
"Hem!" deheman keras seorang pria membuat Camelia dan Banyu menatap ke arah pintu.
"Abah!" desis Camelia. Wajahnya langsung memucat.
"Masuk!" perintah pria itu.
Tanpa membantah, Camelia menuruti perintah abahnya. Gadis itu masuk dan berdiri di belakang dinding.
Jadi ini abahnya Camelia. Cukup berwibawa. batin Banyu
Pria berkacamata hitam itu melangkah ke arah kursi yang ada di teras tanpa memandang ke arah Banyu sekalipun.
Banyu terkesiap saat melihat sebelum duduk pria itu meraba kursi terlebih dahulu.
Apakah beliau buta?
Banyu meneruskan langkahnya menaiki tangga dan mendekat ke sisi abahnya Camelia.
"Assalamu'alaikum, Bah!" sapa Banyu.
"Waalaikumsalam. Kamu siapa?" tanyanya sambil menatap lurus ke depan.
"Nama saya Banyu. Saya mengantarkan Camelia pulang. Tadi Camelia menghadiri acara aqiqah di rumah saya menemani dokter Amel. Namun sayangnya mobil dokter Amel mengalami gangguan sehingga saya akhirnya mengantarkan mereka pulang." Banyu menjelaskan panjang lebar.
"Hem... terimakasih." jawab si abah.
Banyu menggaruk kepalanya. Ia bingung menghadapi sikap abahnya Camelia yang dingin dan kaku itu. Camelia mengintip dari pintu. Ia tersenyum melihat keberanian Banyu menghadapai abahnya.
"Kenapa masih berdiri di situ? Kamu nggak akan pulang?" tanya si abah.
Apa?! Dia mengusirku? batin Banyu.
"Jika abah ada waktu, ada yang ingin saya sampaikan." kata Banyu.
Camelia memasang telinganya. Ia ingin mendengarkan apa yang mau Banyu sampaikan ke abahnya. Saking konsentrasinya, ia tidak menyadari kedatangan ummanya.
"Anak gadis tidak boleh menguping." kata ummanya sambil menjewer lembut telinga Camelia yang tertutup hijab.
"Aw.. ampun Umma." teriak Camelia.
"Siapa yang sedang bicara dengan abah? Temanmu? Baru kali ini ada teman laki-laki datang ke rumah ini?" Umma memandang putrinya dengan tatapan menggoda.
"Umma apaan sich. Dia bukan siapa-siapa Camelia." balas Camelia sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Begitu ya.. kalau begitu, umma akan bantu abah untuk mengusirnya."
Camelia kaget mendengar ucapan ummanya.
"Umma jangan!" katanya khawatir sambil memegang tangan ummanya.
Umma tersenyum lalu menyentil ujung hidung Camelia.
"Umma tahu anak gadis Umma menyukainya."
__ADS_1
"Ummaaa." kata Camelia manja.
Di teras, abah dan Banyu masih terlibat percakapan yang berat sebelah. Banyu berkata kata dengan sopan sementara selalu dibalas dengan dingin dan acuh.
"Sayangnya aku tidak punya waktu." kata si abah.
Banyu menelan ludah.
Bukankah dia hanya duduk-duduk, kenapa tidak punya waktu?
"Abahhh... " suara lembut Umma seolah memberi teguran pada suaminya.
Banyu menoleh ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya namun tampak cantik dengan tatapan mata teduh dan senyuman lembut menghampiri mereka.
Kedatangan wanita itu membawa perubahan yang besar pada sikap si abah. Pria yang tadinya duduk dengan memasang wajah angkuh dan dingin, kini tampak wajahnya menghangat dan ramah. Posisi duduknya pun tidak setegak tadi, kini pria itu bersandar dengan santainya di kursi.
"Kenapa kamu hanya berdiri? Duduklah!" kata Umma setelah ia duduk di samping suaminya.
"Terima kasih, Bu." Banyu lalu duduk di kursi yang berada di seberang mereka.
"Kamu temannya Camelia?" tanya umma.
"Bukan, Bu. Tapi kami saling kenal. Camelia pernah merawat mama saya saat melahirkan adik bungsu saya sebulan yang lalu." Banyu menjelaskan.
"Siapa namamu?"
"Banyu, Bu. Nama saya, Banyu."
Mendengar nama Banyu, Umma ingat kalau beberapa waktu yang lalu, Camelia menanyakan pada abahnya apa arti Banyu. Saat itu abahnya menjelaskan kalau banyu adalah bahasa Jawa yang artinya air. Sejak saat itu, Camelia selalu menyebut air dengan kata banyu.
"Jadi ini orangnya." kata umma sambil. mengulum senyum.
Camelia memucat mendengar perkataan ummanya.
Jangan sampai Banyu menyadari apa yang Umma ucapkan. batin Camelia.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya si abah. Suaranya tidak segarang tadi.
"Tapi bukankah abah tidak punya waktu?"
"Tadi nggak punya, sekarang punya." jawab si abah dengan logat Jawa.
Umma tersenyum.
Banyu menatap pasangan di depannya dengan heran. Pria yang tadinya angkuh dan dingin bisa langsung berubah ramah saat ada istrinya.
Apakah abah tipe suami yang takut istri. batin Banyu.
Melihat Banyu hanya diam, Umma berkata, "Sampaikan saja nak. Jangan ragu. Abah sudah jinak kok." Umma mengakhiri ucapannya dengan senyuman lembut.
Nyesss... hati Banyu langsung adem melihat senyuman umma. Tumbuh keberanian dalam dirinya untuk menyampaikan isi hatinya kepada orang tua Camelia.
Banyu mengeluarkan kartu pengenal Camelia yang selama ini ada padanya.
__ADS_1
"Saya ingin mengembalikan ini, bu." kata Banyu. "Selain itu juga saya ingin menitipkan sesuatu kepada abah dan juga ibu."
Umma mengambil kartu nama Camelia, mengamatinya sebentar lalu menyimpannya.
"Mau titip apa?!" tanya abah masih dengan logat Jawanya.
"Nitip Camelia, abah." jawab Banyu mantab.
Abah terkekeh, "Opo ora kliru? Apa nggak salah? Kamu menitipkan anakku padaku, apa maksudmu?"
Umma tersenyum penuh arti karena ia tahu ke arah mana perkataan Banyu.
"Banyu tahu abah, maksud Banyu, nitip Camelia selagi Banyu berjuang mengejar cita-cita. Kelak jika Banyu sudah pantas, Banyu akan datang untuk memintanya pada Abah." jawaban Banyu bisa didengar oleh Camelia yang setia menguping di belakang pintu. Ia tersenyum sambil menekan dadanya yang berdegub kencang.
Abah manggut-manggut. "Jadi apakah kalian sudah pacaran? " pancing Abah.
"Tidak abah. Kami tidak pacaran." jawab Banyu.
"Anak muda, abah hormati tekadmu. Jujur abah kagum pada dirimu, tapi ada satu hal yang harus kau ingat. Jodoh ada di tangan Tuhan. Abah berjanji akan menjaga Camelia, tapi tidak berjanji kalian akan berjodoh."
Umma ikut menegaskan ucapan abah dengan anggukan kepalanya.
"Janji abah untuk menjaga Camelia sudah cukup buat saya, sisanya saya sendiri yang akan berjuang." jawab Banyu.
"Aku juga akan berjuang." gumam Camelia tanpa sadar.
"Berjuang bagaimana?" tanya Abah.
"Jodoh bisa diminta pada Allah, Abah. Melalui do'a. Saya akan berjuang untuk itu." kata Banyu mantab.
Abah dan Umma tersenyum. Mereka tidak menyangka, jika melihat penampilanya, Banyu tampak seperti anak konglomerat yang manja yang hanya bisa hura-hura dan bergaya hidup mewah, namun pada kenyataannya sangatlah berbeda. Banyu adalah pemuda yang paham akan ajaran agamanya.
"Baiklah anak muda, abah berjanji padamu. Abah jaga Camelia buatmu. Berjuang lah. Abah tunggu kedatanganmu beserta kedua orang tuamu." kata Abah.
"Terima kasih abah." ucapan Banyu gembira. " Abah, Ibu, karena urusan saya sudah selesai, saya pamit undur diri."
Banyu berdiri dan mengambil tangan Abah lalu mencium punggung tangan itu. Ia menangkubkan kedua tanganya di dada dan memberi hormat pada Umma.
"Saya mohon diri, Assalamu'alaikum." Banyu pamit.
"Waalaikumsalam." jawab Abah dan Umma berbarengan.
Camelia yang sedari tadi menguping, melongokkan kepalanya untuk melihat Banyu. Pada saat yang sama, Banyu juga melihat ke arah pintu. Pandangan mereka bertemu, sedetik namun cukup menggetarkan kalbu masing masing. Camelia langsung menarik kepalanya kembali sembunyi karena ia merasa malu.
Banyu tersenyum. Dengan gerakan ringan seringan kapas, ia menuruni tangga teras rumah Camelia dan berjalan ke mobilnya.
"Alhamdulillah, lancar." gumamnya mengucap syukur lalu mulai melajukan mobilnya kembali ke mansion orang tuanya.
...🍃🍃🍃...
**Semangat berjuang Bara, Banyu dan Darel. Darel yang sabar ya, karena bakal lama nunggunya.
Ayo biar Darel nggak bosan nungguin Aurora, bantu dia dengan beri like, coment dan vote 🤩🤩🤩🤩🤩**
__ADS_1