
"Bara kenapa kau ada di sini? Mama kan menyuruhmu menunggu di kamar." kata Anggi yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Bara melompat dan langsung memeluk Anggi.
"Ma..maafkan Bara. Bara tidak akan mengulanginya lagi. Apapun yang akan Bara lakukan, Bara akan minta ijin mama. Atau setidaknya memberitahu mama. Bara tidak akan menyembunyikan rahasia apapun dari mama. Bara janji." ucap Bara. Ia benar-benar sudah menyesali kecerobohannya yang berani menyembunyikan hal penting dari mamanya.
"Bara...kamu sudah dewasa. Mama tidak marah. Wajar bagi mama jika kamu mulai mengambil keputusan sendiri. Mama hanya kecewa." kata Anggi lembut. "Bukan kecewa karena kau menyembunyikan pernikahanmu, tapi mama kecewa karena kehilangan kesempatan melamar calon menantu mama." Anggi mengacak rambut Bara. Banyu dan Ustadz Hida bernafas lega.
"Mama.. Terus tadi mama kemana?" tanya Bara melepaskan pelukannya.
"Oh..mama menyiapkan kado buat menantu mama. Ayo ikut mama!" Anggi menarik Bara menuju ruang tengah.
Bara membelalakan matanya melihat begitu banyak bingkisan yang Anggi siapkan.
"Ma..ini? Banyak sekali." seru Bara.
"Kalau mama tahu, pas hari pernikahan, mama akan kirim yang lebih banyak dari ini. Yasmine pantas mendapatkannya. Terima kasih sudah memberikan mama seorang menanti idaman mama." kata Anggi sambil tersenyum.
"Ma, Bara ada usul. Mama berikan saja ini langsung ke Yasmine nanti saat ia pulang sebagai kejutan. Sesungguhnya ia sangat khawatir mama akan marah kalau tahu kami menikah tanpa sepengetahuan mama. Ia pasti akan sangat bahagia jika tahu mama merestui kami nanti."
__ADS_1
"Begitu juga bagus. Jadi semua ini mama simpan di sini saja?"
Bara mengangguk, "Menunggu menantu mama datang."
"Apa mama tengok saja dia ke sana ya? Mama sangat ingin pergi ke negera yang pernah menjadi Ummu ad Dunya itu." kata Anggi.
Mata Bara berbinar bahagia. "Iya ma. Ise mama sangat bagus."
"Tapi kayaknya nggak bisa. Adikmu masih terlalu kecil untuk di ajak bepergian jauh." kata Anggi dengan nada kecewa.
"Serahkan sama papa kalau urusan adik. Papa pasti sanggup mengaturnya."
"Kan mama yang membuat kami terlambat pergi." balas Bara.
"Iya..sana!" usir Anggi. Bara memeluk Anggi lalu meninggalkan mamanya itu
Bara melangkah ke ruang tamu. Mereka bertiga laku berpamitan untuk kembali ke pesantren. Kali ini Bara yang mengemudi.
__ADS_1
"Kita langsung ke pesantren Ustadz?" tanya Bara.
Ustadz Huda melirik Banyu. Semalam mereka sepakat untuk ke rumah sakit dulu sebelum kembali ke pesantren.
"Kita ke rumah sakit dulu." kata Ustadz Huda.
"Rumah sakit? Rumah sakit mana?" tanya Bara.
"Rumah sakitnya tante Amel." jawab Banyu.
Bara mengangguk dan memutar arah mobilnya menuju rumah sakit. Ia tidak perlu bertanya untuk apa mereka ke rumah sakit itu, karena ia tahu. Ada Camelia di sana. Pasti ke dua orang yang bersamanya ini ingin menemui Camelia.
Tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah sakit milik Amel. Setelah memarkirkan mobil, mereka langsung melangkah ke dalam rumah sakit.
Banyu yang sudah tahu di mana ruangan tempat dokter muda, langsung menuju ke sana.
"Nyu!!!" langkah Banyu terhenti saat mendengat seseorang memanggilnya. Bara, Banyu dan Ustad Huda menoleh ke arah sumber suara. Nampak Wina melambai sambil tersenyum ke arah mereka. Ustadz Huda memandang sekilas wanita cantik yang berhasil.mencuri hatinya itu. Ia merasakan jantungnya berdebar saat melihat Wina berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
Pasti Ustadz Huda bahagia berjumpa Wiena. Kita tengok besok ya perjumpaan mereka.