
"Ngintipin apa lagi? Hobi banget ngintip." Bara menarik Yasmine yang sedang sibuk melihat kelura melalui celah pintu.
"Yangzi, aku tuh khawatir tahu." Yasmine memberengut.
"Kak Huda akan baik-baik saja." Bara memeluk Yasmine dan mulai menciumi ceruk leher istrinya itu.
"Jika kau terus mengkhawatirkan mereka, aku yang akan tidak baik-baik saja. Ingat yang suamimu itu aku, bukan Kak Huda."
"Eh. Yangzi cemburu sama kakakku sendiri?" Yasmine terkikik.
"Habis, kamu perhatian banget sama Kak Huda sampai melupakan aku." Bara melepas pelukannya dan menjauh. Ia lalu duduk di bibir ranjang.
"Ooo...yang lagi ngambek." Yasmine mencubit kedua pipi Bara.
Bara melengos.
"Iya deh, maaf." Yasmine memegang kedua telinganya.
Bara meliriknya tanpa kata.
"Yangzi. Maaf!" Yasmine mengguncang lengan Bara namun Bara bergeming. Ia tetap setia dengan sikap diamnya.
"Yangzi, ayo dong jangan kayak ABG." rengek Yasmine yang sudah mulai kehabisan cara buat membujuk Bara.
"Apa kau bilang? Aku ABG?!" Suara Bara meninggi membuat Yasmine terkejut.
Astaghfirullah, salah bicara aku.
"Bukan begitu maksudku. Yangzi tolonglah jangan ngambekan. Kak Huda kan lagi sakit sementara Kak Wiena belum menerimanya sebagai suami. Sekarang mereka dipaksa berada dalam satu kamar yang sama. Jadi wajarkan kalau aku khawatir. Aku memikirkan bagaimana canggungnya Kak Huda saat akan minta bantuan Kak Wiena. Ayolah, sayang, ngertiin aku." Mata Yasmine mulai berkaca-kaca.
Bara melengos. Ia tidak sanggup jika harus melihat Yasmine menangis.
"Yangzi, maaf!" Yasmine kembali menggoyang lengan Bara.
Bara menarik lengannya dan merengkuh Yasmine dalam dekapannya. Dia lalu mengecup pucuk kepala Yasmine.
"Jangan menangis! Aku hanya bergurau. Aku tidak merasa cemburu sama sekali dengan Kak Huda." bisik Bara sambil mengelus punggung Yasmine.
"Bener?!"
"Ya. Bener!" Bara mengangguk.
Yasmine tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Bara.
"Tapi.."
"Tapi apa?"
"Soal ABG, kamu memang benar."
"Yangzi. Maaf." Yasmine kembali merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf. Kamu benar. Dan aku akan membuktikannya malam ini kalau aku memang ABG." Bara melepaskan rangkulannya.
Yasmine yang mengira Bara tersinggung mengeratkan pelukannya sambil terus berucap kata maaf.
"Yas, lepasin!"
"Nggak! Maafin aku dulu."
"Kamu nggak salah kenapa harus dimaafin?"
"Maafin pokoknya."
"Minta maaf kok maksa."
"Yangzi tega. Sholat Yas, ibadah Yas nggak akan diterima kalau Yangzi marah sama Yas?" Yasmine membenamkan wajahnya ke dada Bara. Ia benar-benar ketakutan jika suaminya marah karena ucapannya.
Bara diam sambil menahan senyum melihat istrinya malah ndusel.
"Yash sayang. Yangzi nggak marah. Yangzi hanya ingin membuktikan kalau ucapanmu benar."
"Nggak mau. Nggak usah dibuktikan. Yasmine tahu kalau Yangzi bukan ABG, bukan anak baru gede. Yangzi selama ini sangat dewasa. Maafin Yash."
"Siapa yang mau menunjukkan kalau aku anak baru gedhe. Aku tuh memang ABG tapi bukan anak baru gedhe."
Yasmine mendongak. Ia memandang bingung wajah Bara.
"Maksud Yangzi?"
Bara mengurai pelukan Yasmine. Ia lalu bergeser dan merebahkan tubuhnya dengan posisi miring.
"Kemarilah!" Bara menepuk bagian ranjang yang kosong di depannya.
__ADS_1
Yasmine yang bingung dan penasaran menuruti permintaan suaminya. Ia ikut merebahkan tubuhnya dihadapan Bata.
"Apa kamu sudah siap jika aku membuktikan kalau aku memang ABG?"
Dalam kebingungannya, Yasmine mengangguk sambil terus menatap mata elang Bara.
Bara mengulum senyum. Ia lalu mencium kening Yasmine dan seluruh wajah cantik istrinya itu dengan lembut.
"Yangzi. A be ge nya?" Yasmine penasaran karena Bara malah menciuminya.
"A be ge nya belakangan. Ini permulaannya." Bara lalu memejamkan mata membaca doa.
"Yash. Aku kangen." bisiknya sendu sambil terus menciumi Yasmine untuk memulai melepaskan rindunya yang sudah terkurung lama.
Satu jam kemudian.
"Yangzi!" Yasmine mengguncang tubuh Bara yang sedang memeluknya. Pria itu terlelap setelah rindunya tersalurkan.
"Yangzi!!" Kali ini Yasmine memanggil sambil memencet hidung mancung Bara.
"Mm." Bara menggeliat karena nafasnya terganggu akibat hidungnya yang tiba-tiba buntu.
"Yangra kok belum tidur?" Bara memandang Yasmine dan menatapnya.
"Itu?"
"Apa? Mau lagi?" Bara beringsut hendak mengubah posisi.
"Bukan. Ini soal ABG. Aku masih nggak mengerti?"
Bara terkekeh. Kantuknya langsung hilang.
"Yangzi, kok malah tertawa sih? Aku benar-benar ingin tahu."
"ABG yang aku maksud adalah..Adik Bawahku .... aw." Bara kaget karena Yasmine mencubitnya sebelum ia menyelesaikan ucapannya.
"Kok dicubit sih?"
"Tau ah." Yasmine menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Hei, kan aku bener. Aku barusan sudah membuktikan kalau aku memang ABG. Bahkan kau menikmati ke-ABG-anku kan?" Bara menggoda Yasmine.
"Yasmine nggak mau dengar." Yasmine menutup ke dua telinganya. Wajahnya memerah. Bara hanya tertawa.
Wiena terbangun karena merasakan pergerakan di belakangnya.
Kenapa dia bergerak? Apa yang akan ia lakukan.
Wiena diam. Ia tidak berani menoleh ke arah Ustaz Huda. Hatinya was-was membayangkan apa yang akan dilakukan ustaz Huda.
Bagaimana ini? Kalau dia memintanya malam ini? Aku tidak bisa melakukannya. Tapi kalau menolak, tadi Yasmine bilang dosa. Tapi...
"Ough..shhh" Ustaz Huda merintih pelan.
Kenapa dia merintih? Apa yang dia lakukan? Apa dia sedang..? Astaga.
Wiena memejamkan mata dengan kuat.
"Shhh." Ustaz Huda kembali mendesis.
Gila! Dia benar benar sudah gila.
"Oh..kenapa perih." rintih Ustaz Huda pelan karena takut mengganggu tidur Wiena.
Perih? Apakah melakukan itu bisa membuat perih?
Wiena membuka matanya lagi.
Eh jangan-jangan lukanya. *Bagaimana ini? Haruskah aku melihatnya? Tapi kalau ternyata dia sedang melakukan itu bagaimana?
Dia ustaz. Dia pasti tidak melakukan hal itu*.
Wiena memantapkan hatinya untuk berbalik dan melihat ustaz Huda. Matanya terbelalak saat melihat baju yang ustaz Huda pakai ada darahnya. Wiena spontan duduk.
"Itu kenapa?" Matanya memandang perut ustaz Huda yang berdarah.
"Aku membangunkanmu ya? Maaf!"
"Aku tanya. Itu kenapa?"
"Nggak papa."
"Nggak papa kok sampai berdarah begitu?Kamu pasti banyak gerak ya? Bandel banget sih dibilangin jangan banyak bergerak dulu."
__ADS_1
Kenapa aku merasa seakan akan engkau mengkhawatirkan aku? Sungguh bahagianya aku jika hal itu benar-benar terjadi.
"Eh ditanya malah bengong."
Ustaz Huda tersenyum getir, "Tadi lukaku tertimpa tangan."
"Apa?! Maksudmu tanganku?"
Ustaz Huda mengangguk dengan ragu.
"Oh." Wiena menutup mulutnya kaget. Dia lalu mendekati ustaz Huda.
"Maaf! Aku tidak sengaja." Tangan Wiena terulur hendak memeriksa luka Ustaz Huda namun urung.
"Iya, aku maafkan." Ustaz Huda meringis lagi.
Apa jika aku kesakitan, kamu akan peduli?
"Apa ada obat dari rumah sakit?" Naluri dokter Wiena muncul. Ia bangun dan memeriksa laci nakas di kamar Ustaz Huda.
"Ya. Ada di situ."
Wiena menemukan bungkusan obat lengkap dengan cairan pencuci luka serta perban kasa dan perlengkapannya. Ia mengambilnya dan duduk di sisi Ustaz Huda.
"Bukalah!" Wiena tidak berani mentap Ustaz Huda saat mengucapkan perintah itu.
Aku harus profesional. Anggap saja dia pasien.
Ustaz Huda berusaha membuka kemejanya dengan susah payah karena semakin banyak ia bergerak, lukanya terasa semakin perih dan sakit.
"Maaf, tapi lukaku sakit saat aku banyak bergerak."
Wiena akhirnya membantu membukakan pakaian Ustaz Huda.
Dia hanya pasien. Dia hanya pasien.
Wajah Wiena memerah melihat tubuh atas suaminya. Ia memaksa matanya hanya melihat kebagian yang luka saja.
Jangan pedulikan yang lain. Oh kenapa tubuhnya sangat bagus. Hei mata..jangan lihat yang lain.
Wiena menepuk kepalanya.
"Kenapa? Kenapa kau memukul kepalamu?"
Pertanyaan Ustaz Huda mengagetkan Wiena.
"Eh tidak apa- apa. Tahanlah, aku akan membuka penutup lukamu."
Ustaz Huda mengguk.
Tangan Wiena bergetar saat menyentuh perut Ustaz Huda.
Ya Allah, tolong hamba. Hamba hanya ingkn mengobatinya. Beri hamba kemampuan.
Sementara Wiena mengobati lukanya, Ustaz Huda memandangu wajah pujaannya itu. Hatinya berdegup kencang karena jarak mereka sangat dekat.
Wahai Yang Maha Membolak-balikan hati, balikanlah hati wanita yang telah menjadi istriku ini.
"Aw..ssshh."
"Sakit ya?" Wiena reflek meniup luka ustaz Huda.
Ustaz Huda memalingkan wajahnya yang merona. Tiupan Wiena mengantarkan hawa hangat ke seluruh tubuhnya.
"Sudah. Darahnya sudah aku bersihkan dan sudah aku olesi obat agar lukanya cepat menutup." Wiena membereskan perlengkapan perawatan luka yang diperoleh dari rumah sakit. Ia berdiri dan menyimpannya ke tempat semula.
Saat ia akan kembali ka ranjang, ia melihat tubuh ustaz Huda yang masih belum ditutup pakaian.
"Tutup pakaianmu!" jerit Wiena sambil melengos.
"Kan tadi aku bilang, lukaku sakit kalau aku banyak bergerak. Bisakah kau panggilkan umik biar beliau membantuku berpakaian?"
Apa? Malam-malam begini membangunkan Nyai Hasan? Huf, bodo ah. Dia kan pasien.
Wiena mendekat. Ia menelan ludahnya lalu mulai memasangkan kancing baju Ustaz Huda.
"Aku ingin ganti baju. Bajuku penuh darah." lirih Ustaz Huda.
Wiena kembali membuka kancing baju Ustaz Huda. Ia lalu membantu melepaskannya. Jarak mereka begitu dekta hingga Ustaz Huda mampu mencium aroma Wiena. Ustaz Huda memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam wangi yang menguar dari tubuh Wiena.
Dia sangat harum.
...----------------...
__ADS_1