
"Ada apa?" Hana langsung menanyai Wiena begitu mereka sampai di kamar Wiena.
"Kenapa mama dan papa melakukan ini? Kenapa tidak bertanya dulu padaku?" Wiena bertanya dengan berapi-api.
"Karena kamu pasti akan menolaknya." jawab Hanna santai.
"Jelas Wiena menolak, Ma. Wiena mau dijodohkan karena Wiena memiliki harapan kalau perjodohannya bisa batal. Alasan yang lain karena Wiena ingin menolong Banyu. Bukan untuk langsung menikah, Ma." Wiena menghempaskan tubuhnya dengan kesal.
"Justru karena itu makanya mama sama papa buru-buru menikahkan kalian. Wiena, kapan lagi kamu dapat calon suami sebaik ustaz Huda? Dia sudah baik, sholeh dan tampan. Kurang apa coba? Mama sih ogah kehilangan menantu sebaik dia." Hanna berargumen.
"Masih ada Ma. Dia juga sholeh, baik dan tampan. Bahkan ia juga sudah mapan.Dan yang penting, aku menyukainya." kata Wiena lemah.
"Siapa? Kau punya pacar?" Hanna kaget. Selama ini Wiena tidak pernah cerita kalau dirinya punya pacar.
"Bukan, Ma. Bukan pacar Wiena. Meski Wiena berharap demikian, dia pasti tidak mau. Dalam kamusnya tidak ada kata pacaran."
"Hmm siapa dia?" Hanna melunak. Dia ingin Wiena bercerita tentang pria pujaannya itu tampa beban.
"Namanya Bagas. Ia kakaknya Camelia, Ma." Wiena menunduk malu.
"Bagaimana dengannya? Apa dia juga ada hati padamu?"
"Ma, dia bukan pria seperti itu. Dia tidak akan bilang juga. Pokoknya dia itu sama lah kayak itu."
"Kayak siapa?"
"Menantu kesayangan mama. Dia kalau ada hati, berdasarkan karakternya, maka akan langsung melamar. Tidak akan menembak terus membuat hubungan yang nggak jelas."
"Apakah dia sudah ke sini melamarmu? Yang datang ke sini bukankah menantu mama itu?Jadi apa yang kau harapkan darinya? Untung mama dan paoa bertindak cepat. Kalau tidak kau akan dengan bodohnya menunggu sesuatu yang tidak pasti dan melepaskan hal yang berharga."
Wiena menunduk. Semua ucapan mamanya benar adanya. Ia menyukai Bagas, tapi apakah Bagas juga menyukainya?
"Nak Huda tidak kalah kan dengan Bagas itu?"Hanna menyentuh tangan Wiena lalu menggenggamnya.
Wiena mengangguk.
"Lalu apa yang membuatmu ragu untuk menerimanya? Ingat, suka atau tidak, dialah yang sekarang menjadi suamimu. Kau harus mulai menerimanya. Jangan sampai kau menjadi istri yang durhaka hanya karena rasa cintamu yang tidak pasti itu!"
Hana lalu mengelus punggung Wiena.
"Wiena sayang. Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik buatmu. Mama tidak memilih Ustaz Huda dengan asal pilih. Mama yakin dialah yang paling tepat buatmu. Belajarlah menerimanya!"
Wiena menelan ludah lalu mengangguk.
"Bagus. Sekarang bersihkan kamarmu!"
Wiena yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya menatap Hanna.
"Membersihkan kamar? Untuk apa?"
"Suamimu akan menginap kan? Itu artinya dia akan tidur di kamar ini. Jangan bilang kau ingin seperti cerita di novel novel. Tidur terpisah. Ingat ini hidup bukan novel!"
Wiena pasrah. Ia tahu tidak akan bisa menentang mamanya.
"Dan nanti malam, laksanakan kewajibanmu!"
"Hah?!" Wiena melongo menatap Hanna yang melenggang keluar dari kamarnya.
Hanna kembali ke ruang tamu. Di sana ia melihat kalau suaminya sudah datang.
"Mas, kamu sudah datang."Hanna mendekati Wahyu lalu mencium tangannya.
Wahyu mengelus kepala Hannall
"Dimana putri kita?"
"Ia sedang membersihkan kamar untuk suaminya istirahat."
"Huk huk." Ustaz Huda yang sedang minum kaget sampai terbatuk.
"Mm..ma. Saya tidak akan menginap."
"Mana bisa begitu. Ini pertama kalinya kamu ke rumah kami. Kamu harus menginap di sini!" Ucap Hanna tegas.
"Lagi pula, papa ada kejutan buatmu." Wahyu menyambung ucapan Hanna.
"Apa?!" Hana yang malah penasaran.
"Budhe ini. Kejutannya buat Ustaz Huda, malah Budhe Hanna yang nggak sabaran." Bara tertawa diikuti Yasmine. Sedangkan Ustaz Huda hanya tersenyum. Lain lagi dengan Banyu yang malah sibuk berbalas pesan tanpa mempedulikan mereka yang tengah mengobrol.
"Ma panggilkan Wiena! Dia juga harus melihat kejutan dari papa."
Hanna langsung berdiri dan masuk untuk memanggil Wiena. Beberapa saat kemudian, Hanna keluar dengan diikuti Wiena. Gadis itu tampak segar karena baru mandi dan berganti pakaian.
Deg deg
Jantung Ustaz Huda berdebar saat melihat Wiena mendekat dan duduk di sebelahnya. Aroma wangi menguar dari tubuhnya.
Aku tidak boleh menginap. Jika menginap, bisa-bisa aku khilaf. Dia harum banget.
"Wiena, Ustaz ini kejutan dari papa. Bukalah!" Wahyu menaruh sebuah bungkusan di atas meja.
Wiena dan Ustaz Huda saling pandang. Bara mendekat ingin tahu apa isi bingkisan itu.
__ADS_1
"Ayo buka!" Wahyu mengulang titahnya saat melihat anak dan menantunya malah diam.
"Ustaz saja yang buka." bisik Wiena lirih.
Ustaz Huda menatap Wiena tak percaya saat mendengar wanita itu memanggilnya ustaz. Biasanya dia akan menyebut kamu ke Ustaz Huda.
"Ustaz Huda silahkan!" kata Bara yang sudah tidak sabar ingin tahu apa isi bingkisan itu.
Ustaz Huda mengambil bingkisan itu llu dengan perlahan membukanya.
"Ini?" Ia mengambil isi dalam bungkusan dan mengangkatnya.
"Ya. Surat nikah kalian. Kemarin begitu kalian menikah, papa langsung menghubungi kenalan papa dan pagi tadi sudah jadi. Kalian tinggal tanda tangan di buku nikah ini. Untuk berkas lain bukti kalau kalian memang menikah, sudah papa kirim ke pesantren untuk minta tanda tangan Kyai Hasan. Apa kalian senang?"
Ustaz Huda mengangguk. Jujur ia sangat senang. Kini hubungannya dengan Wiena bukan hanya sah secara agama melainkan juga negara.
Wiena berusaha tenang dan tersenyum meski ia sedih.
Mungkin ini memang sudah takdirku. Aku harus bisa menerimanya. Mama benar, dia sekarang suamiku. Lagi pula Kak Bagas belum tentu ada niat terhadapku.
"Kau senang, Nak?" tanya Wahyu yang tidak tahu apa-apa tentang isi hati Wiena.
"Senang pa. Terima kasih."
"Alangkah baiknya jika aku juga punya." Bara bersuara.
"Punyamu juga sudah jadi. Aku kirim ke papamu."
"Beneran, Pak Dhe?"
Wahyu mengangguk.
"Kau dengar itu sayang?" Bara merangkul Yasmine. Yasmine mengangguk sambil tersenyum. Bara tahu dari mata Yasmine jika istrinya itu tersenyum.
"Sebenarnya papa ingin memberi kalian tiket untuk honeymoon, tapi papa pikir bekum waktunya. Wiena masih belum lulus. Sabaf ya Ustaz!" goda Wahyu membuat Ustaz Huda tertunduk malu.
"Pak Deh, Bu Dhe. Sepertinya Banyu harus pamit deh. Ada yang harus Banyu lakukan." Banyu yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri dan pamit.
"Kamu mau kemana?" tanya Bara.
"Ke rumah sakit." jawab Banyu pendek.
"O. Aku paham. Aku akan pergi denganmu. Ayo Yas, kita pamit juga."
"Kalian nggak makan siang dulu. Bu Dhe terlanjur masak banyak nih."
"Makasih Budhe tapi maaf, mama mungkin juga sudah menunggu. Tadi aku sempat memberi kabar kalau kami pulang hari ini."
"O begitu. Ya sudah. Salam buat mama kalian."
"Ustaz, mobilnya saya pinjam ya?"
Ustaz Huda mengangguk.
***
Malam Hari
"Kenapa.mereka lama sekali?" Hana tidak sabar menunggu kedatangan Wahyu dan Ustaz Huda yang sedang melaksanakan sholat Isya di masjid.
"Mama kalau lapar makan dulu saja. Papa pasti mengerti." bujuk Wiena.
"Tidak. Mama tidak akan makan kalau tidak bersama papamu. Menemani suami makan itu pahalanya besar. Ingat itu."
Wiena mengangguk.
"Assalamualaikum." Wahyu dan Ustaz Huda tiba.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa lama mas?" Hanna mengambil tangan Wahyu dan menciumnya. Wahyu laku mengecup pucuk kepala Hanna.
Ustaz Huda kagum melihat keharmonisan mereka.
"Ustaz." panggil Wiena lirih.
"Ya!"
Wiena mengulurkan tangan meminta tangan Ustaz Huda. Ustadz Huda paham. Ia memberikan tangannya. Seperti Hanna, Wiena mencium punggung tangan suaminya itu. Ustaz Huda juga mengikuti apa yang Wahyu lakukan, mencium pucuk kepala Hanna.
Wahyu dan Hanna senang melihat mereka.
"Eh tadi belum dijawab. Kenapa lama?"
"Nak Huda masih harus melayani para fansnya." jawab Wahyu sambil berjalan masuk.
"Fans?"
"Iya. Fans." Wahyu kini duduk di ruang makan diikuti oleh yang lain.
"Maksudnya?" Wiena ikut bertanya.
"Jadi ternyata suamimu ini banyak dikenal orang karena tausiahnya bersama si kembar. Mereka mengenalnya via YouTube. Tadi di masjid, banyak yang minta tanda tangan dan foto bersama. Bahkan ada yang melamarnya untuk putri mereka." Wahyu mengakhiri ceritanya dengan tawa.
"Wah, mama jadi bangga. Nanti kita foto bersama ya, mau mama pakai profile medsos biar orang-orang tahu siapa menantuku."
__ADS_1
Wahyu mengacungkan jempolnya. Ustaz Huda hanya tersenyum sementara Wiena cemberut sambil menatap kesal ke arah Ustaz Huda yang tampak sangat bahagia.
"Senang ya dilamar orang?" ucap Wiena dengan nada ketus.
Tawa Wahyu, senyum Hana dan Ustaz Huda langsung sirna mendengar ucapan ketus Wiena.
"Kamu kenapa? Kayaknya keganggu gitu."
"Nggak papa" jawab Wiena cepat
Hanna dan Wahyu saling melempar pandangan dan mengedipkan mata memberi kode.
"Lalu bagaimana? Apa orang yang melamar menantu kita itu sudah kau beritahu kalau dia suami putri kita?" Tanya Hanna sambil mengambilkan makanan untuk Wahyu.
Wiena juga melakukan hal yang sama.
"Tidak." jawab Wahyu pendek.
"Kenapa papa tidak memberitahunya?!" ucap Wiena tanpa sadar.
"Ya, biar Ustaz Huda saja yang nanti menyampaikan. Ngomong-ngomong bagaimana rasanya dilamar? Papa nggak pernah tahu rasanya dilamar. Kalau melamar papa tahu."
Ustaz Huda kembali tersenyum.
"Ada rasa bangga sih, Pa." jawabnya pendek.
"Bangga ya?!" Wiena berkomentar. Ia lalu menambahkan banyak sambal ke piring Ustaz Huda.
"Wiena!!" tegur Hanna. "Kau ingin membuat suamimu sakit perut?"
Wiena menatap piring Ustaz Huda.
"Nggak mungkin sakit, Ma. Perutnya kuat kok." jawab Wiena ketus.
"Tapi aku memang nggak suka pedas." jawab Ustaz Huda memasang wajah melas.
"Tuh, Wien. Ayo ambilkan lagi! Tanpa sambal."
"Tidak perlu Tan eh Ma. Cukup diambil sambalnya saja. Sayang kalau diganti yang baru, nanti tidak kemakan. Mubasir." cegah Ustad Huda saat mendengar perintah Hanna.
Wiena mengambil kembali sambal yang ia taruh di piring ustaz Huda.
"Terima kasih."
Hanna tersenyum puas melihat Wiena patuh.
"Oh ya Mas. Siapa yang melamar Nak Huda?"
"Haji Aslan dan Haji Rohim. Mereka tadi berebut." jawab Wahyu.
"Wow. Ternyata banyak yang berminat padamu Nak. Anak Haji Aslan cantik kan Mas? Dia sangat anggun dan lembut. Sebenarnya dia sangat cocok denganmu, Nak."
Hati Wiena mendadak merasa kesal dengan ucapan mamanya.
"Memang aku tidak cantik, Ma?"
"Ya kamu cantik sih. Tapi mm mama jujur nih. Kamu tuh kurang lembut. Kamu sedikit bar bar dan sradak seruduk."
Wiena menaruh sendoknya dengan kasar. Ia lalu bangkit dan meninggalkan meja makan.
"Wiena, kamu mau kemana?" tegur Wahyu.
"Wiena kenyang. Mau ke kamar." Wiena mulai beranjak dari tempatnya.
"Duduk!" Suara Wahyu tegas.
"Wiena sudah kenyang, Pa."
"Kamu sudah kenyang, tapi suamimu masih makan. Jadi duduk dan temani suamimu sampai ia selesai makan!"
Wiena dengan kesal kembali ke tempat duduknya.
"Sudah. Ayo lanjutkan makan. Jangan ada yang bicara!"
Ustaz Huda melirik wajah cemberut Wiena.
Kenapa dia marah. Apa dia cemburu? Ah mana mungkin. Dia kan tidak menyukaiku.
...***...
Kadang kita tidak menyadari arti seseorang dalam hidup kita. Kita baru menyadarinya setelah ia pergi meninggalkan kita.
...vote...
...vote...
...like...
...like...
...coment...
...coment...
__ADS_1
...Yang banyak ya........