
Yasmine kecewa mengetahui kalau Bara kembali ke asrama putra. Ustadz Huda melihat kekecewaan adiknya itu.
"Aku akan memanggilnya dan mengajaknya pulang untuk sarapan." katanya sambil memutar tubuh hendak keluar.
"Abah ikut. Abah sudah lama nggak melihat kondisi asrama putra. Siapa tahu ada yang harus dibenahi." Kyai Hasan melangkah keluar diikuti Ustadz Huda.
Yasmine memandang kepergian mereka.
"Kenapa harus ke asrama sih." gumamnya.
"Mm baru juga ditinggal beberapa jam udah rindu saja bawaannya." goda Nyai Hasan.
"Umiii..." rengek Yasmine manja sambil memegang lengan uminya. Ia meletakkan kepalanya dibahu Nyai Hasan.
"Apa kau bahagia?" tanya Nyai Hasan sambil mengelus kepala Yasmine. Yasmine mengangguk.
"Kau menyukainya?"
Kembali Yasmine mengangguk.
"Bagaimana kau bisa menyukainya hanya dalam waktu semalam?" tanya Nyai Hasan lagi.
Yasmine mengangkat kepalanya dari bahu Nyai Hasan.
"Umi duduk yuk! Yas akan cerita." Yasmine menggandeng uminya dan mengajaknya duduk di meja makan.
"Sebenarnya kami sudah kenal lama. Sebelum Yas berangkat ke Kairo. Dia pernah menolong Yas saat kaki Yas keseleo." Yasmine menghentikan ceritanya. Ia menunduk dengan wajah memerah malu mengingat bagaimana Bara menggendongnya dan memijit kakinya.
"Terus?"
"Ya... saat itu hujan akan turun. Karena Yas kesulitan berjalan, tiba-tiba ia mengangkat Yas dan membawa Yas berteduh. Terus ia memijit kaki Yas yang sakit sampai baikan. Setelah itu dia pergi."
"Hanya sekali itu kalian bertemu?"
Yasmine menggeleng. "Pertemuan kedua, saat Yas diantar Kak Huda mau berangkat ke Kairo. Ia mencegat mobil kami dan mengajak Yas bicara sebentar."
"Pertemuan ketiga?" tanya Nyai Hasan memancing.
"Pertemuan ke tiga di rumahnya. Ketika Yas diajak Kak Huda memenuhi undangan aqiqah adiknya."
"Apa yang kalian lakukan saat di rumahnya?" Mata Nyai Hasan memandang Yasmine dengan intens.
"Kami bertemu di taman tapi hanya sebentar. Ia hanya bilang kalau ia akan membuat dirinya pantas dulu terus akan datang ke abah untuk mengkhitbahku. Jadi dia meminta agar aku bersedia menunggu."
"Apa jawabanmu saat itu?"
Yasmine memandang mata Nyai Hasan dengan malu. "Yas bersedia menunggu."
Nyai Hasan mengangguk-anggukan kepalanya, "Dia pria yang baik. Sekarang kau pasti sangat bahagia bisa bersama dengannya. Tapi ingat Yas, pernikahan kalian belum resmi secara hukum negara karena usia kalian masih sangat muda. Biar dia lulus dulu baru kita urus suratnya dan kalian akan dinikahkan lagi. Jadi tahan dulu dirimu. Jangan melakukannya dulu."
Yasmine menggigit bibirnya mendengar permintaan uminya. Dalam hati ia memohon maaf kepada uminya karena apa yang dilarang sudah mereka lakukan semalam.
"Yas, kenapa kau diam?"
Yasmine bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba perutnya terasa nyeri. Yasmine meringis.
"Kau kenapa?" tanya Nyai Hasan.
"Yas sedang dapet Umi. Ini perut Yas nyeri sekarang." jawab Yas sambil meringis karena sakitnya kian melilit. Keringat mulai bermunculan di kening Yasmine.
__ADS_1
"Tunggu. Umi akan menghubungi abah dan kakakmu." Nyai Hasan bergegas mengambil ponsel. Ia mencoba menelpon Kyai Hasan dan Ustadz Huda.
Sayangnya kedua orang itu tidak membawa ponsel mereka.
"Umi sakit!!" rinti Yasmine sambil memegangi perutnya.
"Sabar Yas. Kamu rebahan saja dulu. Umi ambilkan air hangat buat mengompres perutmu sekalian umi buatin minuman herbal. Mudah-mudahan mengurangi rasa sakitnya. Berdoa ya!"
Yasmine mengangguk. Dengan dipapah Uminya ia menuju kamar dan berbaring. Tubuhnya melengkung menahan sakit di perut.
Nyai Hasan segera memasukkan air panas ke dalam alat kompres lalu memberikannya kepada Yasmine. Yasmine menaruhnya di perut.
Beberapa saat kemudian Nyai Hasan datang lagi. Kali ini dia membawa minuman herbal dari kunyit, serai dan asam juga madu. Ia meminta Yasmine meminumnya.
"Bagaimana?" Nyai Hasan bertanya dengan penuh kekhawatiran.
"Alhamdulillah. Mendingan umi."
"Ya sudah. Kau istirahat dulu. Nanti kalau suamimu datang, pergilah ke rumah sakit untuk periksa!"
Yasmine mengangguk. Nyai Hasan meninggalkan kamar Yasmine agar putrinya itu bisa beristirahat.
"Eh tunggu. Bukankah Yas hamil? Tapi kok datang bulan? Apa jangan-jangan ia keguguran?"
Nyai Hasan kembali ke kamar Yasmine untuk menanyakan hal itu. Ia melihat Yasmine masih meringis menahan sakit.
"Yas... kamu beneran datang bulan?" tanyanya sangsi.
"Iya umi. Yas sedang datang bulan." jawab Yasmine.
"Tapi kamu kan hamil?Bagaimana bisa datang bulan?"
"Yas! Apa ada yang umi tidak tahu?" Bu Nyai Hasan duduk di sisi ranjang Yasmine. Menatap putrinya itu dengan sorot mata menuntut jawaban jujur.
"Umi sebelumnya Yas minta maaf. Umi jangan marah. Semalam Yas tahu kalau Yas tidak hamil dan masih suci."
"Maksudmu?"
"Semalam kami berdua sudah... sudah... mm.. bersatu umi."
"Apa?! Oh Yas... !"
"Maaf umi. Tapi bukankah kami tidak melakukan dosa umi? Kami halal." kata Yasmine.
"Kau benar. Tapi usia kalian... ah sudahlah. Sudah terjadi juga." Nyai Hasan menghela nafas panjang. "Jadi semalam?"
"Semalam Yas tahu kalau Yas masih suci karena.. itu.. rasanya sakit sekali dan ada darah berceceran di sprei umi." jawab Yas malu-malu.
Nyai Hasan memejamkan mata. Ada rasa lega dan juga khawatir. Ia lega karena anaknya ternyata tidak hamil di luar nikah. Tapi ia juga khawatir, bagaimana kalau sampai suaminya tahu.
"Abah?Apa kau tidak akan memberitahu abahmu?" Nyai Hasan bertanya.
"Menurut umi baiknya bagaimana?"
"Kalau abah tidak bertanya jangan diberitahu, tapi kalau abah bertanya kamu harus jujur!" jawab Nyai Hasan tegas. Yasmine menyetujui usul uminya itu.
"Sekarang umi tahu kenapa baru ditinggal sebentar kamu sudah rindu. Kamu pasti kangen dipeluk ya?" goda Nyai Hasan.
"Umiii... " Yasmine pura pura kesal. Ia cemberut namun hatinya membenarkan ucapan uminya. Ya.. ia rindu suaminya. Rindu bau tubuhnya dan pelukan hangat nya. Yasmine menggigit bibir bawahnya mengingat sentuhan Bara terhadap dirinya.
__ADS_1
Di Asrama Putra.
Bara mengompres memarnya dengan es batu yang Banyu beli.
"Kamu nggak makan pagi?" tanya Bara.
"Nungguin kamu. Kita makan bareng ke kantin." jawab Banyu.
"Aku harus pulang. Yasmine pasti menungguku untuk makan pagi. Jika memarku sudah membaik, aku akan pulang."
"Yah.... aku makan sendirian. Andai Darel ada nggak akan sesepi ini." keluh Banyu.
"Kalau nggak mau makan sendirian, ikut saja makan di rumah kami!" sebuah suara mengagetkan mereka.
"Assalamu'alaikum!" Ustadz Huda datang dan memberi salam.
"Ustadz." sapa Banyu. Ia berdiri mengangguk hormat. Bara melakukan hal yang sama.
"Bagaimana memar anta?" tanya Ustadz Huda. Beliau tidak kaget dengan memar di wajah Bara. Hal itu membuat Bara dan Banyu saling pandang.
"Kakak tahu kalau ana memar?" tanya Bara.
Ustad Huda tertawa kecil. "Kakak tahu dari awal hingga akhir. Bahkan abah juga tahu. Kami ada di sana melihat semuanya."
"Apa?!" Bara dan Banyu kaget.
"Kyai Hasan tahu. Siap siap dapat hukuman." kata Bara.
"Apa ana sekejam itu . Langsung menghukum tanpa menyelidiki masalahnya?" kata Kyai Hasan yang berdiri di depan pintu.
"Kyai!?" Banyu dan Bara memberi hormat.
"Hmm!" Kyai Hasan mendekati Bara. Ia menyentuh memar di wajah Bara, "Apa sakit?" tanyanya.
Bara tidak menjawab. Ia bengong mendapat perlakuan yang penuh perhatian dari Kyai Hasan.
"Eh.. alhamdulillah.. sudah baikan Kyai." jawab Bara tergagap.
"Baguslah. Pulang lah. Yas mencarimu." Kyai Hasan lalu melangkah keluar. Ustadz Huda menepuk bahu Bara lalu pergi menyusul abahnya setelah mengucap salam.
"Nyu.. pukul atau cubit aku!" pinta Bara pada Banyu.
Banyu dengan senang hati memukul. perut Bara.
"Uhuk!!" Bara terbatuk mendapat pukulan dari Banyu. "Kau terlalu keras memukulku." semprot Bara.
"Situ yang minta." elak Banyu nyengir.
"Aku tidak mimpi. Kyai Hasan benar-benar kemari menjemputku." kata Bara bahagia.
"Ayo!" ajak Bara.
"Kemana?"
"Ke rumah mertuaku. Kita makan pagi di sana." Bara menggandeng Banyu. Mereka melangkah menuju rumah Kyai Hasan.
...🍃🍃🍃...
Kalau ibu udah menginterogasi, nggak ada yang bisa menghindar deh.
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya.