Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Suara ini...mungkinkah


__ADS_3

"Abah darimana?" Camelia menyambut kedatangan Hj Asnawi. Ia membantu abahnya itu turun dari mobil.


'Pagi-pagi banget sudah keluar." lanjutnya . Ia lalu memapah abahnya menaiki tangga. Sementara Bagas memarkirkan mobil.


"Kamu kok masih di rumah? Bukannya ke kampus?" Haji Asnawi menanggap pertanyaan Camelia dengan balik bertanya.


"Hari ini jadwalnya agak siangan bah." jawab Camelia sambil membantu Haji Asnawi duduk di kursi tetas.


"Oh. Jadi sekarang punya waktu kan? Abah ingin bicara. Duduklah!"


Dengan patuh Camelia duduk di kursi yang ada di sebelah Haji Asnawi.


"Lia, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau sudah bisa menerima kenyataan yang terjadi? Maksud abah soal lamaran Banyu yang gagal dan soal kecelakaan yang menimpanya."


Camelia menunduk. Rasa sedih kembali menyelusup ke dalam relung hatinya.


"Lia sudah pasrah, Bah. Ini semua kehendak Allah. Lia akan menjalaninya dengan sabar. Mungkin memang kami tidak berjodoh." jawab Camelia lirih.


"Baguslah kalau begitu. Berarti keputusan abah tidak salah. Tadi abah mengunjungi kenalan abah dan kami bermaksud menjodohkan anak-anak kami."


Camelia tersentak. Ia langsung menengadah menatap wajah Haji Asnawi yang datar tanpa ekspresi.


"Maksud abah? Abah akan menjodohkan Lia?" Camelia bertanya dengan suara bergetar. "Bah, Lia belum siap."


"Kalau menunggu kamu siap, abah yakin selamanya kamu tidak akan siap. Abah tahu hatimu masih memilih Banyu. Jadi kamu tidak akan siap."


Camelia kembali menunduk.


"Lia, seandainya Banyu kembali datang melamarmu, bagaimana?" pertanyaan singkat Haji Asnawi kembali membuat Camelia mengangkat wajahnya.


"Bah, bukankah kita tidak boleh berandai-andai? Sejak kecelakaan, dia tidak mau berhubungan lagi dengan Camelia. Bagaimana mungkin ia akan melanjutkan lamarannya."


Ada nada kecewa dalam suara Camelia.


"Berandai-andai yang tidak boleh itu jika sudah terjadi lalau kita bilang seandainya begini tidak akan terjadi hal ini. Itu tidak boleh karena sama saja artinya dengan tidak menerima takdir. Yang abah maksud kan bukan berandai andai yang seperti itu. Lia, jawab saja pertanyaan abah tadi!"


"Bagaimana jika tiba-tiba keluarga Banyu datang dan melanjutkan lamarannya. Apakah kau akan menerimanya? Siapkah kau memiliki suami yang buta?"


"Hidup bersama orang buta bukanlah hal baru bagi Lia, abah."


Haji Asnawi terkekeh. "Iya, abah lupa. Kan abah juga buta." Tawa lepas mengakhiri ucapan Haji Asnawi.


"Jadi intinya kamu masih mau menerimanya kan?"


Camelia diam. Mukanya memerah. Haji Asnawi menghela nafas panjang. Diamnya sang putri sudah memberikan jawaban padanya.


"Hah, sayangnya abah tidak bisa. Tidak mudah menjalani rumah tangga dengan pasangan yang jelas jelas memiliki kekurangan. Ujian kalian akan sangat berat."


Camelia diam. Dia tahu kalau abahnya hanya menginginkan kebahagiaannya.


"Lia akan ikut apa kata abah saja. Mana yang menurut abah baik bagi Lia, Lia akan menjalaninya, Bah." ucap Camelia pasrah.


"Hm...baguslah. Lia, abah haus."


Camelia bangkit dari duduknya, "Abah mau kopi apa teh?"

__ADS_1


"Teh saja."


Camelia meninggalkan Haji Asnawi. Ia masuk untuk membutakan minuman bagi abahnya.


Haji Asnawi menunggu minumannya sambil termenung memikirkan ucapan Camelia


Anak muda,suka membohongi diri sendiri. Lain di bibir, lain pula di hati.


Haji Asnawi menghela nafas panjang.


"Ada apa, bah? Kenapa menarik nafas panjang?" Suara lembut Umma membuat senyum mengembang di bibir Haji Asnawi.


"Eh, bidadariku." candanya menggoda sang istri.


"Ni minumnya bah." umma menyodorkan segelas teh ke dekat suaminya.


"Kok umma yang ngantar? Camelia mana?" Haji Asnawi dengan hati-hati mengangkat gelas berisi teh itu lalu menyecapnya.


"Dia ada di kamarnya. Bersiap mau ke kampus."


"Lha, bukannya nanti siang ke kampusnya?"


Haji Asnawi berusaha meletakkan kembali gelas minumnya. Umma yang melihat hal itu segera membantu sang suami.


"Itulah. Abah tadi bicara apa sama Lia?"


"Memang kenapa?" tanya Haji Asnawi.


"Sepertinya ia bersedih."


"Abah hanya tanya soal si Banyu."


"Abaah..kenapa abah menanyakan dia?" Umma menyayangkan sikap sang suami.


"Lha mau gimana lagi. Meski aku tidak bisa melihat tapi aku bisa merasakan kalau anakku itu sedang sedih e. Sebagai bapak aku harus berusaha demi kebahagiaannya."


"Jadi apa yang abah lakukan? Tadi pagi abah kemana?"


"Abah ke rumah Tuan Langit. Nengokin Banyu."


"Oh ya? Bagaimana keadaannya, bah?"


"Haah..dia buta sama kayak abah." jawab Haji Asnawi sambil menghela nafas panjang.


Wajah umma tampak prihatin.


"Tadi aku tanya ke Lia, bagaimana kalau ia punya suami buta?"


"Terus Lianya jawab apa bah?" umma penasaran.


"Lia bilang hidup bersama orang buta bukan hal baru baginya."


Umma tersenyum, "Artinya ia tidak masalah jika bersuamikan orang buta."


"Ya, tapi umma. Tugas umma membuatnya mengerti. Sekarang ia masih dipengaruhi perasaan.Umma yang sudah pengalaman. Nasehati dia! Aku tidak mau ia menyesal nantinya."

__ADS_1


"Siap abahku sayang. Serahkan tugas itu pada umma." canda umma.


"Senangnya punya bidadari dunia akherat." Haji Asnawi mengelus tangan istrinya


"Amiin." umma tersenyum lalu mencium tangan sang suami. Sebagai balasan Haji Asnawi mencium kening istri tercintanya itu.


"Hem!" deheman Camelia yang baru keluar dari dalam rumah membuat umma segera menjauhkan kepalanya dari sang suami.


"Sudah mau berangkat?" tanya umma sambil memperhatikan Camelia.


"Iya umma. Abah! Umma! Lia berangkat dulu." Camelia mencium tangan kedua orangtuanya.


"Bukankah tadi kamu bilang agak siangan?" protes Haji Asnawi


"Ini juga sudah siang abah dan tadi Wiena telepon kalau kami diminta ke rumah sakit lagi."


"Hmm hati-hati! Fiiamanillah!"


"Aamiin."


***


"Bukankah masa magang kita sudah selesai?Kenapa kita dipanggil lagi?" Camelia langsung menyampaikan uneg unegnya saat berjumpa Wiena di rumah sakit.


Wiena mengangkat bahunya, "Ada pasien yang hanya mau ditangani olehmu." balasnya singkat.


"Apa? Lalu kamu? Kenapa kamu juga dipanggil? Apa juga ada pasien yang hanya mau ditangani olehmu?" cecar Camelia sambil terus berjalan ke ruang pemeriksaan tempat dokter yang menjadi pembimbing mereka melakukan praktek.


"Iya kali." jawab Wiena sambil tersenyum.


Camelia menggelengkan kepalanya menanggapi sikap temannya yang absurd itu.


"Eh, aku mengantarmu sampai di sini saja ya, kamu masuk saja sendiri." Wiena menghentikan langkahnya saat mereka sudah dekat dengan tempat yang mereka tuju.


"Kenapa?Bukankah kamu juga dipanggil?" Camelia mengernyit heran.


"Iya, tapi ruang periksanya beda. Aku diminta menemui Dokter Amel. Dah, aku pergi dulu." Wiena menepuk pundak Camelia lalu memutar tubuhnya.


"Oh ya...selamat berbahagia." ucap Wiena sebelum jauh meninggalkan Camelia.


"Hei tunggu! Apa maksudmu?" teriak Camelia. Wiena hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban.


"Aneh sekali. Ck.... sudahlah. Bukankah dia memang selalu aneh."


Camelia menarik nafas lalu mengetuk pintu.


"Assalamualaikum dokter, boleh saya masuk?"


"Waalaikumsalam."


Camelia kaget mendengar suara yang membalas salamnya.


Suara ini, mungkinkah. Ah, pasti hanya perasaanku saja.


Camelia membuka pintu. Dia termangu saat melihat siapa yang berdiri di dekat meja sambil menghadap ke pintu.

__ADS_1


__ADS_2