
Semenjak kejadian salah sasaran, Camelia selalu menghindari bertemu Banyu. Jika melihat Banyu di rumah sakit, ia memilih menjauh.
Namun siang itu ia tidak lagi bisa menjauh karena dokter Amel memintanya memeriksa Anggi dan bayinya sebelum mereka pulang.
"Assalamualaikum." Camelia mengucap salam dan masuk ke kamar Anggi.
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana Tante? Sudah sehat?" tanya Camelia sambil menyiapkan peralatan untuk memeriksa Anggi. Ia sedikit salah tingkah karena ada Banyu dan Bara yang menemani Anggi di kamar itu.
"Baik dokter. Alhamdulillah."
Camelia tersenyum. "Baguslah kalau mamanya baik-baik saja. Sekarang saya akan memeriksa adik bayinya."
Camelia memutar tubuhnya. Ia melihat ke arah box bayi. Tidak ada bayi dalam box itu.
"Dia ada di sana dokter, sedang digendong sama kakaknya." kata Anggi.
Camelia menelan ludah dengan susah payah untuk meredakan kegugupannya. Bayi itu ada dalam gendongan Banyu.
Kenapa harus ia gendong sih... tenang Camelia.. kamu harus profesional.
Camelia menghela nafas panjang, perlahan ia mendekat ke arah Banyu.
Kenapa aku jadi gugup begini. bathin Camelia.
"Biar saya periksa dulu." kata Camelia sedikit kaku setelah dirinya sampai di dekat Banyu.
Banyu mengulurkan adiknya. Camelia memeriksanya. Tangannya sedikit gemetar karena gugup. Banyu tersenyum.
"Tarik nafas panjang biar tidak gugup." bisik Banyu membuat wajah Camelia memerah.
Nyebelin.
"Alhamdulillah kondisi adik juga bagus."
kata Camelia.
"Adik ya... adik siapa, kakak?" bisik Banyu lagi.
Entah kenapa Banyu merasa sangat senang melihat raut cemberut Camelia.
Bara yang mendengar keusilan saudara kembarnya hanya diam memperhatikan. Dalam hati ia merasa aneh, karena baru kali ini Banyu yang biasanya cuek dan tenang bisa usil kepada gadis lain. Ia biasanya hanya usil ke Aurora saja.
Camelia segera menjauh, ia kembali ke tempat Anggi.
"Tante, ada pesan dari dokter Amel. Hari ini tante sudah diijinkan pulang. Apalagi kondisi ibu dan anak baik-baik saja." kata Camelia.
"Alhamdulillah. Terima kasih dokter. Saya pasti akan merindukan dokter yang baik dan cantik ini nanti." jawab Anggi.
"Tante bisa saja." Camelia tersipu.
"Adik juga akan merindukan kakak dokter." kata Banyu sambil menimang adiknya. Bara menahan senyum melihat Camelia semakin salah tingkah.
__ADS_1
Akankah Yasmine bersikap sama jika aku mengusili dirinya. batin Bara.
Bayangan Yasmine berkelebat dalam benaknya. Bara menghela nafas panjang karena sesak yang tiba-tiba ia rasakan.
Apa kau juga ingat aku, Yas.
"Baiklah, Tante. Saya permisi dulu. Nanti ada perawat yang akan membawakan berkas dari bagian administrasi kemari.." kata Camelia sambil mengangguk hormat. Setelah mengucap salam, ia berbalik dan meninggalkan kamar Anggi.
"Apa tadi Banyu?" tanya Anggi saat Camelia sudah tidak berada di dalam kamar itu. "Mama tidak suka melihatmu menggoda wanita. Ingat kamu punya adik perempuan juga."
"Maaf, Ma. Banyu tidak bermaksud buruk. Banyu hanya suka melihatnya cemberut."
"Cieee... suka melihatnya cemberut. Bilang saja kamu menyukai Camelia." sergah Bara.
"Apa benar kata Bara, Nyu?" kembali Anggi bertanya sambil menatap putranya itu.
"Apa Banyu salah kalau menyukainya, Ma?"
"Menyukai seseorang itu tidak salah. Kamu pria menyukai wanita itu normal. Dan akan menjadi suatu kesalahan jika kau tidak menempatkan rasa itu di tempat yang semestinya. Apa kau mengerti maksud mama?"
"Tuh dengerin!" Bara menimpali omongan Anggi.
"Banyu mengerti, Ma. Banyu akan menempatkannya di tempat yang pas. Banyu tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang dan membuat malu keluarga kita. Di pesantren Banyu juga sudah belajar bagaimana hubungan pria dan wanita yang benar."
"Baguslah. Mama lega sekarang."
Suasana menjadi hening sekejab sampai seseorang datang dan mengucap salam.
"Wow.. wow.. tolong jangan bermesraan di depan kami, bisa nggak?!" gerutu Bara.
"Kenapa? Kami halal." jawab Langit kembali mencium kening Anggi yang tersenyum melihat tingkah suami dan kedua anaknya itu.
"Jadi pengen segera halalin." gumam Banyu yang membuat Langit berjingkat kaget.
"Bicara apa kamu barusan? SMA saja belum lulus. Mau halalin siapa?" Langit mendekat ke Banyu dan mengacak rambutnya.
"Pa... jangan melakukan ini. Aku bukan anak kecil lagi." omel Banyu. Ia lalu melangkah ke box bayi dan menaruh adiknya di sana.
"Kamu belum menjawab papa. Siapa yang mau kamu halalin."
"Dokter Camelia." jawab Bara dan Anggi bersamaan.
"Eh.. kalian berdua tahu? Jadi hanya aku yang ketinggalan berita nih. Dokter Camelia yang memeriksa kamu waktu itu, Rohi?"
Anggi mengangguk, "Putra kita menyukainya Hubby."
Langit tersenyum. "Seleramu bagus nak. Sama seperti selera papa." katanya membanggakan diri.
"Jadi boleh, Pa?" Banyu berseri.
"Nggak!! " Anggi dan Langit kompak.
Rona berseri di wajahmu Banyu pudar.
__ADS_1
"Nak, Camelia bukan gadis biasa. Ia sangat cemerlang. Kau harus memantaskan diri dulu jika ingin sebanding dengannya." dengan lembut Anggi menasehati Banyu.
"Tapi, Ma. Keburu diambil orang."
"Jodoh tidak akan kemana, Nyu. Lagipula kamu bisa meminta kepada pemilik hatinya." Langit menambahkan.
"Pemilik hatinya? Maksud Papa."
"Minta padaNYA di sepertiga malammu." Langit menepuk bahu Banyu. "Sudahlah, ayo bereskan barang-barang Mama. Kita bawa mama dan adik kalian pulang."
Bara dan Banyu menuruti perkataan papanya. Mereka mengemasi barang-barang Anggi dan adiknya.
"Bara, kamu pergi ke bagian administrasi. Selesaikan administrasi mama." perintah Langit.
"Biar aku saja, Pa." Banyu menawarkan diri.
"Baiklah. Pergilah. Kalau menunggu perawat kemari, kelamaan."
Banyu keluar dan menuju bagian administrasi. Setelah menyelesaikan segala hal di sana, ia melangkah namun bukan ke kamar Anggi. Ia pergi ke ruangan Amel.
Banyu berdiri di depan kantor Amel, saat ia hendak mengetuk pintu, seseorang menegurnya.
"Dokter Amel sedang melakukan operasi, jadi beliau tidak ada di ruangan."
Banyu menoleh dan melihat Camelia berdiri di belakangnya.
"Baguslah, ketemu kamu di sini. Aku hanya ingin mengembalikan ini. Semula aku ingin menitipkannya kepada dokter Amel." Banyu mengeluarkan kartu pengenal milik Camelia.
"Kenapa harus dititipin? Kenapa nggak mencariku?" kata Camelia tanpa sadar. Ia segera menutup mulutnya setelah mengucapkan kalimat itu.
Yaah.. kenapa keceplosan sih.
Banyu tersenyum samar.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu dengan menggoda dan mengusilimu. Sekali lagi maaf. Setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Jadi maukah kau memaafkan aku?" kata Banyu.
Tidak bertemu lagi.... tidak bertemu lagi.. batin Camelia.
Berulang kali kata tidak bertemu lagi terngiang dalam benaknya. Hatinya tiba-tiba merasakan seperti kehilangan. Camelia diam menunduk.
"Hei dokter! Masih butuh ini apa nggak?" tanya Banyu saat Camelia justru terdiam tanpa menyentuh id card yang ia sodorkan.
Tidak bertemu lagi.. kenapa aku jadi sedih.. ada apa ini.. aku.. aku...
..."Dokter!"...
Mendengar panggilan Banyu, Camelia yang menunduk mendongak. Matanya berair, ia lalu memutar badan dan berlari meninggalkan Banyu.
"Eh.. dia kenapa? Apa salahku? Kenapa dia malah menangis? Bukankah id card ini yang ia inginkan." gumam Banyu sambil menggaruk kepalanya. Ia lalu memasukkan kembali id card itu ke dalam saku jaket dan melangkah menuju kamar Anggi.
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa tinggalin jejak ya
__ADS_1