Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Puncak Pendakian


__ADS_3

POV Wiena


Tubuhku serasa melayang saat ia mengangkatku. Dengan sangat pelan, dia meletakkanku di atas pembaringan. Tubuhnya menunduk memandangiku membuat jantungku berdebar tak karuan. Mata itu begitu teduh penuh cinta. Aku bagai tenggelam dalam cintanya yang besar. Apalagi yang aku harapkan. Pria sebaik ini, mencintaiku sebesar ini. Apalagi yang bisa menghalangiku memberikan hatiku. Walau masih ada nama Bagas di sana, namun perlahan aku akan mengikisnya. Akan kuganti dengan nama Huda, suamiku.


"Kau yakin?Masih ada kesempatan jika kau ingin berubah pikiran." bisiknya dengan lembut. Pria ini masih memikirkan perasaanku disaat hasratnya sudah menuntut penyaluran. Adakah yang lebih baik darinya? Kalaupun ada, apakah aku kelak bisa mendapatkannya jika aku menyia-nyiakan pria ini sekarang.


"Aku yakin." jawabku padanya. Bukan hanya padanya tapi pada diriku sendiri. Ya, aku yakin. Aku yakin menyempurnakan pernikahan kami. Aku yakin memberikan haknya sebagai suami dan melakukan kewajibanku sebagai istri.


Dia memejamkan mata berdoa lalu menunduk dan mengecup keningku. Tubuhku kembali bergetar sama persis seperti saat dia meniup ubun-ubunku tadi. Seketika itu juga rambut-rambut di tubuhku meremang. Dan perutku, seperti ada yang menari-nari di sana.


Dia bangkit lalu mengambil selimut. Kemudian ia meyelimutiku.


"Kenapa?" spontan aku bertanya. Aku heran kenapa ia justru menyelimuti tubuhku. Bukankah mestinya ia melepas semua yang menutupiku dan bukan malah menutupinya dengan selimut.


Dia hanya tersenyum. Kemudian ia ikut masuk ke dalam selimut. Tangannya bergerak dan aku bisa melihat tangan itu keluar dari selimut dengan menggenggam sarung. Hatiku berdegup kencang saat tahu kalau ia sudah melepas sarung yang sejak tadi ia pakai. Ia melempar kain kotak kotak itu hingga bertumpuk dengan mukenaku di atas sajadah yang tergeletak di lantai agak jauh dari ranjangku.


Aku mencengkeram selimut saat melihatnya memiringkan tubuh ke arahku.


"Sekali lagi ku tanya, apa kau yakin sudah siap?" bisiknya. Kali ini suaranya terdengar parau. Aku benar-benar gugup. Ada rasa takut dan malu membuatku ragu. Apa aku sudah siap?


Dia menatapku. Mata kami saling beradu. Perlahan ia menggerakan telunjuknya menyusuri wajahku.


"Kau tahu, jika kau benar-benar siap maka mulai malam ini kedua alis ini adalah milikku." Telunjuknya melukis di alisku.


"Kedua mata ini juga."


Ia mendekatkan wajahnya dan mencium ke dua mataku


"Mata ini tak boleh melihat pria lain selain aku." ia menyambung ucapannya.


"Begitupun dengan hidung ini."


Ujung hidungku tak luput dari kecupannya.


"Dan ke dua bibir ini. Jangan pernah menyebut nama pria lain selain namaku." Jarinya meraba ke dua bibirku pun matanya menatap ke arah yang sama.


Ia lalu mendekat dan dengan lembutnya bibirnya mulai menguasai milikku. Lembut sangat lembut. Setiap sentuhannya sangat lembut dan memanjakanku.


Aku memejamkan mata meresapi setiap hal indah yang ia ciptakan sambil terus berusaha mengukir namanya di hatiku.


"Boleh?!" ucapnya.


"Apa?!" aku bingung.


"Apa nanti kau tidak akan menggigitku lagi?"


Blush


Kurasakan wajahku memanas. Ia minta ijin untuk menyentuh dadaku karena terakhir kali ia menyentuhnya aku reflek menggigit bibirnya karena kaget.

__ADS_1


Tapi kali ini tidak, aku tidak akan menggigitnya. Ku angkat tanganku dan kuletakkan di pipinya. Ku belai lembut pipinya yang sedikit kasar oleh bekas jambang yang baru di bersihkan.


Aku menelan ludah, menenangkan hatiku sebelum berucap, "Aku milikmu. Semua yang ada di tubuhku, kau berhak atasnya."


Aku menatap wajahnya. Ku lihat matanya berbinar dan seulas senyum tipis namun sangat manis tercetak di bibirnya yang juga tipis.


"Aku tidak akan sungkan lagi."


Ia kembali menyambar bibirku setelah mengucapkan kalimat itu. Dan benar saja, ia tidak hanya berucap namun membuktikan ucapannya. Tangannya mulai bergerilya di seluruh tubuhku membuatku bergetar, meremang, menggelinjang bahkan tanpa sadar bibirku mulai mengeluarkan suara manja. Aku mendekap mulutku, malu.


"Jangan ditahan." bisiknya. Ia kemudian mengungkungku. Tangannya membetulkan letak selimut agar tetap menutupi tubuh kami berdua. Tangan yang sama, mulai menarik simpul tali gaun tidur yang ada di bahuku.


tap


Tali sebelah kiri sudah lepas. Ia lalu menarik yang sebelah kanan hingga simpul talinya terurai lepas. Wajahku kembali memanas. Aku memejamkan mata saat perlahan tangan itu menarik turun cita warna merah yang melindungi tubuhku.


Mataku kian ku rapatkan. Ku gigit bibir bawahku menahan agar suara manja itu tidak lagi keluar saat dia mulai bermain dengan bagian yang kini terbuka dan terpampang jelas di hadapannya. Lidahnya sangat lembut dan hangat menyapu dan mengitari bundaran ping itu.


"Ah." Akhirnya aku tak kuasa menahannya saat aku merasa ada yang menarik unjung pink itu.


"Lepaskan saja. Aku senang mendengarnya." bisiknya lalu kembali memagut bibirku. Tangannya masih memutar-mutar dan sesekali menangkup dan meremas, membuatku benar benar hanyut dalam permainannya. Mengikis semua bayanganku yang sempat meragukannya. Dia sangat alim, aku pikir, dia akan sangat membosankan. Namun siapa sangka, justru dia sangat pandai memanjakanku. Perlakuannya sangat lebut dan penuh dengan perasaan. Ia benar-benar tahu bagaimana membuatku melayang.


"Itu!" seruku saat aku merasakan tangannya sudah berpindah tempat.


"Kenapa? Kau bilang semua milikku kan??" Ia tersenyum.


"Tapi apa?"


Kenapa dia masih bisa bicara setenang itu saat aku kelojotan seperti ini.


"Aku..aku..ingin.." Aku tidak lagi bisa bicara saat sebuah gelombang seakan menghantam membuatku kembali harus mengeja huruf a dan h dengan manjanya.


Dia kembali menggerakkan tangannya. Aku merasakan sesuatu lolos dari kedua kakiku. Dia yang menariknya. Lalu dia merayap ke atas.


Aku membuka mata, melihat wajahnya yang kini tepat berada di atasku.


"Sepertinya kau sudah siap, aku akan mulai. Ini akan terasa sakit, namun percayalah, aku tidak bermaksud menyakitimu. Namun memang harus begini pada awalnya." ucapnya. Suaranya kembali parau.


Ia membelai pipiku lalu kembali menautkan bibirnya. Di bawah sana, sesuatu berusaha memasukiku. Malam ini akan menjadi malam terakhirku sebagai seorang gadis. Malam ini aku akan benar-benar menjadi seorang istri dari pria tampan nan alim bernama Huda. Selamat tinggal masa bujang. Selamat tinggal mahkotaku. Selamat tinggal Kak Bagas.


"Tahan ya. Aku akan pelan-pelan." bisiknya lagi. Rupanya ia sangat khawatir membuatku kesakitan.


Dia kembali mendorong mencoba masuk.


Aku menjerit, reflek tanganku menarik apapun yang bisa kugapai.


"Ah telingaku!" pekiknya membuatku kaget.


Astaga, aku sudah menarik kedua telinganya dengan kuat.

__ADS_1


"Ma...maaf." Aku melepaskan tanganku.


Kenapa tidak terasa sakit lagi, apa dia sudah selesai melakukannya. Kok cepat sekali. Jadi hanya begini.


"A..apa sudah selesai."


Dia menatapku lalu menggeleng. "Belum. Serangan pertamaku gagal. Pertahanannya terlalu sulit ditembus."


Jawabannya membuatku bingung. Bukankah tadi itu sakit, tapi kenapa masih belum tertembus.


"Aku akan mencobanya lagi. Cengkeram yang lain ya, jangan telingaku. Bisa tuli nanti aku."


Aku menggigit bibir bawahku. Malu dan kasihan. Pasti sangat sakit saat aku menariknya dengan kuat tadi.


Ia kembali mencoba menyerang seperti yang ia bilang.


Tanganku menggapai mencari apa yang bisa ku pegang namun tak menemukan apapun sampai sebuah telapak tangan menggenggam tanganku.


Aku menjerit lirih saat serangannya mulai mampu menembus pembatas tipis itu dan terus merangsek masuk. Ia langsung membungkamku dengan bibirnya. Dia tidak melakukan gerakan apapun.


"Masih sakit?Maaf." ucapnya lalu menciumi air mataku.


"Aku tidak apa-apa." Aku berusaha tersenyum meski bagian sana terasa perih dan penuh. Ia kembali mencium dan tubuhnya mulai bergerak dengan ritme yang teratur. Ia menepati janjinya melakukannya dengan perlahan dan lembut. Lama- lama aku bisa menyesuaikan diri dan kini tubuhku menginginkan yang lebih.


Aku mengelus dadanya dan menirukan apa yang ia lakukan. Bermain dibundaran coklat. Tanpa ku duga, tindakanku itu membuatnya mengerang.


"Kau suka?"


Ia mengangguk masih sambil bergerak. Karena dia bilang suka, aku melanjutkannya. Tidak hanya menggunakan tangan tapi juga dengan bibirku.


Ia kembali bersuara dan ritme gerakannya makin cepat.


Kini aku yang kewalahan. Aku merasakan gelombang itu akan datang lagi.


Sepertinya dia bisa membaca apa yang kurasa. Ia semakin meningkatkan ritmenya dan kamipun berakhir bersama.


Tubuhku lemas. Ia bergumam lirih.


Allahumma aj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah,”


Aku membalasnya."Barokallahufikum." lalu kukecup keningnya yang penuh keringat.


Dia membalas dengan melakukan hal yang sama.


"Terima kasih istriku. Sekarang istirahatlah, karena nanti kita akan mendaki lagi." ucapnya sambil mengedipkan matanya.


Ya Tuhan, dalam sekejab suamiku berubah menjadi genit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...

__ADS_1


__ADS_2