
Ustadz Huda muncul. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi mantan santri yang kini jadi sepupu iparnya itu.
"Puas sekali anta mengerjai calon istri anta itu." ucap Ustadz Huda lagi sambil mendekati Banyu.
Banyu terkekeh.
"Sekarang aku tahu kenapa ustadz hobi banget godain kak Wiena. Rasanya menyenangkan."
"Dasar. Kalau Wiena beda. Dia istri ana. Mau berapa sering ana menggodanya, itu bentuk kemesraan rumah tangga ana."
"Iya..sebentar lagi aku juga bisa pamer kemesraan seperti kalian. Tapi ngomong-ngomong terima kasih karena ustadz sudah bersedia menemaniku. Bahkan bersedia sembunyi."
"Kalau ana biarkan anta hanya berduaan dengan dia, nanti akan muncul setan sebagai pihak ketiga."
Banyu dan Ustadz Huda lalu tertawa bersama.
"Ayo pulang!" ajak Ustadz Huda.
"Kak Wiena?"
"Dia pasti akan menemui calon istrimu itu. Kita tunggu di mobil saja." ustad Huda lalu membantu Banyu berjalan.
Sementara itu, Camelia yang meninggalkan ruangan sambil berlari dan menutupi wajahnya, tiba di belokan lorong dan
Brug
"Aw." teriak Camelia kesakitan. Ia terjengkang dan jatuh terduduk.
"Aduh." sebuah suara lain terdengar bersamaan dengan teriakan Camelia.
Camelia mendongak.
"Wiena, kau?!" serunya.
Wiena nyengir sambil berdiri. Ia mengusap bagian belakang tubuhnya yang terasa sakit karena benturan dengan lantai.
"Maaf. Aku buru-buru." jelas Wiena.
Camelia bangkit.
"Bagaimana?" tanya Wiena sambil mendekat Camelia.
"Bagaimana apanya?" lirih Camelia sambil mengibaskan pakaiannya dengan tangan.
"Bukankah kamu barusan bertemu dengan.." Wiena langsung menutup mulutnya.
Alamak. Aku keceplosan.
__ADS_1
"Ooo jadi kalian sekongkol. Mestinya aku sadar dari tadi ha." Camelia mencubit lengan Wiena.
"Aduh..sakit.Lepasin dong, sakit ini." rengek Wiena memelas.
"Rasain." ucap Camelia lalu melepas cubitannya. Ia kemudian memasang wajah cemberut.
"Kamu ini, bukannya berterima kasih malah menyiksaku." gerutu Wiena.
Camelia meliriknya sengit.
"Jangan pura-pura marah, aku tahu hatimu sedang bahagia." Wiena mengedipkan matanya menggoda Camelia.
Camelia mendelik. Ia bermaksud mencubit Wiena namun sasarannya itu keburu mengelak.
"Weeek." Wiena menjulurkan lidahnya meledek kegagalan Camelia.
"Awas kamu ya!" Camelia mengejar Wiena.
Terjadilah kejar kejaran antara dua wanita cantik itu di sepanjang lorong rumah sakit. Mereka akan menghentikan langkah kakinya saat berpapasan dengan sesama paramedis ataupun keluarga pasien. Mereka mengangguk hormat dan memberi senyum ramah kepada mereka. Namun saat mereka berlalu, kedua wanita itu akan melanjutkan aksinya.
"Sudah ah!" Wiena menghentikan langkahnya sambil terengah.
"Nih!" Ia lalu menyodorkan lengannya untuk dicubit oleh Camelia.
Camelia beneran mencubitnya dengan keras.
"Mumpung masih bisa." balas Camelia sambil tersenyum.
"Maksudmu? Bukankah kita masih akan sering bertemu? Kenapa kamu berkata begitu? Memangnya kamu mau kemana? Jangan bilang mau kabur?" berondong Wiena sambil menatap tajam Camelia
Camelia hanya tersenyum penuh rahasia.
Jika nanti aku menikah dengan Banyu, kau akan jadi kakak sepupuku. Bukan hanya kakak, tapi juga istri dari guru suamiku. Nggak mungkin aku bisa menjahilimu lagi.
"Sudah ah. Aku mau ke kampus. Kamu mau bareng atau..."
"Enggak. Aku tadi ke sini bersama suamiku." jawab Wiena cepat.
"Terus dimana suamimu?"
Wiena tersenyum. "Dia tadi menemani Banyu. Mungkin sekarang sudah menungguku di parkiran."
"O. Ok. Aku jalan dulu." Camelia hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Wiena namun Wiena mencegahnya.
"Kita bareng saja." Wiena mencekal tangan Camelia dan menarik gadis itu untuk mengikutinya.
"Eh..tidak usah. Aku lebih baik naik taksi saja." tolak Camelia.
__ADS_1
"Tidak boleh." kekeh Wiena. Tangannya semakin kuat memegang pergelangan Camelia.
Akhirnya Camelia menyerah. Ia mengikuti langkah Wiena dengan pasrah.
Mereka akhirnya sampai di tempat parkir. Wiena langsung membawa Camelia menuju mobil yang tadi membawanya ke rumah sakit. Di dalam mobil sudah menunggu suaminya yang sedang duduk di belakang kemudi.
Itu Ustadz Huda, lalu dimana Banyu? Batin Camelia tidak tenang.
"Maaf, lama ya menunggunya?" sapa Wiena pada suaminya.
Ustadz Huda menjawabnya dengan senyuman.
"Tidak apa-apa. Masuklah!" titahnya lembut.
Wiena lalu menyeret Camelia. Ia membuka pintu belakang dan mendorong Camelia masuk.
Camelia menelan ludah gugup saat tahu siapa yang sudah duduk dengan tenang di kursi penumpang.
Ia lalu mendudukan tubuhnya perlahan agar tidak mengganggu ketenangan Banyu.
"Sudah?" tanya Ustadz Huda begitu Wiena sudah duduk di sampingnya.
Wiena mengangguk. Ia berpikir kalau suaminya akan langsung melajukan mobil mereka. Namun ia kaget saat Ustadz Huda malah mendekatkan tubuhnya kepadanya.
"Kamu mau apa?" tanya Wiena gugup.
Camelia yang duduk di belakang kursinya langsung menutup mata.
"Memasangkan sabuk pengamanmu. Kau pikir ana mau ngapain?" jawab Ustadz Huda lalu memasangkan sabuk pengaman Wiena.
Banyu tersenyum. Ia tahu kalau guru mudanya itu sedang menggoda istrinya
Cup
"Eh." mata Wiena membola. Ia kaget saat selesai memasang sabuk pengaman, Ustadz Huda mencuri satu kecupan di bibirnya.
"Upahnya." bisik Ustadz Huda lirih.
Wiena diam tak berkutik. Ia ingin memukul dada suaminya seperti yang biasa ia lakukan saat pria itu menggodanya, namun ia malu pada Camelia. Alhasil, ia hanya cemberut sambil melirik sengit sang pembuat onar.
Meski lirih, namun Camelia sempat mendengar bisikan ustadz Huda. Ia paham apa yang dilakukan pria itu. Camelia salah tingkah apalagi Banyu sedang duduk di sebelahnya meski pria itu tampak tenang dan cuek. Ia melirik Banyu dan melihat pria itu menyunggingkan senyuman.
Camelia buru-buru mengalihkan pandangannya ke luar karena jantungnya kembali melompat lompat tak karuan.
Sedangkan Ustadz Huda, setelah mendapatkan upahnya, ia lalu melajukan mobilnya sambil tersenyum puas. Puas karena berhasil memperdaya sang pujaan yang masih saja suka jutek padanya itu.
...***...
__ADS_1