
Suasana berubah hening saat Bara, Banyu, Yasmine dan Wiena masuk.
Apa reaksinya saat tahu kami sudah menikah? batin ustaz Huda.
"Wah ini bintangnya datang. Bara, Banyu kemarilah!" kata Kyai Hasan.
Bara dan Banyu bergabung dengan para pria sementara Wiena dan Yasmine masuk. Di dalam, Hanna langsung bangkit dan menyongsong putrinya. Ia memeluk haru putri kesayangannya itu.
"Mama kenapa sih?" Tanya Wiena heran manakala merasakan kalau Hanna menahan isak tangis harunya.
"Mama bahagia sayang." jelas Wiena dengan suara sedikit tercekat.
"Bahagia karena apa?" kembali pertanyaan keluar dari bibir Wiena. Ia benar-benar bingung dengan apa yang Hanna lakukan.
"Karena kamu sayang." Hanna melepaskan pelukannya dan menatap Wiena lekat.
"Aku?!" Wiena menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Kak Hanna, jangan buat dia kebingungan." tegur Anggi. "Kalian duduk lagi saja."
Hana kembali duduk di sisi Anggi. Wiena akan duduk di sebelah Yasmine saat Anggi kembali menegurnya.
"Wiena kasih salam pada Nyai Hasan!"
"Oh maaf lupa. Mama sih." Wiena bangkit dan mengambil tangan Nyai Hasan lalu menciumnya.
"Barokallah. Semoga samawa ya nak." Nyai Hasan mengelus kepala Wiena.
Samawa?Apa maksudnya ini?
"Maksud bu Nyai ?"
Nyai Hasan hanya tersenyum.
"Panggil umi!" perintah Hanna.
Umi? Iya sih beliau ibunya si ustaz itu. Tapi nggak sekarang juga manggil uminya mama.
Baik Hanna, Anggi dan Nyai Hasan tidak membuka suara soal pernikahan Ustaz Huda dan Wiena. Mereka membiarkan Ustaz Huda sendiri yang menyampaikannya kepada istrinya itu.
Setelah lama berbincang akhirnya rombongan keluarga Langit dan Wahyu undur diri.
"Terima kasih atas jamuannya Pak Kyai." kata Langit.
"Jangan sungkan. Kita kan keluarga." Kyai Hasan menepuk pundak Langit. Langit merentangkan tangan lalu memeluk beliau.
"Terima kasih sudah mendidik anak anak kami." bisiknya.
Kyai Hasan tersenyum.
"Kami permisi, Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
Banyu dan Bara juga Ustaz Huda ikut keluar mengantar mereka sampai ke tempat mobil mereka diparkirkan.
"Kamu kapan pulang?" tanya Anggi pada Banyu. Kalau Bara, pasti akan tinggal lebih dulu di pesantren sampai istrinya kembali ke Kairo.
__ADS_1
"Jika mama dan papa sudah punya jawaban tentang permintaanku." jawab Banyu enteng.
Langit menghela nafas.
"Ya sudah. Selama papa memikirkannya kamu juga. Pikirkan kembali permintaanmu itu."
Banyu mengambil tangan mama dan papanya. Mencium punggung tangan mereka sebelum mereka masuk ke mobil.
"Eits..kamu mau kemana?!" Ustaz Huda mencekal tangan Wiena saat gadis itu mau masuk ke mobil.
"Eh..apaan sih. Aku mau pulanglah." Wiena berusaha melepaskan tangannya. Ia menatap sengit Ustaz Huda yang malah memberinya senyum manis. Wiena melengos kesal saat tangannya tidak juga lepas.
"Wien, kamu tinggal dulu sebentar. Nanti bisa bareng sama Banyu dan Bara!" kata Hanna lalu menutup kaca mobilnya.
"Ma! Mama gimana sih. Anak gadisnya ditinggalkan di sarang musang." teriak Wiena. Bara dan Banyu tertawa.
"Musangnya dah jinak kok Ma, jangan khawatir." Ustaz Huda membalas dengan suara yang tak kalah kerasnya.
"Apaan sih?" Wiena semakin sewot namun tak bisa berkutik karena tangannya masih berada dalam genggaman Ustaz Huda.
Nih orang kok pegangin tanganku sih. Bukankah aku bukan mahramnya.
"Lepasin. Dosa. Bukan mahram!" hardik Wiena kesal.
"Khusus aku dan kamu, nggak ada dosa." balas Ustaz Huda.
"Sudahlah kak. Nikmati saja. Awas nagih lo!" goda Bara. Banyu hanya tersenyum simpul. Mereka berlalu meninggalkan Wiena dan Ustaz Huda. Banyu kembali ke asrama sedangkan Bara menuju rumah Kyai Hasan.
"Awas kalian!" ancam Wiena galak. Yang diancam hanya melambaikan tangan.
Wiena semakin kesal dan matanya beralih ke Ustaz Huda. "Lepasin!!"
"Lepasin atau saya teriak!"
"Teriak saja! Paling mereka mengira kita pasangan yang lagi bertengkar." jawab Ustaz Huda masih dengan senyum di bibirnya.
Nih orang nggak bisa diancam pake kekerasan rupanya. Aku harus cerdik. Pakai saja senjata wanita. Airmata.
Wiena lalu membayangkan berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi agar kesedihan muncul dihatinya dan airmata bisa keluar. Benar saja, membayangkan ditinggal mama dan papanya, hati Wiena beneran sedih. Matanya mulai berkaca-kaca.
Ya Allah kenapa nyesek bener ya. Bagaimana kelak jika aku beneran berpisah dengan mereka.
Wiena menunduk. Ia mulai terisak.
"Eh..kok malah nangis?Iya aku lepasin tapi janji jangan kabur." Ustaz Huda melepaskan cengkraman tangannya.
Wiena tetap terisak. Ia terpaku ditempatnya. Pikirannya dipenuhi bayangan perpisahan dengan kedua orang tuanya.
"Maaf. Jangan nangis ya! Cup..cup..cup." Ustaz Huda mengelus punggung Wiena menenangkan. "Kamu kesal ya. Maaf." Ia terus membujuk Wiena dengan lembut.
Bukannya berhenti menangis, kelembutan Ustaz Huda malah membuat Wiena semakin terisak dan akhirnya tangisnya pecah.
"Hwaaaa.....Kamu jahat. Gara-gara kamu aku jadi sedih begini. Aku nggak mau pisah sama kedua orang tuaku. Mama..papa..Wiena sayang kalian hwa..hwa..."
Ustaz Huda kebingungan. Gadis yang biasanya jutek itu kini meraung seperti anak kecil. Dia menggaruk kepala tidak tahu harus berbuat apa. Seumur hidup selain dengan Yasmine, ia tidak pernah berinteraksi lebih dengan wanita.
"Diam ya..cuo..kamu mau apa? Nanti aku beliin." bujuknya.
__ADS_1
Wiena melirik sewot. "Emang aku anak kecil." sungutnya dengan masih terisak isak.
"Bukan ya?" gumam Ustaz Huda. "Terus bagaiman supaya kamu diam? Jangan nangis ya..masak hari pertama malah nangis." kata Usta Huda.
Wiena langsung terdiam sambil memandang sengit Ustaz Huda. "Apa maksudnya hari pertama?!"
"Oo itu. Ee. Kita ngobrol di tempat lain saja. Masak sambil berdiri begini? Nggak nyaman. Ayo!"
Ustaz Huda hendak memegang tangan Wiena namun Wiena menghindar.
"Jangan pegang-pegang!" Ucap Wiena galak.
"Iya nggak pegang. Ikut aku!"
Ustaz Huda berjalan dengan diekori Wiena.
"Tunggu!"
Ustaz Huda berhenti.
"Bukankah ini arah kembali ke rumahmu?"
"Iya. Nggak ada tempat yang enak dipakai bicara selain di rumah." Ustaz Huda memutar tubuhnya dan mulai berjalan lagi.
"Tunggu!"
"Apa lagi?" Ustaz Huda menatap Wiena.
"Nggak ada cafe?"
Pria muda itu tersenyum. "Nggak ada!" jawabnya singkat. "Sudahlah ikut saja ke rumah!"
Ustaz Huda melangkah lagi.
"Tunggu!"
Ustaz Huda tidak berhenti. Ia hanya menggerakkan tangannya memberi tanda agar Wiena mengikutinya.
"Menyebalkan."
Wiena dengan berat hati mengikuti Ustaz Huda kembali ke rumah Kyai Hasan.
"Sudah datang. Mana..." Nyai Hasan menyambut putranya. Ia hendak menanyakan Wiena namun urung begitu melihat menantu barunya itu berjalan menuju rumah mereka dari kejauhan.
"Kenapa dia anta tinggal. Anta belum memberitahunya?" Nyai Hasan memandang putranya dengan alis berkerut.
"Tunggu saat yang tepat umi. Dia sepertinya akan sulit menerima kalau kami sudah sah. Soal pertunangan saja, dia belum menerimanya. Masih terpaksa."
"Anta harus sabar kalau begitu. Umi yakin dia gadis yang baik. Hanya kalian belum saling kenal dan tiba-tiba harus dijodohkan. Sebagai gadis modern dia pasti kesal. Perlakukan dia dengan lembut, wanita kalau dilembuti lama-lama akan luluh juga."
"InshaaAllah umi. Laksanakan."
"Dasar!" Nyai Hasan menepuk bahu putranya sambil tertawa.
Mereka berdua lantas memandang Wiena yang kian dekat.
Wiena memperlambat langkahnya ketika semakin dekat dengan rumah Kyai Hasan apalagi ia melihat ustaz Huda dan Nyai Hasan menanti kedatangannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...