
Sejak briefing pagi ini, Yudhis sudah menyebarkan kebahagiaannya kepada para bawahannya. Pembawaannya masih tetap tegas, namun aura berwarna pink itu jelas terlihat oleh semua orang. Mereka tidak peduli ada peristiwa baik apa yang dialami Yudhis, yang penting rapat tidak tegang dan para bawahan itu bisa lebih santai menyampaikan pendapat dan usulan mereka. Karenanya, tidak ada yang memperlihatkan wajah depresi begitu keluar dari ruang rapat.
“Baru dapet jatah, lo?” sindir Mitha.
Perempuan itu mungkin memiliki indra ke enam. Kalau tidak, bagaimana bisa dia menebak dengan tepat.
“Pikir sendiri aja lah, Mit. Hahahaha!”
Yudhis tidak mau memberi tahu Mitha begitu saja. Kalau Yudhis sampai salah bicara di depan Mitha, bisa-bisa dia diledek seharian atau bahkan sampai akhir hayatnya.
“Eh, iya. Lo tahu adik sepupu gue yang di cabang Kota D kan?” Mitha mengalihkan pembicaraan.
Yudhis mengangguk, lalu balas bertanya, “Yang namanya Ollie atau Ellie itu?”
“Ollie.” Mitha membetulkan.
“Ada apa emang?” tanya Yudhis lagi.
Sambil melipat tangannya di meja, Mitha menjawab, “Kemarin dia tiba-tiba curhat kalau dia lagi sebel sama temen kerjanya yang baru.”
__ADS_1
Yudhis memutar ingatannya. Jika berbicara tentang orang yang baru pindah ke Kota D, yang dia ingat hanya satu orang, yaitu Marcel. Walau bukan berarti yang sedang mereka diskusikan ini tidak menyangkut Marcel sama sekali, melainkan orang lain yang kebetulan baru diterima di kantor cabang.
“Yeeeh… lo ngapain sok mikir gitu? Gue tuh lagi ngomongin mantan sekretaris lo!” terang Mitha.
Mendadak mood Yudhis menjadi jelek setelah Mitha menegaskan bahwa mereka memang sedang membicarakan orang yang paling dia benci di dunia.
“Kenapa lagi, sih?” Yudhis menanggapi dengan ogah-ogahan.
Mitha, meskipun ruangannya berbeda lantai dengan Yudhis dan para sekretarisnya, dia tahu siapa saja orang yang bekerja di sana. Terlebih Marcel, karena pria itu jelas sekali memperlihatkan ketidaksukaannya pada Mitha. Mata Marcel saat menatapnya sama sekali tak bersahabat. Selain Mitha, orang yang sering dipelototi oleh Marcel tidak lain adalah Nawang. Tetapi, tidak seperti Mitha, Nawang tidak pernah mempedulikannya.
“Si Ollie kemarin bilang kalau di cabang sana dia malah makin kewalahan gara-gara Marcel. Masa, katanya Marcel nyerahin kerjaannya ke orang lain dan sering minggat ga tahu ke mana? Jadinya,…”
Mitha membuka galeri ponselnya, lalu memperlihatkannya pada Yudhis.
Sebetulnya, Yudhis tidak memerlukan dokumen tambahan lagi. Karena, semua datanya sudah diurus oleh mata-matanya di sana. Tapi Yudhis pikir, mungkin dokumen-dokumen itu juga akan membantunya menyingkirkan Marcel. Jadi, Yudhis pun menurut untuk menyalakan bluetooth-nya.
Tidak sampai lima menit, seluruh data yang Mitha kirimkan sudah masuk ke ponsel Yudhis.
“Gue tonton nanti di ruangan. Makasih, ya.” ujar Yudhis.
__ADS_1
“Sip.” sahut Mitha sambil berdiri dari duduknya. Namun, sebelum keluar dari ruang rapat, dia kembali berkata.
“Oh, iya. Lain kali kalau main yang santai aja, ya. Kan kasihan tuh istri lo sampe sakit.” baru setelah itu dia benar-benar pergi.
Mata Yudhis seketika melotot karena ucapan terakhir Mitha tadi.
“Jangan-jangan Nawang cerita soal semalam ke Mitha. Tapi masa, sih?” gumam Yudhis sambil membuka aplikasi chatnya untuk memastikannya langsung pada Nawang.
Tetapi, sebelum itu, terlihat sebuah notifikasi sosial media dari akun Nawang yang dia ikuti. Di sana tertulis, [Maaf ya, guys. Hari ini aku agak gak enak badan, nih. Jadi, gak ada siaran hari Senin kayak biasanya. See you on Friday Stream!]
Rupanya insting Mitha saja yang terlalu tajam. Istrinya sama sekali tidak mengungkit tentang semalam. Tetapi, pengumuman dari Nawang itu membuatnya jadi khawatir. Jangan-jangan semalam dia memang sudah keterlaluan.
Yudhis ingin segera pulang untuk memeriksa keadaan Nawang sebenarnya. Sebelum itu, dia harus memberi tahu Kris terlebih dahulu untuk menghandle pekerjaannya. Dia pun menelfon Kris saat itu juga.
“Kris, saya hari ini izin, ya. Istri saya sakit dan sendirian di rumah. Tolong handle sebisa kamu dulu!” perintah Yudhis.
Sayangnya, jawaban Kris tidak sesuai dengan harapan Yudhis. Dia berkata, “Maaf, Pak. Barusan Bu Nawang minta saya buat menahan Anda untuk pulang. Dan Anda ada pertemuan penting dengan Univeler setelah ini.”
Hampir saja Yudhis lupa tentang jadwalnya hari ini yang cukup padat. Padahal tadi dia juga membahasnya saat rapat.
__ADS_1
“Ya udah, lah!” seru Yudhis kesal.
Yudhis yang masih khawatir pun langsung menelfon Nawang. Tetapi, lagi-lagi dia harus menggigit jari. Karena, yang dia dengar hanyalah pesan dari mesin penjawab yang mengatakan, “Nawang lagi tidur. Telfonnya nanti dulu, yaaa.”