
"Kenapa rumah sepi?Apa abah dan umi lagi mengajar?" gumam Ustadz Huda saat sampai di rumahnya dan melihat rumahnya kosong.
"Kenapa ustadz?" tanya Banyu. Sedangkan Bara masih sibuk memarkir mobil mereka.
"Rumah kosong." jawab Ustadz Huda pendek.
"Terus kenapa memangnya?" kembali Banyu bertanya.
"Ya..aneh saja. Nggak.biasanha umi nggak ada. Umi selalu ada di rumah. Apa mereka ada di pesantren ya?"
"Mungkin saja Ustadz."
"Kita susul saja ke pesantren." ajak Ustadz Huda.
"Ra!Ke pesantren." seru Banyu pada Bara.
Mereka berdua lalu menyusul Ustadz Huda yang sudah melangkah lebih dahulu.
"Ustadz!!!" seorang santri berteriak memanggil Ustadz Huda. "Untung ustadz pulang." kata santri itu terengah-engah.
"Memang ada apa, Mir?" tanya Ustadz Huda sambil menghentikan langkahnya.
"Ada santriwati hilang." jawab Amir.
"Apa??!!" seru Ustadz Huda. Banyu dan Bara yang baru tiba di tempat ustadz Huda kaget mendengar seruan gurunya itu.
"Kenapa Ustadz?" tanya Bara.
"Amir bilang ada santriwati yang hilang. Pantas saja abah dan umi tidak ada di rumah." jawab Ustadz Huda.
"Santriwati?" Bara mengulang ucapan Ustadz Huda. Tiba-tiba hatinya merasa tidak enak. Ia mengkhawatirkan Aurora.
"Siapa nama santriwati itu?" tanya Bara.
"Dia bernama Aurora." jawab Amir.
Bara dan Banyu tercekat kaget. Mereka langsung berlari menuju asrama putri. Larangan bagi santri pria memasuki asrama putri tidak mereka indahkan. Dalam pikiran mereka hanya ada satu. Mencari kebenaran hilangnya Aurora.
Ustadz Huda juga ikut berlari mengejar kedua muridnya itu.
Di dalam asrama putri, di aula, terjadi keributan. Banyak santriwati berkumpul di sana mengerubungi Bu Nyai dan Pak Kyai.
"Assalamualaikum!" salam Banyu dan Bara. Mereka langsungmenyalami dan mengecup punggung tangan Pak Kyai.
"Waalaikumsalam. Kalian sudah datang."
"Iya Pak Kyai. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bara khawatir, "Dimana adik saya?" lanjutnya.
"Kalian bersabar dulu. Ana sudah menyuruh orang mencari Aurora." jawab Pak Kyai menenangkan Si Kembar.
Bara makin gelisah. Banyu yang biasanya kalem sekarang mirip cacing kepanasan. Jika sudah menyangkut princess Aurora, mereka tidak akan bisa menahan diri.
"Kyai!" dua orang santri datang dengan nafas terengah-engah.
"Bagaimana?"
"Kami sudah mencari ke sekitar pesantren tapi tidak menemukan jejak Aurora." mereka menjawab sambil mengatur nafas.
"Apa kalian sudah mencari dengan benar?!" bentak Bara. Emosinya mulai naik.
"Bara!" tegur Kyai Hasan. Bara diam. "Apa antum juga sudah ke perkampungan sekitar?"
Kedua santri itu mengangguk, "Sudah, Kyai. Tapi tidak ada yang pernah melihat Aurora."
"Bagaimana ini bisa terjadi, abah?!" tanya Ustadz Huda yang bingung. Santri menghilang baru kali ini kejadian.
"Abah juga bingung, Da. Cerita dari teman Aurora pun nggak jelas." jawab Kyai Hasan.
"Siapa yang pertama kali menyadari Aurora menghilang?" Ustadz Huda melayangkan pandangannya kepada para santriwati yang sedang berkumpul di aula. Mereka menunduk.
__ADS_1
"Ana ustadz."
"Balqis, coba kau ceritakan kejadiannya!" perintah Ustadz Huda. Bara dan Banyu menunggu cerita Balqis dengan tidak sabar.
"Tadi kami sedang berjalan menuju kamar. Lalu ada sebuah benda jatuh. Sepertinya sengaja di lemparkan ke arah kami. Aurora memungutnya dan ternyata ada pesan pada benda itu."
"Apa isi pesannya?" Bara memotong cerita Balqis.
Balqis menggeleng, "Ana tidak tahu. Setelah membacanya Aurora langsung berbalik arah dan berlari. Ana tidak tahu ia kemana. Sampai sore, ia tidak kembali. Baru aku melaporkan ke Pak Kyai." Balqis mengakhiri ceritanya.
BAra yang sudah tidak sabar langsung memutar tubuhnya dan bergegas keluar dari aula.
"Bara!! Anta mau kemana?!" teriak Ustadz Huda.
"Mencari Aurora sampai ketemu." jawab Bara. Banyu berlari menyusul Bara.
"Abah! Ana akan menemani mereka. Menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan." Ustadz Huda pamit ke Kyai Hasan.
"Pergilah!"Kyai Hasan mengangguk.
Ustadz Huda berlari menyusul Bara dan Banyu.
"Antum. Tunggu ana!" teriak Ustadz Huda.
Bara dan Banyu berhenti.
"Antum mau mencari kemana?" tanya Ustadz Huda setelah berhasil menyusul Bara dan Banyu.
Bara menggeleng. Sejujurnya ia tidak tahu harus mencari kemana.
"Arrrgghhh!!!" Ia berteriak frustasi. Rasa khawatirnya semakin berlipat karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Ra, apa kita menghubungi papa saja. Aku takut, mama dan papa akan marah lagi saat masalah sebesar ini kita tidak memberitahu mereka. Lagi pula dengan kekuasaan papa, mencari Aurora akan lebih mudah." saran Banyu.
Bara menarik nafas. Ia ingat terkahir kali menutupi pernikahannya dari kedua orang tuanya dan hal itu membuat mereka sangat kecewa.
"Mungkin memang sebaiknya begitu. Meski sebenarnya hal itu akan membawa nama pesantren buruk." keluh Ustadz Huda.
"Baiklah. Hubungi papa." kata Bara.
Banyu segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Langit. Lama ia menunggu tapi panggilannya tidak diangkat. Banyu mencoba lagi hingga empat kali. Namun hasilnya masih sama. Langit tidak mengangkat panggilan Banyu
"Bagaimana?" tanya Bara dan Ustadz Huda bersamaan.
Banyu menggeleng, "Tidak diangkat. Mungkin papa sedang sibuk." jawab Banyi.
Bara mendesah kecewa. Ia semakin khawatir. Ia berpikir fan akhirnya harapannya tertuju pada Roy
"Om Roy. Hubungi Om Roy!" perintah Bara.
Banyu mencoba menghubungi Roy. Cukup lama panggilan Banyu tidak diangkat.
"Waalaikumsalam, Om!" kata Banyu menjawab telepon
Bara bernafas lega karena panggilan Banyu akhirnya tersambung juga.
"Om. Kami butuh bantuan Om Roy. Kami sudah mencoba menghubungi papa, tapi sepertinya papa sedang sibuk." kata Banyu. Ia lalu diam sepertinya sedang mendengarkan ucapan Roy.
"Ini om. Aurora menghilang. Kami disini sudah berusaha mencarinya. Tapi belum ketemu dan nggak ada jejak sama sekali, Om." Banyu menjelaskan.
(....)
"Baik, Om. Kami tunggu. Assalamu'alaikum." Banyu mengakhiri obrolannya dengan Roy.
"Bagaimana?"Bara bertanya.
"Om Roy akan datang. Beliau juga akan memberitahu papa."
"Baguslah Sambil menunggu mereka, ayo kita cari Aurora. Siapa tahu ada petunjuk." ajak Bara. Ustadz Huda dan Banyu menyetujui usul Bara.
__ADS_1
"Kita mulai dari pintu keluar. Barangkali ada yang kita peroleh nanti." jawab Ustadz Huda.
Mereka mulai mencari Aurora.
"Kak!! Kak!!" suara seseorang memanggil.
Bara dan Banyu menoleh. Ia melihat Balqis berlari menuju mereka.
"Kenapa kamu menyusul kami?" tanya Bara.
"Anu...itu...kami biasanya menggunakan jalan lain kalau mau keluar." jawab Balqis dengan takut. Matanya melirik Ustadz Huda.
"Maksudmu?!"
"Ikut aku!" ajak Balqis. Ia membawa Bara, Banyu dan Ustadz Huda ke jalan rahasia yang ia dan Aurora biasa gunakan untuk keluar asrama.
"kalian sering keluar asrama?!" tanya Ustadz Huda.
"Nggak juga ustadz. Kami keluar kalau pengen ambil mangga." jawab Balqis.
"Dasar kalian!" Seru Ustadz Huda gemas dengan tingkah santriwati itu.
"Ini, kqmi biasa lewat sini." Balqis membawa mereka ke tempat paling sepi di wilayab pondok.
"Mana jalannya?" tanya Bara.
Balqis menunjuk ke atas sambil menunduk.
"Maksudmu? Kalian memanjat dinding?"
Balqis mengangguk.
Bara hampir tak percaya jika Aurora mampu memanjat dinding.
"Tapi bagaimana mungkin?" desis Banyu yang sama tak percayanya dengan Bara.
Balqis lalu menuju semak-semak. Namun ia kembali dengan tangan kosong.
"Sudah hilang." katanya lirih.
"Apanya?"
"Tangga. Kami menyembunyikan tangga di situ. Tapi sekarang nggak ada." kata Balqis.
Bara, Banyu dan Ustadz Huda saling pandang. Pikiran mereka sama. Bahwa kemungkinan Aurora tidak menghilang, tapi ia tidak bisa kembali karena tangganya hilang. Mau masuk lewat pintu depan takut ketahuan. Akhirnya ia bersembunyi.
"Dasar bocah." geram Bara.
"Kenaoa tadi kamu nggak cerita?" semprot Banyu pada Balqis.
"Aku nggak mau Pak Kyai memarahi kami. Lagi pula,teman-teman yang juga sering lewat sini melarangku cerita. Jadi aku mohon, jangan sampai Pak Kyai tahu." Balqis memelas menatap Ustadz Huda
Yang ditatap hanya menghela nafas sambil.menggelengkan kepala.
"Baiklah. Tapi setelah ini nggak ada lagi acara manjat manjat dinding." Ustadz Huda memperingatkan. Balqis mengangguk.
"Ini bagaimana?Apa kita perlu memanjat juga?" tanya Banyu.
"Di sebelah sebenarnya apa?" tanha Bara.
"Kebun mangga Haji Romli." jawab Ustadz Huda. "Kita ke beliau saja. Siapa tahu beliau melihat Aurora." lanjutnya.
"Baiklah. Mari Ustadz."
"Balqis, kembalilah ke asrama."tutaj Ustadz Huda.
Balqis mengangguk lalu berlari kecil menuju asrama putri.
Ustadz Huda, Bara dan Banyu kemudian keluar dan berjalan ke arah rumah Haji Romli.
__ADS_1
...***...