
Pagi hari. Di ruang makan
Tampak keluarga Langit plus ustadz Huda sedang sarapan. Mereka makan dalam diam. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring yang terdengar.
"Bara, ikut mama sebentar!" ajak Anggi sambil berdiri meninggalkan meja makan.
Bara memandang papanya, Langit menganggukkan kepalanya.
"Ustadz, Bara tinggal sebentar." pamir Bara pada ustad Huda.
"Silahkan!" jawab sang ustadz. Setelah Bara meninggalkan ruang makan, Banyu yang penasaran bertanya pada Langit.
"Pa, ada apa?" tanya Banyu.
"Kamu pasti bisa menebaknya karena kamu juga ikut andil didalamnya kan? Siap-siap saja. Sebentar lagi juga giliranmu." Langit menggoda Banyu membuat pria muda itu pucat. Ia tahu apa kesalahannya, yaitu menyembunyikan pernikahan Bara.
"Maaf Tuan Langit, bukannya mau ikut campur, namun selama di pesantren mereka berdua berada dalam asuhan saya. Jadi kalau mereka berbuat salah, saya merasa ikut bertanggungjawab juga. Kalau boleh tahu apa maksudnya perkataan tuan, ya?" Ustadz Huda bertanya dengan sangat sopannya.
Langit tersenyum. "Bukan apa-apa ustadz. Ini soal pernikahan Bara."
"Jadi Bara sudah cerita pada Tuan?!" Ustadz Huda sedikit kaget. Ia tidak mengira Bara akan bercerita secepat itu.
"Terpaksa cerita lebih tepatnya." jawab Langit dengan sikap tenangnya,"Semalam saya tidak sengaja mendengarnya bertelpon mesra dengan istrinya. Jadi ya...ia harus menjelaskannya pada saya."
"Dasar ceroboh." gumam Banyu spontan.
__ADS_1
"Oo jadi kau lebih suka kalau dia terus menyembunyikannya dari kami?" Langit menatap tajam Banyu.
"O...ee..bukan begitu pa. Hanya.."
"Hanya apa?! Hanya tidak mau mendapat hukuman?!" tebak Langit.
"Bukan pa!! Semula kami akan cerita saat waktunya tepat."
"Dan waktu yang tepat itu kapan?!" Masih dengan tatapan tajamnya, Langit terus mengajukan pertanyaan pada Banyu.
"Saat kami lulus nanti." jawab Banyu lirih. Ia menunduk tak kuasa membalas tatapan Langit.
"Maaf tuan, ini semua sebenarnya salah ana." Ustadz Huda menengahi. "Ana tahu Bara dan Yas saling menyukai. Namun abah malah ingin menjodohkan Yas dengan putra Ustadz Asnawi. Perjanjian teman lama. Jadi saat Yas sakit, saya manfaatkan itu untuk membuat berita kalau seolah olah Yas hamil. Dan demi nama baik pesantren, maka abah terpaksa harus menikahkan Yas. Di situlah Bara menyatakan kesediaannya menikahi Yas." Ustadz Hida menjelaskan.
"Jadi Kyai Hasan terpaksa menerima anakku menjadi menantunya?!" terdengar nada tidak puas dalam suara Langit.
"Kalau Kyai Hasan keberatan dengan anakku, kenapa nggak diceraikan saja saat tahu Yasmine tidak hamil?!" kata Langit. Bagaimanapun juga sebagai seorang ayah, ia merasa tersinggung ada orang yang memandang rendah anaknya.
"Pa?!"
"Tuan?!!
Banyu dan Ustadz Huda berseru kaget bersamaan. Langit hanya memandang keduanya dengan tatapan datar.
"Aku tidak masalah kalau mereka diceraikan oleh Kyai Hasan. Anakku laki-laki, dia tidak akan rugi." kembali Langit berkata-kata.
__ADS_1
Ustadz Huda menelan ludah dengan susah payah. Ia berpikir keras, masalah abahnya yang belum bisa menerima Bara saja belum teratasi, kini justru pihak Bara malah merasa tersinggung.
"Pa, kenapa papa berkata begitu." Banyu berkata sambil menatap Langit dan Ustadz Huda bergantian. "Bara akana hancur jika harus pisah dari Yasmine Pa. Papa tidak tahu betapa besar cintanya pada Yasmine. Aku yang setiap hari bersamanya, aku bisa melihatnya pa. Bara belum pernah sekalipun tertarik pada wanita. Yasmine yang pertama." Banyu mencoba membuka pikiran Langit.
"Yang pertama belum tentu yang terakhir kan? Dan papa bisa melihat besarnya cinta Bara hingga mampu membohongi kami orang tuanya." kata Langit lagi.
"Itu...itu..dia memang salah. Tapi dia ..." Banyu tidak lagi bisa membela Bara. Ia diam tertunduk. Batinnya resah. Bagaimana jika papanya juga tahu kalau dirinya juga masih diragukan oleh Ustadz Asnawi. Bisa-bisa restu dari papanya tidak akan ia dapatkan.
"Tuan, ana mohon maaf atas nama abah. Tapi ana pribadi sangat menyukai Bara begitu pula dengan Yasmine. Ia sangat mencintai Bara. Tuan, mereka sekarang sudah sah secara agama sebagai suami istri. Alangkah tidak bijaksananya kalau kita memisahkan mereka." Ustadz Huda mencoba memberi pengertian Langit dengan hati-hati.
"Ustadz Huda salam paham. Siapa yang ingin memisahkan mereka. Saya hanya bilang kalau Kyai Hasan meragukan putra saya, beliau bisa menceraikan Bara dan Yasmine."
"Jadi, maksud tuan, tuan tidak akan meminta mereka berpisah?" tanya Ustadz Huda yang bingung dengan sikap Langit.
Banyu mulai sadar kalau sifat jail papanya kambuh.
"Papa." kata Banyu sedikit lega. Ia tersenyum tipis.
"Saya tahu dimana letak kebahagiaan anak-anak saya. Jadi saya tidak akan merampas kebahagiaan mereka. Namun sebagai seorang ayah, sudah menjadi kewajiban saya melindunginya dari orang-orang yang mungkin bisa menyakiti mereka. Termasuk dari Kyai Hasan."
"Tuan, percayalah. Ana jaminannya kalau Bara dan Banyu tidak akan tersakiti di pesantren."
"Baiklah, kalau Ustadz berkata demikian. Saya pegang kata-kata Ustadz." jawab Langit. Dalam hati ia merasa lega berhasil.membuat Ustadz Huda untuk terus berada di pihak Bara. Saat tahu bahwa Kyai Hasan menerima Bara dengan terpaksa, ada ke khawatiran juga di hatinya. Akhirnya ia memutuskan mengambil langkah memprovokasi Ustadz Huda agar terus mendukung Bara nantinya.
Banyu geleng-geleng melihat senyum kemenangan di wajah papanya setelah Ustadz Huda mengucapkan janjinya.
__ADS_1
Kalau untuk urusan menggiring orang agar memenuhi kemauannya, tidak ada yang sebaik papa.