Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Rencana setelah lulus


__ADS_3

Malam harinya, keluarga Langit berkumpul.


"Jam berapa besok kalian berangkat kembali ke pondok?" tanya Langit pada ketiga anaknya.


"Pagi, Pa." jawab Bara.


"Kalian berdua, apa sudah memikirkan mau melanjutkan kemana setelah lulus?" pertanyaan Langit ditujukan kepada Bara dan Banyu.


Mereka berdua diam. Selama ini mereka belum memikirkan nya.


"Papa harap salah satu diantara kalian ada yang mau menggantikan posisi papa. Syukur kalau dua-duanya. Bukankah kita punya dua perusahaan."


Bara dan Banyu semakin menunduk. Mereka ingat janji yang mereka buat kepada tambatan hati mereka masing masing.


"Pa! Bolehkah aku ke Kairo?" tanya Bara. Sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi lebih ke permintaan.


Anggi dan Langit kaget mendengar apa yang Bara inginkan. Begitupun dengan Banyu dan Aurora.


"Kau mau menyusul Yasmine ?" bisik Banyu yang langsung dibungkam oleh Bara.


Langit menatap tajam Bara.


"Jelaskan alasanmu ke papa sebelum papa membuat keputusan untuk mengijinkanmu atau tidak." kata Langit tegas.


Semua mata tertuju ke arah Bara.


"Banyu benar pa." kata Bara lirih.


"Jadi kamu ingin ke Kairo untuk mengejar Yasmine?" tanya Langit. Ada nada kecewa dalam suara Langit.


"Bukan, Pa. Aku memang ke Kairo karena Yasmine. Tapi bukan untuk mengejarnya. Aku ingin belajar sehingga pantas buat dia pa." Bara menjawab dengan cepat.


"Maksudmu?"


"Coba papa bayangkan, kelak akulah kepala rumah tangga. Aku punya tanggung jawab mendidik istriku. Jika ilmuku di bawah dia? Bagaimana bisa aku mendidiknya pa? Aku akan merasa lemah dan rendah dihadapannya. Namun jika ilmuku lebih tinggi, maka aku akan mampu melaksanakan tanggung jawabku itu atau setidaknya kami imbang saat berdiskusi, pa." jawab Bara sungguh sungguh.


"Berarti kita akan terpisah." sahut Banyu.


Bara menatap wajah kembarannya itu. Ada gurat kesedihan di sana. Selama ini mereka selalu bersama-sama.


"Kau tidak akan mengikutiku ke Kairo?" tanya Bara. Banyu menggeleng. Bara menunduk. Jika Banyu tidak bersamanya, ijin dan restu kedua orang tuanya pasti sulit ia dapatkan.


Suasana menjadi hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

__ADS_1


"Kalian istirahatlah. Bukankah besok harus berangkat pagi-pagi sekali." kata Anggi memecah kesunyian.


"Tapi Ma?" tanya Bara yang merasa belum puas karena belum. mendapat jawaban dari kedua orang tuanya.


"Akan papa pikirkan dulu Bara, apa kami bisa melepasmu ke Kairo sendirian atau tidak." jawab Langit sambil. beranjak menuju kamarnya diikuti oleh Anggi.


Aurora yang memang sudah mengantuk juga bergegas menuju kamarnya.


Tinggallah Bara dan Banyu di ruangan itu.


"Kamu sungguhan sungguh ingin ke Kairo?" tanya Banyu.


Bara mengangguk.


"Tidak adakah cara lain untuk membuatmu pantas bagi Yasmine?" tanya Banyu lagi


"Tujuanku ke sana semata-mata bukan hanya karena Yasmine, Nyu. Aku sungguh-sungguh ingin belajar." desah Bara.


"Kalau ingin belajar tidak harus ke Kairo kan? Di sini juga bisa." jawab Banyu.


Bara menghela nafas. Tujuan utamanya ingin kuliah di Al Azhar adalah untuk lebih meningkatkan ilmu agamanya, meski ada tujuan kedua, yaitu menjaga Yasmine.


"Sudahlah. Toh papa dan mama belum membuat keputusan. Ayo kita tidur!" ajak Bara.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali ketiga anak Langit sudah bersiap.


"Kalau nanti sudah sampai di pesantren, kabari kami!" perintah Anggi sambil memeluk Aurora.


"Iya, ma." jawab ketiganya kompak. Banyu dan Aurora segera masuk mobil meninggalkan Bara yang masih berdiri di sisi Anggi.


"Papa mana ma?" tanya Bara saat tidak melihat Langit.


"Papa tadi di jemput Om Roi, ada keperluan ke luar kota." jawab Anggi.


Bara tampak kecewa. Ia berharap sebelum berangkat sudah mendapat jawaban dari Langit. Namun papanya justru pergi bahkan tak sempat berpamitan.


"Bara, jika niatmu tulus, banyakin doa agar papa mengijinkanmu." kata Anggi yang melihat kekecewaan Bara.


"Ma, apa mama merestui Bara?"


Anggi mengangguk.

__ADS_1


Mata Bara berbinar. Jika mamanya sudah memberi restu, tak lama lagi papanya juga akan memberi restunya. Karena papanya tidak akan pernah mampu membuat mamanya kecewa.


"Terima kasih, Ma." Bara memeluk Anggi.


Anggi menepuk punggung Bara, "Sudah sana berangkat nanti keburu siang."


Bara melepaskan pelukannya.


"Ma, Bara janji tidak akan mengecewakan mama lagi. Meski tanpa Banyu, Bara yakin bisa mengendalikan diri. Bukankah Bara sudah membuktikannya kepada mama?" kata Bara.


"Iya, mama percaya."Anggi mengacak rambut putranya itu.


"Kak Bara cepat!!" teriak Aurora yang merasa bosan menunggu Bara.


"Iya bawel."


Bara naik ke mobil menyusul kedua saudaranya.


Mereka mengucap salam dan melambaikan tangan saat mobil mulai melaju meninggalkan Anggi.


Selama perjalanan wajah Bara tampak berseri. Harapannya kian tumbuh manakala tahu Anggi memberi restu. Beda dengan Bara, Banyu justru muram.


"Kamu kenapa?" tanya Bara sambil. menengok ke kursi belakang tempat Banyu duduk.


"Aku iri sama kamu. Kamu sudah tahu tujuanmu setelah lulus. Aku malah belum tahu harus kemana." Banyu mengalihkan pandangannya ke luar melalui kaca mobil.


"Tanya hatimu, nanti kau juga akan tahu." Jawab Bara.


Banyu mengikuti saran Bara. Ia bersandar lalu berpikir sambil. memejamkan mata. Saat itulah bayangan Camelia melintas.


"Dokter!" teriak Banyu tiba-tiba membuat Aurora yang hampir lelap berjingkat kaget. Begitu pula Bara. Ia langsung menoleh ke arah Banyu.


"Kak Banyu apaan sih? Bikin orang kaget saja." omel Aurora. Ia lalu kembali ke posisi ternyamannya tanpa mau tahu urusan kedua kakaknya.


"Aku tahu, aku akan kuliah di kedokteran. Aku ingin menjadi dokter." kata Banyu bersemangat.


"Terus siapa yang akan menggantikan papa mengelola perusahaan?" tanya Bara.


"Ya, kita berdualah. Kau lihat Om Bima kan? Dia dokter dan juga pengusaha. Apa salahnya? Kau juga, setelah lulus dari Kairo kau bisa belajar ilmu bisnis juga kan, dan bisa mengelola perusahaan papa nantinya."


"Kau benar.... " Bara tersenyum puas. Ia semakin yakin kalau ijin papanya akan ia dapatkan. Ia akan menjelaskan ke papanya seperti apa yang Banyu katakan.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


semoga menghibur


__ADS_2