
Pagi-pagi sekali Yudhis sudah bersiap dengan pakaian terkerennya. Saking terlalu semangatnya, dia tidak sadar kalau hari masih subuh. Dan terpaksa, dia harus menunggu agar lebih siang lagi. Dia pakai waktunya untuk bergaya dan melatih kata-kata yang akan dia gunakan untuk menembak Nawang.
“Sebenarnya, selama ini gue… bukan, aku sayang sama kamu. Aku harap kita bisa beneran jadi pasangan kekasih.” ujarnya di depan cermin.
Tidak puas dengan hasilnya, Yudhis pun membuang napas.
“Kok aneh ya, manggil aku-kamu ke Nawang? Tapi, kalau tetep lu-gue, ntar gak ada bedanya, dong?” pikirnya.
Menurut Yudhis, panggilan adalah hal yang cukup penting sebagai penanda bahwa hubungan mereka telah berubah. Selain itu, Yudhis juga ingin lebih menghormati Nawang sebagai istrinya. Jadi, mengubah nama panggilan adalah langkah pertama yang seharusnya Yudhis lakukan.
Berkali-kali Yudhis berlatih di depan cermin. Hingga tanpa dia sadari, mentari sudah semakin naik. Jam digital di mejanya pun sudah menunjukkan pukul 07.00, yang artinya Nawang sudah bangun untuk menyiapkan sarapan. Yudhis pun melangkah keluar dari kamarnya untuk menuju dapur.
Benar saja, Nawang sudah ada di dapur. Tetapi, di luar dugaan Yudhis, sarapan baru mulai Nawang siapkan.
“Sorry, gue telat bangun tadi.” ujar Nawang dengan suara yang sedikit serak.
__ADS_1
Mendengar alasan Nawang, seketika Yudhis menjadi agak kecewa. Karena, ternyata hanya dia yang merasa tidak sabar dengan kencan hari ini. Padahal Yudhis sampai bangun jam 3 pagi hanya untuk memilih baju dan melatih dialognya. Tetapi, Nawang malah bangun kesiangan.
“Yah… namanya juga hari Minggu. Banyak yang sering lupa waktu.” balas Yudhis.
Nawang menundukkan kepalanya. Dia kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa tepat waktu. Namun, bukan berarti dia tidak memiliki alasan.
Malam sebelumnya, setelah Yudhis mengatakan akan mengajaknya jalan-jalan, Nawang langsung menyiapkan baju yang akan dia pakai hari ini. Dicobanya satu persatu baju yang dia miliki agar bisa dipuji oleh Yudhis. Dan akibatnya, dia jadi begadang dan baru tidur jam setengah tiga pagi.
“Maaf, ya. Lo udah laper banget, ya? Mau gue beliin delivery?” tawar Nawang.
“Santai aja. Gue sarapan sereal juga gak masalah.”
“Eh, jangan!” tolak Nawang.
“Gue bikinin bubur ayam bentar, ya. Tinggal goreng ayamnya doank, kok. Ini buburnya udah mau ready.” lanjut Nawang yang segera bertindak mengambil ayam yang sudah dia marinasi di dalam kulkas.
__ADS_1
Gerakannya begitu gesit seperti sedang dikejar waktu. Dia aduk-aduk sebentar agar bubur tidak gosong. Kemudian, dia ambil satu penggorengan lagi dan dia taruh di tungku yang lain. Dia taruh minyak secukupnya ke dalam penggorengan itu, lalu jika sudah panas akan dia pakai untuk menggoreng ayam.
Seperti kata Nawang tadi, waktu yang dia pakai tidak terlalu lama. Dalam waktu kurang dari setengah jam, bubur ayam sederhana a la Nawang sudah siap di atas meja makan.
“Lo gak ikut makan?” tanya Yudhis pada Nawang yang langsung melengos setelah tugas paginya selesai.
“Gue mau mandi sama ganti baju dulu.” balasnya.
Karenanya, Yudhis menaruh kembali sendok yang sudah siap dia pakai. Dia ingin makan sarapan bersama Nawang seperti biasanya. Jadi, dia harus bersabar sementara waktu walaupun cacing-cacing di perut Yudhis sudah mulai protes.
Tapi, tidak lama kemudian, Nawang kembali menghampiri Yudhis. Dia berkata, “Lo makan duluan aja, ya. Awas kalau gue selesai mandi, itu bubur belum habis!”
Sudah diancam seperti itu, Yudhis pun terpaksa menjawab, “Iyaaa, Baginda.”
“Nah, bagus!” ujar Nawang sebelum kembali memalingkan badannya.
__ADS_1