
"Darel!!" teriak Bara sambil menarik baju Darel.
"Kak, jangan! Dia yang menolongku." seru Aurora saat Bara hendak memukul Darel. Bara langsung melepaskan cengkeramannya dari baju Darel. Darel merapikan bajunya.
Banyu mendekati Aurora dan memeriksa kaki adiknya itu.
"Ck. Dasar gadis nakal." Banyu menyentil jidat Aurora.
"Kak sakit." keluh Aurora.
"Bagaimana ceritanya sih?Dan kau, mengapa kau bisa ada di sini?Bukankah kau ada di rumahmu?" Bara menunjuk Darel dengan matanya.
"Sebenarnya aku sudah tiba di sini kemarin. Tapi kalian tidak ada." jawab Darel.
"Terus?"
"Saat aku jalan-jalan, aku mendengar bisik bisik. Mereka merencanakan akan menjebak seseorang agar di keluarkan dari pesantren. Aku penasaran dan terus menguping. Saat aku mendengar namanya di sebut, aku kaget sampai menjatuhkan kaleng yang ada dekat aku sembunyi. Terus mereka lari sebelum aku bisa melihat siapa mereka." Darel menjelaskan."
"Lalu bagaimana kamu bisa menemukan Aurora?"
"Aku melihat dari jauh saat mereka membuang tangga. Aku mendekat dan memanggil, dia menjawabku. Lalu aku keluar berjalan mencari pintu masuk lain. Rupanya di dalam Aurora juga berusaha keluar. Pas aku lihat ia ada di atas tembok, di sisi lain kebun, aku menyuruhnya melompat turun dan bermaksud menangkapnya. Siapa sangka Aurora gadis nekat, ia nggak mau aku tangkap malah milih menjatuhkan diri ke tanah. Jadinya kakinya tuh sakit." Darel menatap Aurora yang sedang meringis menahan sakit.
"Terus? Kenapa tak kau bawa ke pesantren?Kenapa malah kau bawa kemari?" Cerca Bara. Banyu hanya diam sambil terus memijit kaki Aurora.
"Dia nggak bisa jalan. Nggak mau aku gendong. Jalannya pelan dan pincang. Ya .. yang paling cepat untuk mengistirahatkan kakinya yang sakit ya di sini. Tadi aku bermaksud mengurutnya saat kalian tiba."
"Jadi begitu." Bara mengangguk paham. "Rel, apa kamu sama sekali tidak mengenali siapa yang berbuat jahat pada Aurora?"
Darel menggeleng, "Menurutku biarkan saja mereka. Kalau mereka tahu usahanya tidak berhasil, nanti akan menyusun rencana baru. Kita tangkab basah saat mereka melakukan rencana barunya saja. Jadi sekarang biarkan mereka merasa bebas dulu. Kita waspada saja."
"Kau benar. Kita juga nggak bisa berbuat apa apa tanpa bukti." balas Bara.
"Sekarang pikirkan bagaimana membawa Aurora pulang dan apa yang harus kita jelaskan pada pak Kyai!" Banyu ikut bicara.
"Lagian kamu, buat apa kamu sering melompat pagar?"
"Iya, kalau hanya demi mangga, kamu kan bisa meminta mama atau papa membawanya saat mereka berkunjung. Ngapain coba melanggar aturan pesantren."
Aurora diam. "Sebenarnya bukan demi mangga." jawabnya lirih.
"Lalu?" tanya Bara.
Darel dan Banyu menunggu jawaban Aurora.
"Pak Haji Romli, punya anak gadis. Ia lumpuh dan nggak bisa kemana-mana. Sama Pak Haji ia di sembunyikan di ruang belakang dekat kebun. Jadi aku menemuinya karena ia tidak punya teman. Hidupnya sungguh kasihan." gumam Aruna.
"Lalu soal kertas itu?Kata temanmu kamu mendapatkan kertas sebelum melompati pagar?"
"Iya. Kertas itu pesan dari Aisya. Anak Pak Hj Romli."
"Kau bilang dia lumpuh, bagaimana bisa dia mengirim surat ke kamu?" heran Banyu.
"Dia mungkin menyuruh orang lain Kak."
"Ck, dasar gadis bodoh. Hj Romli menyembunyikan anaknya. Bagaimana bisa ia menyuruh orang lain?Kau ini kenapa nggak dipikir dulu. Main cabut saja." gerutu Bara kesal akan kepolosan Aurora.
"Sudah. Ia bukan bodoh. Hanya hatinya terlalu bersih hingga tidak menaruh curiga pada siapapun." bela Darel sambil menatap lekat pujaan hatinya yang masih imut itu.
Bukannya senang dibela, Aurora malah melotot ke arah Darel membuat pemuda tampan itu tersenyum gemas.
__ADS_1
"Ra, dari semua temanmu, siapa yang tahu soal Aisya?" tanya Bara.
"Balqis. Dia juga yang sering kenemaniku melompat pagar menemui Aisya." jawab Aurora.
"Balqis, dia kan gadis yang tadi menunjukkan jalan ke kita." gumam Banyu.
"Apa dia ada hubungannya dengan semua ini." timpal Darel.
"Nggak mungkin. Balqis sahabatku. Fia juga sangat baik." bela Aurora.
Banyu menjitak kepala adiknya,"Kamu harus belajar berhati-hati. Jangan mudah percaya pada orang." Banyu memperingatkan Aurora.
Aurora mengaduh dan meringis sambil.mengusap kepalanya. Darel terus menyunggingkan senyum melihat gerak gerik Aurora.
"Huh." Bara menghembuskan nafas keras-keras. "Sudahlah, kita selidiki itu nanti. Sekarang ayo kita balik ke pesantren dan menghadap Pak Kyai. Sebaiknya kita jujur pada beliau. Aku yakin beliau bijak dan lagi Ustadz Huda akan menolong kita."
"Tentulah. Adik dari iparnya, masak nggak di tolong." jawab Banyu.
"Ipar?! Siapa ipar Ustadz Huda. Bukankah satu-satunya adik Ustadz Huda adalah Yasmine. Apa kalian sudah menikah?" kepo Darel sambil memandang Bara.
Bara mengangguk.
"Weh selamat. Kenapa nggak mengabariku tentang pernikahan kalian. Kalau tahu kamu nikah, aku pasti akan datang."
"Kok kamu Rel, mama sama papa saja nggak dikabari." balas Banyu.
"Sudah deh. Jangan mulai." kata Bara.
"Kalian kenapa jadi ngobrol sendiri. Aku bagaimana?Kakiku masih sakit nih! Siapa yang akan menggendongku?" Aurora cemberut.
"Kamu mau Nyu, kalau aku sih ogah." jawab Bara menggoda adiknya.
"Biar aku yang menggendongmu." kata Darel.
"Nggak mau!!" tolak Aurora sambil.berusaha bangun dari duduknya. Ia berusaha berjalan, namun baru beberapa langkah sudah kesakitan.
"Kakak!!" rengeknya manja.
Banyu dan Bara tertawa.
"Ayo Ra, aku angkat kakinya kau badannya dan Darek bagian kepala."
"Ogah. Aku bukan karung." teriak Aurora kesal.
Ketiga pemuda itu semakin keras tertawa. Mereka puas bisa mengerjai Aurora.
"Kak, aku adukan ke papa nanti." ancam Aurora.
"Silahkan! Biar papa tahu kalau prinvess kesayangannya suka lompat tembok." jawab Banyu membuat Aurora mati kutu.
Darel maju lalu jongkok di depan Aurora, "Naiklah!" pintanya.
"Nggak!" jawab Aurora tegas.
"Naiklah Ra! Kapan lagi bisa naik ke punggung pemuda tampan." goda Bara nggak ada habisnya mengusili sang adik.
"Kak!!" Aurora merajuk.
"Sudahlah. Sini Kak Banyu gendong." Banyu jongkok disebelah Darel. Darel berdiri. Aurora segera naik ke punggung Banyu.
__ADS_1
"Kelak kakak akan minta balasan untuk hari ini." Banyu mengingatkan Aurora.
"Dasar kakak perhitungan." omel Aurora.
Mereka berempat lalu melangkah kembali pulang ke pesantren.
Di kediamannya, Ustadz Huda dan Kyai Hasan mondar-mandir menunggu kabar dari si kembar.
"Abah!! Itu mereka!!" seru ustadz Huda saat melihat Bara, Banyu dan Darel melangkah menuju rumah mereka.
Ustadz Huda dan Kyai Hasan langsung keluar menyambut kedatangan santrinya itu.
"Assalamualaikum." salam dari ketiganya.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah akhirnya kalian menemukan Aurora." kata Ustadz Huda.
Banyu menurunkan Aurora dan mendudukannya di kursi teras.
"Kalian masuk saja. Di luar dingin." perintah Kyai Hasan. Beliau lalu masuk dan diikuti oleh Ustdaz Huda, Bara, Banyu yang memapah Aurora dan Darel yang berjalan di belakang Banyu dan Aurora.
"Nyai! Buatin minum!" perintah Kyai.
Nyai Hasan langsung ke belakang.
"Biar Bara saja Kyai." Bara menawarkan diri.
"Hem." jawab Kyai Hasan sambil menggerakkan tangannya menyuruh Bara ke belakang.
"Dimana kalian menemukannya?!" tanay Ustadz Huda.
Banyu dan Darel lalu menceritakan kejadian sebenarnya.
Kyai Hasan mengelus jenggotnya. Alisnya bertaut.
"Sepertinya ada pendengki di pesantren. Huda cari tahu dan beri hukuman pada pendengki itu. Ana nggak mau santri yang lain terpengaruh. Dan anti, Aurora, jangan sekali-kali melanggar aturan lagi. Kali ini sebagai hukumannya, anti, kyai skors selama seminggu. Pulanglah sampai kaki anti sembuh. Baru kembali ke pesantren."
Itu sih enak Kyai. Batin Banyu.
Bara keluar sambil membawa minuman. Di belakangnya Nyai Hasan membawa camilan.
"Aurora, karena kakimu sakit, malam ini kamu tidur saja di sini." kata Nyai Hasan lembut.
Aurora menatap Bara dan Banyu bergantian, mereka mengangguk.
"Terima kasih Nyai." kata Aurora lirih sambil menunduk.
"Bara, bawa adik anta ke kamar anta!" perintah Kyai Hasan.
"Baik, Kyai."
Bara lalu memapah Aurora ke kamarnya. Kamar Yasmine tepatnya.
"Ini kamar kalian?" Aurora mengamati kamar Yasmine. "Meski nggak seluas kamar kita di rumah, tapi tampaknya nyaman."
"Nyaman sekali. Apalagi kalau Yas ada." jawab Bara keceplosan.
"Ish..yang lagi rindu istri." goda Aurora.
Bara hanya diam. Ya, Aurora benar, ia sangat merindukan Yasmine.
__ADS_1
Bersambung