
Sejak kehadiran teman lama Kyai Hasan, Banyu sedikit enggan bertemu Ustadz Huda. Ia hanya menemui Ustadz Huda saat pembelajaran, selebihnya Banyu selalu menghindar. Ia tidak membenci Ustadz Huda. Ia hanya tidak mau merasa sakit tiap melihat Ustadz Huda karena selalu ingat akan perjodohan itu.
"Nyu!" panggil Bara saat pembelajaran selesai dan seperti biasa Banyu pasti bergegas menuju kamarnya.
Banyu menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya dan menunggu Bara yang bergegas mendatanginya.
"Kakak memintamu datang ke rumah. Ada dakwah lagi dan seperti biasa, kita harus ikut." kata Bara.
Banyu nampak enggan menanggapinya. Ia kembali memutar tubuh dan mengayin langkah meninggalkan Bara tanpa sepatah kata pun. Bara benginhendapati sikap dingin Banyu.
"Nyi, hai!" teriak Bara. Ia berlari kecil. menyusul Banyu. Ditariknya tangan Banyu hingga pemuda itu menghadapnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Bara sambil bersiri berhadapan dengan Banyu. Matanya mandang tepat ke arah mata Banyu mencoba mencari jawaban di sana. Banyu melengos
"Kamu saja. Aku nggak ikut."jawab Banyu tanpa semangat. Tangannya bergerak. mengibaskan cekalan Bara.
"Tunggu!" Kembali Bara mencekal lengan Banyu. "Ini tidak mungkin tidak ada apa-apa. Sejak kapan kita main rahasia?"
"Kita sekarang sudah punya kehidupan masing-masing. Kau sudah berkeluarga. Jadi mulai sekarang kita jalan saja masing-masing." Banyu memegang tangan Bara dan menariknya lepas. Ia lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Bara tertegun mendengar penuturan Banyu yang tidak ia sangka-sangka itu. Selama ini ia selalu berfikir mereka akan tetap bersama meski masing masing nanti sudah berkeluarga. Bukankah mereka saudara.
Batin beberapa langkah Banyu berjalan ia berhenti dan kembali berbalik menghadap Bara yang masih tertegun.
Bara tersadar dari tertegunnya saat ia mendengar suara Banyu. "Jangan membujukku untuk ikut dakwah kalian. Jika butuh teman kau bisa mengajak Fahri atau Bimo. Bukankah mereka sangat ingin ikut dakwah kakak iparmu."
Selesai bicara, Banyu meneruskan langkahnya.
Bara diam tanpa keinginan mencegah kepergian Banyu. "Saudara iparku?Kenapa dia memanggil Ustad Huda saudara iparku?Bukankah selama ini ia selalu memanggilnya Ustadz?" bathin Bara. Bara menggelengkan kepala mengusir pikiran kusutnya.
Sesampainya di rumah, Bara langsung menuju kamar. Yasmine belum pulang. Ia pasti masih mengajar. Bara duduk merenungi perkataan Banyu dan mencari apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Banyu. Ia ingat Banyu berubah sikap sejak terakhir bertemu dengan kawan lama abah.
"Apa hubungannya dengan Banyu?" Alis Bara bertaut. Ia berpikir dengan keras untuk menemukan segala kemungkinan yang menjadi penyebab perubahan sikap Banyu. Saking konsentrasinya, ia tidak mendengar salam yang diucapkan Yasmine saat wanita itu masuk ke kamar.
Yasmine mendekati Bara yang tengah duduk. menopang dagu dengan kedua tangannya. Kedua siku Bara berada di atas kedua lututnya. Yasmine duduk di sisi Bara. Bara masih belum terusik.
"Apa yang ia pikirkan sampai tidak menghiraukan apapun?" batin Yasmine.
"Zauji!" bisik Yasmine. Bara tetap bergeming. Yasmine cemberut namun hanya sebentar. Sekejab kemudian bibirnya mengukir senyum indah. Ia mendekatkan wajahnya ke Bara dan dikecupnya pipi Bara.
Sebenarnya Bara kaget, tapi ia pura-pura tidak menghiraukan usaha Yasmine. Ia ingin melihat sampai mana usaha istrinya itu.
"Zauji!" Suara Yasmine sedikit lebih keras. Bara tetap tidak mengindahkannya. Dia bergerak sedikit hanya untuk menyunggar kasar rambutnya seperti orang frustasi. Kini ia duduk dengan kedua tangan ke belakang menopang tubuhnya. Kepalanya mendongak, dan matanya terpejam.
Mata Yasmine membesar melihat suaminya frustasi. Saat ia melihat mata Bara terpejam, ia mendekat dan mengamati wajahnya suaminya.
__ADS_1
Bara masih memejamkan mata menunggu gerakan Yasmine selanjutnya.
"Ayo cepatlah berinisiatif." batin Bara tidak sabar.
Yasmine yang menatap wajah Bara melihat alis suaminya berkerut kerut.
"Apa dia ada masalah serius?Apa yang bisa kulakukan untuk menghiburnya." Yasmine diam berpikir. "Haruskah aku kembali Menciumnya?Tadi saja aku cium nggak ngaruh. Ah coba aku cium lagi."
Yasmine menunduk, wajahnya kian dekat. Bara bisa merasakan hembusan nafas Yasmine. Bara menunggu dengan jantung berdebar. Gerakan Yasmine ia rasakan sangat lambat. Tanpa ia sadari bibirnya sedikit terbuka seolah siap menerima bibir Yasmine.
Yasmine kaget melihat bibir Bara yang ready to use itu. Ia menarik wajahnya menjauh. Bara merasakan gerakan Yasmine. Ia yang memang sudah tidak sabar langsung membuka mata dan bergerak memegang bahu Yasmine dan menghempaskannya ke ranjang. Bara langsung mengunci tubuh itu dengan kedua tangan dan kakinya.
"Kenapa berhenti?" Bara bertanya sambil. menatap wajah cantik yang berada di bawahnya.
"Aku... aku... "Yasmine gugup. Kegugupannya kian menjadi saat dengan cepat Bara memagut bibirnya. Ia ingin berontak namun Bara sudah menguncinya. Akhirnya dia pasrah pada permainan Bara.
"Yas! Astaghfirullah!" Kyai Hasan yang membuka pintu kamar Yasmine dan melihat Bara berada di atas tubuh Yasmine, memekik kaget. Ia langsung menutup kembali pintu itu. Kyai Hasan mengelus dadanya dan beristighfar berulang ulang sambil berjalan ke kamarnya.
Bara dan Yasmine kaget mendengar suara Kyai Hasan. Bara langsung melepaskan tangan Yasmine dan menyingkir dari tubuh istrinya itu.
"Abah!" Yasmine menggumam cemas. "Bagaimana ini?"
"Tenanglah. Nggak papa. Beliau pasti maklum." jawab Bara menenangkan Yasmine. Ia lalu berjalan ke arah pintu dan menguncinya.
"Mengapa dikunci?" tanya Yasmine.
"Kenapa?Memang kita mau apa?"
Bara tersenyum nakal dan berjalan mendekati Yasmine yang masih duduk di sisi ranjang.
"Kamu maunya apa?" ia mengedipkan sebelah matanya. Yasmine salah tingkah. Mukanya merona saat Bara semakin dekat dan kembali melakukan hal yang sempat terjeda oleh kedatangan Kyai Hasan.
Tok tok tok
Pintu kamar Yasmine diketuk dari luar.
Asalamualaikum!Bara, apa kau di dalam?" suara Ustadz Huda memanggil Bara.
"Sayang!" bisik Yasmine. Bara menghela nafas. Ia memandang nanar ke arah Yasmine.
"Kakak."kembali Yasmine berkata seplah mengingatkan Bara yang masih setia mendekapnya.
Bara bangkit dengan malas. Ia menatap cermin dan menyisir rambutnya dengan jari. Yasmine juga merapikan penampilannya.
"Wa'alaikumussalam." jawab Bara setelah membuka pintu. Ia melangkah keluar dan kembali menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Ustadz Huda.
Bara tahu kalau Ustadz Huda menanyakan Banyu. Bara mengangkat bahunya. "Kita bicara di depan saja, Kak!" ajak Bara sambil menuju teras.
Sesampainya di teras Bara menjelaskan kepada Ustadz Huda tentang sikap Banyu.
"Kenapa dia berubah?" tanya Ustadz Huda.
"Entahlah. Sudah semingguan ini dia agak aneh." jawab Bara.
"Semingguan?Sejak kedatangan Ustadz Asnawi?" gumam Ustadz Huda.
"Itulah. Aku berusaha mencari hubungan antar Ustadz Asnawi dan Banyu tapi belum ketemu." Bara memandang Ustadz Huda yang tampak sedang berpikir juga.
Pada saat itu Kyai Hasan keluar. Matanya langsung bertatapan dengan Bara. Kyai Hasan memerah mukanya karena mengingat kejadian di kamar Yasmine. Bara mengira merahnya wajah Kyai Hasan karena beliau sedang marah sehingga Bara menundukkan wajahnya.
"Huda, jadwal tausiah anta ke Kota J kapan?" tanya Kyai Hasan
"Minggu depan Abah. Kenapa?" tanya Ustadz Huda.
"Mampirlah ke rumah Ustadz Asnawi demi membalas kunjungan beliau minggu lalu!" titah Kyai Hasan.
Ustadz Huda mengangguk.
Kyai Hasan kembali melirik Bara. Pemuda itu masih menunduk tidak berani menatap wajah mertuanya.
Kyai Hasan menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kuat menghasilkan suara yang agak keras. Kepalanya menggeleng-geleng sambil berjalan keluar rumah.
Ustadz Huda menatap Bara. Ia melihat keanehan dari sikap abahnya dan juga Bara.
"Ada apa?" tanyanya pada Bara. Bara yang mendapat pertanyaan mendadak tergagap.
"A.. apa?" jawabnya.
"Ada apa antara anta dan abah?" kembali Ustadz Huda bertanya.
"Oh.. tidak ada apa-apa. Hanya insiden kecil." Bara menyatukan ujung jari tengah dan jempolnya.
"Insiden apa?" Ustadz Huda mengernyitkan keningnya.
"Itu... abah melihat kami sedang. " Bara membuat gerakan mempertemukan ujung jari jari tangan kanannya dengan ujung jari jari tangan kirinya.
Wajah Ustad Huda memerah jengah. "Ck.. dasar kalian." gerutunya sambil. mengulum senyum.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Maaf kalau upnya agak lama. Lagi nyari feel aja.
Semoga menghibur.