Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Anggi menghilang


__ADS_3

Di kamar Anggi, Bara sudah menyiapkan diri dan mentalnya untuk berkata jujur dan menerima semua konsekuensinya. Ia memang tidak bisa mengelak lagi, kali ini ia harus menceritakan semuanya kepada mamanya. Bara duduk menunggu anggi di sofa yang ada di kamar mamanya. Ia memperhatikan ruangan itu dan mengingat ingat kapan terakhir kali masuk ke kamar besar milik kedua orangtuanya itu. Dulu, ia dan Banyu sering menggunakan tempat ini untuk bersembunyi saat mereka main petak umpet. Kamar mama dan papanya ini di desain mirip sebuah rumah namun dalam skala yang kecil. Jika diperhatikan, hanya dapur yang tidak ada di kamar ini. Bahkan papanya menaruh meja kerja juga, alasannya karena nggak mau jauh-jauh dari mamanya.


Bara tersenyum mengingat betapa bucinnya sang papa. Pandangan Bara laku beralih ke ranjang besar yang ada di dalam kamar itu. Pikirannya berkelana karena ia tahu apa yang sering terjadi di atas ranjang itu. Mukanya memerah dan ia langsung berpaling ke arah lain. Melihat ranjang mengingatkan akan ranjang yang ada di kamar Yasmine.


Tapi kemana mama?Mengapa aku dibiarkan menunggu di sini? batin Bara. Ia lalu memutar pandangannya mencari keberadaan Anggi yang ternyata sudah tidak ada di kamar itu. Bara bangkit dari sofa dan mulai mencari Anggi.


"Ma..mama dimana?" serunya. Ia menuju kamar mandi dan memasang telinga. Saat ia tidak mendengarkan apa-apa, ia kembali memanggil mamanya sambil mengetuk pintu kamar mandi, "Ma....!" Pintu terdorong dan ternyata di dalam tidak ada siapa-siapa. Bara mencari ke seluruh tempat yang dulu biasa ia gunakan untuk sembunyi. Namun ia menghentikannya.


"Nggak mungkinkan mama ngumpet?" gumamnya. "Maaaa!!!!" kali ini Bara berteriak lebih keras, namun tidak ada jawaban dari Anggi. Bara keluar dari kamar dan berlari turun ke ruang tamu tempat Langit, Ustadz Huda dan Banyu berada.


"Pa!" panggilnya dengan terengah-engah, "Papa melihat mama?!" tanyanya cemas.


"Bukankah tadi mama bersamamu?!" Langit balik bertanya.


"Iya. Tadi mama mengajakku ke kamar dan memintaku menunggu di sofa kamar papa. Terus aku asyik mengingat masa kecilku sambil mengamati seluruh bagian ruangan kamar papa. Saat aku sadar, mama sudah nggak ada dan aku sudah mencarinya di seluruh kamar. Tapi tetap nggak ketemu." Bara menjelaskan dengan detil.


Langit mengernyitkan alisnya. "Kira-kira kana dia?" gumam Langit. Banyu yang mendengar mamanya hilang di mansion (aneh kan di dalam rumah bisa hilang 😁) beranjak dari kursinya dan mulai memeriksa seluruh ruangan yang ada di mansion itu. Bara melakukan hal yang sana. Bahkan ustad Huda ikut memeriksa di bagian luar. Beliau memeriksa halaman, garasi dan taman-taman di sekitar mansion besar Langit.


Hanya Langit yang duduk tenang di sofanya. Ia malah mengambil surat kabat bisnis dan membacanya.


"Rohi...masih saja kau jahil." gumamnya menahan senyum.


Langit melipat surat kabarnya dengan cepat dan memasang wajah cemas saat mendengar langkah kaki mendekat. Banyu tiba dengan wajah bingung.


"Pa...tidak ketemu!" Banyu berhenti bicara untuk mengatur nafasnya karena tadi berlarian dari satu ruangan ke ruangan lainnya.


Bara tiba juga dengan nafas yang memburu. Tadi dia memeriksa ruangan yang ada di lantai dua.


"Bagaimana?" tanya Langit dengan nada khawatir.

__ADS_1


Bara menggeleng sambil memegang perutnya yang terasa tidak enak saat harus berlarian tanpa pemanasan dulu.


Berbeda dengan kedua santrinya, Ustadz Huda datang dengan langkah tenang. "Maaf Tuan Langit, saya tidak menemukannya di luar." katanya kalem.


Langit terduduk lemas. Banyu, Bara dan Ustadz Huda ikutan duduk.


"Pa, apa mama pergi karena sangat kecewa dengan Bara." keluh Bara dengan suara bergetar.


"Bisa jadi." jawab Langit singkat. Bara menatap papanya yang memberi jawaban yang malah membuat hatinya sedih.


"Pa!!" rengeknya.


"Ck. Sudah beristri tapi masih suka merengek!" goda Langit.


Ustadz Huda tersenyum melihat kehangatan keluarga iparnya itu.


"Buat apa mengibur orang salah. Bisa-bisa kena hukuman juga aku." jawab Langit santai. Tanpa sadar tangannya kembali mengambil surat kabar dan membacanya.


"Pa! Mama hilang dan papa masih sempat membaca surat kabar?" tegur Banyu yang heran dengan sikap papanya.


Langit menghembuskan nafasnya.


"Kalian pikir deh! Kalau mama kalian pergi misalnya meninggalkan rumah tanpa ijin dari papa mungkin nggak?" Bara dan Banyu menggeleng.


"Jadi mama kalian nggak kemana-mana." jawabnya.


"Tapi mama kemana Pa?" tanya Bara yang masih cemas karena rasa bersalah. Dalam bayangannya Anggi sedang duduk sembunyi sambil menangis karena kecewa akan sikapnya. "Ini salahku. Ini salahku.Mestinya apapun keadaannya waktu itu aku memberitahu mama dan papa. Aku malah melarang keluarga pak Kyai untuk memberitahu mama dan papa. Tapi sungguh pa, aku tidak ada maksud mengabaikan keberadaan kalian. Kalian adalah orang terpenting dalam hidupku."


"Terpenting?" tanya Langit dengan penekanan.

__ADS_1


"Ya!" jawab Bara mantab.


"Benar-benar terpenting?" kembali Langit mengulang kalimatnya sambil matanya menatap sekilas ke satu arah.


"Ya Pa!" Bata tanpa ragu menjawabnya.


"Lebih penting dari Yasmine?" Langit melemparkan pertanyaan yang sedikit menyulitkan Bara untuk menjawabnya.


Bata kaget karena tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia terdiam. Banyu ikut berpikir. Jika ia ditanya, lebih penting mana kedua orangtuanya atau Camelia, maka ia juga tidak akan bisa menjawab dengan cepat. Ustadz Huda diam menunggu jawaban Bara. Ia ingin tahu sejauh mana Bara menempatkan adiknya dalam kehidupannya. Ia berharap tidak salah telah memilihkan Bara untuk adiknya.


"Haaah...papa sudah tahu jawabannya. Kami tidak lebih penting dati Yasmine.


"Bukan begitu pa." jawab Bara.


"Lalu?!"


"Yasmine istriku. Ia amanah dari Allah padaku yang kelak akan aku pertanggung jawabkan. Mama dan papa adalah kedua orangtuaku. Tempat aku berbakti sepanjang hidupku. Jalanku menuju sorga. Jika kondisinya, Yasmine durhaka sama mama dan papa, dan aku tidak mampu membimbingnya menjadi istri yang bersikap baik pada kalian, maka tanpa keraguan aku akan meninggalkannya dan lebih memilih kalian berdua. Namun jika sebaliknya, ia sangat berbakti dan bersikap baik kepada papa dan mama lalu papa dan mama masih kurang puas, maka aku tidak akan meninggalkannya."


"Dan kamu memilih meninggalkan kami?"


"Tidak pa. Aku memilih untuk tetap mengajaknya berbuat baik pada mama dan papa sampai mama dan papa menyadari kebaikannya dan menerimanya dengan ikhlas. Jadi itulah jawaban Bara. Papa bisa mengambil kesimpulannya sendiri." kata Bara.


Ustadz Huda tersenyum karena ia yakin tidak salah pilih. Langit juga tersenyum karena tahu bahwa anaknya sudah lebih dewasa dan bijaksana. Banyupun tersenyum karena punya referensi untuk menjawab jika ia mendapat pertanyaan serupa.


Ketiganya puas dengan jawaban Bara, tapi dimana Anggi?


Author bantu cari dulu ya...nanti kalau dah ketemu, kita cerita lagi.


Jangan lupa jejaknya...

__ADS_1


__ADS_2