
"Kenapa malah keluar?" tanya Wahyu saat Ustaz Huda malah menemaninya duduk di teras.
"Mumpung ada waktu, Pa. Saya ingin ngobrol saja."
Wahyu tertawa.
"Asal Nak Huda tahu, sejak dulu aku selalu ingin memiliki anak laki-laki. Tapi Allah menakdirkan aku hanya memiliki seorang anak perempuan. Tapi sekarang dengan adanya kamu, papa merasa Allah sudah mengabulkan keinginan papa. Bahkan lebih dari apa yang papa harapkan."
"MasyaAllah, saya jadi tersanjung, Pa."
"Semula papa nggak yakin kalau kamu mau menerima perjodohan ini secara Wiena anak papa penuh dengan kekurangan. Namun siapa sangka, kamu menerimanya dengan penuh keikhlasan."
Ustadz Huda menunduk.
Bagaimana saya tidak menerimanya, saya sudah jatuh cinta pada anak papa sejak pertama melihatnya.
"Tapi Nak Huda, apa yang membuatmu menerima perjodohan ini?" Wahyu menatap Ustaz Huda menunggu jawaban.
Bukan hanya Wahyu yang menunggu jawaban Ustaz Huda, ada sepasang telinga yang juga diam-diam ikut mendengarkan percakapan mereka. Sepasang telinga milik Wiena. Saat Ustaz Huda keluar kamar, Wiena yang penasaran kenapa suaminya memilih mengobrol dengan papanya daripada berduaan di kamar, menyusul. Kini ia berdiri di dekat pintu yang menghubungkan teras dan ruang tamu
Ustaz Huda menarik nafas panjang.
"Saya jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya di toko buah."
Deg
Hati Wiena berdebar dan menghangat. Wiena meraba wajahnya yang memanas.
"Tapi..sepertinya cinta saya bertepuk sebelah tangan, Pa. Untuk itulah malam ini saya ingin bicara dengan papa. Saya mohon papa dan mama bisa memahami Wiena. Kalau dia terpaksa menerima pernikahan ini, maka saya akan melepasnya, Pa."
Kenapa hatiku sakit mendengar ucapannya itu.
"Nak Huda, papa bisa mengerti bagaimana perasaanmu. Namun kalau boleh, papa berharap, Nak Huda bisa bersabar. Papa mengenal siapa Wiena. Dia pasti akan luluh jika Nak Huda terus memberinya perhatian dan kasih sayang. Nak Huda mau kan berusaha demi kebahagiaan Nak Huda?"
Ustaz Huda mengangguk.
Wiena tidak bisa melihat anggukan Ustaz Huda. Hatinya semakin gelisah karena ia tidak mendengar jawaban suaminya.
"Nak Huda ngomong begitu bukan karena mendapat lamaran tadi itu kan?" goda Wahyu.
__ADS_1
Ustaz Huda tertawa tanpa suara. Wahyu tergelak.
"Tapi putri Haji Ruslan memang cantik dan sholehah lo tadz."
Ustaz Huda masih tertawa. Kali ini bersuara.
"Begitukah, Pa?"
"Iya. Papa nggak pernah salah lo menilai orang."
Mereka berdua kembali tertawa bersama.
Wiena sangat kesal. Ia membanting kakinya lalu beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya
Wiena gelisah. Berkali-kali ia merubah posisi tidurnya. Sambil menggigit bibir, matanya menerawang.
Sebenarnya apa yang membuatku gelisah? Kenapa ini.
Mata Wiena melirik ke arah pintu saat ia mendengar suara mendekat. Buru-buru Wiena menutup matanya.
Ustadz Huda masuk. Ia menatap ke arah Wiena yang lelap. Ustaz Huda mendekat dan duduk di sisi Wiena. Ia merapikan selimut Wiena.
Tangan Ustadz Huda turun ke bibir Wiena.
"Bibirmu tipis, tapi kalau bicara pedas kayak cabe. Namun saat dicium manis."
Ah..kenapa dia menyentuh bibirku.Dan tadi apa katanya, ucapanku pedas kayak cabe.
Ustaz Huda terus menyusuri bibir Wiena. Lama-lama ia tidak tahan lalu menunduk dan mengecup bibir itu. Wiena kaget. Spontan matanya terbuka. Ustaz Huda langsung menjauh.
"Maaf, aku.." Ustaz Huda tergagap. Ia khawatir kalau Wiena akan marah. Namun Ustaz Huda heran saat Wiena hanya diam dan menatapnya.
"Wiena, aku minta maaf."
"Kenapa?" jawab Wiena pelan.
"Apa?"
"Kenapa minta maaf?"
__ADS_1
"Itu. Karena aku menciummu saat kau tidur. Kau pasti kesal dan marah kan?" tanya Ustaz Huda khawatir. Ia masih duduk di sebelah Wiena yang juga masih berbaring terlentang menghadapnya.
Kenapa aku tidak kesal dan juga tidak marah? Apa sebenarnya orang yang aku suka adalah dia? Tapi selama ini aku selalu memimpikan Kak Bagas. Apa karena mereka mirip? Aku bisa melihat Kak Bagas dalam dirinya.
"Wiena..."
"Aku tidak marah." potong Wiena cepat. Ustaz Huda seakan tidak percaya apa yang ia dengar.
"Kamu..?"
Greb.
Wiena bangkit dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Ustaz Huda. Bibirnya tersenyum.
"Kamu?"
"Aku?"
"Kamu menggodaku?"
"Memang iya." Wiena malah mengedipkan matanya.
Ustaz Huda menelan ludahnya sambil mengeratkan rahangnya.
"Kamu jangan menyesal!" geram Ustaz Huda dengan suara dalam.
"Tidak akan. Aku akan menyesal kalau kau menerima lamaran bapak-bapak itu." Wiena cemberut.
Jadi dia cemburu.
Ustaz Huda langsung mendaratkan ciuman ke bibir Wiena. Kali ini Wiena membalasnya. Lama mereka saling bertukar saliva.
"Kita sholat dulu!" Ustaz Huda mengelus rambut Wiena. Wiena yang tahu apa yang akan mereka lakukan setelah sholat, mengangguk dengan wajah memerah.
...----------------...
Maaf kalau up nya agak lama
soalnya lagi low bat
__ADS_1
alias sakit...flu berat