
Banyu membawa Ustadz Huda masuk ke kamarnya. Rasanya sangat tidak nyaman harus sekamar dengan pria yang hendak merebut kekasihnya Namun Banyu adalah Banyu yang tidak mampu berbuat buruk pada orang lain apalagi orang sebaik ustadz Huda.
"Kamarmu bagus." puji Ustad Huda sambil melihat sekeliling kamar. "Kamu suka membaca?" tanya Ustadz Huda saat melihat ada rak penuh buku bacaan di kamar Banyu.
"Hobby." jawab Banyu pendek sambil melangkah menuju almari pakaian untuk mengambilkan baju ganti bagi Ustadz Huda. "Pakai ini ustadz!" Banyu menyerahkan sepasang piyama kepada Ustad Huda. "Ustadz bisa ganti pakaian di kamar mandi."
Ustadz Huda menerima piyama itu dan segera ke kamar mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia tidak melihat Banyu di kamar itu. Ustadz Huda melipat pakaiannya dan menaruhnya dengan rapi di atas nakas. Ustadz Huda lantas mendekat ke rak buku. Ia mengamati koleksi buku yang di baca Banyu. Bibirnya tersenyum.
Mata Ustad Huda sedikit menyipit saat melihat sebuah buku yang tebal tanpa judul. Ia mengambil buku itu dengan hati-hati.
"Oh ternyata album foto. Saya kira buku apa." gumamnya sambil mengembalikan album itu ke tempatnya.
"Ustadz sudah selesai?" kata Banyu mengagetkan Ustadz Huda. Alhasil album yang akan Ustadz Huda taruh terjatuh.
Buk
"Eh.. anta. Mengagetkan saja." kata Ustadz Huda. Ia membungkuk mengambil album yang jatuh dalam keadaan terbuka. Ustad Huda mengangkat album itu. Katanya meneliti foto yang kebetulan terbuka.
"Banyu, ini siapa?" tanyanya sambil menunjukkan foto yang ada di album itu.
"Oh.. itu kak Wiena. Anak dari Pakdhe Wahyu. Yang tadi mau dijodohkan dengan ustadz." jawab Banyu. "Ustadz dapat darimana album itu?" tanya Banyu. Ia heran karena setahunya album foto itu letaknya di almari ruang tengah, bukan di kamarnya. Itu album yang berisi foto foto saat aqiqah adiknya beberapa bulan yang lalu.
"Kalau ini?" tanya Ustadz Huda lagi.
"Masak Ustadz tidak mengenalnya?" Banyu memperhatikan ustadz Huda dengan serius. Ustadz Huda menggeleng.
"Kalau ana tahu, ana nggak akan bertanya." Ustadz Huda menjawab Banyu.
"Dia calon istri Ustadz. Putri Ustadz Asnawi. Camelia."
Apa?! Oh bagaimana ini? Aku telah membuat kesalahan fatal. Apa yang harus aku katakan pada Ustadz Asnawi. Bagaimana caraku membatalkan perjodohan yang terang terangan aku sendiri yang berkata setuju.
Ustadz Huda menutup album itu dalam diam. Ia lalu meletakkan album itu kembali ke tempat pertama kali ia temukan.
Ustadz Huda kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring dengan kedua tangan ditaruh di belakang kepala dan ujung kaki saling menumpu.
__ADS_1
Banyu memperhatikan gerak gerik gurunya itu.
"Ustadz! Apa ada yang mengganggu pikiran ustadz?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Tidak, tidak ada." Ustadz Huda menjawab dengan gamang. "Tidur lah! Besok kita harus kembali ke pesantren pagi-pagi sekali!" kata Ustadz Huda lalu mengubah posisi tidurnya. Ia memunggungi Banyu. Tanpa banyak bicara Banyu mengikuti apa yang dilakukan oleh Ustadz Huda. Berusaha tidur.
Banyu baru saja terlelap saat ia harus terbangun karena gerakan gerakan di belakang tubuhnya. Banyu membuka matanya dalam diam. Ia bisa merasakan Ustadz Huda sedang gelisah. Ia berkali kali mengubah posisi tidurnya. Banyu masih saja diam tidak bergerak. Ia takut membuat Ustadz Huda merasa tidak enak.
Tiba-tiba Ustadz Huda bangun. Ia duduk dan menghela nafas berulang ulang. Banyu tak lagi bisa menahan diri. Ia berbalik.
"Ustadz ada apa?" tanyanya.
"Oh anta terbangun ya.. afwan." kata Ustadz Huda.
Banyu ikutan duduk. Ia mengucek matanya sebentar.
"Kenapa Ustadz belum tidur? Apa ranjang ini tidak nyaman ataukah Ustadz tidak nyaman tidur bersama saya?" tanya Banyu.
"Eh bukan. Bukan itu." Ustadz Huda kembali menghela nafas. "Ana telah membuat kesalahan dan tidak tahu bagaimana cara Memperbaikinya." Ustadz Huda mulai membuka diri pada Banyu.
"Perjodohan itu. Perjodohan itu sebuah kesalahan. Seharusnya ana tidak menyetujuinya." kata Ustadz Huda penuh penyesalan.
Diam diam Banyu merasa bahagia mendengar pengakuan Ustadz Huda. Tapi ia berusaha keras menyembunyikannya.
"Kenapa salah ustadz?" tanya Banyu.
"Ana terlalu buru-buru memutuskan. Sekarang ana sadar. Ana belum siap." dalih Ustadz Huda. Ia malu jika harus mengakui kalau dirinya salah orang. Menurut anta apa yang harus ana lakukan?"
Banyu diam. ikut berpikir. "Kalau menurut saya, sebelum terlanjur lebih jauh, Ustadz sampaikan saja pada Haji Asnawi."
"Tapi bagaimana cara ngomongnya? Bukankah jika ana membatalkan sama artinya menjilat ludah sendiri." Ustadz Huda kembali menarik nafas berat.
"Begini saja. Ustadz Huda temui saja anaknya. Biar dia yang menyampaikan pada abahnya." saran Banyu.
Ustad Huda memandang Banyu. "Ide anta bagus juga. Kalau putrinya yang bilang nggak mau dijodohkan, jadi kami impas. Pertama pihak kami yang membatalkan perjodohan Yasmine. Dan saat ini pihak Haji Asnawi yang akan membatalkan perjodohan ana dan putrinya. Jadi diantara dua keluarga nggak akan ada lagi rasa sungkan atau bersalah." jawab Ustadz Huda senang.
__ADS_1
Banyu mengacungkan jempolnya tanda ia menyetujui ucapan Ustadz Huda.
"Baguslah. Sekarang ana bisa tidur dengan tenang." kata Ustadz Huda lalu membaringkan tubuhnya. Wajahnya tersenyum. Sebentar kemudian dengkuran halus keluar dari bibirnya.
"Ck.. giliran dah tenang saja langsung tidur. " gumam Banyu sambil ikutan berbaring.
"Ana masih mendengar anta." gumam Ustadz Huda dalam tidurnya.
Banyu kaget. Ia langsung menyembunyikan dirinya di balik selimut tebalnya.
Sementara itu di kamarnya Bara sedang menimang ponselnya. Ia ragu antara menghubungi Yasmine atau tidak. Sejujurnya hatinya sudah sangat merindukan istrinya itu meski belum genap sehari mereka berpisah. Bara melihat benda bulat yang menempel di dinding kamarnya.
"Dia sudah bisa dihubungi apa belum ya?" gumam Bara gelisah. "Mestinya ia sudah sampai." kembali ia bergumam.
Bara lalu keluar sambil. memegang ponselnya. Ia menuju balkon yang ada di samping ruang keluarga yang ada di lantai dua. Setelah cukup lama menimbang, akhirnya Bara memutuskan untuk menghubungi Yasmine. Ia mengirim pesan sebelum menelpon, menanyakan apakah Yasmine bisa menerima panggilan. Tak lama kemudian ada pesan masuk. ke ponselnya. Bata tersenyum membacanya.
"Akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi." gumam Bara sambil melakukan panggilan kepada Yasmine.
"Wa'alaikumussalam." sapa Bara menjawab salam Yasmine. "Yangra, aku kangen." kalimat pertama yang Bara ucapkan sesudah menjawab salam Yasmine.
(....... )
"Beneran. Jangankan sehari, semenit sejak melepasmu di bandara tadi, aku sudah kangen." Bara mulai mengumbar rayuan gombalnya.
(..... )
"Kangen apa yaaa.... kangen mendekapmu, memelukmu, menciumi dan kangen... mendengar ******* manjamu."
"Bara! Apa yang kau katakan!!"
Bara berjingkat kaget. Ia langsung mengakhiri panggilan ponselnya.
"Papa!" seru Bara dengan wajahnya pucat.
Aduh Bara... kenapa nggak telpon di kamar saja sih... apa signal dikamarmu jelek sampai harus ke balkon. Ketahuan kan sama papa Langit 😔😔😔
__ADS_1