu sayank. Aku tahu kamu masih suci, makanya aku berani menyentuhmu. Jika kamu dalam keadaan hamil. Aku tidak akan menyentuhmu. Terima kasih karena akulah yang pertama." Bara mengecup tengkuk Yasmine.
Yasmine tersenyum bahagia. Ia memegang tangan Bara yang melingkar di pinggangnya.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Karena aku percaya padamu sejak awal bahwa nggak mungkin kamu akan menggadaikan surga demi kenikmatan sesaat." kini ciuman Bara berpindah ke bahu Yasmine dan meninggalkan tanda merah di sana.
Yasmine memutar tubuhnya. Ia menatap mata hitam Bara.
"Terima kasih telah mempercayaiku. Dan terima kasih telah mau menjadi imamku. Jika kamu tidak mengambil tanggung jawab menikahi ku, mungkin aku akan meratapi nasibku karena aku nggak tahu kalau sebenarnya aku nggak hamil." bisik Yasmine lalu mencuri ciuman kilat di bibir Bara.
"Hei.. mulai nakal ya!" ucap Bara bahagia. Ia menggelitik tubuh Yasmine. Yasmine menggelinjang kegelian.
"Stop.. geli ah." pintanya dengan suara manja.
Bara menghentikan gelitikannya. Ia memandang Yasmine dengan penuh cinta. Mata mereka saling menatap dan akhirnya mereka mengulang hal baru yang menurut jiwa muda mereka sangat seru.
__ADS_1
Satu jam kemudian
"Yas!" kata Bara sambil memeluk tubuh kelelahan istrinya, "Bagaimana kalau abah tahu?"
"Memang kenapa?"
"Aku berjanji pada abah untuk tidak menyentuhmu. Bagaimana kalau beliau tahu?" Bara mengelus punggung Yasmine.
"Biar saja abah tahu." jawab Yasmine enteng.
Bara diam. Ia berpikir. Usianya masih sangat muda, belum juga genap 18 th. Ada sedikit rasa sesal dihatinya kenapa semalam ia menuruti hawa nafsunya. Tapi mereka kan sudah halal. Sisi lain batinnya membenarkan apa yang telah ia lakukan.
"Yas!" kembali ia menyebut nama istrinya.
"Mm." jawab Yasmine sambil mencari posisi nyaman dipelukan Bara.
"Apa kamu akan kembali ke Kairo? Bagaimana kalau ketahuan kamu sudah menikah?"
Kali ini Yasmine bereaksi. Ia tidak secuek tadi. Yasmine mendongak menatap wajah Bara.
"Soal kembali ke Kairo, aku pasrahkan padamu. Aku akan menuruti apa yang kamu putuskan. Karena aku sekarang istrimu. Masalah ketahuan apa tidak, asal aku tidak hamil, aku rasa tidak akan ketahuan." jawab Yasmine.
"Yas, aku tidak akan menghalangimu untuk meneruskan kuliahmu. Kembalilah ke Kairo, aku akan menyusulmu setelah menyelesaikan pendidikanku di pesantren ini." jawab Bara.
"Benarkah?!" mata Yasmine memancarkan kebahagiaan.
Bara mengangguk. "Sejak awal aku punya keinginan memperdalam ilmu agamaku agar aku layak buatmu. Sekarang aku sudah mendapatkanmu jadi tujuanku berubah. Aku ingin seperti abah dan ustadz Huda. Mengajarkan pengetahuan tentang agama Islam."
"Yas!"
"Mm."
"Kalau kau seperti ini, bisa-bisa aku memakanmu lagi dan kita nggak akan tidur sampai pagi. " Bara memperingatkan Yasmine.
Yasmine menarik tangan dan tubuhnya menjauh dari Bara. Wajahnya memberengut.
"Bisa nggak aku tidur memelukmu tanpa membuatmu ingin memakanku?" katanya dengan bibir mengerucut membuat Bara gemas.
"Aku tidak tahu. Jangankan bersentuhan denganmu, melihatmu saja aku ingin langsung menerkam." kata Bara dengan seringaian mesumnya.
Yasmine cepat-cepat menjauh. Ia meraih selimut dan membungkus tubuhnya dengan rapat.
"Tidur! Atau nanti malam nggak bisa bangun." katanya kemudian memunggungi Bara.
Bara terkekeh. Ia lalu mendekat dan memeluk Yasmine. "Tidurlah dalam pelukanku. Aku janji akan menahan diri." bisiknya. Bara lantas ikut memejamkan mata.
...***...
Bara susah rapi dengn koko, sarung dan peci. Ia menunggu Yasmine untuk berangkat bersama ke masjid. Yasmine masih di kamar mandi.
"Yass.. apa masih lama?" Bara bertanya sambil mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Pintu terbuka. Yasmine keluar dengan wajah lesu.
"Kemapa?Kau sakit?" tanya Bara cemas.
Yasmine menggeleng. "Aku nggak bisa ikut ke masjid." jawabnya.
"Kenapa?Kau sakit?"
Yasmine kembali menggeleng, "Aku kedatangan tamu bulanan." jawabnya lirih dengan muka merah. Wajahnya lesu dan kesal.
"Maksudmu, kamu datang bulan?" tanya Bara.
Yasmine mengangguk.
"Alhamdulillah." seru Bara bahagia.
"Kok kamu senang sih?" Yasmine tidak mengerti dengan sikap Bara.
"Terus memangnya aku harus bagaimana?"
"Ya... kita kan pengantin baru, masak sudah... " Yasmine tidak meneruskan ucapannya. Wajahnya merah semerah tomat saking malunya setelah menyadari apa yang hendak ia katakan adalah hal yang memalukan.
Bara terkekeh. Ia tahu maksud Yasmine. Mereka belum puas mereguk indahnya pengantin baru, eh tamunya datang. Jadi harus libur dulu.
"Ya udah. Jangan cemberut begitu. Bukankah baik, jadi kamu bisa berangkat ke Kairo dengan tenang. Semua pasti ada kebaikannya." kata Bara, "Aku ke masjid dulu. Assalamualaikum." ia melangkah keluar kamar.
"Waalaikumsalam." jawab Yasmine lesu. Ia kembali masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan membersihkan tubuhnya.
Di luar kamar, Bara berpapasan dengan ustadz Huda yang juga sedang bersiap berangkat ke masjid. Ia memandang Bara terutama rambut Bara.
"Hem!" Ustadz Huda berdehem dengan keras menggoda Bara.
"Ustadz, kalau kepengen cepetan nikah." balas Bara nggak mau kalah.
"Eh.. nggak tahu terimakasih." semprot Ustadz Huda jengkel.
Bara tertawa . "Afwan... syukron!" katanya sambil memberi tanda hormat dengan tangan.
Mereka berdua langsung diam saat Pak Kyai keluar dari kamar. Bara menunduk. Ia masih merasa segan dengan Pak Kyai.
"Ayo!" ajak Pak Kyai tanpa melihat atau melirik Bara. Ustadz Huda menepuk bahu Bara memberi semangat.
"Jangan pikirkan bapaknya, yang penting anaknya sudah kau dapatkan." bisik Ustadz Huda nakal.
Bara menahan senyuman. Setelah menjadi adik ipar, ia baru tahu kejahilan Ustadz Huda. Selama ini beliau selalu bijaksana dan berwibawa. Jauh dari kesan usil dan jahil.
Mendekati masjid, rombongan mereka berpapasan dengan Banyu. Banyu memberi salam dan bergabung. Mereka masuk halaman masjid tanpa menyadari ada berpasang-pasang mata menatap dengan penuh kebencian dan rasa iri yang amat dalam.
...🍃🍃🍃...
Bara senang dapat liburan hahaha begitu kalau masih sekolah nikah... senang dapat libur.
__ADS_1
jangan lupa tinggalin jejak