Si Kembar Mengejar Cinta

Si Kembar Mengejar Cinta
Batal?!?!


__ADS_3

"Awalnya aku memandangnya sebagai kakak. Namun saat tahu perjodohannya dibatalkan oleh pihak wanita sehingga membuatnya sedih, aku merasa kasihan. Aku jadi sering memperhatikan dirinya. Ditambah temanku itu selalu bercerita kalau kakaknya jadi lebih menutup diri dari sebelumnya, aku menjadi simpati. Lama kelamaan rasa simpatiku berubah menjadi suka."


"Jadi Kak Wiena kenal dia lebih dahulu dibanding dengan Kak Huda?"


"Iya. Aku bertemu kakakmu hanya dua kali. Pertama di rumah temanku, kedua di rumah sakit. Bahkan aku pernah berjanji akan mencarikan kakakmu istri karena temanku yang dijodohkan dengannya lebih mencintai Banyu. Sebagai saudara tentu aku akan menolong Banyu. Aku berusaha menjauhkan kakakmu dengan temanku."


"Apa yang Kak Wiena rasakan saat pertama kali bertemu Kak Huda?"


"Kagum. Karena dia tampan dan pertama kali lihat aku tahu kalau dia baik."


Yasmine tersenyum. Ia lalu melantunkan ayat suci dengan merdunya.


"Kak Wiena tahu apa yang barusan aku baca?"


Wiena menggeleng. "Sudah kubilang ilmuku tidak sebaik kamu."


Yasmine kembali tersenyum.


"Barusan yang aku baca adalah QS. Ar Rum ayat 21. Surat ini menjelaskan bahwasannya Allah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan. Kakak tahu maknanya?"


Wiena kembali menggeleng.


"Maknanya jodoh kita sudah ditentukan. Mungkin Kak Wiena menyukai orang lain tapi belum tentu dia adalah pria yang Allah takdirkan untuk menjadi jodoh Kak Wiena. Seperti cerita kakak tadi kalau Kak Wiena berjanji mencarikan Kak Huda istri, tapi Allah malah menakdirkan Kak Wienalah yang sekarang menjadi istri Kak Huda. Menurut Kak Wiena ini sebuah kebetulan atau jalan Allah untuk mempertemukan Kak Wiena dengan jodoh kakak?"


Wiena menunduk. Tanhannya saling meremas di atas pangkuannya


"Kak, kita sholat dulu yuk! Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya. Ku tunggu di mushola. Tempatnya ada di sebelah kamar umik." Yasmine keluar dari.kamar kakaknya karena adzan sudah terdengar.


Wiena masih duduk di bibir ranjang sambil memikirkan ucapan Yasmine.


Benarkah jika ustaz itulah jodohku? Lalu perasaanku untuk Kak Bagas bagaimana?


Wiena bangkit dari duduknya saat iqomah dikumandangkan di masjid pesantren. Ia mengambil wudhu lalu bergegas menuju mushola rumah Kyai Hasan.


Mereka bertiga melaksanakan sholat jamaah dengan diimami Nyai Hasan.


Selesai berdoa, Umik.memutar tibuhnya. Yasmine langsung mengambil tangan umik dan menciumnya.


"Maafin Yasmine jika ada salah umik!"


"Maafin umik juga ya!"


Wiena mengikuti apa yang Yasmine lakukan.


Nyai Hasan mengelus kepala Wiena. Hati Wiena terasa sejuk saat kepalanya dielus oleh Nyai Hasan. Sholat berjamaah seperti ini jarang ia lakukan. Biasanya ia akan sholat sendiri di kamarnya.


"Kenapa matamu bengkak?" suara lembut Nyai Hasan menggetarkan batin Wiena membuat bulir bening kembali meluncur membasahi pipinya.


Nyai Hasan menarik tubuh Wiena dan memeluknya. Beliau juga menepuk punggung Wiena. Cukup lama Wiena menumpahkan air matanya dalam pelukan Nyai Hasan. Saat kegalauannya reda, ia menarik tubuhnya.


"Maafkan saya Nyai." Wiena mengusap air mata yang masih ada di pipinya.


"Kamu menyesali pernikahan ini?"


Wiena diam.menunduk.


"Bilang saja. Aku akan membantumu bicara dengan Huda dan abahnya. Kita bisa membatalkannya."


"Umik!!" Yasmine kaget dengan ucapan umiknya. Nyai Hasan mengedipkan matanya memberi kode agar Yasmine diam.


Wiena semakin menunduk.

__ADS_1


"Wiena, pernikahan yang dipaksakan hasilnya tidak akan baik. Aku tidak mau kamu terpaksa menerima Huda sebagai suamimu. Jadi mumpung belum terlambat, sebaiknya dibatalkan saja."


Bagaimana ini? Apakah kalau dibatalkan, mama dan papa mau menerimanya.


***


Di masjid.


Sholat berjamaah sudah selesai dilaksanakan. Para santri sudah keluar dari masjid untuk kembali ke asrama mereka.


Barapun beranjak mau meninggalkan masjid. Ia melihat ke Ustaz Huda yang masih duduk dan berdoa dengan khusuk. Bara terbelalak kaget saat ada air mata turun membasahi pipi kakak iparnya itu.


Ternyata bukan hanya Bara yang melihatnya. Banyu juga melihatnya. Mereka lalu saling memandang melemparkan pertanyaan melalui sorot mata. Keduanya lalu mengangkat bahu.


Bara kembali duduk. Ia membatalkan niatnya untuk kembali ke kediaman Kyai Hasan.


Kyai Hasan, sang imam sholat, beringsut dari tempat duduknya. Ia memutar tubuhnya. Dilihatnya Bara, Banyu dan Ustaz Huda masih setia si belakangnya. Bara dan Banyu mendekat lalu mencoum tangan Kyai Hasan. Perlahan Ustaz Huda juga mendekat. Iapun mencium tangan abahnya.


"Bah! Huda mohon batalkan pernikahan Huda!"


Kyai Hasan, Bara dan Banyu kaget mendengar permohonan Ustaz Huda.


"Astaghfirullah. Anta sadar dengan apa yang anta ucapkan nak?"


Ustaz Huda mengangguk.


"Mengapa mendadak Ustaz?" Banyu yang biasanya tenang menjadi gusar.


Kalau pernikahan batal, apakah ustaz Huda akan kembali melanjutkan perjodohannya dengan Camelia.


"Abah, Huda terlalu terburu-buru. Huda merasa bersalah pada Wiena karena memaksakan pernikahan ini padahal Wiena sepertinya belum siap."


"Huda, bukankah tujuan awal kami menikahkan kalian adalah untuk mencegah kalian berbuat dosa. Abah tahu anta mencintai Wiena. Pasti wajah Wiena sering mampir dalam angan-angan anta. Itulah mengapa abah menyetujui pernikahan ini, agar saat anta membayangkan wajah Wiena, anta tidak lagi melakukan dosa. Karena Wiena istri anta. Jika Wiena belum siap, kalian bisa hidup seperti biasanya. Anta di pesantren, sementara Wiena meneruskan kuliahnya hingga lulus. Kalian belajar dulu, saling mengenal. Tidak serta merta kalian hidup berumah tangga secara normal."


"Biarkan Wiena belajar mengenal anta dulu. Abah bisa memahami kalau Wiena belum bisa menerima. Kalian berdua masih saling asing. Tidak mudah bagi gadis seperti Wiena menerima pernikahan ini begitu saja. Karena Wiena hidup di lingkungan yang memandang pernikahan harus berdasarkan cinta. Saling mengenal dalam waktu lama."


"Kalau dia masih belum bisa menerimanya bah?"


"Huda! Kenapa anta patah semangat. Ingat, manusia tidak memiliki kuasa atas hatinya. Mintalah pada sang pemilik hati agar membalikkan hati Wiena. Kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh, Wiena akan menerimamu sebagai suaminya dengan ihklas."


"Iya, ustaz. Berusahalah dulu jangan menyerah." Banyu memberi semangat.


"Masa nggak percaya diri kakak ipar." goda Bara.


"Kau ini!" Ustaz Huda memukul lengan Bara.


"Sudahlah. Pikirkan lagi. Abah mau mengajar." Kyai Hasan bangkit dan keluar dari masjid.


Ustaz Huda juga bangun dari duduknya.


"Kalian mau ke rumah atau ikut aku ke pesantren?"


"Pulang."


"Ikut."


Bara dan Banyu menjawab bersamaan.


"Baiklah. Ayo Nyu, kita ke pesantren."


***

__ADS_1


"Yangzi, mana Kak Huda?"


"Ke pesantren. Ada kajian. Kamu kenapa di luar?" Bara merangkul pundak Yasmine dan mengajaknya masuk.


"Menunggu kalian pulang." Bara dan Yasmine berjalan menuju kamar mereka.


"Memang ada apa?" Bara membuka pinti kamar.


"Soal kak Wiena. Umik menyarankan agar pernikahan dibatalkan." Yasmine masuk, lalu duduk di ranjang.


"Apa?! Tadi di masjid abah melarang Kak Huda membatalkan pernikahan. Kok umik malah menyarankan begitu." Bara yang sedang menutup pintu menoleh kaget. Ia menyusul Yasmine duduk di ranjang.


"Umik tidak tega melihat Kak Wiena yang terus menangis."


"Di mana Kak Wiena sekarang?"


"Di kamat kak Huda. Dia minta waktu untuk berpikir."


"Aku akan menemuinya." Bara bangkit dari duduknya.


"Jangan!" Yasmine mencekal lengan Bara.


"Kenapa? Kak Wiena harus diingatkan." Bara nampak gusar. Ia merasa sayang jika pernikahan mereka dibatalkan."


"Aku sudah bicara dengannya tadi, sekarang biarkan dia berpikir tenang!"


Bata kembali duduk. Ia menarik nafas dalam sambil dahinya berkerut."


"Assalamualaikum!" Suara orang mengucap salam terdengar dari luar.


"Yangzi, sepertinya ada tamu."


Bara memasang telinganya.


"Assalamualaikum."


"Iya, biar aku yang melihatnya."


Bara keluar menuju pintu.


"Waalaikumsalam! Ada apa?" Bara mendekati seorang santri yang berdiri dengan wajah panik di depan pintu rumah Kyai Hasan.


"Anu Gus Bara, Ustaz Huda. Ustaz Huda." Santri itu tergagap


"Ada apa dengan Huda?" Nyai Hasan tiba-tiba sudah berada di belakang Bara.


"Ustaz Huda, beliau kecelakaan."


"Inalillahi, Huda!" Nyai Hasan menjerit.


Yasmine dan Wiena yang mendengar jeritan Nyai Hasan keluar.


"Ada apa?" Yasmine bingung saat melihat Bara menopang tubuh Nyai Hasan yang lemas.


"Kak Huda kecelakaan. Umik kaget. Jadi pingsan."


Bara memindahkan tubuh Nyai Hasan ke sofa panjang. Yasmine menolongnya.


Wiena menghampiri Nyai Hasan dan berusaha menyadarkannya.


"Aku menyusul kak Huda dulu."

__ADS_1


Yasmine mengangguk.


...***...


__ADS_2