
"Kami permisi kalau begitu dan tuan Langit, saya tunggu kedatangan anda." Haji Asnawi dan Langit saling berjabat tangan.
"Iya, Pak Haji."
"Semoga niat baik kita diridloi."
"Amiin."
Semua mengaminkan doa Haji Asnawi. Wajah Banyu sangat cerah. Senyum selalu menghiasi wajah tampannya itu.
"Sebenarnya kami berharap Pak Haji bisa makan siang bersama kami." sesal Wahyu.
Haji Asnawi terkekeh, "Lain kali saja toh nanti kita juga akan menjadi saudara."
Wahyu dan Langit plus Banyu mengantar kepergian Haji Asnawi.
"Kemana Huda?" bisik Hj Asnawi pada Bagas saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Mungkin masih merenung, Bah."
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Nggak banyak, Bah. Hanya antara lelaki."
"Dia pasti kaget dengan kedatangan kita. Abah akan mengunjunginya nanti di pondok untuk meminta maaf secara pribadi."
"Begitu juga bagus, Bah."
Setelah keluarga Hj Asnawi pulang, Langit dan Banyu juga pamit. Mereka berencana mempersiapkan acara lamaran dadakan buat nanti malam.
"Aku tidak menyangkan kalau kedua putraku akan menikah mendadak semua." gumam Langit.
Wahyu tertawa. "Ingat sejarah kalian dulu. Bukankah pernikahanmu dengan Anggi juga unik."
Langit mengacungkan jempolnya membenarkan ucapan Wahyu.
Di taman.
Ustaz Huda masih duduk di gazebo. Matanya terpejam dengan kening berkerut.
"Kenapa kamu duduk di sini?"
Ustaz Huda langsung membuka mata saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Wiena mendekat dan duduk.di sebelah Ustaz Huda yang terus menatapnya.
"Kau tidak menjawabku?" kembali Wiena bersuara.
"Aku hanya sedang bingung." lirih Ustaz Huda.
"Wiena, jika aku tahu Bagaslah yang ada di hatimu, maka aku ...." ucapan Ustaz Huda terhenti karen Wiena menggunakan telunjuknya untuk menutup mulut Ustaz Huda.
Hening
Ustaz Huda dan Wiena saling menatap dalam diam, menyampaikan apa yang mereka rasakan melalui mata. Perlahan tangan Wiena turun dan meraih telapak tangan Ustaz Huda lalu membawanya ke dada. Wiena menempelkan tangan Ustaz Huda ke dadanya.
"Di sini memang pernah ada Kak Bagas. Tapi itu kemarin-kemarin. Sejak semalam, tempatnya sudah tergeser oleh seorang pria lembut nan baik hati yang sangat menyayangiku. Maaf, jika pada awalnya aku tidak menerima pernikahan kita. Tapi sekarang, aku menerimanya dengan sepenuh hatiku."
"Mungkin kau akan sulit mempercayainya. Tapi tak apa. Banyak waktu bagiku untuk membuktikannya. Semalam adalah salah satu bukti yang bisa kuberikan. Kedepannya, akan banyak hal yang bisa aku lakukan agar kau percaya, suamiku."
"Wiena, aku bukan tidak percaya. Aku hanya ingin kamu bahagia. Benar-benar bahagia dan bukan berusaha bahagia. Apa kau mengerti?" Ustaz Huda hendak menarik tangannya dari dada Wiena, namun Wiena menahannya.
"Sangat mengerti. Aku yakin aku bahagia. Kalau kamu tidak yakin, kenapa tidak memberiku kebahagiaan lagi?" Wiena mengedipkan sebelah matanya. Tangannya bergerak memindahkan telapak Ustaz Huda kebagian lain di bagian atas tubuhnya.
__ADS_1
"Kau?!?" Ustaz Huda mengeram. Rahangnya mengeras. Dia langsung menarik tengkuk Wiena dan menyambar bibir istrinya itu. Sementara tangan yang satunya memainkan mainan barunya.
Mereka asik bermesraan dan tidak.menyadari jika ada sepasang mata yang terbelalak tak percaya menyaksikan live show di gazebo.
Wahyu memutar tubuhnya dengan bersungut-sungut. Wajahnya memerah hingga ke telinga.
"Mana putri dan menantumu? Sudah waktunya makan siang." Hanna bersuara saay melihat Wahyu yang tadi ingin memanggil Wiena dan Ustaz Huda malah balik sendirian.
Wahyu menarik nafas panjang meredakan gejolak hatinya.
"Mereka sepertinya belum lapar. Kita makan dulu saja." ucapnya setelah mampu menguasai diri.
"Mas kenapa? Sakit? Kenapa mukamu memerah?" Hanna panik. Ia meraba kening Wahyu.
"Tidak demam. Mas kenapa?"
"Hanna, bersiaplah! Sepertinya kita nggak akan butuh waktu lama untuk menimang cucu."
"Hah?! Maksudnya?"
"Mereka sepertinya sedang kecanduan nikmat dunia. Ah sudahlah. Ayo,.kita makan!" Wahyu membuka piring.
Hanna yang masih bingung mulai melayani suaminya makan tanpa bertanya apa-apa lagi.
Di mansion Langit.
Begitu mobil yang dikendarainya berhenti, Banyu langsung membuka pintu dan bergegas masuk ke mansion. Langit geleng-geleng melihat tingkah sang putra.
Perilaku kayak anak kecil tapi sudah minta kawin.
"Assalamualaikum. Ma!" teriak Banyu.
"Ma! Mama dimana?" Banyu langsung ke dapur. Ia tidak melihat Anggi. Banyu memutar tubuhnya bermaksud naik.ke lantai dua mencari Anggi.
"Ah iya. Mama kan lagi mengantar Angkasa imunisasi." gumam Banyu lesu. Ia melangkah gontai dan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang ruang tengah.
"Kenapa mencari mama? Sepertinya penting banget?" Bara menyusul.kembarannya duduk di sofa.
"Dia minta dilamarkan Camelia." Langit tiba dan langsung duduk di sebelah Bara.
"Bukankah mama dan papa tidak menyetujuinya?" Bara menatap Langit penuh tanya.
"Ceritanya panjang. Ra, hubungi mama atau kalau perlu jemputlah! Ajak mama pulang. Banyak yang harus kita siapkan buat nanti malam."
'Biar Banyu yang jemput mama." Banyu langsung bangkit.
"Memangnya nanti malam ada acara apa, Pa?"
"Melamar Camelia." Banyu yang mejawab sambil melangkah keluar. Tangannya memainkan kunci mobil yang ia putar di jari telunjuk.
"Benar, Pa?"
Langit mengangguk.
"Kok bisa?"
"Jadi begini. Tadi Haji Asnawi, Camelia dan kakaknya Camelia datang ke rumah Kak Wahyu. Mereka melamar Wiena untuk Bagas."
"Tapi Kak Wiena kan sudah menikah."
"Itulah. Setelah tahu Wiena sudah menikah, Haji Asnawi sangat kecewa. Beliau merasa rendah diri karena sudah dua kali pernikahan anaknya gagal. Beliau juga sempat mengungkit kasus Yasmine yang kau nikahi."
__ADS_1
Bara menggaruk kepalanya.
"Jadi, untuk mengobati kekecewaan Haji Asnawi, papa melamar Camelia. Papa berjanji nanti malam akan datang bersama keluarga untuk lamaran resminya."
"Pantas si Banyu girang banget."
"Ini papa juga bingung bagaimana ngomongnya ke mama. Kau bantu nanti ya!"
"Beres, Pa." Bara mengacungkan jempolnya.
"Pa, bagaimana rekasi ustaz Huda?" Bara menggeser tubuhnya mendekati Langit.
"Papa tidak tahu. Pertama sih kaget lalu ia masuk kemudian keluar lagi dan mengajak Bagas bicara. Setelahnya papa tidak melihatnya sampai papa pulang."
"Kasihan kakak iparku itu. Kak Wiena belum menerimanya sebagai suami dan sekarang malah ada pria yang melamarnya."
"Wiena sudah menerimanya. Mereka sudah menjadi suami istri seutuhnya." balas Langit sambil merebahkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Bagaimana papa tahu?"
Langit menunjuk matanya dengan jari tengah dan telunjuknya lalu mengarahkan kedua jari itu ke leher Bara.
"Maksudnya apa?" Bara malah bingung.
"Bercermin sana!" Langit bangkit.
"Papa mau mandi. Kamu tunggu mama pulang."
Langit melangkah ke kamarnya meninggalkan Bara yang menatapnya bingung.
"Bercermin? Kenapa aku haris bercermin? Papa ada-ada saja. Apa hubungannya aku bercermin dengan Kak Wiena yang sudah menerima pernikahannya."
Bara bergumam. Namun tak urung tangannya meraih ponsel dan mengarahkan kamera ke wajahnya.
"Nggak ada yang aneh. Tadi papa menunjuk leher."
Bara mengubah fokus kamera ke.leher.
"Ini? Apa tanda ini yang papa maksud? Jadi papa melihat tanda yang sama pada Ustaz Huda."
Bara tersenyum lebar.
"Akhirnya. Berakhir juga masa lajang kaka ipar. Mm..telpon ah."
Bara hendak menghubungi Ustaz Huda saat tiba-tiba ada panggilan masuk.ke.ponselnya.
"Siapa? Nomor nggak dikenal?"
Bara menekan tombol hijau.
"Halo!."
(......)
"Ya, saya Bara."
(....)
"Apa?!?"
Bara berteriak kaget hingga ponselnya jatuh.
__ADS_1
"Paaaa!!!" teriaknya panik sambil berlari ke arah kamar Langit.
...----------------...