Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Lamaran Untuk Ustadz Huda


__ADS_3

Rombongan Bara, Banyu dan Ustadz Huda memasuki halaman mansion keluarga Langit.


"Sepertinya ada tamu?" kata Bara begitu melihat ada mobil parkir di garasi khusus tamu.


Banyu memarkir mobilnya di sebelah mobil tamu tersebut. Mereka lalu turun dan langsung menuju ke dalam mansion.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" jawab Langit dan tamunya yang ternyata adalah Wahyu, sepupu Anggi.


"Pak Dhe!" sapa Bara dan Banyu yang langsung memberi salam hormat dengan mencium punggung tangan Wahyu lalu memeluknya. Setelah itu mereka memeluk Langit, melepas rindu pada papanya.


"Ini?!" tanya Wahyu sambil menunjuk Ustad Huda.


"Ana Huda. Ana.. ustadz di pesantren." Ustadz Huda memperkenalkan diri sambil. mengulurkan tangan ke arah Wahyu. Wahyu menyambut ukuran tangan Ustad Huda dengan senyum ramah.


"Mari Ustadz, silahkan duduk!" Langit mempersilahkan Ustadz Huda untuk duduk.


"Pa, mama dimana?" tanya Bara.


"Mama di dapur sama Budhe Hana." jawab Langit.


"Ustadz, kami menemui mama dulu." pamit Bara. Ustadz Huda mengangguk.


Bara dan Banyu bergegas menjumpai mamanya.


"Assalamu'alaikum, Ma!" salam Bara dengan ruang. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan wanita yang paling ia sayangi itu. Dipeluknya Anggi dengan erat seolah tak mau melepaskannya.


"Waalaikumsalam. Eh.. sudah besar juga masih manja. Nggak malu sama budhe Hana." seru Anggi menggoda Bara. Ia membalas pelukan anaknya itu. Sementara Banyu menyalami Hana.


"Iya nih. Sudah beristri juga." kata Banyu keceplosan.


Bara mendelikkan matanya ke arah Banyu.


"Siapa yang beristri?" tanya Anggi.


"Mm.. itu kebiasaan dia menggodaku Ma." jawab Bara sambil menaruh kepalanya di bahu mamanya namun matanya tetap mengarah ke Banyu. Banyu memberi ekspresi menyesal dan minta maaf.


Anggi membelai wajah Bara. "Putra mama kalau mau menikah pasti akan minta pertimbangan mama kan?" kata Anggi lembut yang membuat dada Bara tercekat. Ia merasa sangat berdosa karena memutuskan hal yang sangat penting dalam hidupnya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya terutama mamanya. Ya.. meskipun seorang pria tidak memerlukan ijin dari siapapun untuk menikah, namun ia masih memiliki orang tua yang harus ia jaga perasaannya. Dan restu orang tua sangatlah ia butuhkan.

__ADS_1


Maafkan Bara, Ma. Bara yakin jika mama tahu keadaan saat itu, mama akan menyetujui keputusan Bara. Bara akan menjelaskan ke mama tapi bukan sekarang. Nanti saat Bara lulus, Ma.


"Oh ya Budhe, tadi kami sempat bertemu dengan kak Wiena di rumah Ustadz Asnawi." kata Banyu mengalihkan pembicaraan demi menolong Bara.


"Ustad Asnawi?" tanya Hana. Ia tidak. mengenal Ustadz Asnawi.


"Iya, temannya Kyai Hasan. Ayah Camelia." Bara yang menjelaskan.


"Camelia yang dulu merawat mama saat di rumah sakit?" tanya Anggi. Bara mengangguk.


"Calon menantu mama." jawab Bara membalas kecerobohan Banyu yang hampir membuka rahasia pernikahannya dengan Yasmine.


"Oh ya?!" Anggi dan Hana menatap Banyu meminta kepastian kebenaran omongan Bara.


Banyu diam. Ia tidak seperti Bara yang langsung bisa lari dari situasi seperti ini. Situasi yang memojokkan dirinya karena pada dasarnya sifat Banyu memang jujur.


"Do'akan saja, Ma. Budhe!" jawab Banyu tulus.


Anggi berdiri dan berpindah duduk di sebelah Banyu. Ia memeluk Banyu. "Selalu sayang. Mama selalu berdoa yang terbaik buat kalian."


Entah mengapa, Anggi merasa Banyu sedang berduka. Permohonan doa dari Banyu, seolah isyarat minta tolong dan dukungan.


"Tapi saat mama melahirkan, kenapa kami nggak bertemu Kak Wiena?" tanya Bara.


"Saat itu ia sedang sakit, jadi tidak bisa ke rumah sakit hampir seminggu. Tuh anak memang sangat ceroboh dalam menjaga kesehatan. Padahal ia tahu pentingnya menjaga kesehatan. Kami orang tuanya selalu mengingatkan, tapi ya gitu. Dianggap angin lalu." keluh Hana.


"Carikan jodoh saja, Budhe. Siapa tahu ia menurut kalau sama pasangannya." usul Bara.


Hana tersenyum. "Wiena itu wataknya. keras. Hanya pria dengan kesabaran ekstra yang akan mampu menanganinya." kembali suara Hana terdengar seperti keluhan.


"Budhe di depan ada Ustadz Huda. Beliau guru kami di pesantren. Orangnya luar biasa hebat, kalau menurut Bara. Bagaimana kalau budhe jodohkan saja Kak Wiena dengan Ustadz Huda?" usul Bara. Ia sengaja agar Ustadz Huda tidak jadi menikahi Camelia.


Banyu membelalakan matanya mendengar usul Bara. Ia menatap Bara dengan penuh tanya dan peringatan kalau Ustadz Huda sudah dijodohkan dengan Camelia.


"Oh ya. Budhe jadi penasaran seperti apa orangnya. Ayo Nggi! Kita ke depan menemui guru mereka." ajak Hana pada Anggi. Anggi mengangguk. Merekam lalu menuju ruang tamu tempat Ustadz Huda, Langit dan Wahyu sedang berbincang.


"Jadi kegiatan Ustadz setiap hari mengajar?" tanya Wahyu.


"Begitulah, Tuan." jawab Ustadz Huda.

__ADS_1


"Jangan panggil Tuan. Panggil saja Pak Dhe atau Pak seperti anak-anak itu memanggil saya Ustadz." Wahyu berkata dengan ramahnya. Dalam hati ia tertarik dengan kesederhanaan Ustadz Huda.


"Assalamu'alaikum, selamat datang ustadz." Anggi dan Hanna bersama si kembar masuk ke ruang tamu. Ustadz Huda menangkubkan tangannya di dada sambil. menjawab salam dari Anggi dan Hana.


"Ini yang bernama Ustadz Huda?" tanya Hana sambil. tersenyum senang. Ia merasa apa yang dikatakan Bara benar. Pria ini tampan dan dewasa. Pasti bisa menangani putrinya yang keras dan manja.


'Iya, ana Huda. Ustadz mereka. Memang ada apa ya Nyonya?" tanah Ustadz Huda bingung.


"Bukan apa-apa Ustadz. Budhe Hana hanya ingin mengenal Ustadz lebih dekat." jawab Bara sambil duduk santai di sebelah Ustadz Huda. Langit dan Anggi menatap putranya itu yang sepertinya kurang sooan sikapnya terhadap sangat guru.


"Bara!" tegur Langit dengan sorot mata yang sedikit tajam.


"Tidak apa-apa Tuan Langit. Kami ini saudara. Dia.."


"Hem!" Bara mendehem dengan keras menghentikan ucapan Ustadz Huda. Banyu tersenyum, karena bukan hanya dirinya saja yang hampir membuka rahasia Bara, namun Ustadz Huda juga.


"Dia kenapa?" tanya Langit.


"Dia saya anggap adik saya sendiri." dalih Ustadz Huda. Dalam hati ia beristighfar. Tapi dia tidak berbohong, ia memang sudah menganggap Bara adiknya.


"Oh begitu." Langit dan Anggi merasa leha karena putranya menemukan saudara yang baik seperti Ustadz Huda.


"Nak Huda, apa boleh saya bertanya?" kata Hana yang sudah jatuh hati pada Ustadz Huda. Ia ingin ustadz muda itu menjadi menantunya.


"Silahkan Nyonya! Jika ana mampu akan ana jawab pertanyaan Nyonya." dengan sopan Ustadz Huda menjawab membuat Hana kian kagum. Hal yang sama juga dirasakan oleh Wahyu. Sama seperti Hana sejak awal melihat Ustadz Huda, Wahyu sudah punya pikiran untuk mengambil pria itu sebagai menantu.


"Apa Ustadz Huda sudah punya calon?" tanya Hana langsung. Ustadz Huda kaget dengan pertanyaan Hana. Langit dan Wahyu juga. Mereka berdua langsung menatap Hana.


"Ma!" tegur Wahyu. Hana hanya tersenyum dan mengerling pada suaminya itu. Wahyu tahu apa tujuan istrinya. Karena tujuannya sama, maka ia akhirnya membiarkan apa yang dilakukan Hana.


"Maksud Nyonya?" tanya Ustadz Huda.


"Begini Ustadz. Saya tidak akan basa basi lagi. Tadi Bara juga sudah cerita tentang anda dan saya juga sudah bisa menilai sendiri anda pemuda yang seperti apa. Menurut saya, anda adalah pemuda ya v baik jadi apakah anda bersedia jika saya minta menjadi suami dari putri kami, Wiena."


Sangat jelas dan lugas bahasa Hana. Ustadz Huda menelan ludah gugup. Ia sama sekali tidak menduga akan dilamar oleh seorang ibu untuk putrinya secara mendadak begini.


Apakah Ustadz Huda akan menerima lamaran Hana, ataukah ia tetap bertahan dengan perjodohannya.


Besok ya lanjutannya... 😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2