
Bukankah kamu pernah menggendong Yasmine saat hujan dan kalian berduaan di gedung kerajinan asrama santriwati ha?" tanya Bimo.
Bara kaget. Bagaimana Bimo bisa tahu.
Ekspresi Bara yang kaget mendengar tuduhan Bimo tidak luput dari perhatian Kyai Hasan dan Ustadz Huda. Mereka berdua semakin penasaran melihat kelanjutan perseteruan antar santri itu.
"Jaga mulutmu! Jangan mengumbar fitnah keji!" semprot Banyu.
"Hahaha... siapa yang memfitnah. Tanya saudaramu itu?Tidaklah kau lihat wajahnya yang kaget itu ha?!" kata Bimo penuh kemenangan. Banyu menatap Bara.
Bara tersenyum. Tapi ja tidak menjawab.
"Kenapa.kau diam! Kau tidak bisa menghindar dari tindakan kotormu itu." kata Fahri. Ia kembali melayangkan pukulan. Kali ini sasarannya pelipis Bara. Bara berkelit namun sama sekali tidak membalas.
"Bara!?!" Banyu cemas. "Katakan kalau apa yang mereka bilang tidak benar!"
Bara menghela nafas.
"Aku bersama Yasmine di gedung keterampilan santriwati memang iya, aku mengakuinya. Tapi semua tidak seperti yang kalian sangkakan. Kami tidak melakukan apapun." jawab Bara tegas.
"Halah! Mana ada maling mau mengaku." teriak Bimo memprovokasi.
"Huuuu!!"" sorak para santri yang mengepung Bara dan Banyu.
"Bara!" Banyu melihat Bara dengan tatapan tak percaya.
"Kalau kalian tidak melakukan apa-apa, nggak mungkin ada ini!" Bimo. menunjukkan kertas.
Bara kaget. Bagaimana mungkin kertas hasil. pemeriksaan Yasmine dari rumah sakit ada di tangan Bimo.
"Kau?! Darimana kau dapatkan kertas iti?!" Bara berusaha merebut kertas itu dari tangan Bimo. Bimo menghindar dan teman-temannya menghalangi Bara dengan kembali memukul pemuda itu.
Banyu geram. Ia sudah merangaak maju. Bara kembali mencekal lengan Banyu.
"Kau! Kita nggak akan kalah melawan mereka semua!!! Kenapa kau nggak mau membalas?! Ha?!" teriak Banyu dengan amarah yang sudah memuncak melihat Bara disakiti semacam itu.
"Nabi tidak pernah membalas kekejian dengan kekejian juga. Nabi hanya mengangkat tangan terhadap musuh Islam bukan terhadap saudara seiman." jawab Bara.
Mendengar itu Banyu langsung beristighfar.
Ustad Huda tersenyum mendengar jawaban Bara. Kyai Hasan melengkungkan sudut bibirnya.
Bagus Bara. bathin Ustad Huda. "Aku tidak salah memilihmu untuk Yasmine.
" Jangan sok suci kau. Macam istrimu itu. Berlagak memakai cadar tetapi kelakuan mirip wanita malam."
Bukan main hinaan Bimo terhadap Yasmine.
"Bim!!" Fahri menegur Bimo. Ia merasa tidak suka jika Yasmine ikutan dihina.
Ustadz Huda mulai panas. Tangannya mengepal berusaha sabar. Kyai Hasan menunduk. Ia merasa gagal mendidik putri dan juga santri-santrinya.
Kali ini bukan Banyu yang meradang. Saat istrinya yang suci dihina, Bara sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Buk.. buk.. buk
Tiga pukulan ia layangkan ke Bimo dengan sangat cepat hingga Bimo tidak sempat mengelak. Bimo tersungkur. Pelipis, hidung dan bibir Bimo langsung mengucurkan darah.
__ADS_1
Teman-temanya kaget melihat serangan Bara yang sangat cepat dan mematikan. Nyali mereka langsung menciut. Mereka ragu untuk membantu Bimo, apalagi melihat Banyu yang sudah siap menghadang siapa saja yang akan ikut campur.
Bara mendekati Bimo. Ia mencengkeram kerah baju koko Bimo. Dengan tegas ia berkata.
"Kau boleh hina aku semaumu, tapi jangan pernah hina Yasmine!" ia lalu menghempaskan tubuh Bimo.
"Kalian!!" teriak Bara, "Silahkan hina aku. Silahkan caci aku. Aku tidak akan membalas. Tapi jika kalian berani merendahkan Yasmine, kalian akan terima akibatnya. Yasmine suci. Dia tidak pernah disentuh oleh siapapun." Bara lantas merebut kertas yang dipegang Bimo. Ia mengacungkan kertas itu tinggi tinggi.
"Apa yang tertera di kertas ini semuanya bohong!! Yasmine tidak hamil!! Ini adalah kesalahan pihak rumah sakit. Jika kalian tidak percaya aku akan membuktikannya."
Semua diam. Fahri menunduk. Sejujurnya ia juga kaget melihat Bimo mengatakan kalau Yasmine hamil. Sebelumnya Bimo tidak pernah cerita soal kertas hasil tes Yasmine kepadanya.
Bara merobek kertas itu hingga menjadi potongan kecil-kecil lalu melempar serpihan kertas itu hingga berserakan.
"Sekarang kalian jawab aku! Apa maksud kalian melakukan hal ini? Jika kalian ingin tahu kenapa aku berduaan dengan Yasmine di ruang kerajinan, itu karena aku menolongnya. Ia jatuh dan kakinya terkilir hingga tidak bisa berjalan. Karena di taman itu tidak ada siapapun dan hujan akan segera turun, maka aku menggendongnya dan membawanya ke tempat terdekat untuk berteduh. Aku memang memijit kakinya. Yang kami lakukan hanya sebatas itu. Aku tahu aku salah, tapi saat itu niatku hanya ingin menolong." Bara menjelaskan.
"Tapi kenapa kamu bisa di sana. Bukankah santri putra dilarang masuk ke sana?" Asrul memberanikan diri bertanya.
"Itu salahku. Saat pertama masuk ke pesantren ini, aku penasaran dengan wilayah itu. Jadi aku menyelinap masuk. Jika kalian ingin menghukumku atas perbuatanku itu, maka aku akan menerimanya."
Kawan-kawan Bimo mendengarkan penjelasan Bara. Mereka mulai tampak mempercayai Bara. Melihat itu Bimo tidak tinggal diam.
"Kalian jangan percaya. Dia dusta." katanya cemas.
Bara meliriknya. Bimo langsung pucat. Rasa sakit akibat serangan Bara belum hilang, ia tidak mau Bara menyerangnya lagi.
"Baiklah. Sebenarnya aku tidak pantas menceritakan ini. Tapi carilah Yas di masjid dalam seminggu ini. Bukankah biasanya dia akan selalu jamaah ke masjid? Jika tidak kalian tahu kan apa artinya." Bara mengakhiri perkataannya. "Sekarang bisakah aku pergi?"
Bara melangkahkan kakinya menyibak para pengepungnya. Banyu mengikutinya. Bimo diam tak bisa berbuat apa-apa. Matanya berapi api penuh kebencian dan kemarahan karena usahanya gagal untuk membuat Bara hancur.
Bimo meludah karena darah meleleh ke mulutnya.
Fahri juga diam. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya.
Ia memang pantas mendapatkan Yasmine.
Fahri lantas berlalu dari tempat itu tanpa memperdulikan Bimo.
"Bimo, kau tidak apa-apa?" tanya Asrul. Ia berusaha membantu Bimo bangkit. Bimo bangun dan menepis tangan Asrul.
"Kalian pengecut semua!" ejeknya dengan marah. Bimo pergi menuju kamarnya dengan bersungut sungut.
Teman-temannya tetap di tempat itu sambil membicarakan apa yang barusan mereka lakukan. Ada yang merasa menyesal karena mempercayai Bimo begitu saja, ada juga yang mengatakan kagum dan ingin berteman dengan Bara.
Terjadi percekcokan diantara mereka. Sebagian tetap mendukung Bimo, namun sebagian berputar haluan, berbalik mendukung Bara.
"Hem!" deheman Kyai Hasan menghentikan kericuhan para santri itu. Mereka langsung menunduk takut.
"Pak Kyai." kata mereka lirih.
"Siapa yang bisa menjelaskan pada ana apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Pak Kyai dengan suara khasnya yang penuh tekanan.
Para santri saling tunjuk menyuruh temannya menjelaskan kepada Pak Kyai dan juga Ustadz Huda.
"Begini, Pak Kyai. Mmm.. Kak Fahri merasa kecewa karena Ning Yasmine Kyai nikahkan dengan Bara. Terus.. mersa pernikahan ini tidak wajar, apalagi saat tahu kalau Ning Yasmine dan Bara pernah berduaan saat hujan di ruang keterampilan, jadi sesuai usul Bimo kami bermaksud menghukum Bara." suara Asrul bergetar saat menjelaskan pada Kyai.
Pak Kyai manggut-manggut Ia paham siapa biang keladi dari kejadian ini.
__ADS_1
"Huf... Apa ajaran ana selama jnj tidak masuk sama sekali dalam pikiran antum. Ana benar-benar gagal sebagai pengajar." Kyai Hasan menggelengkan kepala tanpa penyesalan. Beliau pergi dari tempat itu diikuti oleh Ustadz Huda.
Ustadz Huda mengira mereka akan kembali ke masjid, namun dugaannya salah. Kyai Hasan meneruskan langkahnya menuju kediaman mereka.
"Abah, kita nggak balik ke masjid?" tanya Ustadz Huda.
"Tidakkah anta khawatir dengan ipar anta yang babak belur." jawabnya acuh.
Ustadz Huda tersenyum. Ia gembira karena Kyai Hasan ternyata mengkhawatirkan Bara.
"Jangan berpikiran yang aneh. Abah hanya khawatir Yas menjadi sedih. Makanya pengen pulang." elak Kyai Hasan saat menyadari jawabannya atas pertanyaan Ustadz Huda secara tak langsung menunjukkan kalau dirinya khawatir pada Bara.
Di asrama putra, di kamar Banyu dan Bara, Banyu sedang mengobati memar di wajah tampan Bara.
"Kenapa kau malah minta kemari? Kenapa nggak balik ke rumah Pak Kyai?" tanya Banyu.
"Aku nggak mau Yas melihat keadaanku dan bertanya apa yang terjadi. Kalau dia tahu bahwa dirinya dihina oleh para santri itu, ia pasti akan sangat sedih." jawab Bara sambil. meringis saat tangan Banyu terlalu kertas mengoles salep ke memarnya.
"Iiss." desis Bara, "Pelan-pelan."
"Cih.. sejak kapan jadi manja."
"Sejak semalam!" jawab Bara sambil tersenyum mengingat kejadian semalam.
"Aw!" Bara berteriak kesakitan saat Banyu sengaja menekan memarnya.
"Kau?!" hardik Bara jengkel.
Banyu cuek. Ia meninggalkan Bara dan melangkah ke ranjang nya.
Sementara itu Pak Kyai yang sudah sampai di kediamanannya seger menanyakan Yasmine karena ia berkeyakinan kalau Yasmine pasti sedang merawat Bara.
"Assalamu'alaikum, umi. Dimana Yas?!"
"Waalaikum salam. Yas ada di dapur sedang menyiapkan sarapan. Kenapa bah?"
Kyai Hasan mengernyitkan alisnya, " Ia sedang memasak?"
"Iya. Emang kenapa sih bi? Misterius amat."
"Lalu suaminya?"
"Bara belum kembali. Bukankah kalian berangkat bertiga, mana Bara?"
Pak Kyai dan Ustad Huda saling pandang.
Kemana Bara.
"Abah dan kakak sudah datang.* kata Yasmine yang muncul dari dalam. Mata Yasmine melihat ke arah lain saat ia tidak mendapati suaminya.
" Dia tidak ikut pulang, Bah?" Yasmine bertanya apada Kyai Hasan.
"Dia pergi bersama kembarannya. Mungkin sekarang sedang si asrama putra, di kamar mereka." jawab abah menenangkan Yasmine.
...🍃🍃🍃...
Di sambung besok ya
__ADS_1