Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Restu?


__ADS_3

Mobil yang Bara, Banyu dan Aurora naiki mendadak berhenti. Bara yang mulai mengantuk langsung terjaga.


"Ada apa, Pak?" tanyanha pada sopir.


"Ada yang menghadang den." jawab sopirnya.


Bara melihat ke arah depan. Sebuah mobil berhenti menghadang mereka. Seseorang turun. Orang yang sangat Bara kenal, Darel.


Melihat Darel, Bara membuka pintu lalu keluar. Banyu juga ikut keluar. Hanya Aurora yang tetap diam di dalam mobil. Ia mengawasi pria yang menghadang mereka dengan wajah cemberut.


"Kalian mau kembali ke pesantren kan?" tanya Darel setelah mereka saling dekat.


"Iya. Kau?" balas Bara.


"Itulah. Aku ingin kembali tapi sulit. Papa tidak memberi ijin. Aku nggak mungkin alasan magang kerja lagi di perusahaan teman aku." jawab Darel. Matanya melirik ke dalam mobil. Ia sempat melihat Aurora sebelum gadis itu menyembunyinya wajahnya.


Darel tersenyum tipis.


"Lalu kenapa. kau menghentikan kami." tanya Bara.


"Ya.. berpamitan lah. Sekalian mau nitip? pesan pada ustadz Huda. Kalian ceritakan saja masalahku. Beliau pasti. mengerti. Tapi aku akan cari cara untuk bisa kembali ke pesantren."


"Baiklah nanti aku sampaikan pesanmu." kata Bara. Ia lalu memeluk Darel untuk berpamitan. Hal yang sama dilakukan Banyu.


"Jaga diri kalian dari si Bimo." pesan Darel.


"Selalu. Kamu jangan khawatir." jawab Bara.


Setelah puas berpamitan dengan sahabatnya, mereka lalu berpisah. Darel. kali. melihat ke dalam mobil. Ia berharap bisa menatap wajah imut yang selalu mengganggu tidurnya itu. Namun si imut setia sembunyi di belakang kursi.


Banyu dan Bara kembali ke mobil mereka.


"Jalan, Pak!" kata Bara.


Mobil pun perlahan bergerak. Bara dan Banyu melambaikan tangan ke arah Darel yang masih berdiri di tempatnya. Aurora melirik, ia bisa melihat Darel yang sedang memandangnya.


Aurora segera menundukan pandangannya, pipinya terasa panas dan jantungnya berdegup.


Aku kenapa? batin Aurora. Apa aku sakit?


Aurora memegang keningnya. Ia menggeleng saat merasakan suhu tubuhnya normal. Namun ja heran kenapa ia merasa pipinya memanas.


Bara mengamati perilaku adik kecilnya itu dari kaca spion. Sedangkan Banyu. meliriknya. Mereka berdua diam tak berkomentar dan pura-pura tidak tahu kalau Darel adalah pemuda yang telah mengambil sepatu Aurora.


Darel menatap kepergian mobil Bara sampai hilang dari pandangan. Tujuan sebenarnya ia menghadang mobil mereka adalah untuk melihat Aurora. Darel mengetahui keberangkatan mereka setelah ia berbicara dengan Bara malam sebelumnya.


"Tian Muda, mari kita ke perusahaan!" ajak sopir yang sekaligus pengawal Darel.


"Baik." jawab Darel lalu melangkah ke arah mobilnya.


......***......


Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari satu jam, rombongan si kembar tiba di pesantren. Mereka turun dari mobil .

__ADS_1


"Den sayanlangsung balik." kata sopir yang mengantarnya.


"Nggak istirahat dulu, Pak?" jawab Banyu.


"Nggak lah den, bapak masih ada kerjaan."


"Baiklah, hati-hati Pak."


"Ayo ! " ajak Bara pada kedua saudaranya setelah si sopir berlalu.


Mereka sengaja minta diturunkan di depan gerbang pesantren agar tidak menarik perhatian santri yang lain.


Saat memasuki gerbang, pertama ya h merek lihat adalah kediaman pak Kyai.


"Ukhti Yasmine!" panggil Aurora kepada Yasmine yang saat itu baru saja keluar dari rumah Pak Kyai.


Yasmine menoleh ke arah Aurora yang berlari kecil menuju ke tempatnya. Bara dan Banyu menghentikan langkahnya, mereka memberi salam lalu melanjutkan perjalanannya ke asrama putra. Baru beberapa langkah, Bara berbalik.


"Kau mau kemana?" tanya Banyu sambil mencekal lengan Bara. "Mau menemuinya? Ingat ini di pesantren. Jangan bertindak yang akan kau sesali."


"Justru kalau aku tidak melakukan sekarang aku akan menyesalinya." jawab Bara sambil menarik tangannya dari cekalan Banyu. Ia melangkah ke arah rumah Pak Kyai yang juga rumah Ustadz Huda.


"Ck!" Banyu berdecik kesal campur khawatir. Ia lalu mengikuti Bara.


"Kakak, kenapa kemari?" tanya Aurora saat Bara menghampirinya dan Yasmine.


Yasmine menunduk, ia ingat pernyataan Bara beberapa waktu yang lalu.


"Ada, beliau di dalam. Antum masuk saja." balas Yasmine.


Bara langsung menuju kediaman ustadz Huda. Banyu mengikutinya. Ia penasaran apa yang akan dilakukan oleh Bara. Semula ia mengira kalau Bara akan mengobrol dengan Yasmine, namun dugaannya meleset. Ternyata Bara justru ingin bertemu ustadz Huda.


"Assalamu'alaikum!" mereka berdua memberi salam.


"Waalaikumsalam."


Pak Kyai keluar dan menjawab salam mereka. Bara sedikit gugup. Jarang sekali ia bertemu dengan Pak Kyai. Biasanya mereka bertemu saat pembelajaran.


"Ada perlu apa?" tanya Pak Kyai.


"Ana mau bertemu ustadz Huda, Pak Kyak." jawab Bara.


"Oo tunggu sebentar. Masuk lah dulu, dan duduklah."


"Baik Pak Kyai."


Bara dan Banyu masuk lalu duduk.


"Ustadz Huda sebentar lagi juga keluar, antumn tunggu saja. Tapi apa bolek ana tahu ada perlu apa?"


Bara menarik nafas dalam untuk menghilangkan kegugupan nya.


"Begini Pak Kyai, ana ada keinginan untuk melanjutkan kuliah ke Kairo, ana ingin bertanya apa yang harus ana persiapkan Pak Kyai?"

__ADS_1


Pak Kyai tersenyum. Beliau lalu menjelaskan hal hal yang harus Bara persiapkan sebelum mendaftar kuliah di Al Azhar Kairo.


"Antum kan anak pengusaha, kenapa malah memilih kuliah di sana?" tanya Pak Kyai setelah selesai menjelaskan apa saja yang harus Bara kuasai jika ingin kuliah di Kairo.


"Karena Pak Kyai bertanya, baiklah. Saya akan menjelaskan kenapa saya ingin kuliah di sana. Begini Pak Kyai, sebagaimana yang tercantum dalam Al Qur'an bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, dan kelak saya juga akan jadi pemimpin. Wanita yang akan saya pimpin memiliki pengetahuan agama di atas saya, jadi saya ingin memantaskan diri baginya agar saya mampu menjadi imamnya yang baik." jawab Bara.


Pak Kyai tersenyum, "Jika gadis yang antum incar ternyata bukan jodoh antum bagaimana?"


Bara diam. Mendengar itu hatinya terasa sedikit sedih.


"Ana tidak akan rugi Pak Kyai. Karena orang menuntut ilmu tidak akan mendapat kerugian. Apalagi kalau yang dipelajari ilmu agama." jawabnya kemudian.


Pak Kyai manggut-manggut.


Pada saat itu Ustadz Huda keluar.


"Bara, Banyu, antum di sini?" Ustadz Huda ikut duduk bersama mereka.


"Iya Ustadz." jawab Bara dan Banyu kompak.


"Mereka ada perlu sama kamu. Silahkan kalian bicara, ana masuk dulu."


Pak Kyai berdiri


"Tunggu, Pak!" kata Bara, "Ada yang ingin ana sampaikan kepada Pak Kyai dan Ustadz Huda."


Banyu menatap Bara dengan mata sedikit melotot. Ia khawatir dengan kenekatan Bara.


"O begitu. Silahkan." kata Pak Kyai. Beliau kembali duduk di kursinya.


Bara menghela nafas beberapa kali untuk mengusir kegugupan nya. Ustadz Huda tersenyum. Ia tahu apa yang akan Bara sampaikan.


"Begini Pak Kyai, Ustadz. Sebelumnya ana mohon maaf atas kelancangan ana. Ana ingin menyampaikan perasaan Ana terhadap ukhti Yasmine. Ana..."


"Cukup!" kata Pak Kyai tiba-tiba memotong ucapan Bara. Beliau lalu berdiri meninggalkan mereka.


"Abah?!" ustadz Huda memanggil abahnya. Namun Pak Kyai tidak memperdulikan panggilan ustadz Huda. Beliau meneruskan lanhkahnya.


Bara pucat. Banyu menepuk bahunya.


"Bara, kamu tidak apa-apa?" bisik Banyu.


Bara diam mematung. Hatinya benar-benar benar gundah. Ia lalu melihat ke arah ustadz Huda.


"Ustadz, ana... "


"Kalian kembalilah ke asrama dulu." perintah Ustad Huda.


Bara dan Banyu tidak membantah. Setalh mengucapkan salam, mereka keluar dari rumah Pak Kyai menuju asrama putra.


...🍃🍃🍃...


Aduuuh Bara kayaknya nggak dapat restu dech..... bantu doa ya. Tulis doa nya di kolom komentar. Banyakin likenya juga. Semoga menghibur

__ADS_1


__ADS_2