Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Bimbang


__ADS_3

'Itu.. ana.. " tergagap Ustadz Huda. Ia yang biasanya piawai dalam berceramah mengolah kata agar menarik para jamaah, kini mendadak otaknya buntu. Wajahnya memerah bukan karena marah, tapi ia merasa jengah dan malu. Hana benar-benar membuatnya salah tingkah.


Bara tertawa.


"Sudahlah kak, terima saja." ucap Bara yang tanpa sadar memanggil kakak kepada Ustad Huda. "Eh anu maksudku Ustadz." segera Bara mengoreksi perkataannya sebelum mamanya kembali curiga.


"Anta!" seru Ustadz Huda sedikit kesal dengan ucapan Bara. Matanya memandang tajam ke arah Bara. Alih-alih yang ditatap menjadi surut karena takut, Bara justru kian semangat mengompori Hana agar meneruskan niatnya.


"Budhe pandai memilih menantu. Beliau ini high quality bachelor lho Budhe. Kak Wiena pasti takluk pada kakak.. eh.. Ustadz ku ini." kata Bara membanggakan Ustadz Huda.


"Bara!" tegur Langit. Bara kicep setelah mendengar suara papanya. Ia diam. menunduk membuat Ustadz Huda tersenyum. Ternyata pawangnya Bara bukan cuma Yasmine, tapi papanya juga. bathin Ustadz Huda.


"Budhe, Ustadz Huda ini sudah dijodohkan dengan putrinya Ustadz Asnawi." kata Banyu dengan sendu. Anggi menatap Banyu, kini ia paham akan ucapan anaknya tadi saat minta doa darinya.


"Dengan dokter Camelia ya?!" tanya Anggi lembut. Matanya terus mengarah ke Banyu. Ia mengamati perubahan raut wajah putra itu saat ia menyebut nama Camelia.


Ustadz Huda sedikit terkejut karena ternyata Anggi mengenal Camelia.


"Nyonya mengenalnya?" tanya Ustadz Huda tertarik. Bagaimanapun ia ingin tahu lebih banyak tentang wanita yang telah mencuri hatinya yang ia sangka adalah Camelia.


"Iya, dia merawat saya saat saya melahirkan beberapa bulan yang lalu. Dia gadis mungil yang cantik dan menyenangkan." kata Anggi. Matanya menatap Banyu. Ia melihat ada raut sedih di wajah Banyu.


"Mungil?" gumam Ustadz Huda. Dia tidak mungil. Tubuhnya cukup tinggi dan proporsional. Tapi dia memang cantik. Batin Ustadz Huda.


"Saya melihatnya begitu, mungil, imut dan cantik. Selain itu dia juga baik dan sangat cerdas. Di usianya yang baru 20 tahun dia sudah mengambil koas untuk mendapatkan gelar dokternya"


"Dua puluh tahun?!" kembali Ustad Huda bertanya. Ada kebingungan yang ia rasakan. Wanita yang ia temui di toko buah setidaknya berusia lebih dari duapuluh tahun, kira-kira 23 atau 24 tahunan. Apa karena kecerdasannya membuat Camelia nampak lebih tua dari usianya. Kembali Ustad Huda membatin.


"Nyonya sepertinya anda salah orang. Putri Ustadz Asnawi setidaknya berusia duapuluh emoat atau dua puluh lima tahunan, dan ia tidak mungil, ia cukup tinggi." kata Ustadz Huda menyampaikan kebingungan nya.


"Saya yang salah apa Ustadz yang keliru." kata Anggi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak mungkin saya keliru Nyonya. Tadi saya bertemu dengan harga di toko buah dan di rumah Ustad Asnawi juga. Mana mungkin saya keliru." jawab Ustadz Huda. Meski ia menjawab tidak mungkin dirinya keliru, dalam hati ia merasa bimbang. Ia memang belum pernah bertemu Camelia. Ia mengingat dua wanita yang tadi keluar dari rumah Ustadz Asnawi. Ia ingat gadis mungil. yang bersama putri Ustadz Asnawi.


Bara dan Banyu saling memandang. Mendengar ucapan Ustad Huda mereka yakin bahwa wanita yang Ustad Huda lihat di toko buah bukanlah Camelia melainkan Wiena. Apalagi tadi Wiena juga berada di rumah Ustadz Asnawi.


"Pak Dhe tadi kami bertemu kak Wiena di rumah Ustad Asnawi." kata Bara sengaja.


Ustad Huda mendongak memandang Bara.


"Iya, tadi dia minta ijin mau ke rumah temannya. Mungkin teman yang ia maksud adalah putri Ustadz Asnawi." jawab Wahyu.


"Lama nggak ketemu, tadi aku lihat kak Wiena tambah tinggi ya Pakdhe." kata Bara lagi yang membuat Ustad Huda semakin bimbang.


"Kakakmu itu tahun ini genap 24 tahun, ya jelas dia makin tinggi dan dewasa." jawab Wahyu.


"Oo!" gumam Bara. Ia melirik ke wajah Ustad Huda yang mulai tampak keraguan di sana.


"Apa Kak Wiena koas juga?" kembali Bara bertanya. Padahal ia sudah tahu dari Hana kalau Wiena juga sedang mengambil gelar dokternya.


Ustad Huda diam saja. Ia benar benar bimbang. Ia berharap dirinya tidak salah orang. Karena jika hal itu terjadi, ia akan sangat menyesalinya dan akan membuat abahnya kembali kecewa.


"Kalian malam ini menginap kan?" tanya Langit. "Papa harap kalian menginap saja, toh sebentar lagi malam."


"Bagaimana Ustadz?" tanya Bara. Ustadz Huda mengangguk. Ia bersedia menginap untuk memastikan keraguannya. Apakah yang telah mencuri hatinya itu Camelia atau Wiena.


"Baguslah. Mama akan menyiapkan kamar untuk kalian." kata Anggi.


"Maaf Nyonya, kalau diijinkan, saya ingin selamat saja dengan salah satu dari santri saya." pinta Ustadz Huda. Ia ingin berbincang entah dengan Bara atau Banyu tentang Wiena ataupun Camelia.


"Tentu saja boleh, Ustadz. Ustad mau sekamar dengan siapa?" tanya Anggi sopan.


"Sama Banyu saja ma, aku nggak biasa tidur seranjang dengan pria." kata Bara sengaja ingin mendekatkan Ustadz Huda dan Banyu karena hubungan mereka yang merenggang beberapa hari terakhir ini.

__ADS_1


"Lagakmu. Mentang-mentanh sudah berisi..mm." Bara segera membekap mulut Banyu yang hampir keceplosan lagi.


Langit menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anaknya yang masih kekanak-kanakan itu.


Anggi tersenyum lalu minta ijin masuk diikuti Hanna.


"Sayang sekali ia sudah dijodohkan. Padahal ia pas banget buat Wiena. Orangnya kalem dan dewasa. Pasti bisa menundukkan kekeras kepalaan si Wiena." keluh Hana diakhiri helaan nafas berat.


"Jodoh nggak akan kemana kak. Do'ain saja." kata Anggi kalem. Ia langsung menuju kamar Banyu untuk merapikannya.


"Kak, aku ada ide!" kata Anggi tiba-tiba.


"Apa?!"


Anggi lalu membisikkan sesuatu ke Hanna. Hanna tersenyum senang.


"Bagus. Aku tunggu nanti malam."


Anggi mengangguk. Dalam hati ia berdoa agar Ustadz Huda bisa bersama Wiena sehingga ia tidak harus melihat kesedihan Banyu.


Selesai merapikan kamar Banyu, Anggi dan Hanna kembali ke ruang tamu namun tidak. melihat para pria di sana.


"Kana mereka?!" tanya Hanna heran.


"Paling ke masjid Kak. Tidakkah kaka mendengar suara adzan." jawab Anggi yang memang sayup sayup mendengar suara adzan.


"Ah iya. Ayo kita juga sholat Nggi Jamaah ya, kamu imamnya." kata Hanna menggandeng tangan Anggi.


Apa yaa rencana Anggi... dan apa yang akan Ustadz Huda lakukan saat tahu kalau gadis pujaannya ternyata bukan Camelia....


Jangan lupa jejaknya biar author semangat nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2