
Sehabis jamaah Ashar, Bara kembali berusaha membujuk Banyu. Seperti hari hari belakangan ini, Banyu selalu tergesa gesa meninggalkan masjid.
"Nyu!" panggil Bara sambil berlari mengejar saudaranya itu.
"Apa lagi?Percuma membujukku. Keputusanku sudah bulat." kata Banyu saat Bara berhasil menyusul dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Banyu.
"Membujukmu?Malas banget. Aku cuma mau bilang kalau tausiahnya itu ke kota kita. Siapa tahu kamu mau ikut sekalian mampir njenguk mama dan papa. Apalagi Kyai Hasan meminta mampir ke rumah Ustadz Asnawi, jadi.... " Bara menghentikan celotehnya karena tiba-tiba Banyu berhenti melangkah.
"Mampir ke rumah siapa?" Banyu memastikan apa yang dia dengar.
"Ustadz Asnawi.. memang kenapa" tanya Bara heran.
Kalau ke rumah Ustad Asnawi, aku bisa bertemu Camelia dan bilang jika nanti abahnya meminta persetujuan nya untuk mau dijodohkan dengan Ustadz Huda, mak dia harus menolaknya.
"Baiklah aku ikut." kata Banyu yang membuat Bara senang dan sekaligus heran. "Aku ingin bertemu mama dan papa." sambung Banyu saat ia melihat ada keheranan di wajah Bara.
"Oo... ya baguslah." jawab Bara pendek. Mereka meneruskan langkah menuju asrama.
"Kau mau kemana? Bukankah arah ke rumahmu di sana?" tanya Banyu saat Bara masih terus mengikuti dirinya.
"Aku mau ke kamar kita. Kangen banget suasana kamar kita."jawab Bara santai.
"Apanya yang membuatmu kangen?Bukankah lebih nyaman kamarmu sekarang apalagi ditambah kehadiran Yasmine di sana." gumam Banyu.
__ADS_1
Bara meraih bahu Banyu dan merangkulnya. "Beda Nyu. Di kamar kita banyak cerita tentang kita. Bukankah kita sudah berjanji akan selalu saling mendukung?" Bara mengguncang bahu Banyu.
Banyu diam. Ia memang sedikit merasa kehilangan Bara setelah Bara menikah dan pindah ke kediaman Kyai Hasan.
"Assalamu'alaikum, Gus!" sapa seorang santri saat berpapasan dengan mereka.
"Gus?!" Bara bingung
"Iya. Mereka menyapamu. Kau menantu Kyai pesantren ini. Jadi mereka memanggilmu Gus. Sama seperti panggilan untuk anak anak Kyai pesantren." Banyu menjelaskan.
"Iya aku tahu. Aneh saja rasanya. Serasa nggak pas dan nggak pantas." Bara menjawab seperti bergumam.
Mereka sampai di kamar. Banyu membuka pintu dan mengucap salam. bara masuk dan langsung merebhakan tubuhnya di ranjangnya dulu.
Bara mengamati apa yang Banyu lakukan. "Aku yang akan ke Kairo, kau yang rajin belajar." kata bara berkomentar. Banyu bergeming. Ia masih serius membaca bukunya.
Bara menghembuskan nafas keras keras mengusir kedongkolannya karena merasa dicuekkin.
"Nyu, sebenarnya ada apa?Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Katakannlah!Kita masih saudara kan??" keluh Bara namun tetap tidak membuat Banyu berubah sikap. Ia masih asik dengan kegiatan nya.
"Baiklah. Aku akan adukan sikapmu ini ke mama!" ancam Bara. Banyu langsung mendongak dan dengan tatapan tajam ia memandang Bara.
"Lakukan kalau berani! Aku juga bisa bilang ke mama dan papa tentang pernikahanmu!" Banyu balas mengancam.
__ADS_1
"Ah.. justru itu yang aku tunggu. Adukan saja aku. Karena aku bingung bagaimana memberitahu mereka. Kalau kau mengadukan ku, akau jadi punya jalan untuk bicara pada mereka."Bara tak mau kalah.
"Cih!" Banyu mendecih kesal. Ia kembali memusatkan perhatiannya ke arah bukunya.
"Bener nih nggak mau cerita. It's ok. Rupanya memang mama harus tahu." Bara banagki dan he dan meninggalkan Banyu.
Spontan Banyu bangkit dari duduknya dan mencegat Bara yang hampir sampai di pintu.
"Jangan berani kau lakukan itu!!" bentak nya.
"Kalau begitu bicara denganku! Apa masalahmu?!" Bara tak kalah keras suaranya.
Banyu membuang muka. "Kau juga akan tahu nanti. Aku tidak bisa bicara sekarang!" Banyu tetap berdiri di hadapan Bara. Menutup jalan Bara agar saudaranya itu tidak keluar. "Berjanjilah tidak bilang ke mama, atau aku tidak akan mengajakmu bicara untuk selamanya."
Bara diam. Ia menahan kesal. Ia sangat mengenal watak Banyu. Kembarannya itu jika sudah mengatakan sesuatu, pasti akan ia lakukan.
"Setidaknya jangan menjauhiku. Meski aku menantu pak Kyai, akau tetap saudaramu kan?" Bara menepuk pundak Banyu dua Kali kemudian mendorong tubuh Banyu ke tepi. Banyu menggeser tubuhnya memberi akses kepada Bara. Bara keluar, saat ia mencapai tengah pintu bahunya di tahan Banyu.
"Maaf. Aku hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap. Beri aku waktu!" pintanya.
Bara diam sebentar, lalu melangkah meninggalkan kamar itu.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Bagaimana..... masih setia menunggu? Do'akan ide keluar selancar tol dan kesehatan mendukung agar bisa up tiap hari ya.... kasih semangat dengan banyakin coment, paling suka baca koment pembaca... seperti ada interaksi dan merasa tidak sendiri