
Perlawanan satu-satunya yang bisa Nawang lakukan hanya satu, yaitu dengan menggigit bibir Yudhis sekuat tenaga.
“Ouch!” pekik Yudhis yang kemudian melepaskan panggutannya.
Merasakan darah segar di bibirnya, dia pun langsung melotot pada pelaku yang menyebabkan semua itu. Tetapi, niatnya itu dia urungkan kala melihat betapa berantakannya Nawang saat ini.
Rambutnya begitu acak-acakan, blouse warna kuningnya tersingkap hingga memperlihatkan perut ratanya dan napasnya yang tersengal-sengal menunjukkan bahwa apa yang baru saja terjadi cukup panas. Alhasil, Yudhis justru tidak bisa berkata apa-apa.
“Gila lo. Hosh… hosh…” guman Nawang sambil mengatur napasnya.
“Sorry.” ucap Yudhis lirih.
Mulutnya mungkin meminta maaf, tetapi ada hal aneh yang Yudhis rasakan. Entah kenapa, hatinya tidak menyesal telah melakukannya. Justru dia agak menyayangkan ciuman mereka berakhir begitu saja.
“Ah… kayaknya gue puas banget ngerjain si Nawang sewu.” duganya dalam hati.
Rasa senangnya itu tanpa Yudhis sadari juga nampak di wajahnya. Nawang yang melihat itu seketika sadar bahwa dia sedang ditertawakan.
“Segampang itu lo cium gue, Dhis?” suaranya masih terdengar bergetar meskipun napasnya sudah mulai stabil.
Tersirat amarah di mata Nawang yang sebelumnya tidak pernah Yudhis lihat. Yudhis tak menyangka bahwa aksinya tadi ternyata sudah keterlaluan. Rasa menyesal yang tadi hanya di bibir pun menjadi nyata. Namun, entah kenapa kali ini dia tidak bisa mengatakannya selancar tadi.
“Lo lupa kalau lo duluan yang mulai?”
Otak Yudhis secara otomatis bekerja lebih cepat dari hatinya dan kini penyesalan itupun semakin dalam ia rasakan.
“Ya…” Nawang bergumam.
Gadis itu lalu bangun dari duduknya. Wajahnya yang tertunduk ia sembunyikan dengan kedua telapak tangannya rapat-rapat. Tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan, Nawang pun pergi ke luar.
Ditutupnya kamar itu dengan terburu-buru, hingga terdengar suara keras yang cukup mengagetkan Yudhis. Entah ke mana Nawang mau pergi. Situasi ini terlalu memalukan baginya.
__ADS_1
“Aaaaah… kok gue nekat banget sih tadi?” sesalnya.
Memang benar Nawang lah yang memulai dulu dengan seenaknya mencium Yudhis. Tapi, dia pikir semua itu hanya akan berujung dengan mereka bertengkar seperti biasanya. Dia tidak menyangka Yudhis akan membalasnya dengan ciuman yang seperti itu.
Tujuannya mencium Yudhis juga tidak sembarangan. Dia hanya ingin mengunggah foto itu dan menunjukkan pada orang, khususnya pengirim perjanjian palsu itu, bahwa hubungan mereka adalah asli. Jadi, jika dokumen itu menyebar lebih jauh, orang akan lebih percaya padanya dan Yudhis.
Tetapi, tragedi ciuman ini terlanjur terjadi. Yudhis pasti juga marah padanya. Lalu sekarang, setelah keluar dari kamar hotel dengan begitu heboh, Nawang tidak berani untuk masuk kembali.
Dirogohnya saku celananya dan di sana dia menemukan uang kertas seratus ribuan yang sepertinya lusuh karena ikut tercuci celana itu. Penampilan uang itu mengingatkan pada dirinya yang cukup mengenaskan saat ini. Tetapi, setidaknya uang itu mungkin lebih berguna dari pada diri Nawang sendiri.
“Ok, Duit. Saatnya gue belanjain lo ke minimarket di seberang.” ujar Nawang pada uang yang tidak mungkin memberi balasan itu.
Di dalam kamar hotel, Yudhis juga tidak kalah kalutnya dibandingkan Nawang. Walaupun dia tidak sepenuhnya bersalah, melihat reaksi Nawang tadi membuatnya merasa seperti seorang kriminal.
Dilihatnya foto yang baru saja dia ambil. Sambil terus mengecilkan dan membesarkan gambar itu, dia berujar, “Well, not bad.”
Tidak tahu sampai kapan kecanggungan ini akan terus berlangsung. Namun, Yudhis yakin bahwa mereka akan baik-baik saja dan akan secepatnya kembali seperti semula. Mereka akan kembali menjadi sahabat dekat seperti sedia kala. Karena, itulah yang selalu terjadi.
Pikir Yudhis, Nawang akan melupakan ciuman ini juga. Atau mungkin akan menganggapnya tidak pernah terjadi, karena dulu juga terjadi hal yang sama.
Nawang yang menangis dalam tidurnya saat itu membuat hati Yudhis terenyuh. Untuk menenangkan Nawang, Yudhis membelai rambut gadis itu. Diusapnya pula air mata di pipi Nawang yang sembab, karena menurutnya air mata sangat tidak cocok untuk gadis seperti Nawang.
Saat Yudhis sedang sibuk menghapus air mata Nawang, tiba-tiba gadis yang juga saingan akademiknya itu merangkul tubuh Yudhis dengan kedua tangannya. Mungkin Nawang yang sedang terlelap mengira Yudhis sebagai bantal guling.
Dia pun menarik Yudhis hingga kejadian yang tidak terduga terjadi.
Itulah kisah ciuman pertama Yudhis yang tidak disengaja. Saat ciuman itu terjadi, Yudhis yang terlalu kaget terus membuka matanya. Dia pun mendapati Nawang membuka matanya selama beberapa detik, tapi kemudian gadis itu kembali terlelap. Dan keesokan harinya, Nawang bersikap seakan tidak terjadi apapun di malam sebelumnya.
“Yah… seenggaknya kita masih barengan sampai sekarang, Wang.” batin Yudhis.
…
__ADS_1
“Kayaknya dulu juga pernah kejadian kayak gini. Kayak deja vu.”
Dalam diam, Nawang juga memikirkan hal yang sama. Walaupun dia saat ini sedang membeli snack untuk membuang kekalutannya, hati dan tubuhnya tidak selaras. Dia masih saja memikirkan kejadian tadi.
“Semuanya seratus lima belas ribu Rupiah, Kak. Apa ada kartu membernya?” ucap kasir setelah menghitung seluruh belanjaan Nawang.
Mendengar angka yang sedikit lebih banyak dari uang yang dia bawa, Nawang jadi gelagapan. Mungkin sebaiknya dia mengurangi beberapa snack agar harganya cukup dengan budget-nya.
“Mbak, bisa cancel croissant-nya gak? Kayaknya saya kebanyakan beli.” pinta Nawang tanpa malu mengakui.
“Bisa, Kak. Apa ada lagi?” tanya kasir itu.
“Udah, Mbak. Itu aja.”
Kasir itu lalu mengedit hitungan belanjaan itu dan kembali berkata, “Baik, Kak. Semuanya seratus ribu lima ratus Rupiah.”
Nawang memejamkan matanya, meratapi nasib sialnya dalam diam. Rutukan tak ada henti terucap dalam otaknya, karena mesin kasir pun tidak mau mengalah dan membuat perasaan kacaunya membaik.
“Croissant yang tadi gak usah dicancel aja, Kak. Biar gak kelamaan, saya aja yang bayar.”
Seorang pria berambut pirang dengan logat British-nya tiba-tiba menerobos antrian di minimarket itu. Dia juga mengeluarkan uang sebesar Rp 115.000,00 dari dalam dompetnya dan diserahkan langsung pada kasir.
Seketika Nawang pun menengok pada pria yang menerobos tadi. Dia perhatikan baik-baik, barang kali dia mengenal pria itu atau jangan-jangan pria bule itu hanya ingin merebut antrian dan belanjaannya saja.
Tetapi, kecurigaannya itu lenyap seketika begitu kasir menyerahkan belanjaan di dalam kantong kresek. Pria itu hanya mengambil croissant tadi dan menyerahkan sisa belanjaannya pada Nawang.
“Ma… makasih. Saya langsung kembalikan uangnya, ya.” ujar Nawang sambil merogoh celana.
Namun, pria itu dengan cepat menolak, “It’s fine. Saya lagi buru-buru. Kamu simpen aja. Bye!”
Agaknya pria itu memang sedang terburu-buru. Karena, saat mengucapkannya pun dia tidak menatap Nawang sama sekali dan langsung keluar dari mini market.
__ADS_1
“Rejeki nomplok kah?” pikir Nawang yang melihat pria itu pergi bagaikan angin.
Sekarang, setelah belanjaannya selesai Nawang mulai memikirkan rencana selanjutnya. Dia masih belum ingin kembali ke kamar hotel. Tepatnya, dia belum siap untuk bertemu dengan Yudhis. Namun, setelah pertemuannya dengan pria berlogat British tadi perasaannya sudah mulai membaik dan tidak segugup tadi.