
"Bimo? Bukan kah dia tidak menyukai kita?" Bara menatap Banyu dengan alis mengernyit.
Mereka saling pandang penuh arti.
"Kau tahu apa yang harus kita lakukan?" tanya Bara.
Banyu mengangguk. Ia lalu mengambil ponsel yang berhasil mereka sembunyikan. Santri dilarang membawa ponsel selama belajar di pesantren.
Bara mengambil gambar kurta Banyu lalu mengirim pesan ke sekretaris Langit. Minta bantuan dibawakan kurta yang sama dengan warna beda.
"Beres!" Bara tersenyum. Ia kembali menyembunyikan ponselnya.
"Kita apakan si Bimo?" Banyu bertanya penuh rasa kesal.
"Tentu saja kita balas. Tapi jangan gegabah. Tunggu waktu yang tepat dan jangan sampai kentara sehingga tidak ada yang bisa menyalahkan kita."
"Hm."
"Dia pasti punya rekan."
"Kita cari tahu juga siapa orangnya. Kita bidik mereka dengan batu yang sama."
"Ya!Tapi sekarang yang lebih penting adalah menyiapkan penampilan kita dulu. Aku tahu Bimo melakukannya karena iri. Kita buat dia semakin iri hingga ia menunjukkan belangnya sendiri. Tanpa kita susah payah membongkar nya."Banyu menjelaskan.
__ADS_1
"Tumben. Biasanya kau adem saja. Sekarang malah lebih panas dari aku." tutur Bara melihat antusias Banyu yang ingin membalas Bimo.
"Itu, karena aku merasa dibodohi olehnya." jawab Banyu sambil ngeloyor pergi dan tidur di ranjangnya.
Bara ikut merebahkan tubuhnya. Baru satu jam mereka istirahat, seorang santri datang dan sambil. membawa paket buat Bara.
"Sekretaris papa memang the best." puji Bara. Ia membuka paket itu dan isinya adalah kurta yang sama persis dengan miliknya yang rusak.
"Aku jadi nggak sabar lihat reaksi orang yang telah merusak kurtaku saat melihat aku memakai ini." gumam Bara.
"Dengan memperhatikan wajah para santri, kita akan tahu siapa yang merusak kurtamu."
"Hm, orang itu pasti sangat kaget dan tidak menyangka aku masih bisa memakai kurta ini."
"Hendak tausiah ustad?" sapa Bimo.
"Iya Bim, ini lagi menunggu Bara dan Banyu. Kenapa mereka belum tiba juga."
"Mungkin mereka berhalangan menemani ustadz." kata Bimo. Ia ingin mengucapkan kata-kata lagi saat matanya melihat Bara dan Banyu mendekat.
Bagaimana bisa, bukankah aku sudah menyuruh merusak kurta salah satunya.
Mata Bimo membola melihat Bara mengenakan pakaian yang telah ia rusak.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Afwan ustadz, kami terlambat."
"Na'am, la bas. Ayo kita berangkat!" Ustadz Huda berdiri. Ia melempar kunci mobil ke arah Bara yang segera menangkapnya dengan cekatan.
"As usual." Ustadz Huda melempar senyumnya. Bara dan Banyu membalas dengan senyum manis.
Bimo menyaksikan itu dengan raut wajah kecewa.
"Try hard, Bro!" Bara memeluk bahu Bimo lalu melenggang masuk ke mobil.
Banyu membuat gerakan kedua jari tengah dan telunjuk ia arahkan dari matanya ke arah Bimo. Yang artinya bahwa dia mengawasi setiap gerakan Bimo. Senyum kemenangan tersungging di bibir Banyu.
"Apa ada sesuatu yang terjadi yang ana tidak tahu?" tanya Ustad Huda saat kedua pemuda itu masuk ke mobil.
"La shay, Ustadz. (tidak ada apa apa, ustadz). Hanya ada kerikil kecil di jalan kami. Tapi mampu kami injak tanpa melukai kaki kami." jawab Bara sambil mengulum senyum.
"Hati hati. Jangan terlalu keras menginjaknya. Kalau ia berubah jadi debu, bisa menyerang mata." nasehat ustadz Huda penuh makna.
"Na'am, Ustadz." Bara dan Banyu menjawab bersamaan.
...💞💞💞...
Maaf ya Readers. Uploadnya belakangan terlambat semua author masih belum fit.
__ADS_1