
Wiena berhenti di depan pintu kamar Ustaz Huda. Ia ragu-ragu untuk membuka pintu itu.
tok tok
Akhirnya jari Wiena mengetuk pintu kamar Ustaz Huda.
Ustaz Huda menoleh saat mendengar pintunya ada yang mengetuk.
"Boleh aku masuk?"
Dia rupanya . Pakai minta ijin mau masuk. Benar-benar dia tidak menganggap pernikahan ini.
"Masuklah!" jawab Ustaz Huda sedikit kesal.
Wiena membuka pintu perlahan. Ia lalu masuk dan kembali menutup pintu. Diamatinya Ustaz Huda yang sibuk menyiapkan barang bawaannya.
Bukankah ini kewajibanku juga. Menyiapkan barang suami. Aku akan mencoba melakukannya daripada dikutuk malaikat.
Wiena mendekat ke Ustaz Huda.
"Biar aku!" Wiena langsung mengambil alih. Tubuh mereka sempat bersentuhan saat Wiena mengambil obat ditangan Ustaz Huda dan memasukkannya ke dalam tas.
Ustaz Huda lalu menjauh membiarkan Wiena melakukan apa yang ia mau.
"Apa perlu bawa pakaian juga?" Selesai memasukkan obat ke tas, Wiena menoleh ke Ustaz Huda.
"Ya. Tapi cukup satu stel saja."
Wiena lalu menuju almari. Ia mengambil satu stel pakaian untuk Ustaz Huda.
"********** juga!" perintah Ustaz Huda sambil tersenyum jahil.
Wiena mengambil pakaian dalam milik Ustaz Huda dengan wajah memerah. Ia lalu memasukkan semuanya ke dalam tas.
"Aku mau bertanya." gumam Wiena lirih.
"Apa?" Ustaz Huda duduk di ranjang dekat tasnya.
"Soal malaikat, apa itu benar?" Suara Wiena masih saja lirih.
"Malaikat? Malaikat yang mana?"
"Itu. Tadi Banyu cerita kalau misal istri tidak melakukan kewajibannya, maka malaikat akan mengutuknya sampai pagi. Apa itu benar?"
Oo jadi si Banyu.
Ustaz Huda mengangguk.
"Jadi apakah aku juga dikutuk?" Wiena menatap Ustaz Huda dengan wajah penuh kekhawatiran.
Ustaz Huda menggeleng.
"Kenapa?"
"Dikutuk jika suaminya minta dan istri menolak tanpa alasan yang dibenarkan. Sedangkan kamu, aku kan tidak memintanya."
"Kenapa kamu nggak minta?" tanya Wiena polos.
Ustaz Huda menahan senyum melihat kepolosan istrinya.
"Kalau sekarang aku minta, apa kau akan memberikannya?" Ustaz Huda berdiri dan mendekati Wiena. Wiena mundur sambil menatap suaminya. Dalam batinnya terjadi perang antar takut kena kutukan malaikat dan belum siap karena ia masih menyimpan rasa pada Bagas.
"Kenapa tidak menjawab?" Ustaz Huda mengunci tubuh Wiena yang sudah tidak bisa mundur lagi karena terbentur almari.
"Aku..aku..." Wiena gugup karena jarak mereka sangat dekat.
Ustaz Huda mendekatkan wajahnya. Wirna memejamkan mata karena ngeri membayangkan apa yang akan Ustaz Huda lakukan.
Ustaz Huda tersenyum tipis melihat wajah Wiena yang gugup dan takut.
__ADS_1
cup
Ustaz Huda memberi kecupan di kening Wiena.
"Aku tidak akan memaksamu. Aku ingin kau datang sendiri padaku dengan semua hakku. Bukan karena terpaksa tapi karena kerelaan dan cinta. Agar kita bisa merasakan indah dan nikmatnya." bisik Ustaz Huda ke telinga Wiena. Wajah mereka sangat dekat hingga pipi Ustaz Huda menyentuh pipi Wiena.
Wiena masih memejamkan matanya. Hembusan nafas Ustaz Huda di telinganya membuat tubuhnya meremang.
Ustaz Huda menjauh dari Wiena. Ia mengambil tasnya.
"Ayo! Sampai kapan kamu akan memejamkan matamu begitu?"
Mendengar suara Ustaz Huda, Wiena membuka matanya.
"Eh..a..ayo." Wiena langsung keluar dengan cepat sambil menutupi wajahnya yang terasa panas.
Ustaz Huda tertawa geli melihat tingkah Wiena yang menurutnya sangat lucu.
Kenapa dadaku deg degan begini.
Wiena mematung di teras dekat tempat Banyu berbaring. Ia meraba keningnya bekas ciuman ustaz Huda. Bibirnya tersenyum.
Dia sangat menghormatiku dengan tidak memaksakan keinginannya.
"Kak?Ngapain senyam senyum?"
Wiena kagey saat Banyu menegurnya.
"Sudah selesai gempanya? Cepet banget?"
"Gempa? Memang ada gempa?" Wiena duduk di kursi dekat Banyu. Ia penasaran dengan ucapan Banyu.
"Ada. Memang kak Wiena tidak merasakannya?" Banyu duduk lalu menatap Wiena serius.
Wiena menggeleng.
"Tumben kamu usil Nyu? Biasanya lempeng saja."
Banyu menggaruk kepalanya sambil nyengir.
"Tapi terima kasih ya." Ustaz Huda mengedipkan matanya.
Banyu mengacungkan jempol. "Tapi belum terjadi gempa ya?"
Ustaz Huda tergelak.
Wiena menatap suami dan sepupunya bergantian dengan bingung.
"Mana ada gempa?" gumamnya keki.
Tak lama kemudian Bara muncul sambil menggandeng Yasmine.
"Karena semua sudah ngumpul ayo kita berangkat!"
"Tidak sama abah?" tanya Wiena yang membuat Ustaz Huda langsung memandangnya.
Dia memanggil abah, apakah artinya..
"Abah?"
"Ee maksudku Kyai Hasan." Wiena menunduk.
Yasmine tersenyum dari balik niqabnya.
"Tadi kan sudah pamit. Abah lagi capek."
Ustaz Huda melangkah. Ia memberanikan diri menggandeng tangan Wiena saat melewatinya. Wiena membiarkan tangannya dipegang ustaz Huda. Ia mengikuti saja langkah kaki suaminya.
Bara juga mengikuti ustaz Huda sambil.menggandeng Yasmine.
__ADS_1
Banyu berjalan paling belakang. Ia menarik nafas panjang lalu menggelengkan kepala.
Ku pikir waktuku bakal lama bareng si Bara. Tapi yah..manusia hanya bisa berencana.
***
Di Rumah Wahyu.
Hana sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut anak dan menantunya. Setelah semua siap, ia mengambil telepon untuk menghubungi Wahyu.
"Assalamualaikum sayang!"
"Waalaikumsalam. Mas nggak lupa kan untuk pulang cepat?" Hana bertanya dengan penuh rasa was-was karena sampai sekarang Wahyu tidak juga pulang.
"Iya. Iya. Bentar lagi aku pulang.Mau pesan apa?"
"Nggak pesan apa-apa. Semua sudah siap di rumah. Mas kenapa sih kok belum pulang dari tadi? Katanya mau pulang satu jam yang lalu." Suara Hana mulai kesal.
"Iya,ini Mas sudah siap pulang. Mas masih menyiapkan kejutan buat menantu mas."
"Menantu kita. Aku yang menemukan dulu." Hana tidak mau kalah.
"Iya, menantu kita. Ya sudah, tutup gih! Biar mas bisa pulang."
" Iya nih ditutup. Wassalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Hana memandangi ponselnya.
"Bikin kejutan apa ya Mas Wahyu? Aku jadi penasaran."
Tin tin (Bunyi Klakson mobil)
Hana bergegas keluar.
"Assalamualaikum, Ma!" Wiena langsung berlari dan memeluk Hana. Ia menangis.
"Wa'alaikumsalam. Hei ngapain nangis. Nggak malu ada suaminya tuh!"
"Mama jahat. Mama sama papa jahat. Kenapa nggak nanya ke Wiena dulu." Wiena masih menangis.
"Assalamualaikum tante." Bara dan Banyu juga Ustaz Huda dan Yasmine masuk.
"Wa'alaikumsalam." Hana membalas salam sambil mendorong tubuh Wiena. Wiena menyusut air matanya.
"Silahkan masuk Ustaz." Hana berkata sopan. Meski menantunya tapi dia tetap enggan dan sungkan karena manantunya adalah seorang ustaz.
Ustaz Huda mengangguk. "Jangan panggil ustaz. Cukup Huda saja tante." Ustaz Huda lalu duduk. Bara, Banyu dan juga Yasmine ikut duduk.
"Kalau begitu Nak Huda saja ya?"
"Begitu lebih baik." Ustaz Huda tersenyum.
"Sepakat. Gantian sekarang. Nak Huda jangan panggil tante, panggil mama. Sama seperti Wiena.
"Baik, Ma." jawab Ustaz Huda lugas.
"Ma, temani Wiena sebentar!" pinta Wiena sambil menarik tangan Hana.
"Ada apa? Ada tamu nih." Hana mendelik.ke Wiena lalu mengangguk ramah sambil tersenyum ke arah Ustaz Huda.
"Nggak papa, Ma. Mungkin Wiena ada perlunya." Ustaz Huda melirik Wiena. Ia melihat mata Wiena yang memerah.
"Bara, Banyu. Tante mohon temani Nak Huda dulu. Yasmine, Nak Huda, jangan sungkan ya! Anggap rumah sendiri."
"Terimakasih, Tante!" jawab mereka bersamaan.???
**
__ADS_1