Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Mengantar Wiena Pulang


__ADS_3

Ustaz Huda terus memandangi wajah Wiena yang memerah.


"Wiena!" panggilnya lembut.


"Ya!" Wiena mendongak dan....


Cup.


Wiena terpaku saat bibir dingin dan kenyal milik Ustaz Huda mampir di bibirnya tanpa permisi. Waslap yang ia pegang terjatuh dari tangannya.


Otak Wiena seakan berhenti bekerja membuat tubuhnya kaku bagai patung. Mata Wiena membulat dan tak berkedip menatap wajah tampan Ustaz Huda. Tempat dimana bibir ustaz Huda berada bagai tersengat listrik dan mengalir ke seluruh tubuh Wiena.


Keadaan Ustaz Huda tidak berbeda jauh. Ia tidak tahu apa yang mendorongnya melakukan ciuman itu. Setelah bibir mereka saling menempel, ia jadi bingung harus bagaimana. Alhasil, mereka saling diam dengan posisi bibir yang saling menempel.


tok tok tok


"Huda! Kau ke masjid apa tidak?!?" Kyai Hasan memanggil ustaz Huda.


Suara Kyai Hasan menyentakkan kedua orang yang sejak tadi terdiam.


Wiena langsung menarik diri dengan mendorong dada ustaz Huda.


"Kau?!?!" tatapnya penuh amarah. Ia berlari keluar dari kamar mandi.


Melihat Wiena berlari sambil marah, Ustaz Huda merutuki kecerobohannya telah mencium Wiena. Padahal ia sudah berjanji tidak akan menyentuh Wiena tanpa persetujuan istrinya itu.


"Bodoh. Bodoh. Kenapa aku tidak sabaran." ustaz Huda memukuli kepalanya.


Sementara itu, Wiena yang keluar dari kamar mandi terus berlari menuju pintu . Ia membukanya.


"Wiena, Huda..."


Kyai Hasan tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Wiena terus berlari melewatinya.


"Kenapa dengan gadis itu." gumam Kyai Hasan lalu masuk ke kamat ustaz Huda.


"Huda!"


Ustaz Huda keluar dari kamar mandi masih dengan bertelanjang dada.


"Kamu sedang mandi?"


"Tidak, Bah. Hanya membasuh tubuh dengan air menggunakan waslap."


"Kau melakukannya sendiri?" Mata Kyai Hasan menyelidik.


Ustaz Huda menggeleng. "Wiena yang bantuin."


"Oo .. terua kenapa ia berlari keluar. Bahkan aku tegur juga tidak menggubrisku?"


Ustaz Huda menunduk tidak menjawab pertanyaan Kyai Hasan. Melihat anaknya enggan menjawab, Kyai Hasan mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana lukamu? Mau ke masjid seperti biasa?"


Ustaz Huda mengangguk. " Iya, Bah."


"Baiklah, abah tunggu di luar." Kyai Hasan beranjak keluar.


"Bah!"


Kyai Hasan yang hampir mencapai pintu berhenti dan menengok.


"Ya?"


"Bisa banti Huda memakai baju?" Ustaz Huda mengangkat baju kokonya.


"Kau sudah punya istri.Aku akan memanggilnya."


"Bah, jangan!"


Kyai Hasan melambaikan tangan mengabaikan larangan ustaz Huda.


Ia keluar mengikuti arah Wiena keluar tadi.


Sesampainya di ruang depan, ia melihat Wiena duduk di sofa sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.


"Wiena, apa yang kau lakukan?" Kyai Hasan mendekat dan duduk juga di sofa yang berseberangan dengan Wiena.


"Kyai. Saya..saya.."


"Dengar! Abah sudah berjanji pada papamu untuk menjagamu dan menganggapmu sebagai anak abah sendiri. Jadi, ceritakan pada abah apa yang terjadi!"


Bagaimana aku bisa menceritakan hal itu?


"Tidak ada apa-apa, bah."


Kyai Hasan terkekeh, "Wiena menyamakan abah dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa ya?"


"Eh, bukan begitu, Bah. Maaf. Maksud Wiena tidak ada hal yang perlu Wiena ceritakan pada abah."


"O begitu. Jadi Wiena lebih suka memendamnya dan menganggap abah ini orang luar ya?"

__ADS_1


Wiena kaget.


Kenapa semua jawabanku jadi salah. Apa memang aku harus jujur?


"Maaf, Bah. Wiena tidak berpikir begitu. Hanya saja Wiena malu mau cerita karena ini tidak pantas untuk diceritakan."


Kyai Hasan manggut-manggut.


"Abah mengerti dan abah hargai sikapmu. Cuma sekarang suamimu lagi butuh bantuan. Ia tidak bisa memakai pakaiannya sendiri, jadi bisakah Wiena yang sholehah ini membantunya?"


Sejak kapan Kyai Hasan bisa berbicara semanis ini.


Yah, Wiena tidak tahu sih. Orang tua itu akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya.


Lebih baik aku menurut saja daripada diinterogasi lagi.


'Baik, Bah. Wiena akan membantu Ustaz Huda."


'Ya, pergilah."


"Permisi, Bah."


Wiena melangkah ke arah kamar ustaz Huda.


"Masuk enggak ya." Wiena mondar mandor di depan pintu kamar.


"Kalau nggak masuk, Pak Kyai pasti curiga dan bertanya yang macam-macam. Lagipula, beliau menunggunya untuk ke masjid."


"Ah, sudahlah. Anggap saja yang tadi kecelakaan." Wiena menaruh tangannya pada handle pintu. Setelah mengucap bismillah, ia membuka pintu itu.


Usta Huda yang sedang berusaha memakai pakaiannya menoleh.


Deg.


Jantungnya berdebar melihat Wiena yang masuk dan berjalan menujunke arahnya.


Tanpa bicara Wiena membantu Ustaz Huda memakai baju kokonya.


"Terima kasih."


Wiena mengangguk. Ia tidak berani menatap Ustaz Huda.


"Untuk yang tadi, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."


Wiena kembali mengangguk.


"Aku ke masjid dulu. Abah dan para santri pasti sudah menunggu untuk sholat malam. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ia berpapasan dengan Bara dan Bayu yang juga bersiap mau ke masjid.


"Ayo! Abah pasti sudah menunggu di depan."


Bertiga mereka menghampiri Kyai Hasan lalu ke masjid untuk melaksanakan sholat malam bersama.


***


"Bara, Banyu, nanti temani ana mengantar Wiena pulang."


Ustaz Huda berkata sambil berjalan pulang dari masjid setelah menunaikan sholat malam dan di sambung ke sholat subuh.


"Kenapa, Kak? Kenapa kak Wiena dipulangkan?" Bara heran.


"Dia harus kuliah." jawab Ustaz Huda pendek.


Dia harus pulang. Ana tidak mau kejadian seperti tadi malam terulang. Karena jika ia terus berada di dekat ana, ana tidak tahu sampai kapan bisa menahan diri karena sebenarnya kami sudah halal.


Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh Nyai Hasan.


"Abah tidak bareng kalian?"


"Abah masih bicara dengan tukang yang memperbaiki atap yang rusak, Umik."


"Atap yang rusak dan jatuh hingga menyebabkan luka di perutmu itu?"


"Iya, Umik."


"Kalau begitu kalian masuk saja. Kita sarapan menunggu abah kalian datang."


"Baik Umik."


Mereka masuk. Di ruang makan, Wiena membantu Yasmine menata sarapan. Begitu melihat ustaz Huda, Wiena langsung menunduk. Ustaz Huda tahu jika Wiena pasti tidak ingin berjumpa dengannya. Akhirnya ia memutuskan untuk langsung masuk ke kamar.


"Yangra, ada yang ingin aku bicarakan. Aku tunggu di kamar." Bara menuju ke kamarnya.


"Kak, aku ke kamar dulu." pamit Yasmine pada Wiena yang dijawab anggukan.


"Butuh bantuan, Kak?" Banyu mendekat.


"Enggak. Sudah selesai." jawab Wiena sambil menaruh masakan terakhir.

__ADS_1


"Kak, memangnya kakak pengen pulang?" Banyu duduk.


"Kata siapa?" Wiena menatap penuh perhatian pada Banyu. Ia menunggu jawaban Banyu yang saat itu sedang mencomot gorengan dan memakannya.


"Suami kakak yang bilang. Tadi Ustaz Huda minta aku dan Bara menemaninya mengantar Kak Wiena."


Jadi ucapannya semalam itu serius.


"Dia memang bilang semalam kalau akan mengantarku pulang."


"Kak Wiena sendiri bagaimana? Apa pengen pulang? Nggak kasihan pada suamimu? Dia sedang sakit lo. Kalau nanti lukanya tiba-tiba berdarah bagaimana? Di sini nggak ada yang paham pengobatan. Ustaz Huda itu orangnya nggak mau merepotkan orang lain. Kalai lukanya kambuh, ia pasti akan mendiamkannya. Lama-lama infeksi dan bisa bikin dia kek." Panjang lebar Banyu membuat analisa kejadian yang bisa menimpa ustaz Huda.


Wiena mengeryit ngeri. Dia tahu, luka yang terinfeksi jika dibiarkan akan berbahaya.


"Hati-hati kalau bicara. Omongan itu doa." Wiena bangun dari duduknya.


"Kakak mau kemana?"


"Menanyakan padanya."


Banyu tersenyum. Usahanya menakut-nakuti Wiena berhasil.


Ustaz Huda, aku hanya bisa menolongmu sampai di sini. Selanjutnya terserah ustaz.


Dinkamarnya, Bara sedang membicarakan rencana mengantar Wiena dengan Yasmine.


"Kalau alasan Kak Huda adalah kuliah kak Wiena, berarti dia memang harus pulang. Lagipula tujuan pernikahan ini untuk mencegah mereka berbuat dosa. Jadi, memang lebih baik kak Wiena menyelesaikan kuliahnya dulu."


"Iya. Dan siapa tahu dengan saling berjauhan, kak Wiena bisa menata hatinya sehingga bisa menerima pernikahan ini dengan ihklas." Doa Bara tulus.


"Amiin."


"Oh ya, kamu ikut ya! Sekalian kita menginap di rumah orang tuaku. Pasti mereka sangat senang." Bara memeluk Yasmine.


"Aku akan menunjukkan kamarku. Kita bisa menikmati malam panjang di sana. Mengukir kenangan yang bisa aku ingat saat nanti kau harus kembali ke Kairo. Tinggalkan jejakmu di kamarku. Penuhi setiap sudutnya dengan bayanganmu. Biarkan aroma tubuhmu menempel di bantal dan kasur supaya setiap saat aku merasa tidur bersamamu." Bara mempererat dekapannya.


"Yangzi." Yasmine menyandarkan kepalanya ke dada Bara. "Iya, aku akan ikut denganmu nanti."


Bara memutar tubuh Yasmine. Ia menunduk dan mencium bibir ranum Yasmine.


Ustaz Huda sedang rebahan saat pintu kamarnya dibuka dari luar. Ustaz Huda menoleh dan melihat Wiena masuk. Ustaz Huda mengubah posisinya. Kini ia duduk sambil bersandar pada headboard.


Wiena duduk di kursi dekat meja kerja ustaz Huda.


"Ada apa?" tanya Ustaz Huda saat melihat Wiena ingin bicara tapi ragu.


" Banyu bilang kalau kamu akan mengantarku pulang nanti."


" Iya. Dia benar. Setelah sarapan aku akan pamit pada abah akan mengantarmu pulang." Ustaz Huda memandang wajah Wiena yang menunduk.


Kukira ia akan tersenyum gembira saat tahu aku akan mengantarnya pulang. Tapi kenapa ia malah diam saja?


"Mm apa yang akan kamu katakan pada orang tuaku nanti? Mereka pasti marah kalau tahu aku belum bisa menerima pernikahan ini."


Jadi itu alasan dia diam.


"Aku akan bilang kalau kamu harus menyelesaikan kuliahmu dulu. Baru nanti datang ke pesantren saat sudah lulus" Ustaz Huda tersenyum sedih. Sayang Wiena tidak melihatnya.


"Lalu kamu?" tanya Wiena ragu.


"Aku? Aku akan kembali ke pesantren."


"Maksudku, lukamu? Nanti siapa yang mengganti perbannya" Wiena memberanikan diri menatap ustaz Huda.


"Pertanyaanmu ini bisa aku salah artikan kalau kamu peduli padaku." Ustaz Huda tertawa lirih.


"Kau tidak usah khawatir. Ada umik yang bisa membantuku. Umik dulu pernah sekolah menjadi perawat. Jadi beliau pasti bisa mengganti perban."


Setidaknya apa yang diucapkan Banyu tidak akan terjadi. Aku bisa tenang.


"Begitu ya. Syukurlah. Jadi jam berapa kita berangkat?"


Rupanya ia sudah tidak sabar ingin pulang.


Batin Usta Huda sedikit kesal.


"Secepatnya." Ustaz Huda mendengus kesal. Ia lalu mengambil buku dan membacanya.


Wiena yang mendengar dengusan ustaz Huda mengira kalau sang ustaz terganggu oleh pertanyaan pertanyaannya.


"Aku keluar dulu. Maaf kalau sudah mengganggumu." Wiena keluar.


Ustaz Huda bergeming tak menjawab Wiena.


Setelah Wiena keluar, Ustaz Huda menutup buku yang ia baca. Ia menarik nafas panjang.


"Ya Rabb, apakah pernikahan ini suatu kesalahan? Apakah memang lebih baik aku membatalkannya saja. Apakah aku harus mengucapkan talakku pada istriku itu?"


...----------------...


Ya Ustaz, jangan bimbang dong. Mantapkan hati luruskan niat. Aku mendukungmu.

__ADS_1


Readers juga mendukungmu, mereka akan memberi like dan vote kok.


Bukan begitu readers?


__ADS_2