
"Makanlah! Kau pasti lelah." Ustaz Huda menyodorkan sendok berisi makanan ke bibir Wiena sambil mengulum senyum. Ia merasa lucu melihat Wiena yang cemberut.
"Ya capeklah. Semalam berapa kali. Masih ditambah pagi. Badanku rasanya remuk. Kamu ternyata jauh dari bayanganku." Wiena mengomel. Meski begitu, ia membuka mulutnya menerima suapan Ustaz Huda.
"Memang dalam banyanganmu aku seperti apa?"Usta Huda memandang Wiena penasaran.
Wiena menelan makanan di mukutnya sebelum bicara. "Mm, kamu kan alim banget. Aku kira kamu itu.." Wiena tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah menggigit bibir bawahnya menatap suaminya.
"Apa?Kenapa nggak dilanjutin?" Ustaz Huda menyodorkan sendok berisi makanan lagi.
Wiena menerima dan langsung mengunyahnya sampai habis.
"Janji jangan marah!"
Ustaz Huda mengangguk. Hatinya menghangat manakala Wiena sudah bisa bicara dengan sikap biasa. Tidak seperti sebelumnya yang selalu menjaga setiap ucapannya sehingga hubungan mereka tampak ada jarak.
"Ayo katakan!" Ustaz Huda tidak sabar saat Wiena malah menatapnya dalam diam.
"Aku kira kamu itu membosankan, terus dingin di ranjang." Wiena menunduk. Suaranya lirih saat mengucapkan kata terakhir.
Ustaz Huda tergelak hingga matanya menyipit dan tubuhnya bergetar.
"Kamu menertawakan aku ya?" Wiena kesal melihat Ustaz Huda tertawa.
Ia lalu mencubit lengan Ustaz Huda saat suaminya itu tak juga berhenti.
"Eh ampun. Sayang ampun!"
(Cie si Ustaz Huda dah manggil sayang aja)
"Apa?" Wiena kaget saat mendengar panggilan sayang untuknya.
"Sayang. Kenapa? Salah? Bukankah kau istriku tersayang." Ustaz Huda menowel dagu Wiena.
Wiena menunduk. Mukanya memerah.
"Lanjut!" Perintah Ustaz Huda. Ia kembali menyuapi Wiena.
"Katamu aku beda dari banyanganmu. Bagaimana aku dalam pikiranmu dulu aku sudah tahu lalu bagaimana aku sekarang menurutmu?"
Wiena masih mengunyah. Matanya melihat ke piring makan Ustaz Huda yang masih penuh. Wiena meraih piring itu.
Ustaz Huda melihat dan menunggu apa yang akan Wiena lakukan.
"Kamu makan juga. Kamu kan juga capek." Wiena menyuapi Ustaz Huda.
Ustadz Huda menggeleng. "Aku lebih suka makan pakai tangan."
Dengan tangan? Apa maksudnya aku harus menyuapinya dengan tanganku langsung. Tanpa menggunakan sendok. Ah, kenapa enggak. Apa yang belum kami lakukan.
Wiena memandang Ustaz Huda ragu. Ia kemudian mengambil makanan dengan tangannya dan menyodorkan ke Ustaz Huda. Ustaz Huda memegang tangan Wiena yang terjulur ke arahnya. Ia memasukan tangan itu ke mulutnya sambil matanya terus menatap Wiena dengan tatapan yang mampu membangkitkan rambut-rambut di sekujur tubuh Wiena.
Perasaan apa ini? Matanya
"Alhamdulillah. Makanan ternikmat yang pernah kumakan." gumam Ustaz Huda. Tangannya tak melepaskan tangan Wiena.
Wiena menunduk. Efek pandangan mata Ustaz Huda belum hilang ditambah ucapan manis membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Gombal." desis Wiena lirih sambil menarik tangannya.
"Ha!"
"Sudah ah kenyang."
"Beneran sudah kenyang? Baru beberapa suap?" Ustaz Huda mendekatkan lagi sendok berisi makanan ke mulut Wiena.
"Mm..sudah kenyang." tolak Wiena.
Ustaz Huda menaruh baki beri makanan di nakas. Ia juga mengambil tisu basah dan membersihkan jari Wiena yang tadi digunakan untuk menyuapinya.
Pria ini benar-benar.
__ADS_1
"Ada apa?" Ustaz Huda bertanya saat melihat Wiena terus menatapnya.
"Nggak paoa." Wiena menggekeng.
"Kamu nggak makan? Tadi kan hanya satu suapan."
"Aku mau makan yang lain."
"Lagi?!" Wiena langsung menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Ustaz Huda teryawa. Ia mendekat dan memeluk tubuh bergulung selimut itu.
"Otakmu yang mesum, atau kamu memang pengen lagi?" Bisik Ustaz Huda sambil tertawa pelan.
Wiena membuka sedikit selimut yang menutupi wajahnya.
"Mana ada aku mesum."
Ustadz Huda kembali tertawa. Ia bangkit dan turun dari atas ranjang.
"Aku akan keluar menemui papa. Ada yang ingin aku bicarakan sebelum kembali ke pondok."
"Apa?!" Wiena membuka selimutnya. Ia bangun.
"Kau mau balik ke pondok?"
"Mm." Ustaz Huda mengangguk.
"Lalu aku?"
Ustaz Huda mendekati Wiena dan mengelus kepalanya.
"Kamu tinggal di sini. Selesaikan kuliahmu. Setelah lulus aku akan menjemputmu."
Wiena melongi. Rasa sedih menyusup.ke dalam hatinya.
"Istirahatlah. Aku mau menemui papa."
Kenapa aku jadi sedih begini.
Ustaz Huda melangkah ke ruang depan. Ia mendengar suara orang sedang mengobrol. Setelah dekat ia bisa melihat jika Langit dan Banyulah yang sedang bercengkerama dengan Wahyu di ruang depan.
"Assalamualaikum, Tuan Langit, Banyu." sapa Ustaz Huda ramah.
"Waalaikumussalam. Baru keluar ustaz?" komen Banyu
Ustaz Huda hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Mereka bersalaman.
"Banyu, jangan menggoda pengantin baru. Kau tidak tahu pengantin baru itu jika sudah di kamar akan enggan untuk keluar." Langit malah membubui godaan Banyu.
Ustaz Huda hanya menanggapi dengan senyumnya. Mengelakpun percuma menghadapi mereka yang sudah berpengalaman macam Langit dan Wahyu.
"Ustaz, kapan rencana balik ke pondok?" tanya Banyu mengalihkan topik.
"Memang Nak Huda mau balik ke pondok?" Wahyu ikut bertanya.
"Iya, Pa. Abah sudah tua. Beliau butuh bantuan saya mengelola pondok. Lagipula saya juga ada usaha keluarga yanh harus saya urus. Oh ya, Pa. Sekarang tanggung jawab terhadap Wiena, biar saya yang menanggungnya. Biaya kuliah dan biaya hidup Wiena akan menjadi tanggung jawab saya selaku suaminya. Saya akan kembali ke pondok, tapi tiap akhir pekan saya akan berkunjung ke mari."
Wahyu mengangguk anggukan kepalanya. "Papa setuju. Bisa juga Wiena yang ke sana. Lagi pula jadwal kuliahnya sudah mulai berkurang."
"Begitu juga baik."
Saat mereka sedang bercakap-cakap, sebuah mobil masuk ke halaman rumah Wahyu. Dua orang pria dan seorang gadis turin dari mobil itu lalu melangkah menuju rumah Wahyu.
"Assalamualaikum!" salam ketigannya.
"Waalaikumsalam." jawab yang di dalam rumah Wahyu bersamaan.
Banyu kaget saat tahu siapa yang datang. Begitu pula gadis yang baru saja masuk. Ia langsung menunduk saat bersitatap dengan Banyu.
Untuk apa dia kemari. batin Banyu
__ADS_1
Kenapa dia ada di sini. Bantin Camelia.
"Mari silahkan duduk, Pak Haji." Wahyu menyalamj Haji Asnawi lalu Bagas.
Langit dan Banyu juga Ustaz Huda melakukan hal yang sama.
"Rame." ucap Ustaz Asnawi saat mendengar suara banyak orang.
"Iya, Pak Haji. Kebetulan saya sedang berkunjung bersama anak saya Banyu." Langit yang menjawab.
"Iya.iya. Syukurlah. Makin banyak orang makin bagus. Masih keluarga kan?"
"Kami sepupuan pak haji." Wanyu menerangkan.
"Iya..iya. Jadi masih keluarga. Jadi terhitung wong njero alias orang dalam. Bagus."
"Maksud Pak Haji?" Langit bertanya karena merasa aneh.
"Maaf kalau saya menyela. Paman Wiena dimana?" tanya Camelia. Ia merasa tidak enak duduk di antara para pria.
"Dia di kamar." Jawab Wahyu
"Apakah saya boleh menemuinya?"
"Silahkan. Masuk saja!"
Camelia berdiri lalu pamit untuk masuk menemui Wiena. Banyu melirik saat gadis itu lewat di sebelahnya
"Lia." Sapa Hanna yang berpapasan dengan Camelia di ruang tengah.
"Assalamualaikum, Tante. Wienanya ada Tan?" Camelia menyalami Hanna
"Waalaikumsalam. Ada di dalam. Masuk saja." Hanna menunjuk kamar Wiena.
"Terima kasih tante." Camelia menuju kamar Wiena. Ia mengucap salam perlahan lalu membuka pintu. Camelia melihat Wiena sedang bergelung dengan selimutnya.
"Wiena!" Camelia menubruk tubuh bergelung itu membuat Wiena kaget. Spontan matanya terbuka.
"Kau, kenapa ada di sini?" Wiena membuka selimutnya.
Camelia terngaga melihat Wiena.
"Wiena itu apa?" Camelia menunjuk leher dan dada Wiena yang pemuh tanda kemerahan hasil karya Ustaz Huda.
Wiena merona malu. "Lia maafkan aku."
"Maaf, untuk apa?"
"Maaf karena aku menikahi pria yang dijodohkan denganmu. Ustaz Huda."
"Apa?!" Camelia kaget. "Jadi kamu sudah menikah. Kapan?"
"Tiga hari yang lalu." jawab Wiena bingung. Ia melihat mata Camelia terbelalak.
"Apa kau maraj, Lia?"
"Iya. Kenapa tidak memberitahu aku?"
"Maaf. Semuanya serba mendadak dn kupikir kau tidak menyukainya jadi.."
"Aku memang tidak menyukainya dan perjodohan kami juga sudah lama batal."
"Lalu kenapa kau marah?"
"Karena kakakku menyukaimu dan kedatangan kami kesini untuk melamarmu."
"Apa?!" Kini Wiena yang terbelalak kaget.
"Ah celaka. Aku harus ke depan sebelum abah menyampaikan maksud kedatangan kami. Abah dan Kak Bagas pasti akan sangat malu nanti."
Camelia bergegas keluar dari kamar Wiena. Wiena bangun. Ia berganti pakaian lalu keluar. Hatinya kalut.
__ADS_1
Mengapa semuanya terjadi sekarang.