Status : Menikah

Status : Menikah
Reaksi


__ADS_3

Sebagai karyawan yang baik, para pegawai NTMall yang Yudhis lewati tidak hanya sekedar menyapanya seperti biasa. Karena pengumuman pertunangannya dengan Nawang di hari sebelumnya, mereka juga sekaligus mengucapkan selamat. Bahkan, ucapan selamat itu juga datang dari para klien dan dewan direksi yang memberikannya karangan bunga bertuliskan ‘selamat’ dan doa agar langgeng secara berturut-turut selama tiga hari ini. Pemilik katering yang menjadi langganan NTMall bahkan sampai membuatkan tumpeng khusus untuk Yudhis.


Dari semua hal yang dia terima itu, Yudhis pun menyadari betapa mengenaskannya image jomblonya di mata mereka. Tetapi, dari sana dia juga tahu bahwa mereka sangat menyayanginya. Karena itu, dia terima saja hadiah-hadiah itu dengan senang hati.


Selain hadiah dan ucapan selamat, keuntungan lain juga Yudhis rasakan. Misalnya, para pria yang selama ini terlihat begitu semangat mendekatinya kini mulai menjauh. Meski tidak semuanya, pesan-pesan random dari pria-pria itu sudah banyak berkurang dari DM media sosialnya.


Yang terlihat paling jelas adalah perubahan sikap Marcel. Biasanya dia yang paling semangat dalam menemani Yudhis di setiap rapat maupun saat perjalanan dinas ke luar kantor. Namun, hari ini pria itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya, meskipun mesin kehadiran karyawan menunjukkan bahwa Marcel masih berangkat.


“Sekali lagi selamat ya, Dhis. Akhirnya lo tunangan sama cewek. Sumpah, gue udah khawatir dunia akhirat sama orientasi lo.” ucap seorang wanita muda dengan ID karyawan bertuliskan direktur keuangan.


“Makasih. Tapi, gak usah ngerendahin atasan lo juga kali, Mit.”balas Yudhis pada wanita itu.


Mitha namanya. Selain Yudhis, dialah orang termuda di jajaran direksi. Dia juga satu-satunya wanita di jabatan itu.


Siang itu, mereka baru saja selesai rapat dengan dewan direksi yang dilanjutkan dengan selamatan kecil-kecilan untuk pertunangan Yudhis dan Nawang. Sementara yang lainnya sudah kembali ke pekerjaan masing-masing, mereka berdua masih perlu merapikan beberapa file.


“Yaelaaah… sensi amat. Jujur gue masih gak percaya sih, akhirnya lo tunangan.” Mitha melanjutkan perkataannya dengan sedikit berbisik, “Ini bukan settingan kan, tapi?”


Yudhis lumayan kaget dengan kejelian rekan kerjanya ini. Namun, untungnya wajah datar yang tidak cocok dengan sifat aslinya itu berhasil menyembunyikan rasa kagetnya itu.


“Masa gue main-main soal beginian, sih? Buat apa gue deket sama Nawang selama ini kalau bukan karena gue bertepuk sebelah tangan.” jawab Yudhis kemudian.


Mata Mitha tanpa sengaja menangkap sebuah bayangan di balik pintu ruang rapat yang sedikit terbuka. Dari pakaian yang terlihat secara sekilas di bagian transparan pintu itu, Mitha bisa menebak bahwa dia adalah seorang pria.


“Wow! Gue gak nyangka lo punya kisah cinta kayak komik cewek yang gue baca pas masih kimchil. Anyway, gue balik ke sarang duit dulu, ye. Bye!” ujar Mitha dengan lantang, seolah sengaja agar orang di balik pintu itu mendengarnya.


Wanita itupun keluar dari ruang rapat. Dan sebelum dia benar-benar kembali ke ruang kerjanya, dia menengok ke sekitar untuk memastikan siapa pria yang mencuri dengar pembicaraan mereka tadi.


Sementara itu, Yudhis yang juga bermaksud keluar dari ruang rapat tiba-tiba mendapatkan sebuah pesan di ponselnya.

__ADS_1


“Lah! Papa pulang?” gumam Yudhis saat membaca pesan dari Ibunya.



Sore harinya di bandara internasional…


“Papa kenapa gak bilang kalau mau pulang?”tanya Yudhis begitu Ayahnya masuk ke dalam mobil SUVnya.


Pandu, Ayah Yudhis mendengus sambil menatap geram putera sulungnya. Kemudian, dia menjawab, “Kamu ngelamar Nawang juga mendadak. Mana orang lain dulu yang tahu.”


“Ya tapi kan, Papa gak perlu pulang mendadak juga. Emang mau ngapain, sih?”


Pandu menepuk pundak puteranya beberapa kali dan berkata, “Hey, kamu itu sudah melamar. Terus diterima. Artinya, kamu juga mesti cepet-cepet nikah kan? Nanti dikira PHP, loh. Makanya Papa sekarang pulang buat bantuin kamu mempercepat proses.”


“Ya tapi kan, gak berarti Yudhis sama Nawang mau nikah dalam waktu dekat juga. Kami masih pengin fokus ke karir.”


Yudhis menyalakan mesin mobilnya dan pembicaraan mereka pun berlanjut di perjalanan.


“Ya tapi…” pembelaan Yudhis atas saran Pandu terpotong.


“Ya tapi, gundulmu. Pisan meneh ngomong ‘ya tapi’, Papa kutuk kamu jadi tapir! Papa gak mau menantu idaman Papa dan Mama dikecewain sama kamu.”


Ancaman Pandu itu cukup untuk mengunci rapat mulut Yudhis yang masih ingin mengelak. Ayahnya itu memang begitu sayang pada Nawang. Entah guna-guna macam apa yang membuat kedua orang tuanya justru lebih memikirkan Nawang dibandingkan putera mereka sendiri.


Kalau begini, jelas dia tidak bisa bilang kalau hubungan mereka berdua hanya pura-pura. Tidak terbayangkan akan semarah apa orang tuanya nanti jika tahu akan hal itu.



Setibanya di rumah, Rista dan seorang satpam rumah langsung menyambut mereka berdua. Koper-koper Pandu dibawa oleh satpam itu, sementara Rista melepaskan jaket yang Pandu kenakan.

__ADS_1


“Bau apa ini? Kok kayaknya enak sekali?” tanya Pandu begitu masuk ke dalam rumah.


“Itu loh, Pa. Me-nan-tu kita lagi masakin masakan special buat menyambut Papa.” kata ‘menantu’ Rista ucapkan dengan penuh penekanan dan nada keceriaan.


Karena mengenal betul bagaimana Ibunya, Yudhis tidak heran jika Nawang yang bahkan belum dinikahinya sudah dianggap menantu. Ini juga lah alasannya memilih Nawang sebagai tunangan palsunya. Entah kenapa Yudhis juga yakin, wanita lain akan kesulitan menghadapi kedua orang tuanya.


“Wah, jadi tidak sabar buat makan masakan buatan menantu, nih. Kalau gitu, Papa mandi dulu biar makannya tambah enak. Mama ikutan, ya!” balas Pandu tak kalah senang.


“Ih, Papa baru pulang langsung genit.” Rista berkata sambil memukul manja lengan suaminya.


Tak peduli dengan kemesraan orang tuanya yang sudah sekian bulan lamanya tidak bertemu, Yudhis memutuskan untuk pergi ke dapur. Di sana, Nawang dengan bantuan seorang ART rumahnya sedang mempersiapkan makanan penutup yang sepertinya adalah puding telur dan es buah.


Puding telur itu sudah pasti dibuat khusus untuknya. Karena, puding telur adalah dessert favoritnya. Dan Nawang pasti membuatnya untuk menunjukkan kesungguhan hubungan mereka berdua.


“Mau dibantuin gak?” tawar Yudhis.


“Hey, Dhis! Ambilin ramekinnya empat, sama loyang yang agak gedean di rak, dong!” tanpa basa-basi, Nawang langsung meminta bantuan Yudhis.


“Ok.”


Diambilkannya dua macam benda yang Nawang maksud dari rak atas, kemudian dia tata di meja dapur agar Nawang bisa langsung menggunakannya.


Seusai itu, Yudhis kembali bertanya, “Butuh apa lagi?”


“Hmm…” sambil tangannya terus bekerja, Nawang sejenak berpikir.


“Kamu yang cuci alat masak, ya.” ujar Nawang kemudian.


“Siap.” sahut Yudhis dengan mantap.

__ADS_1


Mengingat bagaimana reaksi Nawang di siaran sebelumnya, Yudhis awalnya berpikir kalau Nawang akan mendiamkannya sampai sekarang. Sahabatnya itu bahkan tak berbicara satu hal pun padanya hingga tadi. Sejujurnya dia lumayan takut, kalau Nawang akan membatalkan perjanjian mereka karena lamaran mendadak itu. Tetapi, melihat dia yang bersikap seperti biasanya saat ini, Yudhis pun cukup tenang.


__ADS_2