Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Keputusan Yasmine


__ADS_3

"By, Apa yang Banyu lakukan sekarang?" tanya Anggi saat Langit masuk ke kamarnya.


"Seperti biasa, Rohi." jawab Langit diiringi ******* nafas berat.


"By, apa tidak ada cara lagi untuk mengembalikan pengelihatannya?" tanya Anggi dengan suara yang sarat kepedihan.


"Bima masih mencari cara, Rohi. Kita tunggu saja. Tugas kita sekarang adalah mengembalikan kepercayaan diri Banyu. Agar ia mau berobat jika nanti Bima menemukan jalan. Terutama kamu, Rohi. Dia paling menyayangimu."


Anggi terisak. Dibanding Banyu, sebenarnya Baralah yang lebih dekat padanya.


"Aku akan coba, By." Anggi mulai menangis.


"Rohi, kamu harus kuat. Jangan menampakkan kesedihanmu di depannya. Kita harus sabar." Ucap Langit sambil merengkuh bahu Anggi.


Anggi segera menumpahkan kepiluannya dengan menangis dalam pelukan suaminya.


"Kau ingat bagaimana duku Bayu dan Pink melewati masa masa sulit mereka? Aku yakin kali ini juga akan sama. Semua akan berakhir dengan indah. Pasti ada jalan keluarnya." Langit terus menenangkan Anggi.


"By, apa ada kabar dari Bima?"


Anggi menarik kepalanya dari dada Langit.


"Belum. Tapi aku yakin Bima sedang berusaha mencari jalan keluar buat Banyu." ucap Langit sambil menghapus sisa air mata di pipi Anggi.


Tak jauh berbeda dengan Anggi, Bara juga sedang ditenangkan oleh Yasmin di kamar mereka.


"Aku tidak tahu lagi bagaimana harus membangkitkan semangat Banyu. Berbagai cara sudah aku coba tapi semuanya gagal. Jangankan membuat keadaan lebih baik. Banyu malah semakin terpuruk. Ia bahkan enggan bicara denganku sekarang." keluh Bara.


"Yangji harus lebih sabar lagi. Kalau Banyu semakin terpuruk, justru Yangji harus semakin semangat membantu Banyu."


"Aku haru bagaimana lagi, Yash." Bara membaringkan kepalanya di pangkuan Yasmine.


Yasmine membelai kepala Bara dengan lembut.


"Sebentar lagi saatnya pendaftaran ke perguruan tinggi. Bagaimana aku bisa melanjutkan sekolah jika kondisi Banyu seperti ini. Aku takut saat melihatku, ia akan semakin down." ucap Bara sambil menyembunyikan wajahnya ke perut Yasmine. Tangan Bara melingkar manja di pinggang ramping Yasmine.


BRAK


Suara keras dari kamar sebelah mengagetkan Bara. Ia langsung bangkit dan berlari keluar. Yasmine mengikutinya dari belakang.


Bara langsung masuk ke kamar Banyu yang pintunya setengah terbuka. Matanya terbelalak saat melihat Banyu bersimpuh di lantai dengan tangan meraba-raba.


"Nyu!" Bara mendekat bermaksud membanti Banyu bangun.

__ADS_1


"Pergi!" Banyu menepis tangan Bara.


"Nyu, biar aku membantumu." BaraSPP#7044910500000678 kembali meraih pundak Banyu.


"Aku bilang pergi!!!" bentak Banyu.


"Aku tak butuh belas kasihan mu. Pergi sana! Bersenang-senanglah dengan istrimu. Jangan pedulikan aku!"


Bara berdiri memandang kaku ke arah Banyu yang sekarang sudah berdiri dan berusaha berjalan menjauhinya.


Yasmine menutup mulutnya dengan tangan, menahan agar tidak bersuara.


Hatinya sedih melihat bagaimana kedua bersaudara yang dulu sangat rukun dan saling menyayangi,.kini dalam keadaan seperti ini.


"Keluar!" kembali Banyu berteriak.


"Tidak!" Bara mendekat. "Biarkan aku membantumu. Seperti dulu. Bukankah dulu kita selalu saling membantu dan mendukung?" bujuk Bara.


"Cih. Kau tidak perlu menghiburku. Sejak menikah, kau sudah tidak membutuhkanku. Ada istrimu yang bisa menenangkanmu. Ada istrimu yang bisa menahan emosimu. Kau tidak lagi membutuhkanku." gumam Banyu getir.


Bara melirik ke arah Yasmine. Yasmine mengangguk lalu meninggalkan mereka. Namun ia tidak pergi, ia berdiri di luar kamar Banyu.


"Nyu, aku masih sama. Kau dan Yasmine tidak bisa saling menggantikan. Kita masih tetap seperti dulu. Aku akan membuktikan kata-kataku ini padamu."


"Bagaimana kau akan membuktikannya? Bisakah kau selalu berada di sampingku. Selalu ada saat aku membutuhkanmu?" Banyu bicara dengan nada sedikit sinis.


"Lalu bagaimana dengan Yasmine? Bukankah dia juga membutuhkanmu?"


Bara diam sebentar.


"Aku yakin aku bisa membagi waktuku." jawabnya kemudian.


Banyu tertawa. "Kau tidak akan bisa. Saat kau bersamanya, kau tentu akan meninggalkanku. Bagaimana jika pada saat itu sesuatu terjadi padaku?"


"Kau bisa memanggilku saat kau membutuhkanku." Bara meyakinkan Banyu.


"Kapanpun?"


"Kapanpun."


Banyu mengarahkan pandangan kosongnya ke arah suara Bara.


"Jika malam hari, saat kau bersenang-senang,dan aku memanggilmu, apakah kau juga akan meninggalkan Yasmine dan datang padaku?"

__ADS_1


Bara diam tidak menjawab.


"Tidak bisa kan? Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kau lakukan."


"Nyu, kau tahu kalau aku juga punya kewajiban terhadap istriku."


"Keluarlah! Kau tidak perlu membuktikan apapun padaku. Aku bisa menghadapi kondisiku sendiri."


"Nyu."


"Keluarlah, Ra. Ku mohon. Tinggalkan aku!" Banyu memalingkan mukanya.


Bara menelan ludahnya dengan getir. Ia tidak lagi berusaha membujuk Banyu. Bara keluar dengan lunglai. Di depan kamar, ia melihat Yasmine yang niqabnya sudah basah oleh air mata.


"Yangra!" Bara meraih tangan Yasmine dan menarik istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Aku akan pulang. Aku akan kembali ke Kairo melanjutkan studiku. Ini jalan terbaik buat kita bertiga." bisik Yasmine dalam pelukan Bara.


"Yangra." Bara membelai kepala Yasmine.


"Aku tidak apa apa. Aku bisa mengerti kondisi Banyu. Saat ini semua harapannya pasti hancur. Banyu juga manusia biasa, Yangji. Ia juga bisa merasa sakit melihat kebahagian orang di saat dirinya terpuruk. Apalagi orang itu adalah kami."


"Tapi Yash." Bara melepaskan dekapannya. Ia menarik tubuh Yasmine hingga ia bisa menatap wajahnya.


"Tidak apa-apa. Bukankah aku memang harus kembali? Ini hanya masalah waktu saja. Kumohon ijinkan aku pergi. Besok antar aku ke pesantren!"


Bara mengangguk. Ia lalu mengecup kening Yasmine.


"Aku ridho. Aku ijinkan kamu pergi. Selesaikan studimu. Di sini aku juga akan berjuang agar lebih pantas menjadi imammu. Tapi kamu harus janji satu hal!"


"Apa?"


"Jangan lagi minta dana kuliah dan biaya hidup dari abah ataupun kak Huda. Aku akan menanggung semuanya. Aku sudah bertekad akan bekerja sambil melanjutkan studiku di sini. Maaf, janjiku menemanimu belajar di sana, tidak bisa aku tepati." Bara mengelus pipi Yasmine dari balik niqabnya.


Yasmine mengangguk sambil memegang tangan Bara.


"Ayo, kita menemui mama dan papa. Aku ingin menyampaikan keputusanku ini pada mereka."


"Ya."


Bara menggandeng Yasmine menemui Langit dan Anggi.


Di balik pintu, Banyu tertegun. Ia tadi bermaksud mengunci pintu, namun malah mendengar pembicaraan antara Bara dan Yasmine.

__ADS_1


Apakah aku terlalu egois. Duku aku yang selalu berkorban demi Bara. Jika sekarang aku minta pengorbanannya sedikit saja, apakah aku salah.


...🍒🍒🍒...


__ADS_2