
"Nah, kalau begini kan enak." kata Wiena. "Silahkan duduk ustadz!" ia menggeser tubuhnya agar Ustad Huda bisa duduk di sebelahnya.
Ustadz Huda ragu. Ia tetap berdiri.
"Tadi bilangnya ke kantin kok malah ke taman?" tanya Ustadz Huda canggung.
"Di kantin banyak temanku lagi makan. Nanto jadi gosip kalau aku makan barengan ustadz." jawab Wiena.
"Apa kamu takut kalau pacarmu tahu?" pancing Ustad Huda.
Wiena tertawa kecil, "Pacar? Nggak ada kata pacaran dalam kamusku ustadz. Gini-gini aku tahu kalau pacaran itu haram." jawab Wiena.
Ustadz Huda tersenyum.
"Terus yang kamu mau hubungan yang seperti apa?" kembali Ustadz Huda bertanya
"Yang halal." jawab Wiena pendek.
Bagus! Aku akan menghalalkanmu. Lagian mamamu sudah melamarku.batin Ustadz Huda.
"Tadi anti eh kamu bilang ada yang mau ditanyakan, apa?" tanya Ustadz Huda. Selama bicara dengan Wiena, Ustadz Huda tidak memandang wanita itu.
"Oh..maaf kalau aku bohong tadi. Sebenarnya aku ingin bicara tentang mereka. Jadi...aku mohon...Ustdaz tolak perjodohan ustadz dengan Camelia." pinta Wiena.
"Kenapa?" tanya Ustadz Huda. Dalam hati ia senang karena mengira Wiena memiliki rasa yang sama.
"Masalahnya orang yang Camelia mau untuk jadi suaminya bukan Ustadz, tapi Banyu, sepupuku. Jadi Ustadz jangan jadi orang ketiga diantara mereka." jawab Wiena.
Ustadz Huda kaget. Ia tidak mengira kalau Banyu dan Camelia saling memiliki perasaan. Pantas sikap Banyu berubah saat ia menyatakan setuju dijodohkan dengan Camelia.
__ADS_1
"Aku tidak bisa." jawab Ustadz Huda.
"Kenapa nggak?"
"Ya .. karena aku sudah terlanjur menyetujui perjodohan ini. Tanpa alasan yang kuat aku tidak bisa membatalkannya. Kecuali...."
"Kecuali apa?" Wiena penasaran.
"Kecuali aku menemukan pengganti Camelia dan menikahinya. Baru perjodohan bisa dibatalkan." jawab Ustadz Huda.
Ayo bilang kalau kamu saja yang menikah denganku.
Wiena diam. Ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa menoling teman dan sepupunya.
"Aku ada ide!" seru Wiena girang.
"Apa?" tanya Ustadz Huda. Dalam hati ia berharap rencananya memancing Wiena untuk mau menikah dengannya berhasil.
Balon harapan di hati Ustadz Huda langsung mengempis mendengar ide Wiena. Tapi Ustadz Huda tidak kehilangan akal. Ia ingin tahu sejauh mana usaha Wiena buat mencarikan dirinya jodoh.
"Boleh. Aku ingin wanita cantik, berhijab, agak ceroboh, tapi baik hati, pinter juga agak cerewet." jawab Ustadz Huda. Semua yang Ustadz Huda sebutkan mengarah ke Wiena. Tapi Wiena nggak ngeh karena ia merasa tidak seperti yang Ustadz Huda gambarkan.
"Cari wanita cantik gampang. Cantik dan ceroboh juga cerewet banyak. Tapi kalau yang seperti ustadz sebutkan, agak susah. Tapi aku yakin pasti ada.Semangat Wiena." kata Wiena sambil mengepalkan tangan menyemangati dirinya sendiri.
Ustadz Huda tersenyum melihat tingkah Wiena yang menurutnya lucu.
"Ah iya. Satu lagi. Dia juga harus lucu dan menggemaskan."
"Banyak banget syaratnya?"
__ADS_1
"Jelaslah. Kan aku mau hidup selamanya bersama dia. Jadi harus sesuai dengan keinginan. Biar hidupnya menyenangkan."
Wiena manggut-manggut.
"Kalau kamu maunya yang seperti apa?" tanya Ustadz Huda balik.
"Aku?! Aku ingin pria yang sholeh. Karena menurutku pria sholeh itu akan memperlakukan istrinya dengan baik dan setia."
"Hanya itu?"
Wiena mengangguk.
"Kalau misalnya ada pria sholeh yang datang melamarmu bagaimana?"
"Sebenarnya aku masih belum mau menikah. Tapi kalau seorang pria berani melamar, ia pasti pria hebat. Aku akan menerimanya."
"Meski kamu tidak mengenal orangnya?"
"Sial itu aku serahkan pafa orang tuaku. Karena penilaian mereka pasti tidak salah."
Ustadz Huda mengulum senyum.
Tunggu aku. Sebentar lagi aku akan meminangmu dan kita menikah.
"Aku balik ke Banyu dulu ya?" pamit Ustadz Huda.
"Ah iya. Jadi kan dicarikan calon istri?" tanya Wiena memastikan.
Ustadz Huda mengangguk lalu memberi salam. Ia meninggalkan Wiena.
__ADS_1
***