Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Kak.. Kau Menyiksaku.


__ADS_3

Sudah seminggu sejak Yasmine berangkat ke Kairo, namun tak sekalipun ia menghubungi Bara. Bara resah dibuatnya. Setiap bertemu dengan ustadz Huda, kakak laki-laki Yasmine, Bara ingin bertanya tentang Yasmine. Tapinia selalu mengurungkan niatnya.


"Jika aku bertanya, ustadz Huda akan balik menanyakan ada hubungan apa antara kami. Akun harian menjawab apa nanti. Tapi rasa ini sangat menggangguku." Bara bergumam sambil. mengusap wajahnya dengan kasar.


Banyu yang sedang membaca melihat Bara yang gelisah.


"Ada apa lagi? Belakangan ini ku lihat kau gelisah terus?" Banyu bertanya. Ia memang selalu perhatian pada Bara karena mamanya mewanti wanti untuk menjaga kembarannya itu.


"Dia nggak ngasih kabar." jawaban yang lolos dari mulut Bara membuat Banyu mengernyitkan dahinya.


"Dia?Siapa! Jangan bilang Yasmine."


"Siapa lagi." Bara mengakhiri jawabannya dengan helaan nafas panjang.


"Bagaimana dia bisa memberi kabar Apa dia punya no ponselmu?"


"Ya! Aku memberikan nomor ponselku saat dia berangkat minggu lalu. Akau menghadang mobilnya dan meminta waktu bicara." Bara menjelaskan.


"Kau benar benar menyukainya?Ini bukan dirimu seperti yang ku kenal." Banyu menutup bukunya dan beralih memperhatikan Bara.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Ku pikir awalnya aku penasaran karena matanya sangat indah. Setelah tanpa sengaja melihat wajahnya aku jadi tidak bisa melupakannya. Dia beda. Dia tidak seperti cewek-cewek di SMA kita dulu yang begitu tidak tahu malunya menarik perhatianku. Sepertinya aku sudah jatuh cinta Nyu."


"Kau tahu? Dia bukan tipe gadis yang silau akan dunia. Saranku, perbaiki dirimu dulu. Kalau urusan dunia, kita bukan orang biasa. Tapi kalau urusan agama, kita nol besar. Sedangkan dia adalah putri seorang kyai dan bahkan sekarang menuntut ilmu agama di Kairo. Apa menurutmu dia akan menerimamu menjadi imamnya?" Banyu menjedan perkataannya. Ia melihat reaksi Bara.


"Lagi pula tak mungkin dia menghubungimu tanpa alasan yang jelas. Bayangkan, kenapa dia harus menghubungimu? Karena menganggap kamu pacarnya? Aku yakin dalam kamusnya nggak ada kata pacaran. Jadi jangan terlalu dipusingkan. Bisa jadi ia juga memikirkanmu, hanya dia nggak mau menghubungimu duluan. Seperti yang kukatakan tadi."


Bara diam mencerna semua ucapan Banyu. Adik kembarnya itu memang kadang bersikap dewasa melebihi usianya. Ia memang selalu bisa meredam amarah dan rasa gelisah Bara. Makanya mereka nggak terpisahkan. Bara sangat membutuhkan Banyu.


"Kau benar." Bara bangkit. "Aku harus berjuang. Aku harus menjadi lebih baik. lagi." Bara bertekad. Ia lalu mengambil buku dan mulai belajar.


"Kalau kau ingin tahu keadaannya, minta tolong Aurora saja buat menanyakannya pada ustadz Huda. Kalau Aurora yang bertanya, beliau tidak akan curiga."


Mata Bara bersinar. Ia lalu bangkit dan memeluk Banyu.


"Kau memang tje best!" Bara menggoyang tubuh Banyu.


"Lepasin! Gerah aku kau peluk begini!" Banyu berkata sambil. melepaskan pelukan Bara.


"Kenapa? Aku bahkan ingin menciummu sebagai ucapan makasih." Bara memonyongkan bibirnya hendak mencium pipi Banyu. Banyu menahannya dengan tangan.


"Cih.. menjauh darimu. Kamu mengerikan!" seru Banyu masih terus meronta berusaha lepas dari Bara.


"Hem!!" suara deheman yang berat mengagetkan mereka berdua. Spontan akai mereka berhenti dan menoleh ke arah pintu yang memang dari tadi tidak mereka tutup.


"Ustadz Huda!!" Seru Bara dan Banyu. Mereka langsung berdiri dengan sikap hormat.


"Assalamualaikum.Apa antum berdua sedang sibuk?" tanya ustadz Huda.


"Waalaikumsalam.La ustadz. Kami hanya sedang membaca." jawab Banyu. Bara diam. Ia tidak berani menatap ustdaz Huda yang tampak sangat berwibawa.

__ADS_1


Apa beliau mendengar percakapan kami.


"Baguslah. Ustdaz butuh bantuan antum berdua."


"Bantuan apa ustadz?" Tanya Bara yang mulai bisa mengatasi kegugupannya.


"Ustdaz ada ceramah ke luar kota dan butuh asisten buat menemani ustdaz. Biasanya sih Fahri yang selalu menemani ustdaz tapi sekarang ustadz rasa antum berdua bisa ikut sambil belajar. Apa antum bersedia?"


"Tentu ustadz. Kami bersedia." jawab Banyu antusias.


"Baiklah. Bakda ashar kita berangkat. Siapkan diri antum. Assalamualaikum."


Ustadz Huda memberi salam lalu pergi. Senyum tersungging di bibirnya tanpa di sadari oleh Banyu dan Bara.


"Sstt! Apa beliau mendengar percakapan kita tadi?" bisik Bara.


Banyu angkat bahu, " Bukankah bagus kalau beliau mendengar. Setidaknya beliau tahu ada penggemar adiknya di kamar ini."


"Sialan!"


"Sudah. Balik baca sana! Katanya mau memantaskan diri."


"Iya bawel." Bara kembali duduk. membaca buku tentang tata bahasa Arab


Ia mulai belajar. Dasar otak mereka yang memang cerdas, Banyu dan Bara tidak menemukan kesulitan mengejar ketertinggalan.


Bakda ashar, Bara dan Banyu langsung ke rumah pak Kyai setelah selesai jamaah di masjid. Mereka berdua menunggu ustadz Huda.


"Kami berdua bisa ustadz."


"Bagus. Antum bisa gantian menyetir. Ayo berangkat!" Ustadz Huda memberikan kunci mobil pada Bara.


Bara mengemudikan mobil dengan tenang dan hati-hati. Ia tidak mau ustad Huda mendapat kesan buruk akan dirinya jika ia mengemudi dengan kasat dan ugal-ugalan.


Di kursi belakang, ustadz Huda memandangi Bara. Ia tersenyum lalu mengambil ponsel. Ia sengaja menyetel ponselnya pada mode loudspeaker.


"Assalamu'alaikum, kak!" Suara lembut Yasmine menjawab panggilan ustdaz Huda.


Bara berjengkit kaget. Ia melihat kebaraj ustadz Huda dari kaca spion.


"Wa'alaikumsalam. Lagi apa?"


"Ini, lagi mengerjakan tugas."


"Nggak rindu rumah?" tanya ustadz Huda.


"Ya rindu lah kak. Tapi Yas harus bisa menahannya demi cita-cita Yas." jawab Yasmine.


"Bagus. Kakak bangga padamu."

__ADS_1


"Kakak sedang apa?"


"Ini, sedang dalam perjalanan ke.kota A untuk berdakwah."


"Sama kak Fahri?" tanya Yasmine membuat dada Bara sesak.


Kenapa ia memanggil Fahri dengan kak.


"Kali ini kakak ditemani Bara dan Banyu." jawab Ustadz Huda. Di seberang telepon Yasmine memegang dadanya saat kakaknya menyebut nama Bara. Bayangan wajah tampan itu melintas begitu saja dalam pikirannya. Ia jadi ingat kata kata Bara sebelum dirinya berangkat.


"Dik, kamu masih di sana kan?"


"Iya kak." suara Yasmine sedikit bergetar. Ustadz Huda menyadari itu. Masih dengan ponsel menyala, ustadz Huda berkata kepada Bara.


"Bara, pertigaan depan belok kanan dulu ya. Ustadz mau mampir ke teman sebentar!" perintah Ustadz Huda.


"Baik Ustadz." jawab Bara. Yasmine semakin berdebar mendengar suara Bara.


"Dik, kakak tutup dulu ya. Nanti kakak sambung lagi."


"Iya, kak." jawab Yasmine


Ustadz Huda mengakhiri panggilan setelah mengucap salam.


"Ustadz apa saya boleh bertanya?" ucap Bara.


"Silahkan!"


"Untuk bisa kuliah di Kairo, syaratnya apa saja?" tanya Bara. Banyu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Bara. Pasalnya sangat papa sudah pernah berkata jika mereka berdua harus meneruskan memimpin perusahaan. Dengan kata lain setelah lepas dari pondok nanti mereka harus kuliah tentang ilmu bisnis dan manajemen. Tapi Bara malah bertanya tentang kuliah di Kairo.


"Antum tertarik?" Ustad Huda balik. bertanya.


Bara tersenyum, "Apa saya mampu dan pantas Ustdaz." jawab Bara.


"Kenapa nggak. Kalau antum tertarik, ustadz akan membimbing antum langsung agar lolos masuk ke Kairo."


Bara senang bukan main. Di bimbing langsung oleh ustadz Huda yang notabene kakak dari Yasmine. Jika ia bisa dekat dan menarik hati ustadz Huda, jalan menuju Yasmine semakin lebar.


"Saya bersedia ustdaz." jawab Bara. Banyu diam.


"Antum, bagaimana Banyu? Kalau mau Antum berdua bisa belajar bersama di bawah asuhan ustdaz langsung. Kalaupun nantinya tidak meneruskan ke Kairo, ya nggak papa. Ilmu nggak. pernah ada mubazir nya. Apalagi iku agama."


"Baik ustadz. Saya ikut." jawab Banyu akhirnya.


Jauh dari mereka bertiga, Yasmine mendekap ponselnya setelah kakaknya mengakhiri panggilan.


*Kak... kau menyiksaku. Seminggu ini aku berusaha menghapus bayangannya. Usahaku buyar dan gagal total dengan kakak sengaja memperdengarkan suaranya. Apa maksudmu kak. batin Yasmine.


...💕💕💕...

__ADS_1


Alhamdulillah up juga.


Semoga menghibur*.


__ADS_2