Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Diulang Biar Tidak Lupa


__ADS_3

“Bara apa yang kau katakan?”


Bara berjingkat kaget. Ia langsung mengakhiri panggilan ponselnya.


“Papa!!” seru Bara dengan wajah pucat.


Langit mendekati Bara dengan wajah memerah. “Jelaskan pada papa!” kata Langit tegas.


Bara diam, ia masih kaget dengan kedatangan Langit yang tiba-tiba. Dia juga tidak siap untuk menjawab pertanyaan Langit.


“Kenapa kau diam?Jawab papa!” Langit mencengkeram kerah piyama Bara.”Gadis mana yang sudah kau rusak ha?!” teriak Langit marah. Tangannya sudah terangkat siap menggampar Bara.


“Dia istriku, Pa.” Jawab Bara dengan suara keras mengimbangi teriakan Langit. Ia memejamkan mata siap menerima pukulan tangan Langit. Bara membuka mata saat ia tak merasakan apapun. Ia melihat tangan


Langit terhenti di udara.


“Dia istriku.” Bara mengulang ucapannya dengan suara lirih. Matanyaberkaca-kaca. Ia merasakan perih yang teramat sangat saat Langitmenuduhnya merusak seorang wanita. Seburuk itukah ia di hadapan papanya. Baramemegang tangan Langit yang mencengkeram kerah piyamanya.  Menarik lepas tangan itu dan berlalumeninggalkan Langit yang tertegun mendengar jawaban Bara.


Dengan langkah cepat Bara menuju kamarnya.


“Arrgghh.” teriak Bara. Ia menjambak rambutnya dan berdirimenempelkan punggungnya di pintu kamar. “Kenapa Pa?Kenapa begitu buruk penilaian papa terhadapku.” rintih Bara sedih. “Aku memang sering membuat ulah,


tapi itu dulu, Pa. Sekarang aku berusaha berubah.”


Sementara Bara menyesali sikap kasar Langit, dibalkon, Langit tak kalah menyesalnya karena telah menuduh putranya dengantuduhan yang buruk. Harusnya ia tidak langsung marah. Harusnya ia bertanyabaik-baik kepada Bara. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menarik nafaslalu melangkah meninggalkan balkon menuju kamar Bara.


Tok tok tok


Bara mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia diam tidak menanggapinya.


“Bara, buka pintunya. Papa mau bicara.” Langit berusaha membujuk Bara.  Bara memandang ke arah pintu. Ia ingin membiarkan papanya tetap di luar, namun ia ingat apa yang ia pelajari di pesantren tentang adab anak terhadap orang tua. Bara menyeret langkahnya ke arah pintu dan membukanya.


Setelah pintu terbuka, Bara kembali duduk di ranjang, membiarkan Langit masuk dan duduk di sebelahnya. Mereka saling diam.


“Maafkan, Papa.” Kata Langit memecah keheningan. Bara tetap diam. Langit melirik putranya itu. Ia lalu menyenggol tubuh Bra dengan


lengannya. Bara masih bergeming. Langit kembali menyenggol Bara, “Maafkan Papa.Dosa lo marah pada orang tua.” Ancam Langit.


“Pa, aku bukan anak kecil lagi.”  Akhirnya Bara merespon. Langit tertawa dan


mengacak rambut Bara.


“Bagi Papa, kau masih tetap Bara kecil papa yang suka bikin ulah dan yang papa sayang.”  Langit berusaha mengambil hati Bara. Ia kembali menyenggol lengan Bara.

__ADS_1


“Ck.” Bara berdecak.


“Siapa dia?” tanya Langit.


“Yasmine.” Jawab Bara yang tahu maksud pertanyaan Langit.


“Yasmine putri Kyai Hasan?!” tanya Langit tidak percaya. Bara mengangguk.


“Kau menikahi Yasmine putri Kyai Hasan?” Langit kembali memastikan.


“Iya, Pa. Papa nggak percaya? Apa papa pikir Bara tidak cukup baik untuk mendapatkan istri seperti Yasmine?” suara Bara meninggi.


“Hei, bicara dengan orang tua harus sopan.” Tegur Langit.


“Maaf, habis papa sih.” Sesal Bara.


“Bagaimana bisa kau menikah dengannya? Kau kan belum lulus? Dan setahu papa dia juga masih kuliah di Kairo.”


Bara lalu menceritakan bagaimana ia dan Yasmine bisacmenikah.


“Oooo begitu.” Berkali-kali Langit mengangguk. “Papa bangga padamu. Kau mirip papa. Dulu papa juga melakukan hal yang sama hanya


saja sedikit berbeda.” Langit teringat pernikahannya dengan Embun.


“Wah ini yang susah. Kau tahu kalau papa tidak bisa berbohong pada mamamu. Ini malah suruh menyimpan rahasia.” Keluh Langit.


“Sementara Pa. Sampai Bara lulus. Nanti Bara yang akanmenceritakannya sendiri pada mama.” Bara memelas.


“Ck, kau ini membuat papa berada pada posisi yang sulit. Jika mamamu tahu papa ikutan menyembunyikan pernikahanmu, papa bisa puasa dalam waktu yang lama.” Langit mengomel.


“Puasa?!” Bara menatap Langit tak mengerti.


“Iya, puasa. Kamu kan sudah menikah. Jangan pura-pura tidak tahu.”


Bara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saat ia sadar ke arah mana maksud perkataan Langit.


“Papa punya usul yang lebih bagus. Papa akan bantukamu membuka jalan agar mamamu tahu tanpa membuatnya sedih dan marah,bagaimana? Kalau kamu terus menyembunyikan hal ini, selain kamu tidak tenang, kelak jika mama mengetahuinya, ia pasti akan sangat kecewa.”


“Baiklah. Terserah papa saja.” Bara menyetujui usul papanya. Ia sedikit lega karena berkurang satu beban. Papanya sudah tahu, tinggal mamanya.


“Bagaimana rasanya?” tanya Langit sambil memainkan alis matanya menggoda Bara.


“Apaan sih, Pa.” Bara menjawab dengan jengah.

__ADS_1


“Ayolah cerita ke papa.” Bujuk Langit.


“Papa kok jadi seperti wanita, kepo.” Bara


membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut.


Langit yang masih penasaran menarik selimut Bara, “Jangan menghindar kau. Jawab pertanyaan papa dulu.”


Bara bangkit dari tidurnya dan ia turun dari ranjang. Di tariknya tangan Langit dan didorongnya tubuh papanya itu agar keluar dari kamarnya.


“Papa kan juga pernah merasakannya, nggak perlu Bara cerita.” Kata Bara lalu menutup pintu kamarnya.


“Bara buka!” Langit berteriak dari luar, “Papa sudah lupa rasanya dulu bagaimana.”


Bara tertawa mendengar kata-kata konyol Langit.


“Bohong! Bara tidak percaya. Sudahlah pa, kalau lupa sana diulang lagi biar ingat. Bara mau tidur.” dengan suara keras Bara


menjawab perkataan Langit.


Merasa percuma membujuk Bara, Langit pergi meninggalkan kamar Bara. Ia menggerutu. Bahkan saat masuk ke kamarnya, ia masih menggerutu.


“Hubby kenapa?” tanya Anggi yang baru saja menyusui anak bungsunya.


“Tuh. Anak laki-lakimu. Merasa sudah dewasa sekarang.Papanya tidak dianggap.” Kata Langit sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang


“Masak sih. Setahuku anak-anak sangat menghormatimu,By.” Jawab Anggi. Ia juga berbaring di sebelah Langit


“Kau tidak percaya padaku?” Langit memutar tubuhnya menghadap ke arah Anggi.


“Bukan begitu, By. Iya aku percaya pada Hubby. Sebenarnya bagaimana ceritanya sih?” Anggi juga merubah posisinya. Kini mereka berbaring berhadapan.


“Anakmu itu bilang kalau aku harus mengulangi malam pertama kita dulu, agar tidak lupa rasanya. Kurang ajar kan?” Kata Langit bersungut sungut.


“Memangnya Hubby lupa?”


Langit memandang Anggi, “He eh. Jadi kita ulangi lagi yuk!” Rayu Langit. Tangannya mulai bekerja tanpa harus diperintah.


“Ish..itu sih maumu By.” Jawab Anggi. Meski begitu, ia membiarkan Langit membawanya mengulang malam pertama mereka dulu.


**Tuh kan virus pengantin barunya Bara menular ke papa Langit juga setelah menginfeksi Kyai Hasan habis habisan 😁😁😁😁


Oh ya baca juga Balada Istri Kedua ya..Dah mulai update tiap hari. Kasih like koment dan votenya buat karya karya author ya..pilih aja deh mana yang disuka. Terima kasih 🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2