
Walaupun Marcel sudah berada di luar pulau, belum tentu pengaruhnya juga ikut pergi. Karena itu, untuk berjaga-jaga, Yudhis mengambil tawaran untuk tinggal di salah satu unit apartemen di gedung milik Ayahnya.
Sejak masih lajang, sebenarnya Yudhis sudah ditawari unit apartemen itu. Waktu itu Yudhis tolak, karena lokasinya yang terlalu jauh dari kontrakan Nawang. Tetapi sekarang, dia dan Nawang sudah satu rumah. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menolak waktu beberapa waktu lalu ditawari lagi.
“Nah! Segini baru pas!” ujar Nawang puas.
Dia sudah tur keliling apartemen baru mereka. Luasnya jelas kalah berat dibanding condo yang mereka tinggali sebelumnya, tetapi ini lebih baik menurut Nawang. Baginya rumah yang terlalu besar itu seperti memberi tekanan batin.
Mungkin ini karena dia terbiasa dengan rumah kecil. Atau mungkin, karena dia hanya tinggal berdua saja dengan Yudhis.
“Rumah emak gue kan lebih gede, kenapa condo yang kemarin malah lo protes?” tanya Yudhis heran.
Sambil mendorong kopernya Nawang menjawab, “Beda, lah! Rumah Mama lo gede, tapi banyak orangnya. Ada ART-nya, koki pribadinya, tukang kebunnya, satpam-nya, banyak.”
“Kalo di tempat kita rame juga, susah berduaan, dong.” gumam Yudhis lirih.
“Apa?”
Rupanya Nawang sedikit mendengar gumaman tadi.
“Gue bilang, bener juga. Harusnya gue gak ambil yang di sana.” kilah Yudhis.
Nawang yakin bukan itu yang dia dengar. Tetapi, dia memilih untuk untuk tidak mempedulikannya. Justru Nawang mempercepat langkahnya, karena ingin segera menikmati empuknya kasur baru di kamarnya.
Koper yang dia bawa adalah barang bawaannya yang terakhir. Jadi, setelah ini dia bisa berencana untuk istirahat sebentar, lalu lanjut membongkar barang bawaannya.
“Hup! Selesai, deh.”
Kasur yang Nantikan akhirnya bisa dia nikmati. Sambil berbaring, Nawang memejamkan matanya beberapa detik, lalu membukanya lagi.
Dalam renungannya, dia memikirkan tentang betapa aneh situasinya belakangan ini. Sudah lama dia tidak pindah-pindah tempat sesering ini. Terakhir kali dia berpindah-pindah tempat tinggal mungkin sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan magisternya di Harvard.
Tidak dia sangka akan mengalami hal itu lagi. Tapi, permasalahannya berbeda dengan waktu itu. Karena, saat itu Nawang lah yang lari dari orang-orang yang mengejarnya. Waktu itu, Yudhis ikut membantunya kabur, bahkan memberikan identitas baru untuknya. Jadi, Nawang senang bisa membalas jasa Yudhis walau sedikit.
Hanya saja, Nawang masih ragu apakah keputusannya untuk menikah dengan Yudhis adalah hal yang tepat atau tidak. Terlebih, setelah Marcel berhasil disingkirkan. Bukankah artinya sudah tidak ada artinya lagi pernikahan mereka?
__ADS_1
“Wang, tidur lo?”
Kehadiran Yudhis yang tiba-tiba cukup mengagetkan Nawang. Belum selesai di situ, pria itu juga ikut terlentang di sebelahnya.
“Capek banget ngangkutin barang-barang. Gue ikut tiduran bentar.” ujar pria itu lagi.
Satu lagi yang membuat Nawang ragu adalah tentang perasaannya pada Yudhis. Entah kenapa, belakangan Yudhis sangat manja dan terus mencari perhatiannya. Bodohnya, Nawang malah benar-benar memperhatikan Yudhis.
Nawang bukanlah orang yang munafik. Kalau memang jelek, ya dia bilang jelek. Kalau bagus, dia bilang bagus. Dan dia tidak pernah memungkiri kenyataan bahwa Yudhis memang tampan dari dulu. Tapi anehnya, belakangan dia merasa Yudhis semakin tampan, terutama setelah menyadari keindahan lengan Yudhis.
“Ngapain pegang-pegang tangan gue? Geli tahu.”
Lagi-lagi Yudhis menyadarkan Nawang dari lamunannya. Sungguh, Nawang tidak sadar bahwa tidak hanya sedang melihat, tangannya juga sudah menjamah lengan Yudhis.
“So-sorry. Gue pikir, makin bagus aja gitu bicep lo.” jawab Nawang, jujur.
“Tricep gue juga bagus. Mau pegang?”
Nawang hanya diam, tidak tahu mau menjawab apa. Dia ingin mengatakan “Iya,” tapi takut dianggap vulgar. Tapi, ini kesempatan untuk memegang lengan Yudhis yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya.
Merasa terlalu lama menunggu jawaban Nawang, Yudhis pun memiringkan badannya menghadap Nawang. Lalu, mengamit tangan Nawang untuk dia bawa ke lengannya yang tidak tertindih, sehingga posisinya seperti sedang memeluk Yudhis.
Nawang yang terkesiap membutuhkan beberapa saat untuk membuka mulutnya.
“O… oh, iya. Bbagus.” jawabnya dengan gugup.
Kalau dilihat-lihat lagi, bukan hanya lengan Yudhis yang semakin bagus. Dadanya, perutnya, pahanya, punggungnya, semua nampak semakin padat.
“Lo gak maksa badan lo lagi kayak waktu itu kan?” tanya Nawang khawatir.
Yudhis menggelengkan kepalanya, lalu berkata, “Gue udah gak mau buru-buru.”
“Buru-buru ngapain?” tanya Nawang lagi.
“Ada laaah pokoknya.”
__ADS_1
Perlahan Yudhis semakin merapatkan badannya pada Nawang, hingga posisi mereka benar-benar berpelukan.
“Kok gini?” batin Nawang bertanya.
Dan seakan bisa membaca pikiran Nawang, Yudhis berbisik, “Kali aja lo pengin ngerasain punggung gue juga sekalian.”
Dalam hati Nawang mulai mempertanyakan kewarasan otaknya. Dia juga mulai mempertanyakan kesucian otaknya yang merasa senang hanya karena ditawari Yudhis untuk menyentuh punggungnya.
Dirabanya punggung itu dan dia rasakan setiap lekukan yang terbentuk di sana. Lekukan-lekukan itu cukup keras, jadi sudah pasti bukan lekukan lemak.
“Kayaknya gue udah beneran gak waras. Masa gue pengin pegang langsung sekarang…” pikir Nawang dan…
Gasp!
Entah sejak kapan tangan Nawang sudah berada di dalam kaus yang Yudhis kenakan. Dan karena sentuhan itu, jantung Yudhis semakin berdetak kencang tak terkontrol.
“Wang?”
Sebelum hal yang lebih jauh terjadi, Yudhis segera menjauhkan tubuhnya dari Nawang. Dia duduk, lalu membetulkan kausnya yang terlingkis ke atas.
Sementara itu, Nawang yang tak percaya dengan apa yang telah dia lakukan seketika kaku tak bergerak dengan matanya yang berkedip berkali-kali. Jantungnya yang ikut terpacu pun masih belum kembali seperti sedia kala.
“Gue… gue mau ke kamar gue dulu. Bye.”
Yudhis tak menunggu jawaban Nawang dan langsung pergi. Tetapi, baru beberapa langkah keluar dari kamar Nawang, dia kembali ke hadapan gadis itu.
Dia berkata, “Gue harap lo gak marah sama gue gara-gara tadi. Tapi, perlu lo tahu, kalau gue gak nyesel dan gak bakal minta maaf.”
Perlahan Nawang menaikkan tatapannya pada Yudhis.
“Harusnya gue yang minta maaf. Tapi, gue juga gak nyesel.” balas Nawang.
Senyum terkembang di bibir Yudhis, karena jawaban Nawang. Dia sudah khawatir dengan reaksi Nawang. Karena, bisa saja kejadiannya akan seperti saat di Jogja dulu. Namun nampaknya, itu adalah kekhawatiran yang percuma.
Jika dugaan Yudhis benar, Nawang memang mulai memperhatikannya. Bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang pria. Sebuah perhatian yang Yudhis inginkan selama ini.
__ADS_1
Akan tetapi, Yudhis masih belum memastikan apakah Nawang hanya memperhatikan fisiknya yang sedikit berubah atau benar-benar jatuh hati padanya. Karena itu, Yudhis masih menahan dirinya untuk tidak menyatakan perasaannya pada Nawang.
Nawang sendiri belum tahu mengapa dia melakukan hal seperti itu pada sahabatnya sendiri. Padahal selama ini mereka juga berpegangan tangan, berpelukan, bahkan tidur bersebelahan bersama. Tetapi, baru kali ini Nawang memiliki keinginan yang begitu kuat untuk menyentuh Yudhis. Apa dia memang senafsu itu, sampai-sampai pria manapun dia sentuh, termasuk sahabatnya sendiri? Atau memang Nawang hanya ingin menyentuh Yudhis dan memiliki perasaan khusus padanya?