
Ditelfon berkali-kalipun Yudhis tidak menjawab. Mengingat bagaimana Yudhis selama ini, dia yakin bahwa sekarang pria itu sudah tertidur pulas. Karena, gaya hidup sehat adalah jalan ninjanya, Yudhis paling anti tidur di atas jam 12 malam. Sedangkan sekarang sudah pukul 12.11.
“Kenapa uring-uringan sih, Wang? Bukannya bagus lo dapet exposure besar?” tanya Tina sambil mengedit video hari ini.
“Tapi, gak berarti gue harus digosipin jadian sama Yudhis, dong! Kalau itu jadi bikin rugi gue atau dia gimana? Lo tahu kan mulut… eh, jari netizen?”
Sesampainya di kontrakan, Nawang mendapati notifikasi di sosial medianya begitu membludak. Rupanya dia ditagari dibeberapa video yang menunjukkan kebersamaannya dengan Yudhis. Dia pikir awalnya video-video itu adalah video biasa yang diclip oleh para penontonnya. Namun rupanya, pengedit video itu menambahkan narasi romansa di sana dan pada akhirnya viral ke mana-mana sampai dibuatkan artikel. Ditambah lagi, ada orang yang memotretnya dengan Yudhis saat berada di restoran cepat saji barusan.
Tina berhenti mengedit sejenak untuk memutar kursinya menghadap Nawang.
“Terus kenapa? Lo komit jadi content creator, harusnya udah siap juga diomongin macem-macem sama orang lain, dong.”
Nawang juga sependapat dengan Tina. Tetapi, masalahnya pasangan gosipnya yang kurang tepat. Nawang sadar bahwa ini juga salahnya sendiri yang telah seenaknya melibatkan Yudhis dalam videonya. Dan akibatnya sekarang dia merasa sangat bersalah pada Yudhis.
“Lagian, lihat deh, di kolom komentarnya! Lebih banyak yang nulis komentar bagus ketimbang yang jelek.” Tina menunjuk kolom komentar pada artikel gosip tentang Nawang dan Yudhis yang sedang Nawang baca.
Memang benar apa kata Tina. Tidak banyak yang menjelek-jelekkannya. Bahkan banyak dari mereka yang mendoakan kebahagiaan mereka berdua.
“Tapi, Yudhis bisa aja kan gak suka hal kayak gini? Masa dia mau sih, digosipin jadian sama temennya sendiri? Mana ini artikel nempelin foto yang SUS banget.”
Foto yang dimaksud adalah foto saat mereka makan di restoran cepat saji. Nampak di foto tersebut Yudhis yang tengah memegang pipi Nawang sambil menundukkan badannya. Foto itu diambil dari sudut 45 derajat di belakang Yudhis, jadi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Lo-nya juga merem kayak keasikan gitu. Bahahahaha!” gelak Tina.
Lirikan maut Nawang pun tertuju pada Tina.
“Kayaknya seneng banget lo. Gak tahu penderitaan gue. Dasar temen laknat!”
Dihardik seperti itu, Tina tak juga berhenti tertawa. Baginya, foto yang dianggap SUS oleh Nawang itu sangatlah lucu. Mungkin bagi orang lain itu tidak lucu, tapi Tina adalah orang yang seperti itu setiap kali melihat atau mendengar cerita romantis. Dia bahkan akan tertawa-tertawa sendiri setiap kali menonton adegan ciuman di drama Korea favoritnya.
__ADS_1
“Iiiih! Kok, lo bahagia banget!”
Kali ini tidak hanya dengan ucapan, Nawang pun menyerang Tina dengan menggelitiki pinggang gadis itu.
Tidak ada pilihan lain untuk Nawang saat ini, selain menunggu esok hari untuk bertemu Yudhis. Entah di rumah atau di kantornya, dia harus segera bertemu Yudhis dan menyelesaikan masalah ini segera.
…
Keesokannya, Nawang langsung menghubungi ponsel Yudhis dan untungnya kali ini bisa langsung tersambung.
“Lo dateng aja ke kantor gue. Kita ketemu di sana.” ucap pria setinggi 183cm itu.
Merasa sudah mulai bisa tenang, Nawang pun pergi ke kantor Yudhis untuk menyelesaikan urusannya. Tetapi, setibanya di sana, situasinya justru menjadi semakin parah.
Tidak banyak memang, tetapi beberapa wartawan dari stasiun TV swasta terkenal sudah menunggunya di parkiran gedung perkantoran yang cukup luas itu. Tujuan mereka tidak lain adalah untuk mengkonfirmasi kebenaran gosip yang beredar belakangan ini.
Padahal dirinya bukan selebriti yang biasa muncul di televisi. Dia hanyalah seorang content creator life style yang kebetulan disangkutpautkan dengan seorang CEO dari sebuah e-commerce besar yang juga pewaris sah dari salah satu grup konglomerat terkaya di Asia.
“Seperti apa hubungan kalian berdua sebenarnya? Apa betul kalian berpacaran?”
“Apakah ada rencana kedepannya untuk hubungan Anda dengan Pak Yudhistira?”
Para wartawan itu terus menanyainya tanpa henti. Nawang yang sedari tadi tidak menjawab apapun akhirnya membuka mulutnya.
“Saya tidak pernah merasa memberikan izin wawancara pada kalian. Kalau ingin kejelasan hubungan kami, kan kemarin saya juga sudah jelaskan di video saya kalau kami hanya berteman.”
Namun, nampaknya para wartawan itu tidak puas dengan jawaban Nawang tadi. Mereka menyebutnya sebagai insting wartawan yang membuat mereka tidak mau langsung percaya dengan ucapan narasumber.
“Saya harap Anda sekalian bisa menghargai privasi kami.”
__ADS_1
Suara yang baru saja terdengar itu begitu familiar di telinga Nawang. Begitu pula tangan kanan yang merangkulnya saat ini.
Gadis itupun menengok ke sampingnya. Dan benar dugaannya, Yudhis sudah berdiri di sana sambil memandanginya dengan tatapan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Nawang tidak terbiasa ditatap seperti itu oleh Yudhis yang selama ini dia anggap sebagai sahabat. Betapa geli perutnya saat ini karena tingkah Yudhis yang menurutnya sudah di luar nalar itu.
“Tolong beri kami jalan.”
Dua kalimat perintah itu saja sudah cukup untuk membuat wartawan-wartawan itu diam dan memberikan jalan bagi Nawang dan Yudhis. Di situlah Nawang menyadari kekuatan seorang Yudhis sebenarnya.
Tetapi, ini bukan saatnya untuk mengakui kekuatan itu. Masih ada hal penting yang harus dia sampaikan pada Yudhis terkait gosip aneh yang dia terima semalam. Karena itu, begitu masuk ke dalam lift khusus, Nawang langsung menyatakannya.
“Dhis, gue minta maaf udah ngerepotin lo kali ini.”
Bagi Yudhis, ini adalah pemandangan langka. Amat sangat jarang sekali Nawang meminta maaf padanya.
“Sekarang lo paham kan, apa yang gue khawatirin?” tanya Yudhis yang dijawab dengan anggukan oleh Nawang.
“Gue janji bakal lebih hati-hati kedepannya.”
Tanpa Nawang sadari, Yudhis menyeringai saking senang akan keberhasilan rencananya. Membuat Nawang menyesal memang salah satu tujuan Yudhis merencanakan semua ini.
Benar. Video viral beberapa hari ini dan berbagai artikel gosip tentang mereka adalah hasil dari perbuatan Yudhis. Tetapi, penyesalan Nawang bukanlah satu-satunya hasil akhir yang Yudhis inginkan.
“Oke. Sekarang kita selesaikan. Tapi, lo ke ruangan gue dulu sebentar. Ada hal yang pengin gue omongin dulu.”
Sesampainya di sana, Yudhis mempersilakan Nawang duduk di salah satu sofa. Kemudian, diambilnya sebuah dokumen di atas mejanya. Dia pun menyerahkan dokumen itu pada Nawang.
“Coba baca dulu!” perintah Yudhis.
__ADS_1
Menuruti perintah itu, Nawang pun membacanya dengan seksama. Rupanya itu adalah sebuah surat perjanjian dengan judul yang cukup membuat Nawang tersungut-sungut.
“Yudhistyrex!!!!!”