
"Ada angin apa nih, pada berkunjung ke mari? Nggak mungkin mau periksa kan?" goda Wiena sambil mengerling pada Banyu.
Banyu dan Bara tersenyum sedangkan Ustadz Huda menarik nafas untuk menenangkan jantungnya yang melompat-lompat kegirangan bertemu Wiena.
"Ini kak, sepupu jelekmu ini mau bertemu Camelia." goda Bara sambil mengelus kepala Banyu seperti anak kecil.
Ustadz Huda yang tidak mengetahui kalau Banyu dan Camelia saling menyukai hanya diam. Ia mengira Banyu bertemu Camelia untuk membantunya menjelaskan masalah perjodohan mereka.
"Ooo Camelia ya. Dan ustadz? Bukankah ustadz adalah pria yang dijodohkan dengan Camelia? Apa ustadz juga ingin menemuinya?" Mata Wiena menatap tajam ustadz Huda membuat ustadz Huda gugup. Ia langsung mengalihkan pandangannya dari mata tajam Wiena.
"Mmm tidak. Hanya dia." jawab Ustadz Huda. Ia tidak ingin lebih membuat Wiena salah paham akan maksud kedatangannya. Dan ia juga ingin memberi ruang pada Banyu untuk membantunya membujuk Camelia agar mau membatalkan perjodohan yang sudah terlanjur ia setujui karena mengira Wiena adalah Camelia.
"Baguslah!" jawab Wiena yang membuat Ustadz Huda melirik lagi ke arahnya. Hati Ustadz Huda girang bukan main karena mengira kalau Wiena senang sebab ia tidak berniat menemui Camelia. Sesungguhnya Wiena memang merasa senang, tapi itu untuk Banyu dan Camelia. Ia sedikit tidak menyukai Ustadz Huda yang hadir sebagai orang ketiga diantara teman dan sepupunya itu,
"Ngapain masih disini. Sudah sana masuk ke ruangan itu tuh." Wiena menunjuk sebuah ruangan. "Dia ada di sana."
Banyu mengangguk, "Kakak tidak mau menemaniku?" tanya Banyu.
"Ogah. Buat apa? Nanti juga disuruh keluar. Iya kan?" goda Wiena lalu memajukan bibirnya. Ustadz Huda kembali mengalihkan pandangannya karena sempat melihat ekspresi menggemaskan yang ditunjukan Wiena.
Apakah dia selalu begini saat bicara dengan lawan jenis, menggoda dan menggemaskan, Ah tapi Bara dan Banyu kan sepupunya, mungkin karena mereka sepupuan. Tapi kan ada aku. Tidak sadarkah dia perbuatannya itu menggangguku. Eh kenapa aku jadi terganggu. Gangguan yang menyenangkan. Astaghfirullah.
"Kamu Ra?" tanya Banyu pada Bara.
"Nggak usah pura-pura deh, minta ditemani segala." semprot Bara. "Aku ada urusan." sambungnya lalu pamit dan ngeloyor pergi.
"Ana akan menemani anta." kata Ustadz Huda. Melihat Banyu yang meminta ditemani Wiena dan Bara, ia berpikir Banyu pasti juga butuh bantuan saat bicara dengan Camelia nanti.
Wiena mendelik kesal.
Nih Ustadz mau apa menemani Banyu, mengganggu saja.
Banyu mengangguk dan hendak mengiyakan namun di potong oleh Wiena.
"Ee.. Ustadz. Sebaiknya anda di sini saja. Ada yang ingin saya tanyakan soal ..ee.. soal pernikahan. Ya soal pernikahan yang benar. Jadi ustadz nggak perlu menemani Banyu." bujuk Wiena.
Ustadz Huda diam berpikir. Ia menimbang antara menemani Banyu atau Wiena.
"Sudahlah Ustadz. Jangan banyak berpikir. Ayo ikut saya. Kita ngobrol sambil minum di kantin." Wiena ingin sekali menyeret Ustadz Huda untuk mengikutinya. Tapi ia sadar, pria di hadapannya adalah seorang ustadz yang tidak akan mungkin ia perlakukan sama dengan temannya yang lain.
__ADS_1
"Baiklah. Banyu, afwan. Ana tidak bisa menemani anta."
"Tidak apa-apa ustadz." Banyu lalu memberi hormat pada Ustadz Huda dan beranjak menuju ruangan Camelia. Sementara itu Ustadz Huda menyusul Wiena yang tampak berdiri menunggunya di kejauhan.
***
Banyu menarik nafas dalam-dalam beberapa kali sebelum akhirnya mengetuk pintu dan membukanya. Ia melihat Camelia sedang sibuk dengan laptopnya.
"Assalamualaikum." Banyu mengucap salam.
Camelia terkaget mendengar suara yang sangat ia nantikan itu. Spontan ia mendongak dan melihat Banyu berdiri di ambang pintu.
"Waalaikumsalam." jawabnya lirih. Matanya terus menatap Banyu untuk memastikan kalau memang Banyu sedang berdiri di sana dan bukan hayalannya semata.
"Boleh aku masuk?" tanya Banyu menyadarkan Camelia kalau ini nyata bukan mimpi.
"Oh..ee..silahkan." Camelia lalu menutup laptopnya. Ia meremas tangannya mengalihkan kegugupannya.
Banyu mengambil kursi dan duduk di depan meja Camelia. Ia bisa melihat kalau gadis di hadapannya itu sedang duduk dengan gelisah.
"Maaf kalau kedatanganku membuatmu tidak nyaman. Aku hanya sebentar kok." kata Banyu yang merasa menjadi penyebab kegelisahan Camelia.
"Eh tidak kok." jawab Camelia cepat sambil mengangkat pandangannya. Mereka saling menatap sebentar lalu keduanya segera mengalihkan pandangan.
"Suka kok." kembali Camelia menjawab dengan cepat. Kentara sekali kalau ia sedang gugup. Banyu juga melihat kalau gadis itu sedikit kaget saat menyadari jawabannya,. Ia langsung menutup mulutnya "Maksudku..tidak begitu. Maksudku..kedatanganmu tidak mengganggu.' Camelia kembali menunduk. Jemarinya saling meremas,
Banyu tertawa geli dalam hati melihat sikap Camelia. Secara usia, Camelia lebih tua darinya. Tapi lihatlah, siapa yang bertingkah seperti ABG sekarang.
"Kamu,,ada apa kemari?" Camelia memberanikan diri bertanya.
"Kangen." Banyu masih saja menggodanya.
Wajah Camelia memerah, Ada senyum samar terukir di bibirnya membuat Banyu semakin gemas.
"Jangan bohong." kata Camelia masih dengan menunduk melihat kedua jemarinya yang terus ia mainkan.
"Apa itu tidak sakit?" tanya Banyu.
"Hah?" Camelia bingung dengan pertanyaan Banyu. Ia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Banyu sekilas.
__ADS_1
"Jari-jarimu. Apa tidak sakit dari tadi kau remas begitu?"
"Oh." Camelia melepas tautan jari jemarinya..
Banyu tertawa lirih. Camelia meliriknya. Mukanya semakin merah karena merasa kalau Banyu sedang menertawakan kegugupannya.
"Lia! Ustadz Huda sudah menyetujui perjodohan kalian." kata Banyu kalem namun membuat Camelia sangat kaget.
"Apa?!' serunya. "Tapi abah tidak bilang apapun padaku." lanjut Camelia.
"Tapi ustadz Huda menyesalinya. Ia bilang menyetujui perjodohan kalian adalah sebuah kesalahan. Ia merasa terburu-buru saat mengatakan setuju. Dan ia berharap, kamu bisa membantunya membatalkan perjodohan ini karena ustadz Huda merasa tidak enak kalau pembatalan dilakukan oleh pihaknya. Apa kamu mau?"
"Mau!" kembali Camelia menjawab dengan cepat. Wajahnya menunjukan kesungguhan dan kelegaan.
Banyu tertawa melihat tingkah Camelia yang suka menjawab pertanyaan dengan terburu-buru itu.
"Baiklah. Aku akan menyampaikan hal ini pada Ustadz Huda." Banyu berdiri.
"Mau kemana?" tanya Camelia yang kemudian langsung menutup mulutnya..
Dasar nih mulut ngomong nggak pake filter.
"Kenapa? Nggak rela aku pergi?' kata Banyu sambil tersenyum manis.
Muka Camelia memerah. Ia tidak lagi menjawab dengan cepat. Ia hanya menunduk
"Ooo jadi ingin aku pergi ya. Baiklah, aku per..."
"Jangan!" Camelia kembali menutup mulutnya setelah mengucapkan kata itu.
Banyu tertawa. Menggoda Camelia sangat menyenangkan.
"Kamu jahat." rajuk Camelia saat tahu kalau Banyu hanya menggodanya.
Banyu menghentikan tawanya. Ia lalu meletakkan kedua tangannya ke atas meja. Dan dengan suara yang bernada serius, ia berkata:
"Saat ini aku akan pergi. Tapi aku akan kembali padamu. Jadi tunggu aku."
Tubuh Camelia meremang mendengar ucapan Banyu yang penuh kesungguhan. Tanpa ia sadari ia mengangguk. Banyu kembali tertawa lirih. Diusapnya pucuk kepala Camelia lalu ia pamit dan keluar dari ruangan itu. Camelia mengusap kepalanya bekas sentuhan Banyu. Ia lalu tersenyum senang sambil menelungkup memeluk laptop yang ada di atas mejanya.
__ADS_1
Indahnya jatuh cinta. Rasanya gurih-gurih gimana gitu.
Tengokin juga karya author yang lain ya