
Hari pernikahan Tirta pun tiba. Yudhis yang telah rapi dengan batik Salemnya menunggu di luar kamar sementara Nawang masih berdandan.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, bahkan lebih dari itu lamanya Yudhis menunggu. Yudhis pernah mendengar kalau perempuan memang biasanya lama berdandan. Namun, selama Yudhis mengenal Nawang, belum pernah sekalipun dia dibuat menunggu selama itu hanya untuk berdandan.
Karena lama-lama khawatir, Yudhis pun kemudian masuk ke dalam kamarnya yang sekarang sudah resmi menjadi kamar mereka berdua.
“Lah…”
Seketika Yudhis termangu, saat melihat istrinya masih mengenakan bathrobe dengan wajah yang sudah selesai dirias. Wanita itu berdiri di hadapan tumpukan gaun yang di atas kasur dengan dua tangan di pinggang. Entah apa yang terjadi, ekspresi kesal dan bingung nampak begitu jelas di wajahnya.
“Kok belum selesai? Waktunya bentar lagi, loh.” tanya Yudhis.
Nawang melirik Yudhis sebentar, lalu kembali fokus pada tumpukan gaunnya.
“Kamu gak tahu. Aku tuh lagi galau, mau pakai baju apa?” jawab Nawang sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Dahi Yudhis mengerut.
“Galau? Kan waktu itu udah beli. Yang ini kan, kamu milihnya?”
Yudhis mengambil gaun berwarna hijau tua yang waktu itu mereka beli di butik bersama. Pikirnya, mungkin Nawang lupa atau tidak melihat baju itu.
“Haah…” dengus Nawang.
Itu bukan dengusan lega. Malah, melihat baju itu, Nawang semakin terlihat kesal.
“Aku tuh tadi udah coba baju itu. Tapi… malah gak muat. Kayaknya aku tambah gendutan, deh.”
Bahu Nawang turun sambil lagi-lagi mendenguskan napasnya. Dia benar-benar heran. Padahal baju itu baru dibelinya dua minggu yang lalu. Saat dicoba sebelumnya masih ada sedikit longgar, tapi sekarang sudah tidak muat.
“Masa, sih? Perasaan kamu aja kali. Kayaknya masih sama, kok.” Yudhis berdusta.
Setiap hari mereka selalu bersama, mana mungkin Yudhis tidak menyadari jika ada perubahan pada istrinya. Dia juga selalu memeluk Nawang setiap tidur, jadi dia jelas sadar kalau ada lemak yang tiba-tiba muncul di sana sini.
__ADS_1
“Gak usah menghibur, deh. Aku emang gendutan, kok. Buktinya ini baju gak muat semua.” sangkal Nawang dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aku kudu pakai baju apa, dong? Hiks…” akhirnya tangisan itu pun pecah. Segera Yudhis merangkul Nawang ke dalam pelukannya. Dia tepuk-tepuk pundak Nawang lembut, supaya Nawang lebih tenang.
Sebetulnya Yudhis tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi. Tidak biasanya Nawang menangis hanya karena bajunya tidak muat. Nawang yang biasanya, tidak akan ambil pusing tentang ini.
“Ya, udah. Pake baju yang lain aja. Masih banyak kan, baju kamu yang lain?” bujuk Yudhis.
Nawang menggeleng, lalu berkata, “Tadi aku udah coba gaun yang lainnya, tapi juga gak muat… hiks…”
“A… pantesan dikeluarin semua.” pikir Yudhis.
Lalu, muncul sebuah ide di kepalanya.
“Mau beli yang baru sekarang? Mumpung masih sempat. Toh acaranya sampai sore.”
Tapi, lagi-lagi Nawang menggeleng. Tangisnya juga semakin keras.
“Hueee… tapi, baju yang aku pengin pasti gak bakal keliatan bagus. Hiks… liat aja nih paha! Kaki SNSD gue ilaaaang! Kenapa gue makan banyak banget, sih?!”
“Gimana kalau pakai celana? Celana kulot sama atasan blus juga cakep, kok.” Yudhis masih berusaha membujuk.
Sayang, bukannya anggukan, Yudhis malah dipelototi.
“Jadi, kamu juga berpendapat kalau pahaku jadi besar? Iya?”
Dengan paksa, Nawang melepas pelukan Yudhis.
“Bukan gitu…”
“Terus apa? Kan kamu yang bilang aku kudu pakai celana kulot yang lebar. Berarti kamu juga bilang kalau kakiku mbengkak.” Nawang tidak membiarkan Yudhis menjelaskan.
Yudhis pijat-pijat kepalanya yang mendadak pusing, karena Nawang. Dia sungguh tidak bermaksud demikian. Ucapannya murni, karena ingin membantu Nawang memilih baju. Toh Nawang sendiri yang berkata kalau kakinya melebar. Kenapa sekarang malah Yudhis yang serba salah?
__ADS_1
‘Pipipip’
Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba ponsel pintar Yudhis berdering. Dalam hati Yudhis bersyukur, karena sudah ada yang bisa mengalihkan perhatian Nawang.
“Mama nelfon. Aku angkat bentar, ya.” Yudhis meminta izin.
Diangkatnya telfon itu, lalu menyapa, “Hallo, Ma.”
“Kok kalian belum sampai venue? Mana cariin, loh!” sahut wanita paruh baya itu dari seberang.
Kebetulan Rista adalah kenalan dari ayah mempelai wanita, karena itu dia diundang.
“Yudhis sama Nawang masih siap-siap, Ma.” jawab Yudhis.
Insting Rista yang tajam mengatakan bahwa ada masalah yang terjadi di antara mereka. Karena itu, Rista meminta pada Yudhis, “Hm… coba kasih telfonnya ke istri kamu, deh.”
Yudhis berikan ponselnya pada Nawang.
“Mama… hiks…”
Rista yang khawatir dengan suara tangis Nawang bertanya, “Lho, kok kamu nangis? Yudhis ngapain kamu? Mama sentil nanti Yudhisnya!”
Nawang tidak segera menjawab, karena masih mengatur suaranya. Baru, beberapa saat kemudian dia menjelaskan, “Aku makan kebanyakan… Bajunya… gak ada yang muat. Kata Yudhis, kaki jadi… besaaaar… huuuu…”
“Hah?”
Penjelasan Nawang sedikit berantakan, tapi masih bisa Rista pahami. Yang tidak dia pahami adalah kenapa hanya karena baju yang kekecilan, Nawang bisa sesedih ini?
“Emang, Yudhis bilangnya gimana? Kok kamu sampai nangis sesenggukan gitu?” tanya Rista.
“Yudhis nyuruh aku pakai celana kulot sama blus batik aja… soalnya gaunku pada gak muat…” jelas Nawang, masih terbata-bata.
“Beneran gak ada yang muat?” Rista memastikan.
__ADS_1
“Ngg… hiks… aku jadi gendut…”
Sejenak Rista berpikir, kemudian berkata, “Ya, sudah. Mama bakal segera ke apartemen kalian. Kalian gak usah ke mana-mana dulu.”