Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Momen Terakhir


__ADS_3

Bara sampai di rumah Kyai Hasan. Pikirannya masih dipenuhi dengan masalah Banyu hingga ia tidak melihat keadaan sekitar. Bara masuk ke teras tanpa mengucap salam padahal ada Kyai Hasan duduk di kursi teras itu.


Kyai Hasan memandang menantunya yang melewatinya begitu saja.


"Uhuk.. uhuk." Kyai Hasan batuk dengan sengaja dan keras.


Bara melirik ke arah Kyai Hasan sekilas. Ia belum sadar sepenuhnya jika pria yang duduk di teras adalah mertua sekaligus kyainya. Pikirannya masih kalut karena Banyu. Bara masuk ke rumah namun ia segera kembali keluar saat sadar bahwa ada Kyai Hasan di teras.


"Afwan Kyai!" sapa Bara sambil membungkuk takjim. Ia menunduk malu dan takut.


"Hmm. Jalan tanpa melihat sekitar. Ada apa?" tanya Kyai Hasan dingin. Meski nadanya datar, Bara bisa merasakan perhatian Kyai Hasan dalam pertanyaannya itu.


Bara masih menundukkan kepalanya. Ia segan membalas tatapan Kyai Hasan.


"Duduk!" titah Kyai Hasan.


Bara mengambil tempat duduk tepat di depan Kyai Hasan.


"Hem." Kyai Hasan berdehem. "Ada yang ingin aku tanyakan." Kyai Hasan menatap tajam ke arah Bara.


Jantung Bara berdegub kencang. Ia ingat peristiwa tadi saat Kyai Hasan melihat ia dan Yasmine sedang bermesraan. Bara yakin, Kyai Hasan akan menanyakan hal itu.


"Bara. Ana tahu kamu tulus pada Yasmine, dan ana menghargai perasaanmu itu. Cuman, ada yang mau ana lurusin nih. Perkawinanmu dan Yasmine tuh kan sebenernya kesalahan. Maksud ana, kalau nggak ada kesalahan dari pihak rumah sakit dan kalau nggak ada kesalahan ana yang terlalu gegabah, maka perkawinan itu tidak akan terjadi."


"Maksud Kyai?" Bara memberanikan diri menatap Kyai Hasan. "Kyai menyesalkan perkawinan kami?" Bara memberanikan diri mengeluarkan isi hatinya.


"Nggak gitu juga. Maksud ana, sebelum kalian resmi dan Yasmine lulus, dan anta juga, bisakah kalian jaga jarak dulu?!" meski nada bicara Kyai Hasan adalah bertanya, namun Bara tahu kalau itu adalah perintah.


Bara terdiam sebentar, lalu ia berkata, "Pak Kyai, saya sadar, jika dibandingkan putra Ustadz Asnawi, saya tidak ada apa-apa nya. Tapi itu bukan salah saya. Dia lahir lebih dulu dan menyelesaikan pendidikan ya lebih dahulu. Jika saya seusia dia sekarang, saya yakin dengan kemampuan saya, saya bisa sewtara bahkan lebih dari dirinya. Afwan, Pak Kyai. Bukannya saya sombong, tapi saya tahu kemampuan saya dan saya bersyukur atas itu semua." Bara mengungkapkan semua uneg uneg nya.


Kyai Hasan tertegun mendengar perkataan Bara. Dalam hati ia mengakui jika apa yang Bara ucapkan adalah benar. Meski ia belum bisa sepenuhnya menerima Bara, namun dalam beberapa hari tinggal bersama, ia jadi lebih mengenal Bara.


"Ana tahu. Makanya ana minta jaga jarak dulu dengan Yas, jadi anta bisa fokus pada belajar dan cita-cita anta." dalih Pak Kyai.


"Afwan Pak Kyai Saya tidak bisa menjauh dari Yas. Justru kalau jauh saya tidak akan mampu belajar."jawab Bara.


"Tapi.. Yas tidak boleh sampai hamil." Pak Kyai menekan nada suaranya. Wajahnya merah karena mengingat apa yang pernah ia saksikan tadi siang.


Bara diam. Ia menelan ludah.


"Ana akan mengirim Yas ke Kairo besok." kata Kyai Hasan yang membuat Bara kaget.

__ADS_1


"Kenapa besok?!" mata Bara nanar memandang wajah Kyai Hasan.


"Itu keputusan Ana."


"Bara tahu Kyai, tapi kenapa harus besok. Bukankah masih ada tiga hari lagi liburannya?" Bara masih terus meminta penjelasan.


"Ana takut terlambat jika harus menunggu tiga hari lagi." Kyai Hasan berdiri. "Malam ini, tidurlah di asrama. Besok pagi anta bisa datang kemari untuk berpamitan dengan Yas."


Bara terkejut mendengar perintah Kyai Hasan. Ia tidak menyangka jika Kyai Hasan akan memintanya keluar dari rumahnya dengan cara seperti ini.


"Jangan bilang ke Yas jika ana yang menyuruh anta tidur di asrama!" Kyai Hasan memperingatkan Bara sebelum beliau melangkah keluar meninggalkan Bara.


Ya Allah, seburuk itukah hamba sehingga Kyai Hasan belum bisa menerima hamba sebagai menantunya.


Bara menghela nafas panjang menenangkan sesak yang mulai ia rasakan.


"Sudah datang ya, kenapa duduk sendirian di sini?" kata Yasmine yang baru saja keluar dan melihat Bara termenung di kursi teras. Bara langsung memasang senyum terbaiknya. Berusaha menyembunyikan keresahannya.


Yasmine memegang tangan Bara dan mencium punggung telapak tangan suaminya itu.


"Masuk yuk!" ajak Yasmine sambil menarik tangan Bara. Bara berdiri. Di dekapanya tubuh Yasmine sebentar.


"Kenapa?" Yasmine mendongak mencoba memandang mata suaminya


"Itu, si Banyu belakangan rada aneh dan jadi pendiam. Jadi aku ingin tahu ada apa sebenarnya. Boleh ya?" bujuk Bara. Tangannya mengusap lengan Yasmine


Yasmine tidak menjawab. Ia hanya menatap suaminya dengan pandangannya yang sendu.


"Ya?!" kembali Bara bertanya saat ia tidak mendapat jawaban dari Yasmine.


"Baiklah. Tapi pagi-pagi harus segera pulang. Kita sarapan bareng." jawab Yasmine lalu menaruh kepalanya di dada Bara.


"Iya!" Bara mengangguk.


"Janji!?!"


"InshaAllah, habibati." Bara mengekus ujung kepala Yasmine.


"Ayo masuk!" Yasmine menjauhkan tubuh nya dari Bara dan menarik tangan suaminya itu.


"Eee... aku ke asrama ya."

__ADS_1


"Sekarang?Ini masih sore, bukankah menginapnya baru nanti malam." Yasmine berkata sambil cemberut.


Bara menelan ludah sambil memandang wajah Yasmine dengan sedih.


"Ayo!!" kembali Yasmine menarik tangan Bara. Bara mengikutinya. Ia tidak sanggup kalau harus mengecewakan Yasmine.


Yasmine membawa Bara ke dalam kamar dan menutup pintu. Bara langsung duduk di kursi dekat jendela. Ia memandang keluar.


"Sebenarnya ada masalah apa dengan Banyu?" tanya Yasmine sambil memeluk suaminya itu dari belakang.


Bara menahan nafas saat indera penciumannya mulai merasakan aroma Yasmine yang selalu membuatnya tergoda. Ia menarik Yasmine hingga gadis itu duduk di pangkuannya.


"Yas, aku akan jujur. Tapi kamu harus mengerti dan tidak menyalahkan siapapun." kata Bara.


Yasmine mengangguk lalu meletakkan kepalanya di dada Bara. Yasmine sudah melepas hijab dan niqabnya sehingga bau harum rambutnya langsung masuk ke hidung Bara. Bara memejamkan mata menahan dengan kuat gejolak ya h mulai terasa.


"Sebenarnya aku ingin ke asrama agar aku bisa menjaga jarak denganmu." kata Bara yang membuat Yasmine kaget dan spontan menarik kepalanya dari dada Bara.


"Kenapa? Kamu menyesal menikahiku?" mata Yasmine mulai berembun. Bara tak kuasa melihat pujaan hatinya itu sedih. Segera ia rengkuh wajah cantik Yasmine dan melabuhkan ciuman tipis di bibir Yasmine.


"Kamu anugerah terindah buatku Yas. Dan karena itu, aku harus menjagamu. Kau tahu, saat berdekatan seperti ini, aku selalu tak kuasa untuk tidak menyentuhmu. Aku takut kalau itu membuatmu tidak bisa melanjutkan studimu. Aku ingin kau sukses, Yas."


"Abah. Pasti abah."


"Yas. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan abah. Ini murni keinginanku juga."


Yasmine turu dari pangkuan Bara. Ia lalu berjalan ke arah dimana ia menaruh tasnya. Yasmine mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menunjukannya kepada Bara


"Jnj apa?" tanya Bara sambil mengamati kalender kecil yang Yasmine tunjukkan.


"Ini kalender untuk menghitung masa subur wanita. Yang kutandai biru itu masa subur ku, jadi kalau..." ucapan Yasmine terpotong karena Bara sudah meraup bibirnya.


"Aku tahu. Tidak usah diperjelas lagi" bisik Bara setelah tautan mereka lepas. Yasmine mengalungkan tangannya kew leher Bara.


"Sayang,tadi sebelum kau datang, abah bilang ke aku kalau besok abah akan mengirimku kembali ke Kairo. Kalau nanti malam kamu tidur di asrama menemani Banyu, jadi waktu buat kita bersama hanya tinggal saat ini." bisik Yasmine manja sambil mengelus leher belakang Bara lalu tangan itu turun ke dada Bara.


Pertahanan yang susah payah di bangun Bara roboh sudah. Tak ada lagi yang menghalangi Bara untuk menikmati momen terkahir bersama Yasmine sebelum istrinya itu kembali melanjutkan studinya.


...🍃🍃🍃...


Jangan lupa jejaknya

__ADS_1


__ADS_2