
'Dimana Yas, Umi?" tanya Ustad Huda saat masuk ke ruang makan dan tidak melihat Yasmine. Ia lalu mengambil tempat duduk begitu juga dengan Kyai Hasan yang langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Yas ada di kamarnya. Agak nggak enak badan." jawab Umi sambil menata piring di meja makan.
"Bukankah tadi pagi baik-baik saja?" tanya Kyai Hasan.
"Oo.. anu. Mendadak pusing dan perutnya sedikit nggak enak." dengan hati-hati Nyai Hasan menjawab pertanyaan suaminya.
Kyai Hasan berdiri, "Biar aku lihat."
"Abah... " Nyai Hasan menghentikan suaminya dengan suara lembutnya. Ia mendekati Kyai Hasan dan memegang tangannya. "Bukan abah yang ia tunggu. Jadi abah duduk saja dan makan dengan tenang ya!" lembut namun tegas. Permintaan Nyai Hasan tidak mampu ditolak oleh suaminya. Kyai Hasan kembali duduk dengan patuh.
Ustadz Huda tersenyum. Ia selalu tahu kalau hanya uminya yang mampu meredam sang abah.
"Assalamu'alaikum." Bara dan Banyu tiba.
"Wa'alaikumussalam." jawab kyai, umi dan ustadz Huda bersama-sama. Ustadz Huda keluar.
"Masuk! Ini kan sudah rumahmu. Kenapa nunggu di luar begitu?" kata Ustadz Huda melihat Bara malah duduk di teras menunggu dipersilahkan masuk.
"Belum terbiasa, Kak. " jawab Bara.
"Masuk lah. Lihat Yas! Ia tidak enak badan dan sekarang sedang berbaring di kamar." kata Ustadz Huda mengagetkan Bara.
"Kenapa?Bukankah tadi tidak apa-apa?" kata Bara sambil bergegas masuk ke rumah Kyai Hasan.
"Ayo, Banyu. Masuklah. Kita keluarga sekarang. Kau juga bisa memanggilku kakak." kata Ustad Huda pada Banyu.
Banyu tersenyum dan mengangguk. Ia dan Ustad Huda masuk ke rumah dan langsung menuju ruang makan.
Bara yang masuk terlebih dahulu, langsung menuju kamar Yas. Saking cemasnya ia melewati ruang makan tanpa menyapa Kyai dan Nyai Hasan.
Kyai Hasan menghela nafas melihat perilaku Bara.
"Abah harus maklum. Ia sedang mencemaskan Yasmine." Nyai Hasan menenangkan suaminya.
Bara membuka pintu kamar dan ( mendekati Yasmine.
"Sayang!" panggilnya sambil membelai rambut Yasmine.
__ADS_1
Yasmine membuka mata. Ia tersenyum melihat Bara ada di hadapannya. Senyumnya memudar saat melihat ada yang aneh dengan wajah tampan suaminya. Ia bangun dari rebahannya
"Ini kenapa?" tanya Yasmine sambil menyentuh memar di wajahmu Bara.
"Bukan apa-apa. Kamu nggak usah khawatir." Bara memegang tangan Yasmine yang membelai wajahnya lalu meremasnya penuh kasih.
"Sakit ya?" tanya Yasmine dengan rasa cemas.
Bara menggeleng. "Ada yang lebih sakit dari ini, Yas. "jawab Bara.
"Apa?"
"Jika aku tidak melihat senyummu." gombal Bara sambil menyentuh hidung Yasmine.
"Bohong." wajah Yasmine tersipu. Bara mengecup kening Yasmine.
"Tetaplah tersenyum seperti ini." bisiknya.
Yasmine mengangguk lalu membalas mencium pipi Bara.
"Kok pipi?yang ini donk!" Bara menunjuk bibirnya.
"Ayo kita sarapan! Yang lain pasti sudah menunggu." Bara berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Yasmine. Yasmine mengangguk. Ia menerima tangan Bara dan berdiri. Mereka berjalan beriringan. Saat sampai di depan pintu kamar, Bara menghentikan langkahnya karena teringat sesuatu.
"Ah hampir saja. Pakai hijab dan niqabmu. Ada Banyu."
Yasmine segera memasang hijab dan niqabnya.
"Nah, sudah cantik." puji Bara. Dengan bergandengan tangan mereka keluar kamar dan menuju meja makan.
Bara dan Yasmine duduk berdampingan. Dengan penuh cinta, Yasmine melayani Bara. Banyu dan Ustadz Huda memandang pasangan pengantin Baru itu. Begitu juga Kyai dan Nyai Hasan.
Mereka melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Bara dan Yasmine. Tiap kali Yasmine mengambilkan makanan dan menaruhnya di piring Bara, Bara akan mengubah terima kasih sambil tersenyum manis memandang Yasmine.. Wanita itupun tersipu mendapat tatapan mesra dari sang suami.
Cih. Emang kita nggak kelihatan apa. Mesraan tanpa tahu tempat. batin Banyu.
"Hem!" Kyai Hasan mendehem dengan keras membuat Bara langsung mengalihkan pandangannya dari wajah Yasmine.
"Umi ambilkan abah makanan!" kata Kyai Hasan. Nyai Hasan pun melayani suaminya makan. Seakan mengikuti apa yang Bara lakukan, Kyai Hasan juga selalu mengucapkan terima kasih tiap kali Nyai Hasan menaruh sesuatu di piringnya.
__ADS_1
"Terima kasih bidadari surgaku." kata Kyai Hasan yang membuat semua yang ada si meja makan melongo heran.
"Apa?!? Cepat makan!! Nggak pernah lihat suami memuji istrinya?! " kata Kyai Hasan galak. Bara dan Banyu langsung menunduk dan menikmati makanannya. Sedangkan Ustadz Huda dan Yasmine mengulum senyum melihat kelakuan aneh abah mereka.
Ketika asik menikmati makanan, ponsel Kyai Hasan berbunyi.
"Mau dijawab sekarang, Bah?" tanya Nyai Hasan. Kyai Hasan mengangguk. Nyai Hasan berdiri mengambilkan ponsel suaminya yang ada di rak buku.
"Assalamu'alaikum!" sapa Kyai Hasan. Entah apa yang disampaikan lawan bicaranya.
Kyai Hasan menyahut, "Bisa. Silahkan. Aku tunggu. Wa'alaikumussalam."
Beliau lalu mengakhiri panggilannya. Wajahnya berubah. Ada kebingungan dan rasa cemas di wajah Kyai Hasan.
"Siapa Bah?" tanya Nyai Hasan.
"Ustadz Asnawi. Beliau akan mampir kemari." jawab Kyai Hasan sambil. melanjutkan makannya.
Mendengar nama Ustadz Asnawi, Banyu seolah mengingat sesuatu.
Ah, nama Asnawi kan banyak. Nggak. mungkin beliau. bathin Banyu.
'Kenapa abah gusar?" tanya Ustad Huda.
"Abah berjanji menikahkan Yas dan putranya. Kini Yas malah sudah menikah, apa yang harus abah jelaskan padanya." gumam Kyai Hasan.
Semua diam. Tidak mungkin mereka cerita kalau Yasmine dinikahkan karena disangka hamil padahal tidak. Ustad Asnawi apa akan percaya.
"Katakan saja yang sebenarnya abah! Meski pahit, kejujuran tetap yang terbaik.* saran Nyai Hasan.
" Tentu abah akan jujur, Nyai. Hanya abah khawatir akan mempengaruhi persahabatan kami."
"Tidak akan abah. Jika beliau orang bijak, pasti akan paham." kata Nyai Hasan menenangkan.
Kyai Hasan mengangguk., "Nyai memang benar benar bidadari surgaku." kembali Kyai Hasan melancarkan gombalannya membuat Bara dan Banyu langsung tersedak karena kaget. Ustadz Huda dan Yasmine tertawa.
...🍃🍃🍃...
Banyakin like dan komentar donk. Vote juga ya....
__ADS_1