
"Ini rumahnya Ustadz? Kenapa sepi?" Bara mengamati rumah H.Romli.
"Bagaimana masuknya?Pagarnya dikunci!" Banyu mencoba membuka gembok pagar. "Hari sudah gelap lagi." Banyu gelisah.
Ustadz Huda diam Ia lalu mengambil ponsel dan menghubungi H.Romli. Mereka terlibat pembicaraan singkat.
"Mereka ke luar kota dan Haji Romli bilang tidak melihat santriwati pesantren di sekitar rumahnya." kata Ustadz Huda.
"Bagaimana inj Tadz? Apa kita masuk saja memeriksa di kebun belakang rumah haji Romli?" usul Bara.
"Iya, Tadz. Kita naik tembok yang biasanya anak anak lewati." Banyu menimpali.
"Mungkin memang hanya itu jalan satu satunya. Ana minta ijin haji Romli dulu."
Ustadz Huda kembali menghubungi haji Romli dan dari percakapan mereka, sepertinya haji Romli tidak keberatan.
"Ayo!"
Ustad Huda, Bara dan Banyu kembali ke pesantren. Bara langsung mencari tanagga dan memanjat tembok yang membatasi pesantren dan kebun haji Romli. Setelah dia sampai di atas, Banyu menyusulnya naik.
Bara turun dengan merambat pada pihon mangga yang ada di dekat tembok.
__ADS_1
"Princess!!" teriaknya. Ia yakin Aurora ada di kebun mangga itu. Tak lama kemudian Banyu juga sudah berada di bawah. Dengan penerangan dari senter, mereka berdua menyusuri kebun mencari keberadaan Aurora.
"Sama sekali tidak ada tanda-tanda princes kemari." gumam Banyu.
"Ya, kita sudah hampir berkeliling kebun ini tapi tidak menemukannya. Kemana dia? Bikin khawatir saja."
"Tunggu!!" seru Bayu. Ia lalu mengarahkan cahaya senternya ke satu tujuan. "Itu!!" Banyu berlari mendekat diikuti Bara.
"Ini sepatu Aurora kan? Hanya sebelah. Dimana Dia?" gumam Banyu cemas.
"AURORA!!!!" Bara berteriak tak kalah cemas.
"Apa dia memanjat pohon ini dan melompat keluar?" Banyu menatap Bara. Tanpa dikomando Bara naik. Banyu memandunya dengan cahaya senter. Sesampainya di atas pohon, Bara merambat melalui dahan hingga mencapai tembok.
"Aku akan naik." Perlahan Banyu naik. Ia agak mengalami kesulitan karena memanjat sambil membawa senter.
"Arahkan ke bawah!" perintah Bara.
Dari atas tembok, Banyu dan Bara melihat ke bawah mencari Aurora."Apa kita turun saja?" kata Bara
"Boleh. Tapi apa mungkin dia di bawah. Secara tembok ini tinggi dan tidak cara untuk turun selain melompat." jawab Banyu.
__ADS_1
"Kita tak akan tahu kalau nggak melihatnya ke sana." Bara melompat dan langsung bergulingan di bawah. Banyu sedikit enggan, namun akhirnya melompat juga.
"Shh." ia mendesis saat merasakan sakit di kakinya.
"Di mana ini?" mereka melihat sekeliling.
"Aku juga tidak tahu.' jawab Bara. Mereka berdua berjalan perlahan dalam gelap hanya dengan pencahayaan lampu senter.
"Di depan ada cahaya, sepertinya kita ke arah yang benar!"
Banyu dan Bara terus melangkah hingga mereka sampai di sebuah jalan yang cukup terang.
"Di sekitar tidak ada rumah. Kita menuju ke mana? kanan apa kiri?"
"Kalau ke kanan ke arah pesantren sepertinya, kalau ke kiri, aku juga tidak tahu. Selama di pesantren kita nggak pernah kemana-mana?"
"Ke kanan saja!" Tanpa menunggu jawaban Banyu, Bara melangkah ke kanan. Mereka berjalan cukup lama hingga menemukan sebuah gubuk yang hanya ada cahaya remang-remang.
Banyu dan Bara saling pandang. Mereka mendekati gubuk. Dari jarak yang agak dekat, mereka mendengar suara merintih.
"Aurora!!"
__ADS_1
Yakin kalau Aurora di dalam, Bara segera mendobrak pintu. Ia dan Banyu kaget melihat Aurora terbaring dan seorang pemuda duduk sambil memegang kakinya.
Hahhhh....siapa itu!!!